Senin, 24 Juni 2019

INGAT! ALLAH MAHA MELIHAT!


Oleh: M. Faqih

Ada seorang guru yang memiliki beberapa seorang murid yang tampak sangat menyayangi salah seorang muridnya. Murid yang lain kemudian berkata, “Wahai guru, mengapa guru hanya menyayangi seorang murid saja? Guru tidak adil!” Mendengar itu, gurunya menjawab, “Aku akan menjelaskan sebabnya pada kalian.”

Setelah itu sang guru memberikan kepada masing-masing murid seekor burung dengan pesan, “Wahai muridku, sembelihlah burung ini di tempat yang tidak ada yang melihat.” Mereka pun pergi mencari tempat untuk menyembelih burung.

Sesaat kemudian, muridnya kembali dengan membawa burung yang sudah disembelih. Tetapi, ada satu murid yang datang membawa burung yang masih hidup. Dia adalah murid yang disayangi gurunya.

Sang guru bertanya kepada murid tersebut, “Mengapa tidak engkau sembelih burung itu?” Dia menjawab, “Engkau menyuruhku menyembelih di tempat yang tidak ada yang melihatnya, sedangkan aku selalu merasa bahwa Allah selalu melihatku.” Sang guru berujar kepada murid yang lain, “Itulah sebabnya mengapa aku lebih menyanginya.”

               

Sabtu, 22 Juni 2019

MENGAPA KITA MENYEMBAH ALLAH


Oleh: Syifa Aprilia Septiana

Terdapat tiga perkara yang wajib diketahui setiap muslim. Agar setiap muslim memiliki iman yang benar sekaligus mampu mengamalkannya. Apa saja?

1. Allahlah yang menciptakan alam semesta (Al-Khaaliq). Terdapat dalam firman Allah, “Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu), dan batas waktu tertentu yang hanya diketahui oleh-Nya. Namun demikian, kamu masih meragukan.” (QS. Al-An'am: 2).

2. Dialah yang memberi rezeki kepada kita (Ar-Razzaaq). Terdapat dalam firman Allah, “Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58).

3. Dia tidak membiarkan kita terlantar dan Allah Sang Raja sesembahan manusia (Al-Maalik). Terdapat dalam firman Allah, “Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tiada Tuhan selain Dia, Tuhan `Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mukminun: 115-116).

Manusia diciptakan bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk beribadah kepada Allah. Kenapa? Dialah Allah Al-Khaaliq, sehingga kita harus menyembahNya. Dialah Allah Ar-Razzaaq, sehingga setiap manusia harus bersyukur dengan semua pemberianNya. Dan Dialah Allah Al-Malik, raja manusia yang mengurus seluruh keperluan makhlukNya.

Kamis, 20 Juni 2019

QUDRAH ALLAH


Oleh: Oleh: Syifa Aprilia Septiana

Dialah Allah, pemilik Qudrah
Sang Penguasa segala
Atas apa yang ada di dunia

Dialah pemilik Qudrah yang sempurna
Qudrah yang kuat
Qudrah yang besar
Tak ada yang dapat melemahkanNya

Ketika Allah berkata, “Jadilah!”
Tiada yang mustahil
Semua terjadi sesuai kuasaNya 

Senin, 17 Juni 2019

BELAJAR KEPADA UMAR #6

Oleh: M. Fatan A. Ulum 

Hims telah takluk, alhamdulillah. Abu Ubaidah kemudian mengirim Khalid bin Walid dan pasukannya ke Qinnasrin. Qinnasrin adalah daerah dekat Himsh di Syam.
Sesampai di sana, pasukan Muslimin diserang para penduduk yang bersekutu dengan Nasrani Arab. Terjadilah peperangan hebat. Pasukan Khalid berhasil menghabisi seluruh pasukan Romawi yang berada di sana, serta membunuh panglimanya yang bernama Mainas.

Sedangkan pasukan Nasrani Arab yang meminta pengampunan karena dipaksa ikut berperang, dibiarkan oleh Khalid.

Selanjutnya Khalid bersama pasukannya bergerak ke pusat kota. Sebagian besar penduduk Qinnasrin bersembunyi di balik benteng pusat kota. Apa kata Khalid? “Andai pun kalian berada di awan, Allah akan membawa kami ke sana untk memerangi kalian, atau menurunkan kalian dari sana untuk kami perangi.” Khalid dan pasukannya terus mengepung hingga Allah menaklukkan Qinnasrin di tangan Khalid.

Atas capaian Khalid ini, Umar bin Khaththab berkomentar, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar, dia lebih mengenali prajurit hebat melebihiku. Demi Allah, sungguh aku mencopot Khalid bukan karena mosi tidak percaya, tapi aku khawatir orang-orang akan mengandalkan dan bergantung kepadanya.”

