Jumat, 19 Januari 2018

TERGIUR UNTUK TIDUR


Oleh: Deniz Dinamiz

Ngantuk berat. Mata nggak mau diangkat. Nggak ada pilihan lagi! Aku harus bangun pagi! Segarkan diri dengan secangkir kopi!

Eit! Apa kamu termasuk dia? Setiap pagi harus menggugah diri dengan secangkir kopi. Setelah satu cangkir ditelan, beberapa menit kemudian, siap beranjak jalankan aktivitas! Itu yang kamu rasakan?

Hehe. Kamu salah sobat. Kopi itu terasa khasiatnya setelah kurang lebih 1 jam. Kalau iya terasa bertenaga sebelum 1 jam, itu lebih karena perasaan kita sendiri. Sugesti, kata orang Psikologi.

Namun demikian, kopi tetap menawan. Mengundang perhatian. Memang kopi punya kemampuan membunuh kantuk seperti yang dikatakan banyak orang. Terutama robusta. Tapi apa yang belum tentu mereka tahu adalah dampak setelah meminumnya. Dalam jumlah berlebihan terutama. Lebih parah lagi, yang punya kebiasaan minum minuman berenergi. Apa sih rahasianya? Mereka punya satu kandungan yang sama: kafein.

Sebagian besar manusia, pola tidur dan bangunnya dipengaruhi oleh matahari dan iklim. Kafein membantu seseorang untuk melawan pola tidur dan bangun yang sudah tertanam dalam diri.. jelas Czeisler, seorang ahli tidur (peneliti, bukan tukang tidur).

Di sisi yang lain, ada harga yang sangat, sangat besar yang harus dibayar untuk efek bangun yang ekstra ini.

Tanpa tidur yang cukup, tubuh manusia tidak dapat berfungsi secara optimal. Baik secara fisik, mental, dan emosional. Pada mereka yang sudah ketagihan berat, otaknya tidak dapat berfungsi secara normal tanpa asupan kafein.

Jadi, ada nggak sih cara lain untuk menggugah diri ketika merasa ngantuk berat? Seperti disebutkan Czeisler, pola tidur dan bangun dipengaruhi matahari. Artinya, dengan melihat terbitnya matahari, irama tidur dan bangun (disebut juga irama sirkadian) akan menjadi normal.

Nggak heran, mereka yang kerjaannya cuma di dalam kamar ketika pagi, akan merasa lemes sepanjang hari. Sedangkan mereka yang sebelum terbit matahari sudah subuh di masjid, lalu pulang mengguyur tubuh dengan sinar mentari pagi, bakal hadapi hari dengan wajah berseri! Insya Allah.


Sumber naskah: IG @denizdinamiz 

BARISAN PERTAMA


Oleh: A. Yusuf Wicaksono 

Tinta-tinta sejarah telah menuliskan betapa utamanya pemuda-pemuda di masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka menempati barisan pertama dalam menyambut seruan tauhid dan teguh memegangnya.

Tentu tidak asing pada pendengaran kita tentang As-Sabiquna Al-Awwalun, yaitu mereka yang pertama-tama masuk Islam. Banyak dari mereka adalah pemuda yang usianya di bawah dua puluh tahun atau lebih sedikit.

Di antara barisan paling depan ada Ali bin Abi Thalib, kemudian menyusul Sa'ad bin Abi Waqqash, Zubair bin al-Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Kemudian mereka yang memeluk Islam sebelum masuk ke rumah al-Arqam di antaranya Khabbab bin Al-Art, Sa'id bin Zaid, Abdullah bin Mazh'un, Qudamah bin Mazh'un, Mas'ud bin Ar-Rabi', dan termasuk Al-Arqam bin Abil Arqam yang menyatakan keislamannya saat masih muda.

Gelombang perkembangan orang-orang yang masuk Islam semakin tinggi. Rumah Al-Arqam menjadi saksi mereka-mereka yang masih muda berdatangan dan berbai'at kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Lalu, kita alihkan pandangan pada pemuda di negeri Hijrah. Di kalangan kaum Anshar pun juga tidak ketinggalan. Salah satunya adalah Iyas bin Mu'adz Al-Anshari, ia menerima Islam ketika kaumnya belum mampu melihat terangnya cahaya kebenaran.

