Selasa, 20 November 2018

Remaja Indonesia, Remaja Utama!



Oleh: @deniz_dinamiz

Offer and Schonert-Reichl, 1992, menunjukkan bahwa dihampir seluruh bagian dunia, hanya 1 dari 5 remaja bersekolah yang mengalami krisis identitas. Ini berarti bahwa sebagian besar remaja sebenarnya tidak mengalami krisis. Delapan puluh persen dari mereka memasuki masa remaja dan melaluinya tanpa harus menghadapi badai dan keguncangan mental. Beda dengan apa yang dianggap sebagian orang yang tidak paham sejarah pemuda-pemuda hebat dan kenyataan di daerah beradab mulia.

Inilah yang seharusnya ada pada remaja kita, yakni mereka yang mengalami krisis hanyalah sebagian kecil. Bahkan harapannya, tidak perlu ada yang krisis. Jika tiap pihak yang mengasuh, mendampingi, dan mendidik anak remaja dilakukan dengan benar, maka jumlah remaja yang mengalami krisis bisa diminimalisir.

Apa keuntungannya jika masa remaja tidak dihabiskan untuk menghadapi kekacauan dan krisis? Remaja dapat lebih fokus meraih prestasi, mengembangkan diri, dan mengasah kepekaan mereka kepada orang lain. Termasuk berkaitan dengan tugas hidup mereka di tengah masyarakat, menumbuhkan tanggung-jawab, dan melatih kepedulian.

Maka, jadilah Remaja Utama yang  luar biasa. Remaja juara yang meraih kualitas hebat di tiap aspek hidupnya. Jangan menjadi remaja biasa-biasa saja.

Janganlah sekadar tidak terpapar masalah dan krisis. Sekadar terbebas dari narkoba, kecanduan gadget atau games, seks bebas, tawuran, dan masalah remaja yang sejenis. Janganlah jadi remaja yang mudah keluh kesah dan sinis. Apalagi yang tiap saat mengalami krisis tak ada habis. Jadilah Remaja Utama yang menatap masa depan dengan optimis!

Untuk itu, kita harus mengenali apa saja kondisi atau status identitas remaja, agar dapat bertindak sesuai kebutuhan dan kondisi. Ada empat status identitas remaja sebagaimana disebutkan oleh James E. Marcia.

Pertama, Remaja Paripurna atau dikenal Identity Foreclosure. Remaja ini tidak melalui masa krisis dan menunjukkan komitmen pada pilihan hidupnya. Kedua, Remaja Sembuh atau Identity Achievement. Remaja ini sudah melalui masa krisis dan akhirnya berkomitmen kuat pada pilihan hidupnya. Dia mempertimbangkan beberapa pilihan sebelum mantap mengambil keputusan tersebut. Ketiga, Remaja Sakit atau Identity Moratorium. Remaja ini sedang dalam masa krisis sehingga komitmen belum terbentuk. Namun, ada usaha aktif untuk membuat komitmen. Keempat, yaitu Remaja Mengambang atau Identity Diffusion. Remaja ini dalam kondisi krisis dan tidak punya komitmen. Dia belum memiliki prinsip jelas, pilihan hidup juga tidak jelas. Bahkan, dia cenderung tidak peduli dengan masa depan dan tantangan yang akan datang.

Maka, tidak semua remaja dalam kondisi krisis. Ada remaja yang mengalami masa pencarian jati diri atau krisis identitas. Tetapi, ada di antara mereka yang sudah memiliki komitmen kuat.  Remaja ini tahu siapa dirinya dan apa yang dia tuju sebagai pribadi. Remaja ini memiliki keyakinan kuat pada apa yang dia pandang sebagai prinsip. Remaja ini tidak mudah goyah dengan tantangan dan kondisi penuh tekanan. Remaja ini menjalankan hidup dengan optimal. Remaja ini menjadi harapan masa depan. Remaja ini akan menjadi barisan pemimpin dunia. Remaja ini adalah REMAJA UTAMA.
Perhatikanlah teladan para pemuda hebat dunia akhirat yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahuanhu, Kami ikut berperang bersama Rasulullah padahal saat itu kami masih muda".

Merekalah remaja utama. Remaja yang siap berjuang habis-habisan, demi prinsip dan kebenaran. Bahkan ketika nyawa menjadi taruhan. Siap bergabung di barisan remaja utama?







