Rabu, 22 Mei 2019

Dipertanggungjawabkan

Oleh: Silvia Maharani 


Di saat mulut ini terkunci
Di saat orang sibuk memikirkan dirinya
Di saat orang tak peduli dengan yang lain
Dan di saat pula
Orang tak bisa menolong

Semua catatan dibuka
Untuk menjadi saksi atas perbuatan ini 
Semua perbuatan dipertanggungjawabkan
Tak ada yang dimaafkan

Ya, Raqib ‘Atidlah
Yang mencatat dan mengawasi
Apa yang dilakukan seorang insan

Sumber: Bank Data Kusen JAN 

Kamis, 16 Mei 2019

Manusia Itu Istimewa



@fuz_fm

Aku teringat sebuah ayat, Firman Allah Yang Maha Melihat, “Dan sesungguhnya telah kami muliakan Anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Al-Isra': 70). Ternyata Allah sangat memuliakan manusia. Bagaimana caranya?

Aku juga teringat Surat Al-Baqarah ayat 30-35 yang mengisahkan bagaimana penciptaan manusia pertama (Nabi Adam). Allah mengaruniakan kepada manusia berupa 'aql. 'Aql inilah yang menjadikan manusia paling mulia dibandingkan seluruh makhluk yang telah diciptakan. Bahkan bisa lebih mulia daripada malaikat.

NAH, lalu apa itu 'aql? Apakah sama dengan akal yang selama ini kukenal? Tentu aku pun harus memahaminya dari akar katanya, dari Bahasa Arab.

Setelah kutelusuri, secara bahasa kata 'aql mempunyai aneka makna. Di antaranya bermakna kecerdasan. Sedangkan kata kerjanya ('aqala) bermakna mengikat atau menawan. Karena itulah seseorang yang menggunakan akalnya disebut dengan 'aaqil; orang yang dapat mengikat dan menawan hawa nafsunya.

Uniknya, Al-Quran tidak pernah menggunakan 'aql dalam bentuk kata benda. Seluruhnya berbentuk kata kerja. Seakan Al-Quran ingin menjelaskan bahwa berpikir dengan akal adalah kerja dan proses yang terus menerus, bukan hasil perbuatan. Kata-kata tersebut berbentuk 'aqala, na'qilu, ya'qilu masing-masing 1 kali, ya'qiluun 22 kali, dan ta'qiluun 24 kali.

Jumlahnya sebanyak 49 kali; 14 ayat digunakan untuk memikirkan dalil dan dasar keimanan, 12 ayat untuk memikirkan dan memahami alam semesta, 8 ayat tentang pemahaman terhadap peringatan dan wahyu Allah, 7 ayat tentang pemahaman terhadap proses sejarah keberadaan manusia di dunia, 6 ayat tentang pemahaman terhadap kekuasaan Allah, 1 ayat tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan moral, dan 1 ayat tentang pemahaman terhadap makna ibadah.

Aku terperangah. Mayoritas kata 'aql ternyata digunakan untuk memikirkan keimanan. Baru kemudian digunakan untuk memikirkan ilmu pengetahuan. Sementara banyak orang yang menggunakan 'aql-nya untuk berlomba-lomba dan bersaing dalam ilmu pengetahuan. Bagaimana berlomba-lomba dalam keimanan dan taqwa?

Inilah 'aql. Sesuatu yang jika digunakan manusia dengan cara yang baik dan sesuai aturan Allah, maka manusia bisa menjadi lebih mulia dari malaikat. Syaratnya adalah lebih banyak digunakan untuk memikirkan keimanan daripada ilmu pengetahuan. Bagaimana kondisi imanku? Bagaimana kondisi imanmu? Mari pikirkan!

Sabtu, 11 Mei 2019

Kamu Tergantung Teman Dekatmu


@dik_yusuf

siapa teman dekatmu? Dialah yang akan berpengaruh terhadap kamu.
“Seseorang tergantung agama teman dekatnya,” sabda Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Maka hendaklah kalian memperhatikan siapakah teman dekatnya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani.

Ada kisah menarik tentang hal ini. Dialami oleh seorang pembunuh, lebih tepatnya pembunuh 99 jiwa.

“Dahulu,” sabda Rasulullah memulai ceritanya, “Dari generasi sebelum kalian, terdapat seorang lelaki yang telah membunuh 99 jiwa. Karena ingin bertaubat maka ia mencari orang yang dipandang paling pandai, dan ia ditunjukkan pada  seorang rahib. Si pembunuh pun mendatanginya,  lalu menceritakan, 'Apabila ada seseorang  yang telah membunuh 99 jiwa, masihkah ada jalan taubat untuknya?'

'Tidak ada,' jawab si rahib. Maka dibunuhlah si rahib itu, sehingga genaplah menjadi 100 jiwa yang telah dibunuhnya. Kemudian si pembunuh mencari orang alim lainnya, dan ditunjukkanlah ia kepada seorang lelaki alim.

'Jika ada seseorang yang telah membunuh 100 jiwa, masihkah ada jalan taubat untuknya?' Tanya si pembunuh.

