Kamis, 15 Juni 2017

Adab Makan

Oleh: Silvia Maharani 

1.    Tidak makan bawang putih dan bawang merah sebelum shalat

Bawang putih dan bawang merah dapat menimbulkan bau yang tidak sedap. Jika seorang akan pergi ke masjid, tentu akan menggangu jama’ah masjid dan malaikat, dan juga ia melanggar larangan Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Jika ia ingin memakan keduanya, maka makanlah setelah bawang tersebut dimasak karena bawang merah dan bawang putih yang sudah dimasak tidak menimbulkan bau yang tak sedap.

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang memakan bawang putih dan bawang merah, hendaklah ia menjauh dari kami dan menyingkir dari masjid kami. Hendaknya ia duduk di rumahnya sendiri.”

Beliau shallaLlahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda:

“Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah, atau daun bawang, maka janganlah ia mendekati masjid kami. Sebab, para malaikat juga merasa terganggu dengan sesuatu yang dapat menganggu manusia.”

2.    Tidak makan di jalan
Menurut para Salaf, makan di jalan merupakan sikap yang dapat merusak nama baik. Meskipun kebiasaan masyarakat akan berubah dari zaman ke zaman, dan para ulama tetap menganggap bahwa makan merupakan salah satu aurat. Orang yang makan di jalan akan terlihat oleh banyak orang. Oleh karena itu, sebaiknya hal ini ditinggalkan.

Ahmad bin Hanbal berkata: “Menurut kami makan dan tidur termasuk aurat.”

3.    Bersyukur atas nikmat yang diberikanNya
Seseorang wajib mensyukuri nikmat makan dan minum yang telah dianugerahkan kepadanya. Bersyukur tidak hanya sekedar mengucapkan doa dan dzikir, namun harus direalisasikan dengan menaati Allah swt. Sebab Allah menetapkan nikmat makan sebagai nikmat yang wajib disyukuri.

Allah berfirman:
“....Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: (172))

Allah menjadikan amalan ketaatan sebagai standar dari rasa syukur kepada seorang hamba. Jika seorang hamba telah merasakan nikmat Allah yang telah Dia anugerahkan, hendaklah ia melaksanakan hak Allah sebagai tanda rasa syukur kepadaNya.

Ditulis ulang dari buku: Ensiklopedia Adab karya `Abdul `Aziz bin Fathi 


Senjata Penting Penuntut Ilmu:



1. Ikhlas
2. Beramal dengan ilmu dan menjauhi maksiat
3. Tawadhu
4. Menghormati ulama dan majelis ilmu
5. Bersabar dalam menuntut ilmu
6. Berlomba dalam menuntut ilmu
7. Jujur dan amanah
8. Menyebarkan ilmu dan mengajarkannya
9. Zuhud
10. Mengoptimalkan waktu
11. Mendiskusikan ilmu agar tidak terlupa
12. Menjaga wibawa dan rasa malu
13. Pergaulan yang baik

Rabu, 07 Juni 2017

Mulia atau Hina

Oleh: A. Yusuf Wicaksono

Al-Quran
Dengan dirinya akan terlihat
Orang yang mulia
Dan orang yang terhina

Al-Quran
Orang akan mulia denganmu
Apabila selalu membacamu
Selalu mengamalkan apa yang ada dalam dirimu

Al-Quran
Dengan dirimu pula orang akan terhina
Selalu mencela
Selalu memalingkanmu dari wajahnya
Dan akan tahu akibatnya sendiri
Di akhirat kelak nanti

Sungguh agung firman-Nya
Sungguh mulia kitab-Nya
Yang berisi kegembiraan

Dan ancaman

Kemenangan Pemuda


Oleh: Annafi`ah Firdaus

Binasalah pemuda yang hidupnya tanpa Alquran
Sibuk kerja-kerja dunia telah melenakan 
Bermegah-megahan telah melalaikan
Jadilah mereka bak berjalan tanpa arah tujuan
Sungguh amat kasian
Hingga tak tahu ia sedang dihinakan

Bukankah sungguh telah dilapangkan baginya berbagai kenikmatan?
Bukankah telah dimudahkan pula mempelajari Alquran?
Kenapa engkau masih jauh dari kalam Tuhan?