Senin, 19 November 2018

Belajar kepada Umar (3)



Oleh: M. Fatan Fantastik 

Umar radhiyallaahu ‘anhu segera  menaiki kudanya dan berangkat menuju ke Baitul Maqdis.

Keberangkatan Umar ini bukanlah tanpa alasan, bermula dari panglima perang beliau Abu Ubaidah radhiyallaahu ‘anhu yang menulis surat kepada penduduk Iliya di Baitul Maqdis. Abu Ubaidah memberi tawaran kepada mereka untuk masuk Islam atau membayar jizyah. Jika tidak, maka mereka akan diperangi.

Ternyata, mereka enggan menerima tawaran dari panglima Islam yang ditunjuk langsung oleh Khalifah Umar bin Khaththab tersebut. Akhirnya, Abu Ubaidah segera mengerahkan pasukannya untuk mengepung Baitul Maqdis hingga mereka terjepit dan minta damai dengan syarat; yang datang langsung adalah Amirul Mukminin Umar bin Khaththab.

Kabar ini pun segera sampai di Madinah, dengan bermusyawarah sebelumnya akhirnya Umar memutuskan untuk memenuhi permintaan mereka untuk datang ke Baitul Maqdis.
Umar berjalan hingga sampai di al-Jabiyah.  Dia telah menulis surat kepada para panglima pasukan untuk bertemu dengannya pada hari yang telah ditentukan di al-Jabiyah. Di hadapan para tentara mukminin, Umar menyampaikan khutbah panjang yang penuh makna. Ibnu Katsir membuatkan ringkasan khutbah bersejarah tersebut untuk kita.
“Wahai saudara-saudara sekalian! Perbaikilah sisi bathin kalian niscaya sisi lahir kalian akan baik.  Bekerjalah untuk akhirat niscaya kalian tercukupi dari urusan dunia.

Ketahuilah, ketahuilah, bahwa tiada seorang pun yang memiliki ayah yang masih hidup yang dapat menghubungkan dirinya dengan Adam, juga tidak ada penghubung antara dia dan Allah. Karena itu, siapa pun yang menginginkan jalan surga, hendaklah mengikuti jamaah karena syaithon itu menyertai orang yang sendirian; ia lebih jauh dari dua orang.
Jangan sampai ada di antara kalian menyepi berdua dengan seorang wanita karena syaithon-lah yang ketiga di antaranya.

Sesiapa senang karena kebaikannya dan sedih karena keburukannya, dialah orang yang beriman.”

Siapa Aku?/ Who am I? (3)



Oleh: @fuz_fm

Kita perlu memahami Al-Quran untuk mengenali diri kita. “Kitab (Al-Quran) itu tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 2). Begitulah Allah menegaskan tentang fungsi Al-Quran. Pada ayat yang lain disebutkan bahwa Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia seluruhnya. Sayangnya tidak semua mau mengikuti petunjuk yang sudah jelas isinya. Hanya sebagian orang saja sehingga Al-Quran adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa.

Al-Quran merupakan buku pedoman hidup manusia. Dia seperti buku pedoman manual yang terdapat pada produk-produk buatan manusia. Jika penggunaan produk itu sesuai dengan buku manualnya, maka barang akan terjamin dan tidak mudah rusak. Sebaliknya, jika tidak sesuai dengan buku manualnya maka barang akan cepat rusak. Sama halnya seperti manusia. Jika sesuai dengan pedoman Al-Quran maka manusia akan hidup dengan berguna, jika tidak maka akan celaka.

Kali ini kita akan membahas kata lain dalam Al-Quran yang membicarakan manusia. Ada sekelompok kata yang asalnya sama yang digunakan dalam Al-Quran untuk membahas manusia. Kata-kata itu adalah al-insu, an-naasu, al-unaasu, dan al-insaanu. Kata-kata ini berasal dari anasa yang berarti abshara (melihat), yakni bahwa manusia memiliki sifat-sifat potensial dan aktual. Kata anasa juga berarti ‘alima (mengetahui), yakni untuk mengetahui dan berpikir. Selain itu, anasa juga bisa diartikan isti’dzaan (meminta izin), yakni menentukan pilihan melakukan yang benar dan baik, menjauhi yang salah dan buruk, serta meminta izin menggunakan yang bukan haknya. Apakah sesuai dengan diri kita? Sudahkah kita mengenal potensi pada diri masing-masing? Apakah potensi yang kita miliki baik dan benar? Coba tuliskan apa saja potensimu!

