Jumat, 08 November 2019

Nyeruput Kopi Sejarah & Hikmah: Para PAHLAWAN PEMBEBAS MASJIDAL-AQSHA




Masjidil Aqsha. Inilah tempat Isra'-nya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Di sana beliau mendirikan shalat dua rakaat bersama seluruh Nabi dan Rasul. Dari sana pula, beliau naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima hadiah shalat 5 waktu.

Masjid Al-Aqsha dan Baitul Maqdis--kawasan di sekitarnya--adalah pusatnya keberkahan, yang telah melahirkan para pahlawan: mereka yang berjuang untuk membebaskan dan memakmurkan Masjid Al-Aqsha.

Siapa saja para pahlawan pembebas Masjid Al-Aqsha itu? Bagaimana kisah-kisah indah dan gagah mereka?

Ikuti acaranya, sambil nyeruput kopi ngobrolin sejarah & hikmah Para Pahlawan Pembebas Masjid Al-Aqsha.

🕌 Tempat
Masjid Muqorrobin, Cawas, Klaten (Utara Pasar Cawas, seberang Pom Bensin Cawas)

Pelaksanaan
Ahad Dhuha, hari Pahlawan 10 November 2019

Waktu: Jam 09.15-11.15

Bersama
Ustadz Fatan Fantastik (penyeruput qohwah, penikmat hikmah dan sejarah)

Fasilitas:
Disediakan Kopi Arabika gratis dan snack godhogan

Bazaar
CP: 0857-0201-3894
0857-7996-6146

GRATIS! |
Bawa Infaq Terbaik untuk Akhirat Terbaik 🗳
Sebar luaskan, ajak saudara dan kawan-kawan tersayang, teman dan handai taulan!

Official Account:
@icb_aksi
@jantraining
@buletinnah
@kopi_mucawas


Resume The World Avoiders #2


Kita juga paham, lebih cinta dunia dibanding akhirat adalah sumber kekalahan pasukan Perang Uhud. Ketika Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam memerintahkan pasukan pemanah di bukit Uhud tidak turun dan tetap berjaga, mereka lebih tergiur dengan harta rampasan yang ingin mereka dapatkan. Mereka turun dari bukit Uhud, pertahanan kaum Muslimin menjadi lemah, musuh pun kembali datang dan menyerang kembali sehingga Muslimin kalah.

Maka, kekalahan kaum Muslimin bersebab urusan dunia ini tidak ingin Khalifah Umar terulang lagi. Ia kirim pasukan yang dipimpin Abu Ubaidah bin Jarrah satu di antara pesan utamanya adalah, “Jangan sampai engkau membawa pasukanmu terlena pada dunia dan cinta pada harta rampasan. Kalau itu kamu lakukan, maka pasukanmu hancur.”

Dunia. Bukankah ia ibarat bangkai kambing? Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam berjalan melewati pasar sedang manusia berada di sisi beliau. Beliau berjalan melewati anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil dan telah mati. Sambil memegang telinganya beliau bersabda:

“Siapa di antara kalian yang suka membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata: “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Maka beliau bersabda: “Apakah kalian suka jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata: “Demi Allah, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, kerena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Maka beliau bersabda: “Demi Allah, sungguh dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.” (HR Muslim)

Kalau di kepala kita masih terpikir uang, uang, dan uang, hingga meninggalkan urusan Allah Ta`ala, berarti belum zuhud.

Zuhud adalah tidak berambisi pada dunia, terpaksa dapat, semua dalam rangka mendapatkan kemenangan utama (akhirat). Dan pembebas Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha erat hubungannya dengan Zuhud.

Siapkah kamu jadi anggota pasukan pembebas Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha?

Resume The World Avoiders #1


Ada surat-surat Al-Qur`an yang menjadi kesukaan Rasulullah untuk dibaca sebelum tidur. Surat Al-Isra` salah satunya. Hal ini beliau lakukan dalam rangka menghubungkan diri dengan Masjid Al-Aqsha yang saat beliau masih hidup belum bebas. Masjid Al-Aqsha masih dikuasai oleh penguasa non Muslim.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak tidur sampai membaca surah Az-Zumar dan Bani Israil (Al-Israa’). [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Itu artinya apa? Rasulullah senantiasa memikirkan kondisi Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama muslimin sebelum dipindahnya ke arah Masjidil Haram.

