Sabtu, 21 September 2019

CINTA PALING TINGGI DALAM HATI


Oleh: Deniz Dinamiz 

Ketika di hati kita ada perasaan cinta kepada pasangan jenis, sering kita jadi berfikir, ”Apa yang harus kulakukan?” Dibiarkan, masih terasa. Dijauhkan, masih terasa juga. Didekatkan, wah, makin menjadi-jadi! Terus, bagaimana ini!?

Kalau rasa itu kita pandang sebagai tanaman, perasaan itu bisa tumbuh berkembang sembarang tak karuan. Itu karena dia tidak dijaga. Kalau dijaga, kita tahu kapan harus memangkas pohon cinta dalam kebun hati kita. Ketika pohon cinta itu sudah terlanjur tumbuh, maka sulit dibunuh. Maka pangkaslah secara teratur. Pangkaslah pohon cinta dengan menghentikan perilaku yang bisa menumbuhkan cinta yang tak diridhoi Ilahi.

Di antara yang membuat cinta tumbuh tak karuan adalah berbicara berdua tanpa teman, menatap lama-lama apalagi berbalasan, bercanda berlebihan yang cenderung menggoda, dan bahkan “sekedar” japri yang berkesan bagi si dia. Ada kalanya seseorang merasa lebih nyaman untuk mengekspresikan diri melalui sosmed  daripada bertatap muka. Pesan yang “tidak biasa” pasti pengaruhnya luar biasa!
Lalu bagaimana? Bukankah wajar Allah sudah menciptakan hati untuk merasakan? Ya. Syeikh Ali At-Tonthowy pun mengiyakan. Jelasnya, beliau menyampaikan bahwa ada dua hal suci yang patut kita perhatikan. Yang pertama adalah cinta dalam hati. Yang kedua adalah iman dalam dada. Sungguh beruntung mereka yang memiliki dua kesucian ini pada dirinya. Pohon cinta yang tumbuh dari akar iman yang menghunjam.

Hati-hati dengan hati kita. Apa yang kita sukai belum tentu yang Allah ridloi. Dan apa yang Allah ridloi, suka atau tidak suka adalah yang terbaik buat kita. Bilakah yang dilarang itu justru dianjurkan? Kapankah pohon cinta harus dipelihara dan senantiasa disiram? Ketika pohon cinta itu tumbuh dari benih yang disebut cinta kepada Ilahi.

Berbahagialah mereka yang hidup untuk mencari cinta Allah. Mereka mendapatkan nikmat dan karunia. Mereka terhindar dari bencana. Mereka tidak akan merugi selamanya.
“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhoan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Q.S Ali Imron ayat 174)

Dan ingatlah, Allah janjiNya pasti. Tidak seperti manusia yang belum tentu mampu memenuhi janjinya kepada orang lain. Yakinlah bahwa Allah tidak mungkin ingkar janji.

“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Q.S. Ar-Rum ayat 60)

Nah, kalau kita sungguh-sungguh mencintai Allah, maka cinta kita kepada siapapun akan karena Allah. Kita berusaha agar Allah ridho dengan alasan dan cara kita mencintai orang lain. Sudah selayaknya kita berusaha, agar cinta kepada Allah menempati posisi tertinggi di dalam hati. Semoga Allah menjaga, agar hati kita senantiasa mencintaiNya, melebihi apapun jua.

Sumber: Buletin Nah edisi Muharram 1441 H 

Kamis, 19 September 2019

THE TWO THAT ACCOMPANY

Oleh: TIM JAN

Al-Quran Menerangkan Dua Wanita yang Menemani
Inilah dua wanita yang menemani Nabi Allah Musa alaihissalam. Mereka wanita luar biasa yang Allah tunjuk sebagai pendamping Musa dalam berdakwah. Kakaknya Musa dan putri Syu’aib wanita pilihan tersebut.