Orang alim itu menjawab, 'Tentu saja ada. Siapakah yang bisa menghalangi dirinya dari taubat? Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang rajin beribadah kepada Allah Ta'ala. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka! Janganlah kamu kembali ke kampung halamanmu, karena itu tempat yang penuh kejahatan,'”demikian Rasulullah menceritakan.

Kisah ini sebenarnya masih berlanjut. Tidak tepat jika semua saya tuliskan di sini. Singkat cerita, si pembunuh pun berangkat. Namun, di perjalanan ajal menjemputnya. Nyawanya diperebutkan oleh Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Setelah diukur jaraknya, ternyata tempat matinya lebih dekat sejengkal dengan desa baik yang hendak ditujunya. Lantas, ia pun digolongkan sebagai penduduk desa baik tersebut. Atas sebab itulah, nyawa si pembunuh dibawa oleh Malaikat Rahmat.

Mana buktinya jika teman sangat berpengaruh? Cermati perkataan si rahib, karena di sana banyak orang yang rajin beribadah kepada Allah Ta'ala, beribadahlah kepada Allah bersama mereka. Kenapa harus di sana? Karena berkumpulnya teman yang rajin ibadah, menjadikan seseorang lebih mudah melakukan ibadah yang serupa. Karena bersama orang yang taat dia akan diajak taat, dia pun  akan dinasihati jika lalai, dia akan diberi semangat jika tengah malas, bahkan dia senantiasa akan diingatkan adanya negeri akhirat.

Segera, tentukan teman dekatmu, teman yang bisa membawamu ke surga-Nya.

Senin, 06 Mei 2019

CURHAT LEZAT



Curhat
Kadang aku semangat. Kadang aku futur. Gimana agar fithrah kita tetap sholih atau sholihah? (Roma, Yogyakarta)

Jawaban
Apa itu futur? Rasa malas, enggan, dan lamban dalam melakukan kebaikan yang mana sebelumnya ia rajin dan bersemangat melakukan kebaikan. Itukah yang Sobat rasakan?
Satu di antara penyebab kita berada di titik tidak sholih maupun sholihah adalah diperbudak nafsu yang mengajak pada keburukan. Solusinya adalah bersabar (tetap melakukan) dalam melawan nafsu itu. Caranya adalah senantiasa istiqomah melakukan amalan-amalan kebaikan sesuai perintah Allah dan tuntunan Rasulullah. Meskipun hanya amalan yang sejatinya mudah. 

Sabtu, 04 Mei 2019

Jangan Puas Dengan Kerja Keras



@denizdinamiz

Lihat sekitarmu.

Lihatlah orang-orang yang kamu temui sehari-hari. Di pasar. Di jalan. Di kantor-kantor maupun di tempat umum. Apa yang mereka lakukan? Sebagian besar bekerja. Terkadang mereka melakukan aktivitas lain, seperti berolahraga, bermain musik, melakukan hobi tertentu. Menurut kamu: Seberapa BAIK mereka melakukannya?

Kemungkinan besar jawabannya adalah: cukup baik. Paling tidak cukup baik untuk tetap mereka lakukan dari hari ke hari. Mereka tidak dipecat dan bahkan terkadang peran dan jabatannya menanjak. Mereka dapat berolahraga dan bermain musik cukup baik untuk bisa mereka nikmati. Tetapi kenapa hanya sedikit diantara mereka (kalaupun ada) yang melakukan aktivitas mereka dengan kualitas HEBAT dan LUAR BIASA? Bahkan kualitas prima tingkat dunia?

Kenapa mereka tidak? Kenapa mereka tidak dapat mengelola bisnis seperti Jack Welch? Bermain golf seperti Tiger Woods atau bermain musik seperti Mozart? Padahal, mereka melakukan aktivitas mereka terus-menerus dalam waktu yang lama. Ada yang dua puluh, tiga puluh, empat puluh tahun melakukan pekerjaan atau aktivitasnya. Kenapa waktu yang sangat lama ini tidak cukup untuk menjadikan mereka berkualitas tingkat dunia?
Apakah karena mereka tidak berbakat? Atau mereka tidak serius menjalankan aktivitasnya karena hanya sekedar hobi?

Kenyataannya, banyak di antara mereka yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh keringat selama berpuluh-puluh tahun. Kualitas kerja mereka? Biasa-biasa saja. Bukan kualitas tingkat dunia.

Bahkan ada temuan yang mengherankan: Orang dengan pengalaman kerja yang tinggi tidak lebih baik dalam melakukan pekerjaannya dibandingkan dengan mereka yang pengalamannya sedikit.

Penelitan di sekolah bisnis INSEAD di Perancis dan sekolah pascasarjana U.S. Naval menyebutnya “Perangkap Pengalaman/ Experience Trap”. Hasil penelitian mereka: Setelah studi yang mendalam, rata-rata, manajer yang berpengalaman tidak menghasilkan produksi yang berkualitas tinggi.

