Kamis, 20 Juli 2017

BEDAH BULETIN NIH "ALQURAN"




Karena Alquran, seseorang bisa ditinggikan.
Karena Alquran pula, seseorang bisa dihinakan. 
Lalu, kita pingin yang gimana? Ditinggikan atau direndahkan?
Sungguh, janganlah kita berlepas dari Alquran. Karena ia adalah sebaik-baik kawan perjalanan. Sebaik-baik kawan menuju kesuksesan.
BismiLlah!
-------

Bedah Buletin Nih di Rumah Sajada/ Kamis, 13 Juli 2017

TAMAN SURGA


"Apabila kalian berjalan melewati taman-taman Surga, perbanyaklah dzikir."

Para Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud taman-taman Surga itu?"

"Majelis ilmu." Jawab Rasulullah.

Jadi, kalaulah ingin mencicipi taman surga di dunia, datanglah ke majelis ilmu. Bagaimana rasanya? Coba saja!

Sumber: Tips Belajar para Ulama 

"Sudahkah Kita Puas"


Oleh: Adik Yusuf Wicaksono 

Kita tidak memungkiri bahwa sahabat Rasulullah adalah sebaik-baik generasi. Mereka utama, mereka mulia, dan mereka tinggi kedudukannya.

Mereka lahir dari sebuah pendidikan yang tidak biasa, yang tidak mementingkan nilai raport atau pun deretan angka dalam ijazah. Bukan angka 10 atau 9 untuk pelajaran Akidah, Akhlak, Ibadah yang mereka harapkan. Bukan juga nilai 10 atau 9 ketika mereka mampu melaksanakan praktek shalat dengan baik dan benar. Tapi ilmu yang benar, lantas di amalkan, dan mengharap ridho Allah Ta'ala, itulah yang mereka dambakan.

Mereka generasi utama dan mulia, mereka terlahir dari pendidikan yang utama dan mulia pula. Dengan Rasulullah SAW sebagai guru utama, sekaligus sosok guru yang menjadi teladan bagi muridnya, dengan materi-materi penguat iman, dengan materi yang langsung merujuk pada Al-Quran. Dengan racikan metode-metode yang luar biasa, di sesuaikan waktunya, usianya, kondisinya bahkan tempatnya.

Jika ada yang mengatakan itu metode klasik dan sudah tidak zamannya, yang menjadi pertanyaan, "apakah pendidikan hari ini, dengan model pendidikan barat yang dikatakan 'modern' sudah mampu melahirlan output sekelas sahabat?" Dengan quantum learning, quantum teaching membuat peserta didik menjadi sekelas sahabat? Dengan pengajaran tepuk diam, tapuk anak shalih dan sejenisnya itu mampu? Tampaknya tidak.

Semua telah terbukti, mereka (para sahabat) pernah ada. Model pendidikan mereka pernah ada, output pendidikannya telah kita pelajari sejarahnya yang sangat jelas keberhasilannya. Namun hari ini itu semua tergeser oleh model pendidikan yang dianggap modern itu. Nilai jadi prioritas, angka-angka jadi prioritas, ilmu dinomer sekiankan, pengokohan iman di tiap pelajaran tampaknya dilupakan, peserta didik yang berakhlak tampak hanya slogan yang terpampang. .

Semua perlu berbenah! Benar, semua perlu berbenah jika ingin lahir orang-orang di masa depan seperti para sahabat yang utama lagi mulia.

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU #1


“Sesiapa yang Allah kehendaki baik, niscaya Dia memahamkannya terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari)

Ya. Jika Allah berkendak baik pada seseorang, pasti ia akan menjadi baik. Sebagai buktinya apa? Ia paham terhadap urusan agama. Ia dimudahkan Allah memahami ilmu-ilmu yang mengantarkannya ke Surga. Dan inilah satu di antara karunia dan rizki yang besar dari Allah.

Mari kita lihat contoh seorang ulama yang “dikehendaki Allah” baik. Sebut saja Abu Darda. Saking pahamnya keutamaan mencari ilmu, ia pernah berkata, “Aku belajar satu masalah saja itu lebih aku sukai daripada shalat sunah semalam suntuk.”