Di Lesehan Jum`at JAN On Pursuing The Prime Youth #4 ini, kita sudah sampai pada tema “The World Avoiders”. Apa hubungannya dengan Masjid Al-Aqsha? Para pemilik gelar “The World Avoiders” inilah yang tercatat dalam sejarah dalam dekatnya  pembebasan Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha.

Zuhud. Nama lainnya “The World Avoiders”. Kita simak penjelasan dari Rasulullah apa itu Zuhud
dari Abul Abbas Sahl bin Sa’d as-Sa’idi berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shalallahu 'Alahi wa Sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang apabila kulakukan aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia.” Rasululullah bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, pasti Allah mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang di tangan manusia, pasti manusia pun mencintaimu.” (HR Ibnu Majah dan yang lain, hadits ini hasan) (Hadits Arba`in: 31)

Menjadi zuhud, kadang disalahpahami dengan mereka-mereka miskin harta, berpakaian compang-camping, bahkan betul-betul mereka yang meninggalkan dunia. Padahal bukan itu makna zuhud. Zuhud adalah tidak mencintai dan berambisi pada dunia. Terpaksa “menggenggam” dunia, adalah dalam rangka untuk mendapatkan akhirat.

Tentang dekatnya zuhud dengan pembebasan Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha, masih ingatkan dengan kisah seorang pemuda utama bernama Yusya` bin Nun? Dalam memimpin pasukannya, beliau justru tidak menambah agar pasukannya banyak. Tapi beliau kurangi dan keluarkan dari barisan, orang-orang yang di dalam hatinya menjadikan dunia sebagai pikiran utamanya.

Siapa yang baru saja menikah, belum sempat bermalam dengan istrinya, dan masih terpikirkan ingin melakukannya, jangan ikut! Siapa yang membangun bangunan, atapnya belum dipasang, dan masih terpikirkan akan memasang atap, jangan ikut! Dan yang ketiga, siapa yang memiliki unta bunting dan memikirkannya, jangan ikut!

Kamis, 07 November 2019

Publikasi Lesehan Jumat JAN: The Prophet Delighters


Ingin mulia? Gembirakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Muliakan beliau, ikuti langkah-langkah beliau; maka Allah pun mencintai kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

Siapa teladan kita dalam menggembirakan Rasulullah? Tentulah para Sahabat nan mulia, termasuk para pemudanya.

Siapa saja sahabat-sahabat berkedudukan tinggi itu? Apa yang membuat Allah dan Rasulullah ”gembira” dengan mereka?

Ikuti:

Lesehan Jum`at JAN

On Pursuing The Prime Youths #6

Merunut Jejak Hebat Para Sahabat

Tema: 
The Islam Inviters

Waktu:

JUMAT, 9 November 2019
jam 16.00 - 17.25

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah:
Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran:
085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:
085600176738 atau 085329686654
t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah@JANtraining
Instagram: @buletinnah@jantraining
buletinnah.com

Sebarluaskan, ajak saudara, dan kawan-kawan tersayang 


Rabu, 30 Oktober 2019

PUBLIKASI LESEHAN JUMAT JAN: THE ISLAM INVITERS



Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Qs. Fushilat: 33)

Ya. Mereka berusia muda, baik perkataan dan mulia pekerjaannya dan punya kedudukan utama di mataNya. Siapa saja mereka?

Ikuti:
Lesehan Jum`at JAN
On Pursuing The Prime Youths #5
Merunut Jejak Hebat Para Sahabat

Tema: 
The Islam Inviters

Waktu:

JUMAT, 1 November 2019
 jam 16.00 - 17.25

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah:
Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran:
085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:
085600176738 atau 085329686654
t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah@JANtraining
Instagram: @buletinnah@jantraining
buletinnah.com

Sebarluaskan, ajak saudara, dan kawan-kawan tersayang 


Minggu, 27 Oktober 2019

Resume: The Ma`rifah Seekers #2


Lain halnya seorang Professor yang ketika membaca surat Al-Isra` ayat pertama. Sebuah kata “khaula” menjadi inspirasi yang sangat menarik sehingga sampai saat ini beliau meneliti daerah mana yang termasuk “khaula” atau sekitar Masjidil Al-Aqsha yang mendapatkan berkahnya? Maka, kabar yang sangat indah dari hasil “Ma`rifah” beliau bahwa siapapun dan dimanapun yang menghubungkan dirinya dan jiwanya kepada Masjid Al-Aqsha akan mendapatkan berkah dari Masjid Al-Aqsha. Sudah kenal dengan Professor asli orang Palestina ini? Prof Abdul Fattah el-Awaisi.