Ya. Dulu Umar bin Khaththab, setelah diangkat menjadi khalifah pengganti Abu Bakar,  mencopot Khalid dari jabatannya. Ibnu Sa’d meriwayatkan bahwa Umar berkata, “Khalid bin Walid dan Mutsanna bin Syaiban benar-benar akan aku copot agar keduanya tahu, yang memberi pertolongan kepada hamba-hambaNya adalah Allah, bukan mereka berdua.”
Di tahun yang sama yaitu 15 H, jelas Ibnu Jarir, Umar menunjuk Mu’awiyah bin Abu Sufyan sebagai gubernur Qoisariyah. Dalam suratnya, Umar menyampaikan,

“Amma ba’du. Aku mengangkatmu sebagai gubernur Qoisariyah, untuk itu segeralah menuju ke sana dan mintalah bantuan Allah untuk mengalahkan penduduk setempat; sering-seringlah mengucapkan: Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘Aliyyil ‘Adzhiim. Allaahu Rabbunaa wa tsiqotunaa wa rojaa’unaa wa maulaanaa, fani’mal maulaa wani’man nashiir.”

Mu’awiyah beserta pasukannya bergerak ke Qoisariyah, dan mengepung kawasan tersebut. Demikian Ibnu Katsir meriwayatkan. Penduduk setempat beberapa kali menyerang, dan akhirnya terjadi pertempuran hebat. Mu’awiyah bertekad bulat dan mencurahkan segenap tenaga dalam perang ini hingga Allah memberi kemenangan melalui usaha kerasnya. Akhirnya musuh kalah dengan korban di pihak musuh sekira 100 ribu orang. Berita kemenangan dan seperlima harta rampasan perang dikirimkan kepada Amirul Mukminin Umar bin Khatthab. Allaahu akbar! <>

Sabtu, 15 Juni 2019

HATI-HATI HARUS BERHATI-HATI

Oleh: Fuzta Fauzal Muttaqin

Hatiku tergugu. Rasanya seperti ngilu. Seluruh tubuhku sakit. Kepala cekit-cekit. Badan seolah terjepit, seakan dalam ruang yang sempit. Sementara kulihat orang lain tertawa. Hatinya berbunga-bunga. Tampak sekali bahagia. Bagaimana bisa? Mengapa aku tersiksa sementara yang lain bersuka cita?

Aku terpekur memikirkannya. Kemudian, seolah sudah terskenario, kudengar sebuah hadits dibacakan,’Ingatlah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh ada sekerat daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ingatlah daging itu adalah qalbu’.

Aku tertampar. Maka kucari tahu apa sebenarnya qalbu itu. Kata qalbun adalah bentuk mashdar dari qalaba yang berarti berubah, bepindah, atau berbalik. Sedangkan kata qalbun itu sendiri berarti hati atau jantung.

Ada yang menyebutkan kata qalbun ini disebutkan sebanyak 122 kali dalam Al-Quran. Terdapat 43 ayat yang menjelaskan tentang iman. Selanjutnya 24 ayat menjelaskan bahwa qalbun mampu menampung perasaan takut, gelisah, harapan, dan ketenangan.
Selain itu, terdapat 20 ayat yang menjelaskan bahwa qalbun mampu menerima dan menyimpan sifat-sifat seperti keteguhan hati, kesucian, kekasaran, kekerasan, dan sifat sombong. Dalam 5 ayat lainnya dijelaskan bahwa qalbun punya kemampuan untuk berdzikir, dan dengan dzikr ia akan menjadi tenang.

Sedangkan dalam 7 ayat lainnya dijelaskan bahwa qalbun punya kemampuan untuk memahami (dengan menggunakan ‘aql) fakta-fakta sejarah dengan mengarahkan kemampuan pendengaran, penglihatan, dan pikiran.

Aku terperanjat. Tak hanya ‘aql yang kemarin kita bahas, ternyata qalbun juga lebih banyak digunakan untuk membahas tentang keimanan dibandingkan yang lain. Jangan-jangan selama ini hatiku rusak, karena penggunaannya tidak sesuai dengan tata aturannya.
Mungkin selama ini hatiku lebih sering memikirkan tentang dunia saja. Harta, tahta, atau wanita. Karena kondisi hati menentukan kondisi tubuh seluruhnya. Bagaimana kondisi hatimu? Apakah sama sepertiku yang sedang tergugu? Atau termasuk yang bahagia selalu?<>

Kamis, 13 Juni 2019

CURHAT LEZAT RAMADHAN


CURHAT:

Mau bertanya, misal kita berdosa terus kita berpuasa dengan tujuan agar Allah berkenan menghapus dosa kita, apakah diperbolehkan?

