Kamis, 21 Maret 2019

#LesehanJumatJAN #OnPreparingTrueLeaders#4




Sebelum memimpin yang di luar, kita perlu "memimpin" yang di dalam. Sebelum memimpin orang lain, kita harus mampu memimpin diri sendiri.

Setelah kita bahas "Qalbun" di sesi pertama, "Nafs" di sesi kedua, dan "Akal" di sesi ketiga, insyaallah kita lanjut di sesi berikutnya.

Ikuti:
Lesehan Jumat JAN

On Preparing True Leaders
Intra Leadership dan Extra Leadership
Jum'at, 22 Maret 2019

Jam 16.00 - 17.30

Pembicara:
M. Fatan A. Ulum (@emfatan)

Tema:
Peran Ruh dan Fithrah dalam membentuk/menyiapkan True Leaders

Pastikan dirimu datang dan ajak teman-teman calon pemimpin masa depan! 

Permulaan Penaklukan Damaskus

Sumber: Sahabat Al-Aqsa 
Oleh: M Fatan A Ulum 
Belajar dari Umar #4

Dari Yarmuk, Abu Ubaidah dan pasukan muslimin menuju Damaskus. Demikian Ibnu Katsir menuturkan.

Pasukan ini singgah di Marajush Shoffar. Setelah berkonsultasi via surat dengan Umar bin Khaththab, Abu Ubaidah diperintahkan Umar untuk terlebih dulu menyerang Damaskus. Karena di sanalah terdapat benteng Syam dan istana kerajaan.

“Bergeraklah ke sana, alihkan perhatian penduduk Fihl dengan pasukan berkuda tepat di arah mereka. Jika Allah menaklukkan Damaskus terlebih dahulu, segeralah bergerak bersama pasukanmu menuju Himsh, tinggalkan ‘Amr dan Syurahbil memimpin Urdun dan Palestina.” Demikian Umar memberi arahan.

Abu Ubaidah kemudian mengirim sepuluh panglima perang dengan detasemen masing-masing menuju Fihl, dimana sekelompok besar pasukan Romawi berkumpul. Tiap panglima membawahi lima komandan pasukan. Seorang sahabat bernama Umarah bin Makhsy bertindak sebagai panglima tertinggi. Di Fihl, pasukan ini bertemu dengan 80 ribu personil pasukan Romawi. Mereka mengalirkan air di sekitar mereka hingga kawasan tersebut berlumpur. Itulah sebabnya tempat itu disebut Rodaghoh (lumpur yang diinjak-injak kuda).

Abu Ubaidah mengirim pasukan yang ada di antara Damaskus dan Palestina, mengirim Dzal Kala’ untuk membawahi pasukan yang ada di antara Damaskus dan Himsh. Juga memerintahkan agar pasukan bantuan ikut bergabung setelah berhadapan dengan pasukan Heraclius.

Setelah itu Abu Ubaidah bergerak meninggalkan Murjush Shoffar menuju Damaskus. Khalid bin Walid ditunjuk untuk memimpin pasukan inti. Abu Ubaidah dan Amr bin Al-Ash memimpin kedua sayap kiri dan kanan pasukan. Iyadh bin Ghonm memimpin pasukan berkuda. Syurahbil bin Hasanah memimpin pasukan kavaleri. Pasukan ini pun tiba di Damaskus, yang saat itu dikuasai oleh Nisthos bin Nusthures. 

Khalid bin Walid tiba di pintu timur yang juga merupakan pintu Kaisan. Abu Ubaidah tiba di pintu besar Jabiyah. Yazid bin Abu Sufyan tiba di pintu kecil Jabiyah. Sedangkan Amr bin Al-Ash dan Syurahbil bin Hasanah sampai di pintu masuk Damaskus lainnya; mereka memasang alat-alat pelontar batu besar dan alat-alat pelindung. Sedangkan Abud Darda’ dengan pasukannya bersiap di Barzah, suatu daerah di Ghauthoh, sebagai bala bantuan.

Pasukan Muslimin mengepung dengan hebatnya. Pengepungan berlangsung selama 70 malam. Ada pula riwayat mengatakan selama 4 bulan, atau 6 bulan.

Penduduk Damaskus pun mengalami kesulitan, dan meminta bantuan kepada raja mereka yaitu Heraclius yang berkedudukan di Himsh. Namun bantuan tak bisa mencapai Damaskus karena dihadang pasukan Abu Ubaidah yang berada di antara Damaskus dan Himsh.