Begitu pula dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan ketika ditanya oleh para jamaahnya tentang alasan mengapa yang diajarkan dari pertemuan-pertemuan sebelumnya sampai saat itu adalah Surat Qur`an Al-Ma`un. Alasan beliau adalah tidak ada adanya perubahan amal pada jamaah setelah mengaji Al-Ma`un. Mulai dari, “Sudahkah mengenal anak yatim di sekitar kita dan tidak menghardiknya?”, “Sudahkah memberi makan orang miskin?” “Sudahkah tidak membentak orang yang meminta-minta?”

Sungguh, Ma`rifah adalah bukan sekedar tahu, tapi sadar sehingga menjadikan adanya perubahan amal. Termasuk pada Ma`rifah Masjid Al-Aqsha. Di manakah Masjid Al-Aqsha? Berapa luas Masjid Al-Aqsha? Kalau kita belum bisa menjawab atau menjawab tetapi jawaban kurang tepat, berarti pikiran kita terjajah. Bencana besar yang sesungguhnya bukan pada pembantaian yang terjadi, tetapi bencana besar itu adalah hilangnya pemahaman/ Ma`rifah terhadap Al-Aqsha dan Baitul Maqdis.

Semakin seseorang memiliki Ma`rifah yang benar, hati makin lapang. Sebagaimana Imam Syafi`i ketika mendapati satu ayat dari Surat Maryam: 64. Menjadi alat panah yang menembus jantung sehingga menjadi sumber utama ketenangan. “Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam: 64).

Resume: The Ma`rifah Seekers #1


Ilmu yang membawa kepada kesadaran yang benar. Inilah Ma`rifah. Kenapa kesadaran yang benar? Karena ilmu yang dipelajari memang benar.

Ma`rifah akan membawa pemiliknya pada amal. Bukanlah Ma`rifah, kalau tidak membawa seseorang pada amal. Bukanlah Ma`rifah, kalau sekadar pengetahuan tidak berujung pada amal. Contohnya, ada orang yang hafalan Al-Qur`an, tapi tidak berubah perilakunya seperti yang tertulis di dalam Al-Qur`an.

Maka, pada judul di Lesehan Jum`at JAN yakni “The Ma`rifah Seekers”, kita akan membahas tentang “pencari ilmu yang membawa pada kesadaran”. Ma`rifah ini dalam konteks Islam. Yang mereka cari adalah ilmu yang benar sesuai versi Islam.

Ingatkah kita pada seorang sahabat yang memiliki gelar Amirul Mukminin? Bukan Abu Bakar, bukan Ali bin Abu Thalib, bukan pula Rasulullah. Dialah Umar bin Khattab. Yang bertanya kepada Ibnu Abbas tentang surat “idzajaa a nashrullahi wal fath”. Pertanyaan yang cerdas kepada orang yang tepat. Sehingga pantaslah beliau digelari sebagai Amirul Mukminin.

(Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma) menjawab, ”Itu adalah (kabar tentang) ajal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukannya kepada beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “idza ja`a nashrullahi wal fath”. Dalam keadaan seperti itu terdapat tanda ajalmu, maka bertasbihlah dan mintalah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat.” ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu berkomentar: “Tidaklah yang kuketahui darinya (surat itu), kecuali apa yang engkau sampaikan”.

Sabtu, 26 Oktober 2019

Awalan Tentang "The World Avoiders"



Kita perlu tahu bahwa Sunnah Rasulullah bukan sekadar bagaimana cara berpakaian, cara masuk kamar mandi, tapi ada Sunnah tentang pembebasan Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha.

Ada pesan penting dari Umar bin Khattab kepada Abu Ubaidah bin Jarrah ketika memimpin pasukannya dalam pembebasan Baitul Maqdis.

"Jangan sampai engkau membawa pasukanmu terlena pada dunia, cinta pada harta rampasan!"

Mendekat dengan keberkahan Baitul Maqdis adalah dengan Zuhud. Dengan tidak cinta pada dunia. Dan merekalah "The World Avoiders". Bagaimana penjelasan setelahnya? Tunggu di resume Lesehan Jum'at JAN ya.