Tak ketinggalan Imam Syafii juga pernah menyampaikan, “Tidak ada sesuatu yang lebih utama setelah fardhu melebihi menuntut ilmu.”

Semoga kita dikendaki Allah baik! Mari berdoa dan berjuang!

Sumber:
Buku Tips Belajar Para Ulama

Rabu, 12 Juli 2017

BELAJARNYA ULAMA



Wahai penuntut ilmu, sesungguhnya ilmu itu memiliki banyak keutamaan.

Kepalanya adalah tawadhu'.

Matanya adalah berlepas diri dari sifat dengki.

Telinganya adalah pemahaman.

Lisannya adalah kejujuran, hafalan adalah muroja'ah.

Hatinya adalah niat baik.

Akalnya adalah mengetahui perkara-perkara yang wajib.

Tangannya adalah Rahmat.

Kakinya adalah mengunjungi para ulama.

Tempat tinggalnya adalah kejayaan.

Komandannya adalah pemaaf.

Kendaraannya adalah menepati janji.

Senjatanya adalah kata-kata yang lembut.

Pedangnya adalah sifat ridho.

Busurnya adalah sikap lunak.

Tentaranya adalah berdekatan dengan para ulama.

Hartanya adalah etika yang baik.

Harta simpanannya adalah menjauhi dosa.

Bekalnya adalah kebaikan.

Airnya adalah kasih sayang.

Penunjuk jalannya adalah hidayah.

Dan, sahabat karibnya adalah bergaul dengan orang-orang baik. 

(Ali bin Abi Thalib)


Membuat Orang Mulia


Oleh: Zakiy Zakaryya Ali 
Orang yang mencari ilmu, akan dimuliakan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang tidak suka mencari ilmu ia akan sengsara di dunia dan di akhirat.

Ilmu bisa didapat apabila seseorang ingin mendapatkan ilmu tersebut. Sedangkan ilmu sendiri secara syari’at memiliki arti; pengetahuan yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah  dan diamalkan baik amalan hati, lisan maupun amalan anggota badan. Ilmu yang paling sempurna terdapat pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

            Semua orang wajib menuntut ilmu karena menuntut ilmu itu hukumnya fardhu‘ain bagi semua kaum muslimin. Dan sesungguhnya para nabi itu tidak mewarisi harta tapi mewarisi ilmu. Maka sesiapa yang menuntut ilmu berarti ia sudah mengambil warisan dari para nabi.

            Seorang penuntut ilmu hendaknya menghiasi dirinya dengan adab-abab. Karena orang yang menghiasi dirinya dengan adab dengan orang yang tidak menghiasi dirinya dengan adab, akan berbeda sangat jauh. Dan paling penting, seorang penuntut ilmu harus ikhlas karena Allah. Belajar karena Allah, bukan karena yang lain. Karena orang yang berniat bukan karena Allah, ia akan rugi karena amalannya tidak diterima oleh Allah.

Referensi:

1.    Abdullah Hadrami, 2015, Mata Air Inspirasi, Yogyakarta: Pro-U Media
2.    Abu Anas Majid al-Bankani, 2012, Perjalanan Ulama Menuntut Ilmu, Jakarta: Darul Falah

3.    Abu Ammar dan Abu Fatilah Al-Adnani, 2009, Mizanul Muslim, Solo: Cordova Mediatama

Persinggahan Sepi

Oleh M.Chazim

Kita semua akan melewati lubang sepi, sunyi, dan sendiri. Lebih dari itu, sempit dan sangat gelap. Tidak ada teman sama sekali. Kalaupun ada, dia adalah makhluk yang belum pernah kita kenali.

Tahukah kalian, siapa di antara makhluk ini? Dialah Munkar dan Nakir yang ditugaskan Allah untuk menanyakan sesuatu.

Jika ia bertanya, bisakah kita menjawabnya? Karena siapa saja yang tak dapat menjawab pertanyaan yang ia ajukan, maka celakalah yang akan kita dapatkan.

Mari kita tengok kehidupan kita, sudahkah kita persiapkan dengan matang perjumpaan dengan hari-hari sepi itu? Tapi sayangnya, banyak manusia sekarang yang lalai dengan tempat persinggahan yang sepi itu. Mereka justru berasyik ria menjalankan berbagai tindakan maksiat. Semoga bukan kita.