Penduduk Damaskus yang mengetahui bahwa bantuan yang diharapkan tak kunjung datang, menjadi putus asa, dan merasa kian lemah. Di sisi lain, pasukan muslimin memperketat pengepungan. Di saat itulah musim dingin tiba hingga situasi menjadi semakin sulit, peperangan pun kian sulit. #




Selasa, 19 Maret 2019

KUSEN JAN: BELAJAR PARAFRASE

Kusen JAN, 19 Maret 2019


Jadi penulis, harus "idealis"! Apa maksudnya? "Idealis" di hadapan Sang Pencipta.

Mulai dari niat yang benar, isi tulisan yang benar, serta cara-cara uang digunakan pun tidak bertentangan dengan perintah Allah ataupun Rasulullah.

Plagiarisme contohnya. Apakah itu boleh? Tidak. Karena ia adalah perbuatan selayaknya mengambil hasil karya orang tanpa izin.

Maka, materi parafrase yang dipelajari Kusen @jantraining siang ini semoga Allah mudahkan. Untuk menjadikan diri diridhoi Sang Illahi.

#kusenJAN #remajautama


Cinta Allah Yang Sejati




Oleh: Atik Setyoasih 

Benarkah cinta yang sedang kamu rasakan? Kapan benar-benar terjadi cinta Allah pada seseorang?

Dr. Amani Ar-Ramadi dalam bukunya “Pendidikan Cinta untuk Anak” menuliskan bahwa cinta Allah terjadi ketika seseorang tersebut menjadikan Allah satu-satunya tertinggi yang dicintai. CintaNya di atas cinta pada harta, rupa, tahta, ataupun segala isi di dunia. Di saat itulah, ia benar-benar mencintaiNya.

Ada alasan yang memang perlu kita selalu ingat. Ya. Agar jika sudah cinta padaNya, tidak goyah di tengah jalan. Tidak berbelok arah ketika ada hambatan. Dan begitulah cinta. Seseorang membutuhkan alasan untuk mencintai sesuatu.

Sebagaimana setiap orang tua yang telah mengasuh serta mendidik anaknya sesuai cita-cita keduanya. Perjalanan yang panjang mulai dari ibundanya yang mengandung, melahirkan, serta menyusui sampai pada kondisi-kondisi sudah kokoh. Perjalanan ayahnya, mendidiknya disertai nafkah yang halal. Sang anak, sangat punya alasan yang cukup untuk mencintai kedua orang tuanya.
Bagaimana dengan Allah?

Pertama, Allah yang berjanji pada makhlukNya dalam Surat Ali-Imran: 30 yang artinya, “Katakanlah, ‘Jika engkau (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.”

Allah tidak pernah ingkar janji. Yang mencintaiNya, mendapat kasih sayang dan ampunan dosa. Cara mencintai Allah telah dituliskan yakni mengikuti segala aturanNya. Yang disukai, kita lakukan. Yang tidak disukai, sekuat tenaga dijauhi jangan sampai mendekati bahkan melakukannya.

Kedua, Allah itu mencintai kita. Allah yang menguasai segala isi alam raya untuk kebaikan manusia. Maukah kita bersama-sama merenungi ciptaanNya untuk manusia? Ya. Mulai dari segala panca indera yang tertempel pada setiap manusia.

Mata melihat, telinga mendengar, kulit merasa, mulut berbicara, rambut melindungi kepala, dan lain sebagainya. Kemudian Allah berikan rizki tanpa perhitungan. Sampai pada nikmat yang begitu indah, nikmat Islam. Untuk menjadi jalan menuju kehidupan abadi sejati, surgaNya.

Maka, ini baru dua hal yang kita ketahui betapa ada alasan yang sangat cukup untuk Allah sebagai cinta yang tertinggi. Sebagaimana orang tua, ia sangat kita cintai karena Allah juga yang memerintahkan. Namun, orang tua bisa saja tidak ada, sedangkan Allah selalu ada. Orang tua bisa lemah pada suatu saat, sedangkan Allah senantiasa kuat dan tidak akan lemah.

Dialah Allah, cinta sejati kita. Cinta tertinggi di atas apapun yang sedang kita cintai.


Kamis, 07 Maret 2019

#LesehanJumatJAN #OnPreparingTrueLeaders#2



Sebelum memimpin yang di luar, kita perlu "memimpin" yang di dalam. Sebelum memimpin orang lain, kita harus mampu memimpin diri sendiri.

Setelah kita bahas "Qalbun" di sesi pertama, insyaallah kita lanjut di sesi berikutnya.