Pendapat lain mengatakan kata-kata ini berasal dari kata nasiya yang berarti lupa. Manusia memiliki potensi untuk lupa, bahkan sampai hilang ingatan atau kesadarannya. Bukankah tak jarang ada seseorang yang memegang sebuah kunci motor, tetapi pada saat yang sama menanyakan kuncinya di mana? Itu menunjukkan lupa tingkat dewa.
Terakhir, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata-kata ini berasal dari kata al-nuus yang berarti jinak, ramah, dan dapat menyesuaikan diri. Kalau kamu tidak jinak atau buas, tidak ramah, dan tidak dapat menyesuaikan diri, jangan-jangan situ bukan manusia.

Pembahasan ini belum selesai. Kita baru saja mengartikan dari segi bahasa. Kata-kata ini meski berasal dari akar kata yang sama, penggunaannya dalam Al-Quran ternyata berbeda. Kata-kata tersebut akan semakin gamblang ketika kita membahas satu per satu secara rinci. Edisi selanjutnya yaa. In syaa’a (A)llah.

Sumber: Buletin Nah edisi Rabbiul Awwal 

Jumat, 16 November 2018

Identitas Utama




Oleh: A. Yusuf Wicaksono

Bersama Yusuf alaihissalam, masuklah dua pemuda ke dalam penjara. Ketiganya adalah pemuda. Yusuf pemuda shalih lagi utama, namun dia harus mendekam di dalam penjara lantaran mendapatkan fitnah. Tetapi bagaimana dengan dua pemuda yang juga ikut dijebloskan ke dalam penjara?

Keduanya adalah pelayan raja, seorang dari mereka bertugas mengurus minuman raja, sedangkan seorang lagi bertugas membuat roti raja. Dalam kisah yang Allah abadikan dalam surat Yusuf, kedua pemuda itu menanyakan kepada Yusuf alaihissalam tentang takwil mimpi  yang mereka alami. Yusuf pun dengan ilmu yang Allah berikan kepadanya, menakwilkan mimpi keduanya. Sang pelayan minum bermimpi memeras anggur, maka dia akan bebas dan menyediakan minuman lagi bagi sang raja. Sementara pembuat roti bermimpi membawa roti di atas kepalanya, dan sebagiannya di makan burung. Maka, dia akan dipancang di tiang salib  kemudian burung akan memakan sebagian kepalanya.

Apa yang sebenarnya terjadi pada kedua pemuda ini sehingga menyusul Yusuf ke penjara? Saat itu raja sudah mulai tua. Orang-orang pun mulai bosan dengan kepemimpinan sang raja. Maka orang-orang menyuruh dua pelayan raja ini untuk meracuni sang raja. Pemuda yang bertugas menghidangkan minuman pun menolak melaksanakan rancana jahat dari orang-orang. Prinsipnya kuat, dia meyakini perbuatan itu adalah dosa. Namun, berbeda dengan pemuda pembuat roti, dialah yang menyanggupi untuk meracuni sang raja. Sehingga dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal; penjara dan dihukum mati.

Kisah para pemuda ini layak kita cermati dan kita ambil pelajaran. Dari ketiganya kita dapati ada pemuda yang matang identitasnya layaknya Yusuf alaihissalam dan pemuda yang bermimpi memeras anggur. Ada pula pemuda yang belum matang identitasnya layaknya pemuda pembuat roti yang bersedia meracun sang raja. Menurut John Head seorang ahli psikologi identitas adalah susunan psikis seseorang yang membedakannya dengan dunia luar. Pembentukan identitas adalah proses pembentukan pilihan-pilihan hidup, sehingga seseorang dapat menjadi manusia dewasa yang tumbuh optimal.

Seorang yang matang identitasnya, maka dia akan berkomitmen, yang menjadikan dirinya memegang teguh prinsip-prinsip yang diyakininya, kebenaran yang akan dipilihnya. Sedangkan yang belum matang identitasnya, maka lemah pula komitmennya. Dirinya akan mudah terprovokasi, yang menjadikan memilih perkara-perkara yang buruk.

Sebaik-baik pemuda atau remaja adalah remaja utama. Dialah yang matang identitasnya.  Kamu termasuk yang mana?