Dalam tulisan ini, kita hanya akan membahas tentang putri dari Syu’aib. Untuk memahami siapa wanita itu, dan betapa mulianya mereka, lalu kita bisa mengambil pelajaran dari mereka, maka buka lembaran mushaf kalian. Tengok mereka dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash. Cermati QS. Al-Qashash ayat 21-32 untuk mengetahui rentetan kisah putri Syu’aib.

Dua Putri Syu’aib
Di dalam Al-Quran nama wanita ini tidak disebutkan. Begitu pula siapa nama bapaknya. Yang disebutkan dengan jelas tempat tinggal mereka yaitu negeri yang bernama Madyan. Dijelaskan oleh As-Sa’di dalam Tafsirnya bahwa bapak wanita ini adalah penguasa  negeri Madyan. Lalu siapa bapak wanita tersebut? Prof Yunahar Ilyas dalam kitabnya Kisah Para Rasul jilid 2 menyebutkan bahwa sebagian Mufassir menyatakan  nama bapak mereka adalah Nabi Syu’aib alaihissalam.

Namun beda hal dengan Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam menafsirkan siapa bapak wanita tersebut, beliau menjelaskan bahwa Syu’aib yang dimaksud bukanlah Nabi Syu’aib yang kita kenal. Beliau menyampaikan beberapa alasannya. Pertama,  tidak adanya informasi bahwa Musa mengalami masa yang sama dengan Nabi Syu’aib. Kedua, kalau sekiranya lelaki yang dimaksud adalah Nabi Syu’aib tentu Allah menyebutnya dan tentu gadis tersebut menyebut namanya. Ketiga, Allah telah musnahkan kaum Nabi Syu’aib karena telah mendustakannya. Keempat, jika kedua wanita itu adalah putri Nabi Syu’aib, tentu para lelaki yang menggembalakan kambing itu tidak akan menghalang-halangi dua putri nabi. Sekiranya empat ini cukup untuk memberikan penjelasan bahwa Syu’aib yang dimaksud bukanlah Nabi Allah. Untuk lebih detailnya silahkan cek penjelasan As-Sa’di dalam menafsirkan QS. Al-Qashash ayat 28. Ibnu Katsir pun mengatakan, “Sesungguhnya kalau seandainya lelaki itu adalah Nabi Syu’aib  tentu Al-Quran menyebutkan nama aslinya.” Wallahu a’lam.

Pekerjaan Mulia Dua Putri Syu’aib
Inilah kemuliaan yang dimiliki oleh dua wanita ini. Allah abadikan perbuatan keduanya yang tentu sangat mulia. Allah berfirman,    

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya". (Al-Qashash: 23)

Menggembalakan ternak menjadi pekerjaan dua wanita ini. Sebuah pemandangan yang tidak biasa. Yang menjadi pertanyaan, apa yang menjadikan mereka melakukan tugas yang sering dilakukan oleh kaum lelaki itu? Lihat jawaban wanita itu, “sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” As-Sa’di menafsirkan, maksudnya bapak mereka sudah tidak mempunyai kekuatan untuk meminumkan ternaknya. Sedangkan Ibnu Katsir menjelaskah bagian ini dengan mengatakan, “Inilah yang memaksa kami dalam keadaan seperti yang engkau (Musa) lihat.”

Budi Ashari dalam kitabnya Remaja, Antara Hijaz dan Amerika mengomentari pekerjaan wanita tersebut, beliau mengatakan, “Dua orang pemudi yang harus melakukan pekerjaan laki-laki karena ayahnya sudah tua. Bakti, tanggung jawab, kuat, sabar, menjaga kehormatan, dan berakhlak.” Maka dari sini kita jadi tahu, bahwa pekerjaan yang mereka berdua lakukan adalah bentuk baktinya seorang anak kepada orang tuanya. Mereka sedang birrul walidain.