JAWAB:

Rasulullah bersabda, “...Iringilah segera kejahatan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya, dan pergauilah sesama manusia dengan budi pekerti yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Ya, boleh. Rasul bahkan minta untuk segera taubat dan mengirinya dengan amal-amal kebaikan. Jika sobat pilih puasa dan mampu melaksanakan, silahkan. Lakukanlah agar Allah ridho dan caranya sesuai tuntunan Rasul. Tidak sembarang puasa yang itu tidak sesuai ajaran Rasul.

Untuk dosa, jika berhubungan dengan manusia, segera minta maaf dengan budi pekerti yang baik. Perbaiki hubungan kita dengan orang tersebut bahkan kepada semua saudara atau teman-teman kita. Tunjukkan kepada Allah bahwa “aku” sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Bismillah. Semoga Allah ridho.


Selasa, 11 Juni 2019

ANAK DAN MEJA MAKAN

Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Lauk dan sayur telah tertata, nasi juga sudah siap. Belum lagi tambah buah-buahan segar dengan bentuk yang menggoda.. Semua itu kan yang sering tertata di meja makan? Ya begitulah, menu spesial dan istimewa. Tetapi, sudahkah momen meja makan seistimewa menunya?

Meja makan, tepatnya waktu makan. Sebuah momen yang seharusnya begitu spesial bagi tiap keluarga. Karena di sana berkumpul bapak, ibu, anak-anak dan mungkin ada keluarga lain  juga. Apalagi dengan hidangan spesial dari wanita mulia, ibu.

Wahai pemuda, jangan malu untuk berbagi. Di sanalah momen istimewa untukmu bersama keluarga. Sampaikan perjuanganmu selama sekolah, atau saat kuliah, ceritakan keseharianmu bersama teman, ceritaan masalahmu untuk sebuah solusi, dan mungkin ceritakan tujuanmu di masa depan. Di sanalah momen kalian mendapat saran dan nasihat dari keluarga, dan jangan lupa mintalah doa dari mereka.

Wahai bapak dan ibu, itulah momen yang tepat bagi kalian untuk sebuah pendidikan. Itulah waktu yang tepat untuk mendengarkan curahan hati mereka, cerita mereka, bahkan keluh kesah mereka. Di saat itu pulalah kalian bisa mengarahkan kesalahan-kesalahan mereka andai mereka salah. Nasihat dan doa, tentu jangan sampai lupa.  Ya, di sebuah meja makan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah memberikan teladan. Dulu. saat itu Umar bin Abu Salamah berada di pangkuan sang lelaki mulia. Seketika, munculah sifat apa adanya pada diri Umar, tangannya bergerak ke sana ke mari di nampan makanan. Melihat itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegur si bocah, “Hai nak, ucapkanlah basmallah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah apa yang ada di hadapanmu.” Lantas Umar membuat pernyataan yang membuktikan keberhasilan nasihat beliau, dia berkata, “Sejak itu, begitulah caraku makan.”

Terkadang ketika si anak berada di meja makan, mereka mulai bersikap “apa adanya”. Tanpa merasa malu, mereka ambil makanan ini itu dan kurang perhitungan. Efeknya mereka menjadi liar dan rakus saat di meja makan. Terkadang, tangan mereka juga kelayapan untuk mengambil makanan di mangkuk-mangkuk yang tertata di atas meja. Ke kanan ke kiri, jauh pun berusaha mereka dapatkan.

Dari sinilah proses pemuda utama terbentuk. Rantai yang panjang terbentuk dari  rantai satuan yang lebih pendek. Begitu pula rantai kehidupan manusia, dari masa kecilnya, mudanya dan masa tuanya. Masa kecil mereka berpengaruh terhadap usia mudanya, masa muda berpengaruh terhadap masa tuanya. Jangan sia-siakan! <>

Rabu, 05 Juni 2019




السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Dengan penuh kerendahan hati, keluarga besar JAN Training dan Buletinnah mengucapkan selamat menjalani عيد الفطر ('Idul Fithri) 1440 H.

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ

Semoga Allah Ta'ala menerima ibadah kami dan ibadah Anda semua.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه.

Keluarga besar JAN Training dan Buletin Nah!

MENCARI RIZKI SEJATI


Oleh: Deniz Dinamiz

Bagi kamu yang suatu saat ingin punya pekerjaan, maukah kamu punya penghasilan uang jutaan, bahkan milyaran? Inginkah kamu berpenghasilan uang 2M tiap bulan, menjadi pemimpin perusahaan pilihan, punya rumah idaman, ditambah mobil pribadi bukan sewaan? Syaratnya cuma satu: Kamu JUAL agama dan keyakinanmu. Kamu manggut setuju dengan berbuat korup dan curang dalam mencari penghasilan. Mau?