Tampak aneh? Bahkan pada beberapa bidang pekerjaan, hal ini menjadi semakin aneh. Mereka cenderung semakin buruk dengan bertambahnya pengalaman. Semakin banyak dokter berpengalaman cenderung nilai pengetahuan medisnya lebih rendah daripada dokter yang tidak berpengalaman. Dokter umun pun menjadi kurang terampil dalam mendiagnosis suara jantung dan gambar sinar x. Auditor menjadi kurang terampil pada beberapa jenis evaluasi.

Berarti dapat kita pahami bahwa kerja keras (saja) tidak menentukan apakah seseorang dapat mencapai kualitas kerja tingkat dunia. Kalau begitu apa?

Faktor yang menjelaskan performa hebat tingkat dunia disebut oleh para peneliti sebagai “latihan penuh kesadaran (LPK)” atau deliberate practice. Apa yang disebut dengan LPK ternyata menjadi sangat penting. Tampaknya, sebagian besar orang tidak melakukan LPK karena banyak orang bekerja keras selama puluhan tahun tetapi tidak mendekati kualitas HEBAT sedikitpun. LPK juga tidak terjadi ketika kita bermain bola atau alat musik kesayangan kita. LPK memang berat. LPK memang menyakitkan. Tetapi LPK terbukti berhasil. Semakin banyak LPK kita lakukan, semakin baik performa kita.

Jumat, 03 Mei 2019

Dengan Tangan Sendiri


@emfatan

Adalah kehormatan
Bekerja dengan kedua tangan sendiri

Ambillah sesuatu
Bekerjalah dengan itu
Itu lebih baik bagimu
Daripada meminta-minta kepada orang lain

Capeknya badan di petang hari
Setelah bekerja dengan tangan sendiri
Itulah kehormatan diri
Yang sejati

Rabu, 01 Mei 2019

Nah Menyapa





Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaan itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui dan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Allah pun memerintahkan untuk bekerja.

Alhamdulillah Nah edisi Sya’ban akan hadir dengan bahasan Bekerja dengan Tangan Sendiri. Semoga menambah semangat kalian wahai para pemuda, untuk bersemangat bekerja, khususnya untuk mencari keridhaan Allah ta’ala.
Untuk menjadikan kerja lebih semangat, kita Belajar Kepada Umar, bekerjanya untuk Allah ta’ala.  Umar kerja kepada Allah, dengan membebaskan negeri-negeri yang puncaknya adalah Baitul Maqdis. 

Lanjut kita akan Sajian Spesial untuk kalian, Jangan Puas dengan Kerja Keras, akan memompa semangat agar tidak hanya bekerja biasa-biasa saja. Jangan puas dengan sudah bekerja karena orang lain pun juga bekerja. 

Tunggu apa lagi, segera gali isi buletinnya. Lesatkan Semangatmu, Kobarkan Belajarmu.


Jumat, 26 April 2019

#LesehanJumatJAN #OnPreparingTrueLeaders#9




Tiga belas tahun di Makkah, sepuluh tahun di Madinah.

Beliau pimpin perubahan-perubahan yang dari jahil menjadi beradab. Dari kegelapan menjadi terang benderang.

Dia, dengan kasih sayangnya kepada seluruh manusia, rela berlelah, penuh pengorbanan, keberanian tinggi, untuk melakukan perubahan.

Bagaimana agar kita meneladani jejak beliau, Rasulullah Muhammad?

Ikuti:

Lesehan Jumat JAN:

On Preparing True Leaders
Intra Leadership dan Extra Leadership

Jum'at, 26 April 2019

Jam 16.00 - 17.30

Pembicara:
Ustadz Muhammad Fatan A. Ulum

Tema:
Lead Change

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi “Specialty”

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah.
Bisa langsung via WA dengan format _Nama_Alamat_ kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran: 085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS!(PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:

085600176738 atau 085329686654
Telegram: t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah, @JANtraining
Instagram: @buletinnah, @jantraining
buletinnah.com

Sebarluaskan, dan ajak para (calon) pemimpin di masa depan!

Rabu, 24 April 2019

HADIAH-MU



Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Ya Rabb
Inilah Ramadhan             
Bulan yang Kau khususkan
Untuk umat Muhammad
Agar menjalankan puasa
Dari terbit fajar
Hingga mentari terbenam

Kau siapkan hadiah besar
Bagi mereka yang puasa
Itulah saat berbuka dan
Nikmatnya Surga

Ya Rabb
Aku tahan nafsuku
Sebagai bukti taatku pada-Mu
Demi meraih hadiah-Mu
Surga-Mu


Selasa, 23 April 2019

Tempatku Memuja



Oleh: M. Faqih  

Allah ...
Yang Maha Pemurah
Tempatku menyembah
KepadaNyalah kuberserah

Allah ...
Yang Maha Esa
Tempatku memuja
KepadaNyalah kuberdoa

Allah ...
Yang Maha Penyembuh
Tempatku mengeluh
KepadaNyalah kuberteduh

Allah ...
Engkaulah
Tuhanku yang satu
Laaillahaillallah

Sumber: Buletin Nih #30 (Edisi Sya`ban 1440 H)