Wanita dan Sifat Malu
Tatkala mereka berdua sudah pulang. Bapaknya menyuruh salah seorang dari mereka menemui Musa untuk mengundangnya ke rumah.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan malu-malu.” Maksudnya gaya berjalannya gadis ini seperti wanita-wanita merdeka,  bukan seperti budak yang umumnya kurang sopan. Ini sesuai dengan riwayat yang bersumber dari Umar bin Khaththab, dia berkata, “Dia datang berjalan dengan malu-malu seraya menutupi wajahnya dengan bajunya. Dia bukanlah wanita yang berani seenaknya keluar masuk jalan.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ath-Thabari yang memiliki sanad yang shahih.

Bahkan kalimat yang dia ucapkan ketika mengundang Musa menunjukkan bahwa wanita ini memanglah berbudi pekerti yang luhur. Dia benar-benar memiliki rasa malu yang tinggi. Dia berkata, Sesungguhnya bapakku memanggilmu agar dia  memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.  Artinya untuk memberikan upah kepada Musa atas bantuan yang telah diberikan. Menurut Ibnu Katsir perkataan ini memiliki nilai kesopanan yang tinggi dalam mengungkapkan maksud. Dia tidak menyuruhnya datang ke rumah secara mutlak, agar menepis anggapan yang tidak-tidak.

Sekali lagi ini menunjukkan keluhuran jiwa dan akhlaknya yang mulia, sebab rasa malu itu termasuk akhlak yang terpuji, terutama bagi kaum wanita.

 Dialah Wanita Yang Paling Peka Firasatnya

Ketika Musa telah bertemu dengan bapak mereka, kemudian Musa menceritakan semua kejadian yang dia alami, salah seorang dari wanita itu mengatakan, Wahai bapakku amlillah dia sebagai orang yang bekerja (kepada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja kepada kita adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’

Berdasar penafsiran Ibnu Katsir ketika salah seorang putrinya mengusulkan demikian, ayahnya berkata, “Apa yang kamu ketahui tentang dia?” Anaknya menjawab, “Dia mampu mengangkat batu besar yang hanya bisa diangkat  oleh sepuluh orang laki-laki dan juga ketika aku ingin berjalan di depannya, dia berkata kepadaku, ‘Kamu harus berjalan di belakang! (tidak boleh di depan laki-laki). Bila jalan yang aku tempuh itu salah, lempar saja aku dengan kerikil, supaya aku bisa berjalan ke rumahmu sesuai dengan jalan yang benar.’”

Sungguh wanita ini bukanlah wanita sembarangan. Salah seorang dari mereka (dialah yang nanti jadi istrinya Musa) pernah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Manusia yang paling peka firasatnya ada tiga, Abu Bakar ketika melihat kepribadian Umar yang luhur (saat menunjuk sebagai khalifah), Al-Aziz yang berkata berkata kepada istrinya (Zulaikha), ‘Berikanlah kepadanya tempat (dan pelayanan) yang baik’ (Yusuf: 21) dan putri Syu’aib yang berkata kepada bapaknya,  Wahai bapakku amlillah dia sebagai orang yang bekerja kepada kita, sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja kepada kita adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’”

Senantiasa Menyertai Suaminya
Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan Dia berangkat dengan keluarganya. Telah usai kesepakatan Musa dengan Syu’aib, yaitu kesepakatan menyempurnakan bekerja kepada keluarga istrinya; yaitu selama sepuluh tahun. Sudah cukup lama Musa berpisah dengan keluarganya. Para Ulama mengatakan bahwa Musa sangat rindu kepada keluarganya di Mesir. Dia bertekad untuk bertemu mereka secara sembunyi-sembunyi. Dia mengajak keluarganya untuk ikut ke Mesir.

Dia pun menempuh perjalanan di malam hari yang sangat gelap dan dingin. Lalu dia singgah disebuah tempat. Setiap kali dia menyalakan api, selalu saja padam dan tidak mau menyala. Dilihatnyalah api di lereng gunung. Da berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), Sesungguhnya aku melihat api, Mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".
Inilah awal pengutusan Musa menjadi seorang Nabi. Istrinya menyertai Musa menuju ke Mesir. Maka layaknya seorang wanita, kemuliaan bagi mereka adalah memberikan pelayanan kepada suaminya, bahkan menyertai suaminya dalam berdakwah.