Ikuti:

Lesehan Jumat JAN:

On Preparing True Leaders
Intra Leadership dan Extra Leadership

Jum'at, 8 Maret 2019

Jam 15.50 - 17.25

Tema: Nafs

*Pembicara:
Deniz Dinamiz (@denizdinamiz)

Fasilitas:
snack KHAS
Kopi “Specialty”

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah.
Bisa langsung via WA dengan format _Nama_Alamat_ kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran: 085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS!(PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

Sebarluaskan, dan ajak para (calon) pemimpin di masa depan!

Rabu, 06 Maret 2019

Jalan Menuju Hebat Dunia Akhirat



Oleh: @denizdinamiz

Pernahkah kamu terpikir untuk menjadi juara?

Tingkat nasional atau bahkan tingkat dunia?

Menjadi juara atau nomor satu dalam hal tertentu pastilah tidak mudah. Tidak instan seperti minuman sachetan. Perlu proses panjang dan penuh perjuangan. Semua diraih dengan memeras keringat, semangat, pikiran kuat, dan munajat kepada Yang Maha Hebat. Meskipun begitu, tidak semua yang berjuang pasti jadi juara. 

Mengapa? Karena bisa jadi, Allah tidak mengijinkan. Bisa jadi, perjuangannya salah jalan. Bisa jadi, usahanya salah sasaran. Bisa jadi, hatinya tidak ikhlas menjalankan.
Lalu, perjuangan seperti apa yang pasti berhasil jadi juara?

Tentu saja orang yang cerdas tahu: Ikuti saja jalan para pemenang. Mereka adalah orang-orang yang terbukti telah melalui jalan yang benar untuk menjadi juara. Mereka tidak salah jalan. Mereka telah melakukan apa yang dibutuhkan untuk menjadi juara. Allah pun ridho karena mereka memenuhi syarat untuk mencapai kualitas luar biasa.
Siapakah mereka yang disebut pemenang?

Nah, untuk itu, kita harus tahu dulu, apa itu “menang”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi “menang” adalah meraih hasil karena dapat mengalahkan lawan (saingan).

Apakah sejatinya “hasil” yang kita harapkan dalam hidup kita, itulah yang harus kita pahami.
Apa gunanya jadi juara kelas, jika dengan cara culas. Apa hebatnya jadi sarjana, kalau tidak berguna untuk sekitarnya. Apa manfaatnya jadi orang kaya, kalau jarang sholat di masjid karena sering lembur kerja. Apa untungnya punya banyak anak, kalau mereka membuat orang tua susah dan durhaka.

Coba pikirkan dengan jernih: Apa tujuan hidup kamu hanya untuk lulus sekolah, lulus kuliah, dapat kerja, berkeluarga, lalu mati begitu saja?

Ada “hasil” yang lebih penting yang kita kejar dalam hidup kita, yaitu “hasil” akhir di akhirat.
Apakah kita disiksa di kubur atau aman? Apakah kita kepanasan di Mahsyar atau dinaungi dengan nyaman? Apakah amalan kita layak hingga kita peroleh dari sebelah kanan? 

Apakah jembatan shiroth bisa kita lalui dengan selamat hingga seberang? Apakah langkah kita ke surga firdaus atau neraka jahanam?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas tergantung usaha kita di dunia. Maka, pemenang adalah mereka yang telah dijamin selamat melalui ke semua itu.

Hanya Allah yang tahu, siapa mereka yang sejatinya pemenang. Bukan mereka yang tampak wah dan gemerlap di dunia, lalu terjerembab berkubang dosa di neraka. Mereka adalah para pejuang yang telah terbukti menang menghadapi cobaan dunia. Mereka adalah para Nabi dan orang shalih yang disebut di dalam surat cintaNya, yaitu Al-Qur’an.
Di antara orang-orang hebat dunia akhirat, ada dia yang terhebat. Dia adalah manusia yang menjadi pedoman dan contoh bagi manusia lainnya. Contoh dalam hal apa? Tentu saja, contoh dalam segala hal yang mengantar manusia menjadi juara hingga surga.

Allah perjelas di dalam surat Al-Ahzab ayat 21,

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasululllaah itu suri teladan yang baik (uswatun hasanah) bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah dasar yang paling utama dalam perintah meneladani Rasulullaah SAW. Meneladani perkataan, perbuatan, dan kehidupannya. Oleh karena itu, Allah perintahkan kita untuk mengikuti jalan Rasulullaah yang dijamin akhirnya, yaitu surga. Mengikuti Rasulullaah dalam hal kesabaran, keteguhan, dan kesungguhannya dalam berjuang dan menaati Allah.

Maka jelas sudah. Jalan para pemenang adalah jalan mereka yang dijamin mendapat surga. Jalan mereka yang ikhlas dan senantiasa menaati Allah dalam segala perkara  dalam hidupnya. Jalan kemenangan yang berat namun layak diperjuangkan.

