Rabu, 24 Mei 2017

MESKI TINGGAL SATU


Oleh: A. Yusuf Wicaksono

Kini kakinya tinggal satu, tapi bukan berarti itu jadi alasan. Ia tidak menghentikan kebiasaannya; shalat malam dengan membaca seperempat al-Qur'an.

Menakjubkan! Dia adalah Urwah bin Zubair. Seorang tabi'in sekaligus satu di antara tujuh ahli fikih Madinah terkemuka. Hari itu, mungkin bagi sebagian orang sangat menyesakkan. Tapi tidak bagi Urwah yang kakinya harus dipotong karena penyakit kanker yang cukup parah.

Seorang tabib yang memotong kaki Urwah begitu faham tentang bagaimana rasanya kaki dipotong. Lantas ia pun menawarkan sebuah obat yang dapat menghilangkan kesadarannya. Namun Urwah menolaknya dan menurutnya cara itu bisa menjadikannya tidak ingat Allah. “Urus  saja dirimu,” kata Urwah kepada tabib sebagai pertanda benar-benar tidak ingin dibius. Urwah ingin merasakan sakitnya sehingga justru akan ingat dan bergantung hanya pada Allah.

Tanpa obat bius, tabib itu memotong kaki Urwah sampai sebatas lutut dan tidak lebih. Lalu hebatnya, pada malam itu juga dia tidak meninggalkan rutinitasnya. Yaitu shalat malam dengan membaca seperempat al-Qur'an.

Shalat malam? Itu `kan sunah? Kenapa bukan shalat wajib yang disebutkan? Maka, untuk orang seukuran Urwah bin Zubair; ahli ilmu, ahli fikih, ahli ibadah, kok rasanya tidak mungkin jika shalat wajib sampai ditinggalkan. Yang waktunya tengah malam saja dilakukan, apalagi shalat lima waktu, pasti dilakukan. Karena shalat lima waktu itu wajib bagi setiap muslim, bisa jadi tidak perlu disebutkan. Cukup yang membuat lebih istimewa saja yang disebutkan.

Dialah Urwah bin Zubair, yang meski berkaki satu tetap istiqomah dalam beribadah.  Dialah Urwah bin Zubair, meski kaki putus, tapi berdekat dengan Allah melalui shalat tiada putus. Hingga kemudian ajal yang memutusnya. Adakah sosok-sosok di antara kita seperti Urwah?



DEMI BISA IKUT


Oleh: Isna Nurbaiti

Pada bulan Ramadhan tahun kedua Hijriyah, terjadilah Perang Badar. Perang ini adalah perang antara Rasulullah serta kaum Muslimin dengan kaum Musyrikin (penyembah berhala). Para Muslimin sangat semangat untuk ikut di perang ini karena tahu hadiahnya adalah surga. Termasuk anak-anak yang ingin ikut perang.

Alkisah, ketika pasukan Islam menuju ke arah Badar, seorang anak bernama Umair bin Abi Waqqash yang masih berusia 16 tahun ingin ikut perang. Tetapi Umair bin Abi Waqqash takut tidak diizinkan Rasulullah untuk ikut berperang karena masih kecil.

Teman-teman tahu apa yang kira-kira Umair lakukan kemudian?

Dengan sembunyi-sembunyi ia masuk ke dalam barisan pasukan. Ketika kakaknya yang bernama Sa'ad bin Abi Waqqash menanyakan hal itu, ia menjawab: “Aku takut Rasulullah melarangku ikut dalam perang ini, mudah-mudahan aku menjadi syahid.”

Pada saat pemeriksaan pasukan perang, keberadaan Umair bin Abi Waqqash ternyata diketahui oleh Rasulullah. Lalu Rasulullah melarangnya ikut karena Umair masih kecil. Umair pun menangis dengan kencang dan memohon ingin tetap ikut berperang kepada Rasulullah.

Maka hati Rasulullah tersentuh dan akhirnya mengizinkannya ikut dalam perang. Umair meraih apa yang ia cita-citakan, yaitu mati syahid di jalan Allah.

Itulah kisah dari Umair yang sangat semangat dalam usahanya demi ikut perang.