Wahai pemuda sekali-kali sungguh jangan!
Jangan tinggalkan Alquran sebagai kawan!
Karena ia sebaik-baik panduan
Sebaik-baik menentukan arah tujuan
Ia adalah petunjuk dalam keselamatan
Dan ia adalah syarat kemenangan
Kemenangan dari Allah Sang Pemilik Keabadian

Yang Muda, Yang Bercahaya


Oleh: M. Fatan Fantastik 

Telah masyhur perkataan Imam Asy-Syafi'i saat menyampaikan nasehat dari gurunda Waki' untuk dirinya:

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.”

Ya. Ilmu adalah cahaya. Maka siapa yang bersungguh-sungguh dan berbanyak mengambilnya, dia sedang membuat dirinya dilimpahi cahaya. Dan siapa yang enggan padanya, dia pada hakekatnya sedang membuat gelap meliputi dirinya...

Ya. Ilmu adalah cahaya. Cahaya dariNya. Maka bagaimana engkau hendak menangkapnya, tapi engkau bermaksiat kepadaNya?

Sungguh mempesona dia yang masih muda, dan rela berpayah-payah demi ilmu. Dia tak akan rugi, sungguh tak akan rugi.

Ingatlah jerih payah Ibnu Abbas menuntut ilmu, dan Allah jadikan beliau "tintanya" ummat ini. Ingatlah disiplin belajar Imam Milik di majlis para Syaikh hingga berpuluh tahun, hingga kelak Al-Muwaththa' tersusun.

Asy-Syafi'i, Al-Bukhari, As-Suyuthi, Diponegoro-Sentot, Sudirman, dan deretan para pendahulu nan shalih telah memberi teladan: tak pantas waktu muda dibuang-buang. Waktu muda adalah waktu untuk berjuang. Waktu untuk menempa jiwa. Waktu untuk menuntut dan mengamalkan ilmu.

Ya. Waktu muda adalah waktu untuk bercahaya: dengan idealisme, dengan cita-cita, dengan tanggung jawab. Itu!

Rabu, 31 Mei 2017

Hamka: Anak Nakal Jadi Ulama #6

Oleh: Ridwan Hidayat 

Di masa remaja, ia mengalami peristiwa yang sangat menyakitkan hati. Perceraian ayah dan ibunya membuat Malik semakin terpukul. Kehadiran ibu Malik selama ini rupanya sangat tidak disukai saudara perempuan ayahnya. Sering kali terjadi pertengkaran antara saudara perempuan ayah dengan ibunya. Tapi Haji Rasul tak mampu menghadapi kuatnya adat dalam masalah perkawinan. Ia tak memiliki kuasa untuk menjaga hubungan suami istri. Konflik yang terjadi bukan antara ayah dan ibu malik, melainkan antar keluarga. Perundingan untuk rukun gagal, perceraian jalan terakhir. Malik sedihnya bukan main. Ia dan adik nomor duanya dipilih tinggal dengan ayah. Sedangkan adik perempuan nomor tiga dan empat ikut ibunya.

Sejak itu ia sudah tak pernah lagi di rumah. Di rumah hanya waktu makan saja. Tak ada lagi yang dijadikan pedoman dalam hidup. Kian hari kian renggang  hubungan dengan ayahnya. Ia hidup sesuka hatinya. Bertualang ke mana-mana, untuk menghibur duka. Selama setahun lamanya hingga umur 13 tahun ia hidup bertualang. Ia hanya pulang kalau ayahnya tidak di rumah. Selama pergi ia ikut bersilat. Kadang suka berkelahi. Berkelahinya tak tanggung-tanggung sampai menggunakan pisau yang membuat diri dan lawannya terluka serius. 