Kalau kamu tidak tahu untuk apa kamu mencari rizki di dunia ini, pasti sudah dengan mudah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.
“Dan tidak ada satu pun hewan melata di muka bumi ini, kecuali rizkinya telah ditetapkan Allah…” (Q.S. Hud ayat 6)

Nah, hewan melata saja dijamin rizqinya. Apalagi kita? Jadi tiap makhluk sudah ditentukan jatah rizki-nya. Lalu buat apa kita belajar dan bekerja? Bukankah untuk mencari rizki?
Islam menjadikan proses mencari ilmu dan berusaha bekerja sebagai bagian dari ibadah dan cara mendekatkan diri kepada Allah.

“Sesungguhnya ruh Qudus (Jibril) telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rizki-nya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rizki…”

Perhatikan. Kita diperintahkan untuk bertakwa dan menjaga cara kita mencari rizki. Dan hadits ini masih ada lanjutannya..

“ … Jangan sampai tertundanya rizki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rizki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (Hadits riwayat Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani)
Sudah jelas bagaimana Islam mengatur segala sesuatunya. Termasuk dalam cara mencari rizki dalam hidup ini. Ingat: rizki tidak hanya berupa uang atau harta. Dia bisa dalam berbagai rupa. Bisa berupa keluarga yang menyayangi, tetanggga yang baik hati, teman yang peduli, rumah dan alam yang nyaman dihuni, dan segala macam pemberian Allah untuk diri kita.

Itulah mengapa rizki berasal dari bahasa Arab, yaitu razaqo-yarzuqu-rizq, yang berarti “pemberian”. Secara istilah, rizki adalah apa saja yang diberikan Allah SWT yang diperoleh manusia.

Sejatinya, pemberian paling penting dari Allah untuk kita adalah Iman dan Islam di dalam hati kita. Karena inilah yang akan membawa kepada kebahagiaan sejati: Sukses di dunia dan Surga di akhirat. Maka, sudah seharusnya kita belajar dari teladan Rasulullah. Beliau bahkan rela kehilangan dunia demi menjaga tegaknya agama Islam di muka bumi ini. Ingatkah kalian akan kisah Rasulullah yang satu ini?

Ketika itu Nabi kita tercinta telah diangkat menjadi Nabi oleh Allah. Beberapa waktu setelah itu, secara terang-terangan Nabi mencela berhala-berhala yang disembah kaum Quraisy Mekah. Orang kafir Quraisy takut hilangnya kekuasaan mereka dalam hal agama dan juga perdagangan jika sampai orang-orang tidak lagi menyembah berhala mereka. Mereka takut kehilangan penghasilan mereka karena dakwah Nabi.

Orang-orang kafir itu pun me-lobby paman Rasulullah yang nggak pernah berhenti melindungi keponakannya itu,

“Kami tidak akan tinggal diam terhadap orang yang memaki nenek moyang kita dan mencela berhala-berhala kita! Sebaiknya kamu suruh dia diam atau sama-sama kita lawan dia hingga dia atau kami BINASA!”

Mendengar hal ini, maka dipanggilnya Nabi Muhammad dan diceritakannya tentang hal ini. Lalu Abu Thalib berkata,

”Jagalah aku, begitu juga dirimu. Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul...”
Nabi Muhammad menoleh kepada pamannya, seraya berkata,

“Paman,” jawab Rasulullah, “demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugasku ini, sungguh tidak akan kutinggalkan! Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu di tanganku atau aku binasa karenanya.”

Terpesona Abu Thalib oleh jawaban itu, lalu dipanggilnya lagi keponakannya dan dikatakan kepadanya, “Anakku, katakanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan engkau bagaimanapun juga!”  

Rasul yakin bahwa berdakwah dan membela Islam adalah perjuangan untuk meraih ridhoNya. Meski itu berarti bertaruh harta terkuras, tubuh dilindas, bahkan nyawa dirampas!
Maka ingatlah: Rizki sejati yang dibawa sampai surga, hanyalah rizki dan harta yang dicari dengan halal dan digunakan untuk meraih ridhoNya. Harta yang dikumpulkan di dunia? Hanya akan ditinggal mati untuk anak cucu keturunan kita. Carilah Rizki Sejati! <>

Senin, 03 Juni 2019

HALAL DAN THOYYIB

Oleh: M. Fatan A. Ulum 

Yang halal beda dengan yang haram
Sedikit  ataupun banyak, ia menentramkan
Kecil ataupun besar, ia penuh kebaikan
Karena ia halal

Tambahilah rizki yang thoyyib
Yang baik
Yang berakibat baik
Bukan yang pura-pura baik