Referensi:
1.       Ibnu Katsir, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6, 2006, Jakarta; Pustaka Ibnu Katsir.
2.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta; Darul Haq.
3.       Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., MA., Kisah Para Rasul Alaihimussalam 2, 2017, Yogyakarta; Itqan Publising
4.       Budi Ashari, Remaja Antara Hijaz dan Amerika,2016, Depok; Pustaka Nabawiyah.





Belajar Kepada Umar 9

Oleh: M Fatan A Ulum

Perang Ajnadin

Tahun 15 Hijriyah, Umar bin Khaththab mengirimkan surat kepada Amr bin Al-Ash agar bergerak menuju Baitul Maqdis. Amr melaksanakan perintah tersebut.

Saat melewati daerah Romlah, pasukan muslimin bertemu pasukan Romawi. Perang pun pecah. Persis di daerah Ajnadain, yaitu berada di distrik Bait Jabrain, (Palestina?) Baitul Maqdis.

Perang hebat terjadi antara kedua belah pihak, seperti perang Yarmouk. Banyak korban berjatuhan.
Setelah itu sisa pasukan yang ada bergabung dengan Amr bin Al-Ash sehingga pasukan Amr bertambah banyak.

Arthobun, pemimpin pasukan Romawi, mengirimkan surat ke Amr bin Al-Ash. “Kau adalah teman dan orang yang sama sepertiku, bagi kaummu kau memiliki kedudukan sama sepertiku. Demi Allah, kau tidak akan bisa menaklukkan Baitul Maqdis sedikit pun pasca perang Ajnadain; karena itu pulanglah agar kau tidak diserang lalu kau akan tertimpa kekalahan seperti yang dialami orang-orang sebelummu.”

Amr bin Al-Ash kemudian membuat surat balasan. Lalu memanggil seseorang yang  bisa bahasa Romawi untuk diutus menemui Arthobun. Amr berpesan kepadanya untuk menyerahkan surat itu kepada Arthobun, dan ,”Dengarkan ucapannnya, kemudian kembalilah dan beritahukan kepadaku.”
Apa isi surat dari Amr bin Al-Ash?

“Suratmu sudah aku baca; engkau memang memiliki kedudukan sama sepertiku. Jika engkau lengah dan tidak mengetahui kelebihanku, pastilah aku yang akan berhasil menaklukkan negeri ini. Bacakan suratku ini di hadapan anak buah dan para menterimu.”

Apa yang dilakukan Arthobun saat surat dari Amr tiba?

Dia kumpulkan para menterinya, dan dia bacakan isi surat tersebut kepada mereka. Mereka pun bertanya kepadanya, “Dari mana Tuan tahu bahwa Amr bukan orang yang akan menaklukkan negeri ini?”

“Ya”, jawab Arthobun, “Karena orang yang akan menaklukkan negeri ini namanya terdiri dari tiga huruf, cirinya begini dan begitu”. Tiga huruf itu maksudnya adalah 'ain-mim-ra'. Dan yang disebutkan adalah ciri-ciri dari Umar bin Khaththab.

Utusan Amr pun pulang dan menyampaikan semua itu kepada Amr bin Al-Ash. Amr pun menulis surat kepada Umar. “Saya menghadapi perang yang berat dan mengguncang, saya menghadapi negeri yang telah dipersiapkan untuk Anda taklukkan, maka bagaimana pendapat Anda”.

Umar menerima surat itu. Dia memahami situasi berat yang dihadapi Amr. Umar pun bertekad berangkat menuju Syam untuk membebaskan Baitul   Maqdis.