Lalu bagaimana usaha darimu untuk menjalankan “perang” yaitu puasa Ramadhan ini?




Selasa, 23 Mei 2017

SHALAT SOLUSI SEHAT


Oleh: Annafi`ah Firdaus

Shalat lima waktu itu seperti sungai yang bersih. Rasulullah umpamakan shalat lima waktu seperti sungai yang berada di bawah pintu rumah setiap hambaNya. Begitulah Imam Muslim meriwayatkan.

Di bawah pintu itu, mengalir air tawar yang jernih, bening, dan menyegarkan. Setiap harinya, para penghuni rumah mandi di sungai itu lima kali.

“Bagaimana pendapat kalian, masihkah ada kotoran yang tertinggal di dalamnya?” tanya Rasul.

“Tidak ada sedikit pun,” jawab mereka.
           
Beliau melanjutkan, “Maka sesungguhnya shalat lima waktu itu akan menghilangkan dosa sebagaimana air (sungai itu) menghilangkan kotoran.”

Ya. Shalat adalah pembersih “kotoran”. Kotoran yang bisa jadi tak sengaja dilakukan, maupun sengaja dilakukan. Contohnya? Mungkin pernah zina mata. Atau berbohong. Menyontek. Meninggalkan shalat. Atau hal-hal “kotor” lainnya yang apabila orang lain tahu, muncul bimbang bahkan malu kalau orang lain tahu. Itulah yang disebut dosa.

Oh iya, ternyata semua syariat atau aturan dalam Islam adalah untuk kebaikan manusia. Iyakah? Ya. Termasuk shalat. Ternyata shalat mengandung unsur kesehatan. Shalat adalah solusi sehat. Sebagai contoh yang akan kita bahas adalah gerakan sujud.

Dituliskan oleh dr. Egha Zainur Ramadhani dalam bukunya “Super Health”, sujud adalah peregangan maksimal otot punggung dan bahu. Nabi ShallaLlahu`alaihi wa Sallam melakukan sujud dengan menekan wajah dan kedua tangan sehingga setiap ruas tulang kembali ke tempatnya.

Mari kita simak beberapa hal yang terjadi saat manusia bersujud dengan benar:
1.         Dalam posisi sikap sujud yang benar, dinding-dinding dari urat-urat nadi yang berada di otak dapat dilatih membiasakan menerima aliran darah yang lebih banyak daripada biasanya. Sehingga akan menghindarkan manusia mati mendadak akibat tekanan darah yang memecah urat nadi bagian otak dikarenakan amarah, emosi berlebihan, terkejut dan sebagainya.

2.    Saat sujud yang benar yaitu salah satunya tidak tergesa-gesa (khusu`), inilah posisi otak senantiasa teraliri oksigen secara maksimal. Hal ini pula akan mempengaruhi daya pikir seseorang. Dan kita sudah tahu, oksigen adalah makanan utama untuk otak.

3.    Sujud adalah gerakan pijatan usus. Maksudnya? Gerakan sujud adalah gerakan meluruskan tulang belakang, meregangkan otot dan hingga mengecilkan rongga perut. Hal ini membuat otot menjadi lebih kuat sehingga baik untuk pencegahan berbagai penyakit (seperti hernia), membantu persalinan, memperkuat kesuburuan, dan baik untuk kesehatan organ kewanitaan.

MasyaAllah. Tiada yang “cacat” setiap ciptaanNya bukan? Setiap perintahNya, selalu ada hikmah dan pelajaran di dalamnya termasuk shalat. Shalat adalah pembersih “kotoran”, sekaligus solusi sehat tubuh kita. Sehat yang tidak sekadar bermanfaat fisik saja, namun secara mental ataupun kejiwaan bagi yang melaksanakannya.

Sekarang, gimana kabar shalat sobat? Segera bergegas setelah adzan berkumandang?

 Menjadi sehat di dunia ada cara dan ilmunya. Apalagi tetap sehat di akhirat. Karena, kelak di surga tidak ada satu pun penyakit yang diderita penghuni surga. Sedangkan di nerakaNya? Tidak ada sedikit pun ampunan dariNya karena bersebab lalai dari shalat.