Itulah jalan Nabi dan RasulNya. Itulah jalan yang kita tuju. Itulah jalan yang harus kita lewati. Itulah jalan menuju hebat dunia akhirat. #




Selasa, 05 Maret 2019

Noda Wajah Kehinaan



Oleh: @dik_yusuf

Hal penting yang muda-mudi harus tahu dan meyakininya, adalah meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sesungguhnya telah ada pada diri  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suri teladan yang baik.” Allahlah yang menjamin langsung. Beliau laki-laki terbaik yang dijadikan panutan manusia. Tidak ada cela dan cacat pada diri beliau.

Bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta sesuatu kepada beliau. Beliau pun bertanya, “Adakah sesuatu di rumahmu?” Lelaki itu menjawab, “Ya, selembar alas pelana keledai, sebagian kami pakai selimut sebagian kami pakai tikar, dan sebuah wadah untuk kami minum.”
Bawalah kepadaku.”  Pinta Rasulullah.

Barang itu pun dibawa ke hadapan Rasulullah dan beliau pun menjualnya. Seorang lelaki lain membelinya dengan harga dua dirham. Kemudian Rasulullah memberikan hasilnya kepada pemiliknya. “Beli makan dengan satu dirham,”  perintah beliau,  “lalu berikan kepada keluargamu, beli kapak dengan dirham yang lain lalu bawa kapak kepadaku.”

Laki-laki itu pun segera menunaikan apa yang disampaikan Rasulullah. Ia segera datang menghadap beliau dengan membawa kapak yang telah dibelinya. Lalu, beliau mengikat kapak itu pada sebatang gagang dengan tangannya sendiri, kemudian bersabda, “Pergilah dan cari kayu bakar. Jangan sekali-kali aku melihatmu selama lima belas hari.”  Maka pergilah si lelaki tadi dan melakukannya.

Hari-hari telah berlalu, lelaki tadi datang  dan telah mendapat sepuluh ribu dirham.
Beliau berpesan kepada lelaki tadi. Dan untukmu para pemuda, cermati pesan penting beliau, “Ini lebih baik bagimu daripada kamu datang meminta-minta. Meminta-minta itu akan menjadi noda di wajahmu pada hari kiamat.”

Wahai kawula muda, orang tadi terlanjur berkeluarga, tetapi masih meminta. Tapi kalian, muda, masamu bukanlah masa kanak-kanak lagi. Bukan lagi masa untuk terus meminta kepada orang tua. Tetapi masa bagaimana muncul kesadaran dari diri bahwa tidak selamanya kalian akan meminta. Ini bukan perkara ringan yang bisa datang begitu saja, tetapi perlu persiapan. Miliki minimal satu ketrampilan layaknya lelaki yang menghadap Rasulullah,  agar kehormatanmu terjaga. Dan kelak di hari kiamat, wajahmu terbebas dari noda.

Inilah bagian dari kemuliaan wahai pemuda. #

Senin, 04 Maret 2019

Sekelompok Yang Lupa (5)



Oleh: @fuz_fm

Pernahkah terbayang engkau bersama sekelompok orang pikun? Tentu pembicaraan akan ngalor-ngidul karena tidak nyambung. Sadarkah bahwa ternyata diri kita ini termasuk orang-orang yang lupa atau pikun? Allah yang telah menyebutkannya dalam Al-Qur’an. Engkau tak percaya? Mari kita bahas bersama.

Manusia memiliki banyak potensi. Kali ini kita akan membahas potensi manusia dari kata al-unaas dan al-insaan. Kedua kata ini tidak banyak diulang dalam Al-Qur’an. Kata al-unaas diulang sebanyak hanya lima kali, sedangkan kata al-insaan diulang sebanyak enam puluh lima kali. Apa saja yang terkandung dalam kedua kata ini?

Kata al-unaas merupakan bentuk jamak dari kata al-insu. Jika al-insu digunakan untuk menyebut manusia secara individu, maka bentuk jamaknya adalah kumpulan dari individu-individu tersebut. Lima ayat yang menggunakan kata al-unaas mendukung maksud tersebut. Kata al-unaas diartikan dengan manusia sebagai kelompok. Dua ayat dalam konteks kelompok suku Bani Israil/kaum Nabi Musa, dua ayat lagi menceritakan kaumnya Nabi Luth, dan satu ayat membicarakan kelompok yang menerima buku catatannya selama di dunia.