Rabu, 18 September 2019

Learning from The Best Youth: Dua Yang Terjaga


Ikuti Lesehan Jum'at JAN

Learning From The Best Youth #7

Tema khusus: Dua Yang Terjaga

20 September 2019

JUM`AT jam 16.00 - 17.25  

Pembicara:

Fatan Fantastik (@emfatan)
Deniz Dinamiz (@denizdinamiz)

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)

atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah.

Bisa langsung via WA dengan format _Nama_Alamat_ kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran: 085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:
085600176738 atau 085329686654

t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah@JANtraining
Instagram: @buletinnah@jantraining
buletinnah.com

CINTA YANG LEBIH INDAH


Oleh: M. Fatan A. Ulum 

Mana yang lebih mempesona?
Cinta karena rupa, karena harta,
atau karena Dia?

Mana yang lebih ciamik?
Cinta karena “dia cantik”, “mobilnya antik”,
atau karena “Dia Yang Maha Tinggi”?

Kalau cinta adalah tentang memilih
Cermatlah ke mana kita labuhkan hati

Sapa Nah Muharram 1441 Hijriyah



“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”

Kenapa? Di sinilah ada kesadaran. Kesadaran seorang hamba akan kebesaran dan keagungan Allah Ta'ala. Bahwa, Allah lah yang telah menciptakan alam semesta, dan Allah pula yang mengelola dan memelihara semuanya.

Alhamdulillah atas pertolongan Allah Ta'ala, Buletin Nah Edisi Muharram 1441H telah terbit dan siap jadi bacaan para pembaca. Tulisan ringkas ini, semoga menjadikan sarana bagi pembaca untuk semakin mencintai Allah Ta'ala.

Edisi kali ini, kita akan kembali “Belajar dari Umar”. Tentang sepak terjangnya ketika melakukan pembebasan Tanah Suci kaum muslimin; Baitul Maqdis.

Bagi kalian yang belum menemukan cinta tertingginya. Bukalah lembaran  Sajian Spesial, kalian akan temukan “Cinta Paling Tinggi dalam Hati”.

Tunggu apa lagi, ambil buletinnya, buka perlahan dan baca dengan seksama. Selamat membaca NAH!



Selasa, 17 September 2019

(Resume) The Best in Both #4


Oleh: Tim JAN 

Ada ratusan ribu Nabi dan Rasul yang tidak semuanya disebutkan dalam Al-Qur'an. Mereka sudah mulia.

Ada nama-nama yang tidak disebutkan secara jelas dalam Al-Qur'an memiliki prestasi yang baik, apalagi jika disebutkan?

Maryam menjadi istimewa adalah karena pilihan Allah. Dia disebut dengan sangat jelas, menjadi bukti nyata dia adalah sebaik-baik wanita.

Tiada ada nama wanita yang namanya dijadikan surat dalam Al-Qur'an kecuali Maryam. Tiada wanita yang kisah hidupnya dikisahkan spesial dalam satu surat kecuali Maryam binti Imran. 

Kita belajar dari Hannah yang memiliki misi generasi terbaik lahir dari rahimnya. Lahirlah Maryam binti Imran. Lahirlah Isa Al-Masih.

Maka, jangan meremehkan investasi kebaikan. Jika sekarang kita melakukan kebaikan, dengan izin Allah, akan dirasakan oleh generasi keturunan di masa mendatang.

Jadilah seperti ibunda Maryam. Seperti Maryam. Seperti anak keturunan Maryam. The Best in Both. Mulia di dunia dan akhirat. Agar kita utama dan istimewa di mata Sang Pencipta.

(Resume) The Best in Both #3

Oleh: Tim JAN

Ada beberapa gelar yang didapatkan Maryam. Gelar dari Allah. Apa saja?

Pertama: Qanitah

Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat. (QS. At-Tahrim: 12)

Maryam senantiasa terus menerus berserah diri kepada Allah. Seterusnya dan setiap waktu. Dia senantiasa dalam berdoa dan berdzikir.

Kedua, Sidiqqah

Maryam senantiasa membenarkan kalimat-kalimatNya. Maryam termasuk orang-orang yang taat kepada Allah.