Nah!



KEUTAMAAN PUASA


Oleh: Muhammad Rosyad

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah: 183).

Teman-teman, sudah tahu`kan tentang  wajibnya puasa, khususnya puasa Ramadhan? Puasa bukanlah ibadah sembarangan. Ia memiliki banyak keutamaan. Dan teman-teman sudah tahu keutamaan puasa? Di kolom sinau edisi buletin Nih ini, kita akan bahas tentang keutamaan puasa. Silahkan disimak ya!

Akan tetapi sebelum membahas tentang keutamaan puasa, kita bahas dahulu tentang arti dari puasa. Apa itu puasa? Puasa dalam bahasa Arab disebut “Shaum”. Shaum secara bahasa bermakna imsak (menahan diri) dari makan, minum, berbicara, nikah, dan berjalan. Sedangkan secara istilah shaum bermakna menahan diri dari segala pembatal puasa seperti makan dan minum.

Nah, sekarang setelah tahu apa itu puasa, kita akan tahu apa itu keutamaan puasa. Inilah keutamaan ibadah puasa:

1. Puasa adalah jalan meraih takwa
2. Puasa adalah penghalang dari siksa neraka
3. Amalan puasa akan memberikan syafa'at (pertolongan) di hari Kiamat
4. Orang yang berpuasa akan mendapatkan pengampunan dosa
5. Puasa menjadi pengekang syahwat
6. Pintu surga Ar-Rayyan bagi orang yang berpuasa
7. Orang yang berpuasa memiliki waktu mustajab terkabulnya doa

Semoga setelah teman-teman tahu keutamaan berpuasa, jadi semakin rajin berpuasa ya. Apalagi puasa di bulan Ramadhan sebulan penuh. Agar Allah semakin cinta pada kita. Agar kita dimasukkan ke surga. Mau? Pasti mau!


#buletinnih #temanmeraihsukses 

Rabu, 17 Mei 2017

BULETIN NIH EDISI 45 SUDAH HADIR! MAU?



            Ramadhan sudah di depan mata. Sobat sudah siap menyambutnya? Bulan yang di dalamnya penuh kemuliaan. Maka, bulatkan tekad untuk menyambutnya dengan sebaik-baik taat.

            Adalah shalat, satu di antara amalan yang utama. Rasulullah mengumpakannya laksana sungai di depan rumah. Langsung capcus di sajian spesial kami ya!

            Di kolom pelesat semangat, Sobat akan menemukan bahan penyemangat untuk terus beribadah dengan giat. Dialah  Urwah, tetap tegakkan shalat malam dengan tabah, meski kaki tinggal sebelah.

            Sobat Nah tercinta, mari kita telusuri bersama kisah ulama nan mulia: Hamka. Yang  nakal di masa kecilnya, ketika dewasa jadi ulama.  Sudah baca `kan edisi sebelumnya?

            Sungguh, kita harus senantiasa berdoa agar diberi ilmu dan hikmah yang benar. Seperti Abu Bakar. Yang namanya kelak akan dipanggil dari pintu-pintu surga yang terbuka lebar.

-----

Sobat pingin mendapatkan Buletin Nah ini? 


Selasa, 16 Mei 2017

Al Qur’an

Oleh: Isna Nurbaiti

Kau bagai penerang di dalam kegelapan
Yang menuntun, di saat kami kehilangan jalan
Kau merupakan perkataan dari Ar Rahman
Yang diturunkan lewat Malaikat Jibril kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Karena  kau, suatu kaum mendapat kemuliaan
Karena kau pula, suatu kaum dapat dihinakan
Kau berisi kabar gembira dan peringatan
Kau adalah Al Qur’an, petunjuk bagi orang beriman



Adakah Kamu Perhatikan?