Terkadang, ia juga asyik melihat pacuan kuda, menonton permainan judi, dan sambung ayam.
Haji Rasul sudah mulai cemas melihat anaknya yang diharapkan bisa menjadi ulama ini belum juga berubah. Memasuki usia remaja, Malik bukannya tambah alim tetapi tambah menjadi nakalnya. Di keluarga, Malik sudah di cap anak nakal dan dianggap sudah sulit diperbaiki. Seolah, sudah tidak ada harapan menjadi penerus ayahnya. Haji Rasul kemudian memutuskan agar Malik mengaji ke Parabek, lima kilometer dari Bukittinggi. Parabek merupakan tempat mengajar seorang ulama besar bernama Syeik Ibrahim Musa.

Beberapa bulan mengaji di Parabek ternyata juga tak ada perubahan. Kawan-kawan mengajinya di kelas rata-rata sudah berumur 20 sampai 30 tahun. Malik paling muda sendiri, masih 14 tahun. Tapi ia senang di tempat ini, karena bisa lebih bebas dari perhatian ayahnya. Sikapnya yang mudah bergaul membuatnya bisa kenal banyak orang. Mulai dari murid yang paling tua hingga muda dikenalnya. Begitu juga dengan warga kampung, ia mudah sangat akrab. Pergaulannya yang luwes tetap menjadikan dirinya lebih senang bermain daripada belajar, termasuk membuat ulah yang menghebohkan warga kampung.

Bersambung ke edisi 6 ...


Rabu, 24 Mei 2017

MESKI TINGGAL SATU


Oleh: A. Yusuf Wicaksono

Kini kakinya tinggal satu, tapi bukan berarti itu jadi alasan. Ia tidak menghentikan kebiasaannya; shalat malam dengan membaca seperempat al-Qur'an.

Menakjubkan! Dia adalah Urwah bin Zubair. Seorang tabi'in sekaligus satu di antara tujuh ahli fikih Madinah terkemuka. Hari itu, mungkin bagi sebagian orang sangat menyesakkan. Tapi tidak bagi Urwah yang kakinya harus dipotong karena penyakit kanker yang cukup parah.

Seorang tabib yang memotong kaki Urwah begitu faham tentang bagaimana rasanya kaki dipotong. Lantas ia pun menawarkan sebuah obat yang dapat menghilangkan kesadarannya. Namun Urwah menolaknya dan menurutnya cara itu bisa menjadikannya tidak ingat Allah. “Urus  saja dirimu,” kata Urwah kepada tabib sebagai pertanda benar-benar tidak ingin dibius. Urwah ingin merasakan sakitnya sehingga justru akan ingat dan bergantung hanya pada Allah.

Tanpa obat bius, tabib itu memotong kaki Urwah sampai sebatas lutut dan tidak lebih. Lalu hebatnya, pada malam itu juga dia tidak meninggalkan rutinitasnya. Yaitu shalat malam dengan membaca seperempat al-Qur'an.

Shalat malam? Itu `kan sunah? Kenapa bukan shalat wajib yang disebutkan? Maka, untuk orang seukuran Urwah bin Zubair; ahli ilmu, ahli fikih, ahli ibadah, kok rasanya tidak mungkin jika shalat wajib sampai ditinggalkan. Yang waktunya tengah malam saja dilakukan, apalagi shalat lima waktu, pasti dilakukan. Karena shalat lima waktu itu wajib bagi setiap muslim, bisa jadi tidak perlu disebutkan. Cukup yang membuat lebih istimewa saja yang disebutkan.

Dialah Urwah bin Zubair, yang meski berkaki satu tetap istiqomah dalam beribadah.  Dialah Urwah bin Zubair, meski kaki putus, tapi berdekat dengan Allah melalui shalat tiada putus. Hingga kemudian ajal yang memutusnya. Adakah sosok-sosok di antara kita seperti Urwah?