               

Kamis, 15 November 2018

NAH MENYAPA RABBIUL AWWAL



Qur-Robbi zidni ‘ilma”. Katakanlah (Muhammad) Ya Robbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan. Inilah perintah Allah kepada Rasul-Nya yang mulia, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun beliau manusia terbaik sepanjang masa, tinggi derajatnya; baik di dunia maupun di akhirat. Tetapi tambahan ilmu, itulah yang Allah perintahkan untuk beliau minta. Pun dengan kita, karena kita adalah umatnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ilmu. Allahlah pemiliknya.

Alhamdulillah, Buletin NAH  edisi Robi’ul Awal kembali hadir hadapan pembaca. Tulisan yang ringkas, lezat dan bergizi ini semoga menjadi washilah bagi para perindu ilmu untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Hadir kembali di edisi kali ini, kisah sahabat mulia, Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, yang hendak membebaskan Baitul Maqdis.

Sajian spesial untuk para pembaca dengan hadirnya para remaja utama, yang secara khusus akan membicarakan tentang identitas remaja.

Apa, dan bagaimana identitas remaja itu? Tunggu apa lagi, segera buka buletinnya, baca perlahan, pahami dan dapatkan ilmu yang bermanfaat darinya. Stop! Jangan lupa minta pertolongan Allah Ta’ala. Selamat membaca NAH!



Identitas





Sungguh beruntung dia
Yang muda dan paripurna
Telah jelas arah hidupnya
Prinsip dipegangnya, keyakinan pun kokoh di dada

Sedang di seberang sana
Ada remaja yang masih mengambang  
Tak peduli masa depan
Hidup asal-asalan, cenderung ikut-ikutan

Ada pula yang sedang sakit
Jiwanya sempit lagi terhimpit
Lemah, tapi ingin baik
Bermasalah, tapi ingin berhasil

Alhamdulillah, ada jua yang sembuh
Setelah krisis diatasi dengan tangguh
Berpeluh hingga kemudian kukuh
Komitmen pun dia rengkuh

Inilah identitas para muda
Yang manakah engkau adanya?

------ @emfatan ------

Kamis, 08 November 2018

LESEHAN JAN: ADA CINTA DI DADAKU!



Allah SWT berfirman:
"Katakanlah, Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. At-Taubah: Ayat 24)

Bagaimanakah rasa cinta kita selama ini? Manakah yang lebih kita cintai? Bagaimana agar tetap mencintai semua itu tetapi tidak mendapat ancaman-Nya?

Ikuti:
#LesehanJAN

💧Tema: Ada Cinta di Dadaku

📅9 November 2018

jam 15.30-17.15

👳🏻‍♀ Pembicara:
1.                     D. Denis P. Putrantya, S. Psi (@denizdinamiz)
2.         Fuzta F. M., S. Psi (@fuz_fm)

💡 Fasilitas:
🍈snack KHAS, dan
KOPI ARABIKA “Speciality”

📌 Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

📤 Cara daftarnya mudah. Bisa langsung via WA dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

📞 Info dan Pendaftaran: 085229083888 (putra) atau 085600176738 (putri)

💳 GRATIS!

More Information:

📱 085600176738 atau 085229083888
📱 t.me/buletinnah
📱 Twitter: @buletinnah, @JANtraining
📱 Instagram: @buletinnah, @jantraining
📱 buletinnah.com

Sebar & ajak teman!

Pemuda Bertakwa


Oleh: Muhammad Fakih

Pemuda bertakwa adalah seperti pohon yang menjulang tinggi, meski itu tak mudah. Sebab ia akan tatap tegar bagai bara mentari yang terus menyala setiap hari. Sebab ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar. Sebab ia akan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia akan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia akan menahan hujan yang mencoba merubuhkan. Sebab ia akan berikan bebuahan yang manis nan menyenangkan. Sebab ia akan berikan tempat bernaung untuk burung-burung yang singgah di dahannya. Sebab ia akan berikan perlindungan dengan daunnya yang rindang.

Pemuda bertakwa adalah seperti karang, meski itu tak mudah. Sebab ia akan menahan sengat binar mentari yang garang. Sebab ia akan kukuh halangi deruh ombak yang kuat tanpa kenal lelah. Sebab ia akan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus yang mencoba melemahkan pendiriannya. Sebab ia akan kokohkan diri agar tidak terbawa arus. Sebab ia akan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad tanpa rasa jemu.