Oleh: Annafi`ah Firdaus

Tentang air yang kamu minum
Yang dengan air itu
Kamu melepas dahaga tanpa tersiksa
Tubuhmu bertenaga
Jiwamu terjaga
Semangatmu bertambah menggelora

Adakah kamu perhatikan?
Tentang benih bebijian yang kau tanam
Tanpa kau berjaga di sampingnya
Ia tumbuh tak terduga
Semakin meninggi, berisi
Hingga akhirnya ia tumbuh sempurna
Sempurna pemanfaatannya

Anugerah dari Sang Penguasa 

Rabu, 10 Mei 2017

BEDAH BULETIN NIH DI SD MUHAMMADIYAH KRONGGAHAN







Sebanyak 26 siswa kelas 4 SD Muhammadiyah Kronggahan mengikuti agenda Bedah Buletin Nih terbaru, yaitu tema olahraga.

Awalnya peserta diberikan materi tentang pentinya cita-cita masuk surga. Sedangkan cara untuk masuk surga adalah dengan beriman, punya ilmu, dan mengamalkannya.

Maka, Buletin Nih diadakan agar menjadi "Teman Meraih Sukses."

Tentu sukses di akhirat, yang utama!


Selasa, 09 Mei 2017

Ramadhan; Tamu yang Dirindukan

Oleh: Wahyu Setyawan

Alkisah. Suatu ketika Ibrahim As keheranan. Ia kedatangan beberapa orang yang belum Ibrahim kenal sebelumnya. Tiga orang yang tak pernah ia kenal di negerinya. Tiga orang tersebut bertamu  kepada Ibrahim.

Ibrahim tidak menyia-nyiakannya. Tamu yang tidak tampak pada diri mereka tanda-tanda orang berpergian. Datang mendadak tanpa kendaraan. Tamu tersebut, Ibrahim sambut dengan hangat dan spesial. Bagaimana tidak spesial. Apa yang Ibrahim hidangkan, kepada tamunya belum pernah dilakukan oleh orang zaman sekarang, mungkin.

Ibrahim bergegas menyiapkan hidangan spesial untuk tamunya.

Ya, tak main-main. Anak sapi yang gemuk, menjadi menu utama untuk para tamunya. Ibrahim sendiri yang menyembelih dan menghidangkannya. Namun, setelah terhidang seluruhnya, tamu tersebut tidak segera menyantap apa yang telah dihidangkan. Ibrahim kian tumbuh rasa khawatir dalam dirinya. Namun, tamu tersebut menenangkan, karena mereka datang diutus untuk menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim. Ya, sebuah kabar baik. Bahwa ia akan dikaruniai putra yang ‘alim nan shalih, yakni Ishaq dari rahim istrinya, Sarah.

Sebuah kisah di atas hanyalah permisalan. Bagaimana kekasih Allah, Ibrahim As menyambut dan memuliakan tamunya. Lalu, bagaimana jika tamu yang hadir merupakan tamu yang agung, spesial, nan dirindukan? Tentu, akan menambah kesungguhan untuk menyambutnya.

Ya. Ramadhan; tamu yang dirindukan oleh setiap muslimin, orang-orang yang beriman, orang-orang bertakwa, dan orang yang takut kepada Allah. Bagaimana malamnya begitu utama dan mulia? Terdapat malam yang penuh kemulian nan keberkahan. Siapa yang tak mengharapkannya? Malam yang lebih baik daripada seribu bulan; Lailatul Qadr.

Tiada waktu yang sia-sia, pasti Allah lipatkan gandakan pahalanya. Bahkan aktivitas tidur di bulan mulia ini, disebutkan sebagai aktivitas ibadah. Sungguh, keutamaan yang tiada di bulan yang lainnya. Dan lebih banyak lagi keutamaan lainnya.

Oh. Siapa yang tak ingin menyambutnya, sebagaimana Ibrahim menyambut tamunya penuh dengan  kehangatan nan spesial. Sungguh rugi dan sia-sia, jika terlewatkan olehnya; ramadhan yang dirindukan. Tamu yang mengabarkan kebaikan, rahmat dan keutamaan bagi yang melaksanakannya.