Ketiga, Sajidah

Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'. (QS. Ali-Imran: 43).

Keempat, Raaki'ah

Maryam itu banyak ruku'nya.

"Gaweannya" Maryam itu ya bersujud. Sujudnya ruku'nya Maryam senantiasa panjang. Bagaimana dengan kita?

Kelima, Mustafa

Dia adalah pilihan Allah. Ia menjadi mulia bukan karena pilihan manusia. Tapi menjadi suci dan dilebihkan atas segala wanita di dunia karena Allah.

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (QS. Ali-Imran: 42)

Keenam, Thahirah

Maryam adalah wanita yang suci. Dia tidak pernah bertemu laki-laki selain Zakariyya.
Ada orang yang selama hidupnya untuk shalat, rukuk, tidak pernah ketemu dengan laki laki, tetapi di fitnah berzina.

Orang yang kenceng ibadahnya saja masih di fitnah Allah. Apalagi kita?

Ketujuh, Sa'imah

Maryam itu puasanya kuat. Dalam setahun, setengah tahunnya saja untuk puasa.
Inilah gelar yang di dapatkan Maryam. Apa gelar yang kamu cari?

(Resume) The Best in Both #2


Oleh: Tim JAN

Kalau diturut ke (nasab) atas, Maryam akan sampai pada nasab Sulaiman dan Dawud. Ini berarti, ia termasuk dalam jalur garis keturunan para nabi. 

Tempat kelahiran Maryam adalah yang disebut-sebut sekarang dengan gereja Anne. Jika dilihat di peta, lihatlah begitu dekatnya tempat kelahirannya dengan Baitul Maqdis!

Maryam lahir dari pasangan Hannah dan Imran. Menariknya lagi, Hannah dan Imran belum dikaruniai putra di usia sudah tua. Naluri keibuan Hannah muncul, setelah melihat seekor burung yang memberikan makanan untuk anak-anaknya.

Setelah itu, Hannah hamil. Dia berjanji kepada Allah untuk memberikan anaknya untuk mengabdi di Baitul Maqdis.

Hadiah Hannah untuk Baitul Maqdis adalah anaknya. Janji Allah pun Hannah tepati. Maryam tinggal di Masjid Al-Aqsha sampai usia baligh.

Maka Maryam saat itu hidupnya sangat luar biasa. Undian yang diperuntukkan bagi pemelihara Maryam, selalu tertuju pada Nabi Zakariya. Ia diasuh oleh orang yang istimewa.

Maryam berada di tempat istimewa, dirawat orang istimewa, yang dilakukan juga istimewa.
Ia pun istimewa ketika Allah langsung beri rizki yang tidak terduga-duga. Makanan untuk Maryam langsung dari Allah.



(Resume) The Best in Both #1



Oleh: Tim JAN

Mengapa Maryam menjadi utama? Bagi pecinta agama ini, menggali kehidupannya adalah menjadi hal yang menarik.

Di Lesehan Jum'at JAN #5 ini, pembahasan temanya adalah The Best in Both. Maryam. Wanita yang mulia di dunia dan di akhirat.

Wanita memiliki kedudukan istimewa di dalam agama ini. Sedangkan di selain agama ini? Ada yang melecehkan kedudukannya. Menghina kesuciannya. Atau memperbudaknya.

Al-Qur'an mengistimewakan wanita dengan disebutkan namanya sebagai nama surat dalam Al-Qur'an. An-Nisa.

Beralih ke Maryam. Apa yang terlintas ketika disebut nama Maryam?

Inilah wanita yang disebut sebut Allah dalam Al-Qur'an. Kisahnya adalah cerita nyata. Bukan fiksi.
Dan ketika kita 'berada' di Masjid Al-Aqsha, kita bisa berkata: Oh, di sini rupa-rupanya kisah yang disebut di dalam Al-Qur'an. Oh di sini tempat sujudnya Maryam. Tempat ibadah sebaik-baik wanita.