#baitulmaqdis #OnPursuing #ThePrimeYouths #latepost

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE WORLD AVOIDERS #3


Perlu Tali Kekang Agar Tidak Terperdaya Dunia

Setidaknya ada dua hal yang menjadikan seseorang mampu menahan syahwat dan hawa nafsunya dalam perkara dunia. Pertama, takut kepada Allah. Kedua, menganggap besar dosa. Kita cermati bagaimana takutnya para shahabat serta bagaimana pandangan mereka terhadap dosa.

Kita mulai dari yang pertama, namanya Abdullah bin Handzalah. Suatu ketika dia mendengar seorang membaca firman Allah, “Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka)” (QS. Al-A’raf: 41).

Sontak dia menangis, hingga orang-orang mengira jiwanya akan keluar. Lalu, dia bangkit berdiri. Orang-orang berseru, “Wahai Abu Abdurrahman, duduklah kamu.” Abdullah berkakata, “Ketika neraka jahannam disebutkan, pantang untuk duduk. Aku tidak tahu, bisa saja aku termasuk salah seorang dari penduduk neraka itu.” Meski demikian, para shahabat tidak hanya mengedepankan rasa takut, mereka menghimpun antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja’).

Berikutnya pandangan para pemuda shahabat terhadap dosa. Anas bin Malik berkata, “Kalian melakukan amalan-amalan yang menurut kalian lebih lembut dari sehelai rambut, tetapi bagi kami pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam amalan itu termasuk hal-hal yang membinasakan.” Pernyataan serupa disampaikan oleh pemuda shahabat lain, Abu Sa’id Al-Khudri. Anas dan Abu Sa’id menyampaikan perbandingan itu kepada para tabi’in. Padahal, tabi’in adalah satu di antara generasi terbaik. Mereka satu masa setelah para shahabat. Kira-kira, dosa seperti apa yang para tabi’in anggap seperti sehelai rambut? Lantas apa komentar Anas dan Abu Sa’id jika melihat generasi sekarang ini?

Ad-Duwaiys menegaskan, menganggap besar dosa ini akan melahirkan tindakan memohon ampun dan bertaubat kepada Allah agar terhindar dari bencana dosa tersebut. Selanjutnya, akan melahirkan energi dahsyat yang membantu seseorang mengalahkan syahwat  dan hawa nafsunya terhadap dunia.


Referensi:
1.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta: Bandung.
2.       Musthofa Dib Al-Bugha, dkk, Syarah Riyadush Shalihin Jilid 1, 2011, Yogyakarta; Darul Uswah.
3.       Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE WORLD AVOIDERS #2



Oleh: Tim JAN 

Inilah Zuhud

Dari Sahal bin Sa’ad, dia menuturkan, “Ada lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang apabila aku lakukan maka aku akan dicintai Allah dan disegani orang-orang.”

Beliau bersabda, “Berlaku zuhudlah di dunia, tentu engkau dicintai Allah; dan berzuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh orang-orang, tentu engkau akan dicintai oleh orang-orang.” Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad hasan.

Dalam bahasa hadits di atas disebutkan izhad (berlaku zuhudlah);  zuhud adalah tidak punya ambisi terhadap harta dan kesenangan duniawi agar dapat beribadah secara ikhlas kepada Allah.

Al-Bugha menjelaskan, bahwa zuhud bukan berarti kemiskinan, kehinaan, kerendahan diri dan kemalasan. Namun zuhud adalah pengendalian hati, pemeliharaan diri, serta pengorbanan dengan harta dan jiwa untuk kepentingan fiisabilillah.

Zuhudnya Para Pemuda Shahabat

Sifat zuhud menjadi pertanda bahwa seseorang telah menganggap remeh  dunia. Dunia ini tidak selalu perkara harta, melainkan semua kenikmatan semu yang mana harta menjadi satu di antaranya.

Kesaksian menarik disampaikan oleh Al Mufadhdhal, dia berkata, “Ahli zuhud kaum Anshar ada tiga; Abu Darda’, Syaddad bin Aus, dan Umair bin Sa’ad.”

Sedangkan dari kalangan Quraisy, Ibnu Mas’ud memberikan kesaksiannya, “Sungguh, pemuda Bani Quraisy yang paling mampu menahan dirinya adalah Abdullah bin Umar.” Jabir radhiyallahu ‘anhu juga memberikan kesaksian, “Tidak ada seorang pun  di antara kami yang mendapatkan kehidupan dunia melainkan dia cenderung kepadanya, terkecuali Ibnu Umar.”