DEMI BISA IKUT


Oleh: Isna Nurbaiti

Pada bulan Ramadhan tahun kedua Hijriyah, terjadilah Perang Badar. Perang ini adalah perang antara Rasulullah serta kaum Muslimin dengan kaum Musyrikin (penyembah berhala). Para Muslimin sangat semangat untuk ikut di perang ini karena tahu hadiahnya adalah surga. Termasuk anak-anak yang ingin ikut perang.

Alkisah, ketika pasukan Islam menuju ke arah Badar, seorang anak bernama Umair bin Abi Waqqash yang masih berusia 16 tahun ingin ikut perang. Tetapi Umair bin Abi Waqqash takut tidak diizinkan Rasulullah untuk ikut berperang karena masih kecil.

Teman-teman tahu apa yang kira-kira Umair lakukan kemudian?

Dengan sembunyi-sembunyi ia masuk ke dalam barisan pasukan. Ketika kakaknya yang bernama Sa'ad bin Abi Waqqash menanyakan hal itu, ia menjawab: “Aku takut Rasulullah melarangku ikut dalam perang ini, mudah-mudahan aku menjadi syahid.”

Pada saat pemeriksaan pasukan perang, keberadaan Umair bin Abi Waqqash ternyata diketahui oleh Rasulullah. Lalu Rasulullah melarangnya ikut karena Umair masih kecil. Umair pun menangis dengan kencang dan memohon ingin tetap ikut berperang kepada Rasulullah.

Maka hati Rasulullah tersentuh dan akhirnya mengizinkannya ikut dalam perang. Umair meraih apa yang ia cita-citakan, yaitu mati syahid di jalan Allah.

Itulah kisah dari Umair yang sangat semangat dalam usahanya demi ikut perang.

Lalu bagaimana usaha darimu untuk menjalankan “perang” yaitu puasa Ramadhan ini?




Selasa, 23 Mei 2017

SHALAT SOLUSI SEHAT


Oleh: Annafi`ah Firdaus

Shalat lima waktu itu seperti sungai yang bersih. Rasulullah umpamakan shalat lima waktu seperti sungai yang berada di bawah pintu rumah setiap hambaNya. Begitulah Imam Muslim meriwayatkan.

Di bawah pintu itu, mengalir air tawar yang jernih, bening, dan menyegarkan. Setiap harinya, para penghuni rumah mandi di sungai itu lima kali.

“Bagaimana pendapat kalian, masihkah ada kotoran yang tertinggal di dalamnya?” tanya Rasul.

“Tidak ada sedikit pun,” jawab mereka.
           
Beliau melanjutkan, “Maka sesungguhnya shalat lima waktu itu akan menghilangkan dosa sebagaimana air (sungai itu) menghilangkan kotoran.”

Ya. Shalat adalah pembersih “kotoran”. Kotoran yang bisa jadi tak sengaja dilakukan, maupun sengaja dilakukan. Contohnya? Mungkin pernah zina mata. Atau berbohong. Menyontek. Meninggalkan shalat. Atau hal-hal “kotor” lainnya yang apabila orang lain tahu, muncul bimbang bahkan malu kalau orang lain tahu. Itulah yang disebut dosa.

Oh iya, ternyata semua syariat atau aturan dalam Islam adalah untuk kebaikan manusia. Iyakah? Ya. Termasuk shalat. Ternyata shalat mengandung unsur kesehatan. Shalat adalah solusi sehat. Sebagai contoh yang akan kita bahas adalah gerakan sujud.

Dituliskan oleh dr. Egha Zainur Ramadhani dalam bukunya “Super Health”, sujud adalah peregangan maksimal otot punggung dan bahu. Nabi ShallaLlahu`alaihi wa Sallam melakukan sujud dengan menekan wajah dan kedua tangan sehingga setiap ruas tulang kembali ke tempatnya.