Jika dahulu Nabi Yusuf a.s. dipenjara karena menolak berzina, maka sekarang banyak manusia masuk penjara karena berzina. Betul tidak? Maka, marilah beristighfar kepada-Nya: astaghfiruLlahal ‘azhim. Senantiasa memohon pertolongan kepadaNya. Sebelum diturunkan kerenda itu; dibuka penutupnya; terbujur berkafan; diturunkan pelan-pelan; sampailah jasad itu; di liang lahat.

Pelan ditimbun bergantian hingga membentuk gundukan. Ditancap nisan kehidupan si mayit. Engkau sendiri, sunyi, sepi, dan gelap.

Semoga menjadi renungan penting hari ini ...

Ditulis dan diubah seperlunya dari:
-         Mahroji Khudori, 2014, Lebih Baik Dipaksa Masuk Surga Daripada Sukarela Masuk Neraka, Yogyakarta: Pro-U Media.

-         Mbah Dipo, 2014, Muslim Klakson, Yogyakarta: Pro-U Media.

Rabu, 05 Juli 2017

IKLAN

Oleh: Annafi`ah Firdaus

“Glegekkk...glegekkk...glegekk....glegekkk...glegekkk.”

Suara cukup keras seorang lelaki di layar televisi. Minum sambil berdiri, pegang botol pakai tangan kiri, dan minum satu botol langsung habis.

Pernah minum dengan cara seperti itu? Kira-kira sudah betul cara si lelaki di layar televisi tadi?

Karena minum adalah satu di antara kebutuhan tubuh kita, perlulah kita tahu cara yang benar ketika minum. Adalah sesuai petunjuk Rasulullah agar minum kita tidak sekadar menghilangkan haus semata. Tapi sekaligus dapat pahala.

Adalah Rasulullah, pertama, kalau minum menggunakan tangan kanan. Kenapa pakai tangan kanan? Inilah sunah. Sesiapa yang mengikuti Rasulullah, termasuk golongan Rasulullah. Kalau pakai tangan kiri? “Sesungguhnya syaitan itu makan dan minum dengan tangan kirinya,” kata Rasulullah. Bisa disimpulkan sendiri ya!

Kedua, Rasulullah minum sebanyak tiga kali. Maksudnya? Apabila Rasulullah minum, beliau baca bismillaah lalu minum kemudian mengucapkan alhamdulillaah dan menjauhkan bejana (gelas) dari mulutnya. Setelah itu, baca bismillaah lagi, lalu minum, kemudian mengucapkan alhamdulillaah dan menjauhkan bejana (gelas) dari mulut beliau. Sesudah itu, mengucapkan bismillaah lalu minum untuk ketiga kalinya, kemudian menjauhkan gelas dari mulutnya dan mengucapkan alhamdulillaah.

Ternyata cara Rasulullah ini, selain yang mengamalkannya dapat pahala, dapat pula manfaat kesehatan yang banyak. Sebagian dokter menyebutkan bahwa bagian rongga dalam manusia ketika haus, biasanya suhunya lebih panas dari pada suhu air minum. Oleh karena itu, minum Rasulullah adalah cara yang tepat. Yaitu awalnya sedikit, lalu ditambah, lalu ditambah lagi, dan minum sampai haus hilang sehingga rongga dalam tubuh suhunya bisa normal lagi. Bukan seperti si lelaki dalam layar televisi tadi!

Selain itu, minum dengan cara Rasulullah yang tidak langsung habis dan bersuara keras seperti halnya unta, “Yang demikian lebih segar, lebih nikmat, dan lebih mengenyangkan.”

Lalu bagaimana minum dengan cara berdiri?

Rasulullah bersabda, “Jangan salah seorang dari kalian minum dengan berdiri. Apabila ia lupa, hendaknya ia memuntahkannya.” (HR. Muslim)

Jelas ya? Jangan tertipu dengan iklan di televisi. Bisa jadi kalau kita cek lagi tentang sebuah iklan, eh ternyata bertentangan dengan yang diperintahkan Allah dan diteladankan Rasulullah. Pastinya tidak mau jadi orang yang merugi, termasuk urusan minum.