Seandainya Allah berikan umur panjang dan kesempatan untuk menyambut tamu yang agung tersebut, tentu sebuah kenikmatan yang tiada tara. Semoga, semua yang merindukan bulan Ramadhan, Allah pertemukan dengannya dan menyambutnya penuh dengan keimanan yang tertanam di dalam dadanya. Wallahu ‘alam

Jumat, 05 Mei 2017

Ini Tentang Kehormatan Diri


Oleh: Adik Yusuf Wicaksono

Sa’id bin Musayyab pernah menolak ribuan dirham demi kohormatannya. Dawud Ath-Thai pun juga demikian. Apalagi Hammad bin Salamah, ia menolak dirham-dirham yang jumlahnya lebih besar.

Mendengar kisah orang-orang shalih sekaligus penuntut ilmu dalam menjaga kehormatan dirinya ini, saya jadi teringat masa kecil silam. Saya pernah dimarahi habis-habisan hanya lantaran menerima pemberian dari seorang tetangga. Sayangnya saya lupa apa pemberian itu, kalau tidak salah itu makanan, entah apa itu.

Ibu selalu mengingatkan untuk tidak pernah menerima pemberian orang lain. Segala jenis pemberian tepatnya. Maka ketika saya bermain ke rumah tetangga, jika ditawari sesuatu pasti saya menolaknya. Aslinya mau, dan menginginkannya. Tapi karena ingat, jika saya terima pasti ibu tidak akan terima.

Bukan karena sombong, atau pun merasa kaya, saya kenal ibu tidak demikian. Semua itu beliau lakukan, demi menjaga kehormatan. Menerima pemberian itu beliau anggap merendahkan harga diri.  

Ketika saya dewasa, tepatnya saat mulai menyenangi membaca. Ada buku-buku perjalanan para ulama dalam menuntut ilmu yang saya baca. Saya temukan nama-nama sebagaimana yang telah saya tuliskan di awal tulisan ini. Itu baru tiga nama, masih banyak ulama-ulama lain yang menjaga kehormatan dirinya untuk tidak menerima pemberian dari penguasa atau sekadar upah atas ilmu yang diberikan. Saya jadi tersadar setalah menghubung-hubungkan antara kisah-kisah itu dengan masa kecil silam, betapa mulia nasihat ibu. Secara tidak langsung menyuruh anaknya untuk menjaga kehormatan dirinya.

Coba kita buka lembaran-lembaran yang menceritakan ulama-ulama yang luar biasa itu, saya ambil Dawud Ath-Thai. Kisah ini bisa kalian temukan dalam kitab Perjalanan Ulama Menuntut Ilmu yang ditulis Abu Anas Majid Al-Bankani. Suatu ketika Muhammad bin Qahthabah Al-Kufi mencari seorang guru untuk anaknya. Ia mencari seorang guru yang hafal Al-Qur’an, faham sunnah, mengerti fikih, nahwu, syair, dan sejarah. Ada orang yang mengusulkan nama kepadanya, ia mengatakan, “Tidak ada yang seperti itu kecuali Dawud Ath-Thai.”

Kemudian Muhammad bin Qahthabah Al-Kufi mengirimkan 10.000 dirham untuk memenuhi kebutuhan calon guru anaknya. Namun Dawud menolaknya. Masih belum terima, ia pun mengirim lagi 20.000 dirham yang dibawa oleh dua orang budak, dan ia pun berkata, “Bila ia (Dawud Ath-Thai) menerimanya, kalian berdua merdeka.”

Siapa yang tidak ingin merdeka? Pasti semua menginginkannya, termasuk dua budak ini. Ia bawa dirham-dirham itu dan memberikannya kepada Dawud. Mereka mengatakan, “Jika anda terima, kami akan terbebas.”

“Saya takut,” jawab Dawud. Ia pun melanjutkan, “Apabila saya terima akan menjerumuskan saya ke dalam neraka.” Lantas ia kembalikan dirham-dirham itu dan mengatakan kepada keduanya, “Katakan kepadanya (Muhammad bin Qahthabah Al-Kufi) bahwa jika diberikan kepada orang yang membawanya, itu lebih baik daripada diberikan kepadaku.”

Bukan jumlah yang sedikit 20.000 dirham itu, namun tetap saja ia tidak mau menerimanya. Ini pilihan. Tapi begitulah para ulama-ulama mulia, menjaga diri dari hal-hal yang menghalangi dari menuntut ilmu lebih mereka utamakan.