Pemuda bertakwa adalah seperti paus, meski tak mudah. Sebab dengan sedikit gerakannya akan menggetarkan seluruh samudera. Sebab dengan besar tubuhnya akan menakutkan musuh yang coba mengganggunya. Sebab dengan sedikit gerakannya akan menenangkan laut dan seisinya.

Pemuda bertakwa adalah seperti elang dengan segala kejantanannya, meski itu juga tak mudah. Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana agar mengetahui medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus terbang jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.

Pemuda bertakwa adalah seperti bunga melati, meski itu tampak tak bermakna. Sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah malu hadapi bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak rendah diri kepada anggrek yang anggun. Sebab ia tak dengki pada tulib yang warna-warni.

Pemuda bertakwa adalah seperti kupu-kupu, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati masa sulit sebelum dirinya masa kini. Sebab ia harus semedi panjang tanpa rasa bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga tiba saatnya untuk keluar.

Pohon akan hadapi petir, derasnya hujan, silau matahari tetapi tetap berusaha menaungi. Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai, juga gelombang. Paus akan menggetarkan samudera dengan sedikit gerakannya. Elang akan terus melayang tinggi tak pernah kenal lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya. Melati ikhlas untuk selalu menerima keadaannya, meski tak terhitung bunga-bunga lainnya dengan segala kecantikannya. Kupu-kupu akan terus bertahan, meski pada waktu diam banyak kejenuhan.

Tapi pohon tetap jadi naungan meski hadapi beribu gangguan. Karang mejadi kokoh dengan segala ujian. Paus menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luasnya samudera. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah terbang sampai bermilyar kilo bentang cakrawala. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang, justru menjadi indah dengan segala kesederhanaan. Kupu-kupu hadapi cerahnya dunia meski harus melewati masa panjang dalam kesendirian.

Jadilah pemuda bertakwa yang akan menembus batas kewajaran pemuda biasanya, jadilah pemuda utama sepanjang masa untuk kebangkitan Islam. Segera...!!!

Sumber: Ditulis ulang dan diubah seperlunya dari buku "The Real Muslim Youths" karya Chandra Purna Irawan 

Selasa, 06 November 2018

Lesehan Jan Spesial: ON EDUCATING MUSLIM YOUTHS: Bagaimana Mendidik Muda Mudi Muslim



#LesehanJanSpesial

Masa muda adalah masa istimewa. Ia seharusnya adalah masa permulaan taklif (tanggung jawab), masa kekuatan atawa asyudda, serta fase usia paling utama.
Bagaimana mendidik para muda agar keistimewaan itu menjadi nyata?

Ikuti:

Special Shortcourse
#LesehanJAN

Tema: ON EDUCATING MUSLIM YOUTHS: Bagaimana Mendidik Muda Mudi Muslim

Sesi terdiri dari 5x pertemuan

JUM`AT jam 15.30-17.15
23 November
30 November
7 Desember
14 Desember
21 Desember

Pembicara:
1. M. Fatan A. Ulum, S.Psi (@emfatan)
2. D. Denis P. Putrantya, S.Psi (@denizdinamiz)
3. Fuzta F. M., S.Psi (@fuz_fm)
4. A. Yusuf Wicaksono, S.Pd (@dik_yusuf)

Fasilitas:
Makalah tiap pertemuan :melon:snack KHAS, dan
KOPI ARABIKA “Specialty”

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Pendaftaran: Max 21/22 November 2018

Cara daftarnya mudah. Bisa langsung via WA dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran: 085229083888 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI

More Information:


Sebarluaskan, dan ajak teman-teman tersayang!

Sabtu, 03 November 2018

Saspel: Remaja Utama




Berdirilah sejenak di atas bangunan yang tinggi, atau di puncak-puncak gunung, lalu lepaskan pandangan sejauh-jauhnya. Apa yang akan terjadi? Kita akan melihat jalan. Kita melihat begitu banyak cara untuk mencapai tujuan, menemukan berbagai alternatif dan mendapatkan apa yang orang lain tidak meraihnya. Kita dapat merencanakan perjalanan dengan lebih baik.