Jumat, 30 Juni 2017

HAMKA: ANAK NAKAL JADI ULAMA #6

Oleh: Ridwan Hidayat

Beberapa bulan mengaji di Parabek ternyata juga tak ada perubahan. Kawan-kawan mengajinya di kelas rata-rata sudah berumur 20 sampai 30 tahun. Malik paling muda sendiri, masih 14 tahun. Tapi ia senang di tempat ini, karena bisa lebih bebas dari perhatian ayahnya. Sikapnya yang mudah bergaul membuatnya bisa kenal banyak orang. Mulai dari murid yang paling tua hingga muda dikenalnya. Begitu juga dengan warga kampung, ia mudah sangat akrab. Pergaulannya yang luwes tetap menjadikan dirinya lebih senang bermain daripada belajar, termasuk membuat ulah yang menghebohkan warga kampung.

Hanya beberapa bulan saja mengaji di Parabek. “Yang lebih tepat kalau dikatakan 'menganji'; mengacau dari pada mengaji,” cerita Hamka di Kenang-kenangan jilid 1. Ia pulang ke Padang Panjang. Kepulangannya justru malah belajar pidato adat. Kepintaran pidato membuat sang kakek Datuk Radjo Endah mulai suka padanya. Tetapi ayahnya tetap tidak senang. Semestinya Malik harus segera kembali ke Parabek. “Beliau hanya marah-marah saja, melihat bukan buku nahwu dan sharaf yang banyak dibacanya, tetapi buku cerita, roman dari penyewaan buku, buku Minangkabau,” cerita Hamka lagi. Ia juga kedapatan menulis surat kepada gadis-gadis.

Tak hanya itu, Malik cukup sering bertemu dengan kawannya bernama Ajun Sabirin. Dari Ajun Sabirin ia bisa mendapatkan surat kabar seperti Caya Sumatera, Sinar Sumatera, Hindia Baru. Dari membaca surat kabar itu, ia melihat satu hal yang menarik, “Tanah Jawa!” Niat untuk mengembara ke tanah Jawa merasuk hatinya. Tanpa seizin ayah, ia putuskan nekat pergi ke Jawa. Iya yakin, kalau izin pasti dilarangnya. Tapi, upaya ke tanah Jawa itu gagal ketika dalam perjalanan ia terserang sakit cacar dan malaria. Untungnya, ada kerabat kampung yang mau merawat dan mengembalikan pulang ketika ia singgah di Dusun Napal Putih.

Sembuh dari sakit dan kembali pulang, wajahnya menjadi menjadi buruk rupa. Bekas-bekas cacar yang dideritanya merusak wajah. Sakit malaria yang hinggap menjadikan rambut rontok. Malik menjadi bahan ejekan dan hinaan yang menambah sakit hatinya. Hanya modal semangat dan percaya diri yang membuatnya mencoba bangkit dari berbagai hinaan; “Anak nakal dan wajah jelek.”


BERPAYAH-PAYAH DEMI MASA DEPAN


Oleh: M. Fatan Fantastik 

Satu di antara syarat untuk meraih ilmu, kata Imam Syafi'i,  adalah kesungguhan.  Kesungguhan dalam waktu lama, dalam usaha meraup ilmu nan mulia.

Tanpa kesungguhan,  yang mudah pun terasa susah dan melelahkan.  Dengan kesungguhan,  berpayah-payah ikhtiar pun terasa nikmat nian.

Ada pencari ilmu yang membaca kitab induk di bidang yang digelutinya berkali-kali. Lagi, dan lagi. Bahkan mengulanginya hingga 100 kali.
Ada pencari ilmu yang rela begadang bermalam-malam demi menyimak nasehat gurunda. Bila kantuk tiba, sang guru memercikkan air ke wajahnya, agar kembali terjaga.

Ada yang memilih menjual rumah, kendaraan, bahkan pakaian, demi membeli pena dan buku.
Ada yang bercapek berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya, demi menemui para guru.

Ada pula yang rela menunda nikah, demi ilmu. #Eh... Bagaimana denganmu?