Bagaimana dengan al-insaan? Terdapat empat belas ayat yang membicarakan tentang proses penciptaan manusia. Sebagian menjelaskan deskripsi umum, sebagian yang lain merupakan penjabaran lebih lanjut. Kemudian ada delapan ayat yang menjelaskan bahwa manusia mudah melupakan Tuhannya saat memperoleh nikmat dan kesuksesan. Jika mendapat malapetaka, dia tak segan-segan meratap memohon pertolongan Allah. Ayat-ayat yang lain membahas tentang sifat manusia, memberitakan musuh manusia adalah syetan, dan kebangkitan manusia di akhirat.

Kitab Mufrodatul Qur’an menjelaskan secara spesifik tentang kelupaan manusia. Maksud lupa dalam kata al-insaan adalah manusia mendapatkan amanah dari Allah. Amanah yang tidak diterima oleh makhluk lain seperti bumi, langit, atau gunung. Tetapi kemudian manusia lupa dengan amanah tersebut.

Ternyata kita adalah sekelompok yang lupa. Kitalah kumpulan orang-orang pikun. Itulah mengapa kita diperintah untuk berdzikir; terus-menerus mengingat-Nya. Karena ketika lupa, berarti kita termasuk orang yang zalim dan bodoh. Ingatlah bahwa Allah Maha Esa! Ingatlah amanah besar di atas pundak kita! Ingatlah kita akan diminta pertanggungjawaban di akhirat! #

Kamis, 28 Februari 2019

ON PREPARING TRUE LEADERS




#LesehanJumatJAN
#OnPreparingTrueLeaders

Sebelum memimpin yang di luar, kita perlu "memimpin" yang di dalam. Sebelum memimpin orang lain, kita harus mampu memimpin diri sendiri.


Ikuti:

Lesehan Jumat JAN

On Preparing True Leaders
Intra Leadership dan Extra Leadership

Sesi terdiri 9 kali pertemuan
1 Maret 2019
8 Maret 2019
15 Maret 2019
22 Maret 2019
29 Maret 2019
5 April 2019
12 April 2019
19 April 2019
26 April 2019

Tiap JUM`AT jam 15.50 - 17.25

Pembicara:
1. Fatan Fantastik (@emfatan)
2. Deniz Dinamiz (@denizdinamiz)
3. Fuzta F. M. (@fuz_fm)
4. A. Yusuf Wicaksono (@dik_yusuf)

Fasilitas:
snack KHAS
Kopi “Specialty”

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah.
Bisa langsung via WA dengan format _Nama_Alamat_ kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran: 085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)


KEMENANGAN IMAN


Oleh: Atik Setyoasih

Jelas dan tampak. Secara bergelombang banyak orang-orang yang ingin masuk Islam. Bahkan rasa aman dari kedua belah pihak untuk membebaskan setiap orang memilih, menjadikan dakwah Islam semakin luas.

Inilah kemenangan nyata setelah perjalanan panjang Rasulullah dalam menyeru kebenaran. Perjanjian Hudaibiyah yang terjadi setelah larangan umrah Rasulullah oleh kaum Musrikin, jadi pertanda baik untuk Islam. Akhir kisah yang indah, keduanya berdamai untuk tidak berperang selama 10 tahun. Masing-masing pihak, memberikan kebebasan kepada siapapun. Mau jadi kafir, mau jadi Muslim, tidak ada larangan dari siapapun.

Maka, ketika Allah buka lebih banyak hati untuk menerima hidayah Islam, kemenangan telah tampak dan jelas. Janji Allah tidak salah. Janji kepada orang-orang beriman akan kemenangan yang nyata. Meski harus ditempuh dengan berpeluh. Proses panjang. Melelahkan. Kesabaran yang dalam. Pengorbanan yang besar. Keteguhan hati dalam menahan hinaan, cercaan, bahkan penyiksaan.

Karunia terbesar yang penting untuk selalu disadari untuk setiap Muslim adalah mereka akan dapat apa-apa yang diinginkannya. Kapan itu? Ketika mereka di dalam surga. Segala ketakutan, kehilangan, sakit, akan dihilangkan. Segala kesalahan akan dihapuskan. Yang demikian itu, kemenangan yang nyata.

Iman adalah sebab kemenangan. Iman adalah sebab kekuatan abadi. Iman adalah batu bara membara untuk berkorbarnya gerak kebaikan.

Mulai dari Bilal bin Rabbah yang terompahnya sudah di surga sebelum dirinya. Sumayyah sang syahidah pertama. Khadijah, dengan harta dan jiwanya. Fatimah binti Rasulullah dengan kesederhanaannya. Semua menjadi mulia karena iman. Ya, iman. Bukan harta, tahta, ataupun rupa yang menawan.