Serupa itu jika ingin membangun remaja. Mari kita mulai tentang remaja seperti apa yang ingin kita bangun. Kita memandang jauh ke depan tentang apa yang semestinya meraka raih. Bukan terjebak oleh isu-isu dan persoalan  runyam seputar remaja. Jika kita menyiapkan mereka, melatih fisik dan mental mereka untuk pemenang, masalah yang mereka jumpai akan mereka hadapi secara produktif.

Lalu, remaja seperti apa yang kita butuhkan di masa depan? Remaja utama, itulah jawabnya.  Sebelum melangkah jauh, istilah remaja utama perlu kita pahami definisi dan karakteristiknya. Salah memahami berarti salah menentukan arah tujuan.

Secara umum remaja diartikan sebagai masa atau peralihan dari anak-anak ke dewasa. Secara peran, masa transisi ini juga merupakan masa berubahnya peran seseorang. Yaitu sebagai anak-anak yang memiliki ketergantungan kepada orang tua atau orang lain menjadi orang dewasa yang mandiri. Lama singkatnya fase perubahan ini, tergantung peradaban yang ada di tengah masyarakat.

Dalam ilmu Psikologi, ada beberapa istilah remaja. Pertama, adolescence. Adalah masa perkembangan manusia yang terjadi sejak pubertas sampai dengan dewasa. Kedua, teenager. Adalah seseorang yang berusia antara 13 sampai 19 tahun. Ketiga, youth. Adalah kondisi di mana seseorang masih muda, belum dewasa, dan belum berpengalaman. Maka, remaja yang dimaksud adalah pengertian yang mengarah kepada istilah adolescence. Bukan orang yang sekadar memiliki usia belasan atau memiliki sifat belum dewasa atau belum berpengalaman. Tetapi, fokus pada masa tumbuhnya manusia dari kondisi anak-anak menjadi dewasa.

Bicara tentang remaja, ada istilah yang sering disandingkan dengan kata remaja, yaitu masa keguncangan atau fase krisis. Benarkah demikian? Pernyataan ini tidak muncul begitu saja, ada tokoh yang mempelopori dan menyebarluaskan  pandangan bahwa remaja adalah masa krisis. Dialah seorang Psikolog asal Amerika yang bernama Stanlay Hall. Namun tulisan singkat ini tidak akan membahas tentang itu, bisa dibaca di kolom sinau tentang “Profil Remaja Utama” di lembar berikutnya.

Setelah kita tahu tentang remaja, kita akan akan kenalan dengan istilah remaja utama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “utama” memiliki dua pengertian. Pertama terbaik; nomor satu; amat baik; lebih baik dari yang lain. Kedua, terpenting; pokok. Sedangkan padanan kata “utama” dalam bahasa Inggris adalah “prime”. Di antara pengertian “prime” menurut Collins English Dictionary adalah kualitas terbaik atau nomor satu; kondisi paling kuat, aktif, dan sukses. Dengan demikian, remaja yang kita harapkan adalah remaja utama. Remaja dengan kualitas terbaik. Remaja dalam kondisi paling kuat, aktif, dan sukses.

Lalu apa yang menentukan seseorang disebut sukses dalam menjalankan masa remajanya? Tugas apa yang harus mereka selesaikan? Kita dengar jawaban John Head, dia seorang ahli pendidikan dari University of London. Remaja memiliki tiga tugas utama untuk menjadi dewasa dan sukses menjalaninya. Yaitu, memiliki pekerjaan atau karir yang sesuai, memiliki pasangan hidup, dan memiliki pola keyakinan dan nilai  yang penting dalam hidupnya. Tiga isu ini berkaitan dengan pembentukan identitas pada remaja.

Yang perlu dipahami, remaja utama bukanlah akhir perjuangan. Ketika  telah mencapai kualitas remaja utama pun, mereka harus menghadapi tantangan dan krisis yang muncul. Mereka harus memperjuangkan dan meningkatkan kualitas terbaik pada diri mereka. Remaja utama harus terus tumbuh dan berkembang agar menjadi pribadi dewasa yang juga utama.

Para remaja kita, perlu menyadari akan pentingnya fase remaja mereka dan mempersiapkannya agar utama. Begitu pun tugas kita, memandang jauh kedepan, menyiapkan remaja kita untuk utama. Remaja utama. <>

Diolah dari Master Plan Remaja Utama bagian Profil Remaja Utama dengan penambahan seperlunya.