Mari kita simak beberapa hal yang terjadi saat manusia bersujud dengan benar:
1.         Dalam posisi sikap sujud yang benar, dinding-dinding dari urat-urat nadi yang berada di otak dapat dilatih membiasakan menerima aliran darah yang lebih banyak daripada biasanya. Sehingga akan menghindarkan manusia mati mendadak akibat tekanan darah yang memecah urat nadi bagian otak dikarenakan amarah, emosi berlebihan, terkejut dan sebagainya.

2.    Saat sujud yang benar yaitu salah satunya tidak tergesa-gesa (khusu`), inilah posisi otak senantiasa teraliri oksigen secara maksimal. Hal ini pula akan mempengaruhi daya pikir seseorang. Dan kita sudah tahu, oksigen adalah makanan utama untuk otak.

3.    Sujud adalah gerakan pijatan usus. Maksudnya? Gerakan sujud adalah gerakan meluruskan tulang belakang, meregangkan otot dan hingga mengecilkan rongga perut. Hal ini membuat otot menjadi lebih kuat sehingga baik untuk pencegahan berbagai penyakit (seperti hernia), membantu persalinan, memperkuat kesuburuan, dan baik untuk kesehatan organ kewanitaan.

MasyaAllah. Tiada yang “cacat” setiap ciptaanNya bukan? Setiap perintahNya, selalu ada hikmah dan pelajaran di dalamnya termasuk shalat. Shalat adalah pembersih “kotoran”, sekaligus solusi sehat tubuh kita. Sehat yang tidak sekadar bermanfaat fisik saja, namun secara mental ataupun kejiwaan bagi yang melaksanakannya.

Sekarang, gimana kabar shalat sobat? Segera bergegas setelah adzan berkumandang?

 Menjadi sehat di dunia ada cara dan ilmunya. Apalagi tetap sehat di akhirat. Karena, kelak di surga tidak ada satu pun penyakit yang diderita penghuni surga. Sedangkan di nerakaNya? Tidak ada sedikit pun ampunan dariNya karena bersebab lalai dari shalat.

Nah!



KEUTAMAAN PUASA


Oleh: Muhammad Rosyad

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah: 183).

Teman-teman, sudah tahu`kan tentang  wajibnya puasa, khususnya puasa Ramadhan? Puasa bukanlah ibadah sembarangan. Ia memiliki banyak keutamaan. Dan teman-teman sudah tahu keutamaan puasa? Di kolom sinau edisi buletin Nih ini, kita akan bahas tentang keutamaan puasa. Silahkan disimak ya!

Akan tetapi sebelum membahas tentang keutamaan puasa, kita bahas dahulu tentang arti dari puasa. Apa itu puasa? Puasa dalam bahasa Arab disebut “Shaum”. Shaum secara bahasa bermakna imsak (menahan diri) dari makan, minum, berbicara, nikah, dan berjalan. Sedangkan secara istilah shaum bermakna menahan diri dari segala pembatal puasa seperti makan dan minum.

Nah, sekarang setelah tahu apa itu puasa, kita akan tahu apa itu keutamaan puasa. Inilah keutamaan ibadah puasa:

1. Puasa adalah jalan meraih takwa
2. Puasa adalah penghalang dari siksa neraka
3. Amalan puasa akan memberikan syafa'at (pertolongan) di hari Kiamat
4. Orang yang berpuasa akan mendapatkan pengampunan dosa
5. Puasa menjadi pengekang syahwat
6. Pintu surga Ar-Rayyan bagi orang yang berpuasa
7. Orang yang berpuasa memiliki waktu mustajab terkabulnya doa

Semoga setelah teman-teman tahu keutamaan berpuasa, jadi semakin rajin berpuasa ya. Apalagi puasa di bulan Ramadhan sebulan penuh. Agar Allah semakin cinta pada kita. Agar kita dimasukkan ke surga. Mau? Pasti mau!


#buletinnih #temanmeraihsukses