Sudah pasti bukan hanya mereka yang tertulis dalam lembaran sejarah. Mereka hanya sebagian kecil dari pemuda-pemuda di barisan depan yang menerima cahaya Islam. Meski masih muda, mereka layak menjadi sosok teladan.

Sumber naskah: IG @dik_yusuf

Senin, 15 Januari 2018

Hidup Bahagia


Oleh: Deniz Dinamiz 

Hidup sulit bahagia ketika kompas dalam memilih adalah hanya apa yang ringan dan disukai.
Hidup mudah bahagia ketika kompas dalam memilih adalah apa yang benar dan penting/layak diperjuangkan.

Maka, apa kompas yang benar itu? Apa yang menentukan pilihan studi, kerja, jodoh, dan segala prioritas dalam hidup kita?

Ambillah pilihan-pilihan hidup dengan berdasarkan Fillah dan Lillaah. Di jalan Allah, dengan cara yang diridhoi Allah. Karena Allah, dengan tulus bersih mengharap ridho Allah. Mencintai, membenci, memberi, dan menahan memberi karena Allah.


Sungguh kebahagiaan dan ketenangan itu hadir ketika Allah yang senantiasa menjadi tambatan rasa dan pikir

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (Q.S. Ar-Ra'du ayat 28)

Sumber: IG @denizdinamiz

Menulis Ilmu (2)

Lesehan Jum`at, 12 Januari 2018
Oleh: M. Fatan A. Ulum 


Mari kita simak sendiri penuturan Sa’id tentang proses belajarnya, “Aku berjalan bersama Ibnu Abbas di suatu jalan di Mekkah saat malam hari. Beliau menyampaikan hadits kepadaku dan aku menulisnya di tengah pelana unta. Sehingga, datanglah waktu pagi, lalu aku menulisnya kembali.” Luar biasa bersemangatnya. Kelak, Sa’id bin Jubair akan menjadi murid terbaik Ibnu Abbas, rekan paling istimewa, dan santrinya yang paling produktif.

Sa’id juga mempelajari bahasa sampai menjadi ahlinya. Hingga pada gilirannya, tak ada seorang pun di masanya yang tidak memerlukan ilmunya. 

Kemudian Sa’id melanjutkan pengembaraan ilmunya ke berbagai wilayah muslimin hingga Allah berkehendak memberinya ilmu nan melimpah. Setelah itu, Sa’id bin Jubair memutuskan tinggal di Kufah dan menjadi sandaran banyak orang.

Ketika Ibnu Abbas diminta fatwa oleh penduduk Kufah, Ibnu Abbas malah bertanya, “Bukankah di tengah kalian ada Ibnu Ummi ad-Duhama’?” Yaitu maksudnya adalah Sa’id bin Jubair.

Begitu pula ketika Ibnu Umar ditanya mengenai warisan (faridhah), Ibnu Umar menjawab, “Temuilah Sa’id bin Jubair, karena dia lebih mengetahui ilmu hitung daripada aku. Dia akan menetapkan sesuatu sesuai dengan yang seharusnya.”


Khashif berkata, “Orang yang paling mengetahui tentang Al-Quran adalah Mujahid; orang yang paling mengetahui tentang haji adalah Atha’; orang yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Thawus; orang yang paling mengetahui tentang perceraian adalah Sa’id bin al-Musayyib. Dan, orang yang menghimpun ilmu-ilmu tersebut adalah Sa’id bin Jubair.”

#Yangmudayangmencitasurga

Sumber naskah: IG @emfatan 

Kamis, 11 Januari 2018

LESEHAN JAN


Ujian, bagi sebagian orang, seperti hantu yang menyeramkan. Ia menteror hari-harinya, dan membuatnya mempersiapkan diri dengan penuh kecemasan.

Ah, ujian memang sering bikin keringatan, jantung berdebaran, sampai bisa membuat pingsan! Apakah di antara kita pernah mengalaminya?

Maka, bagaimana menyiapkan murid atau anak atau bisa jadi diri kita agar sukses ujian tanpa stress? Agar setiap ujian, kita bisa melakukan persiapan dengan matang?

Inilah tema yang akan kita bahas. Catat jadwalnya ya:

Waktu             : Jum'at, 12 Januari 2018
Jam                 : 16.00-17.25
Pemateri         : M. FATAN A. ULUM
Tema               : Menyiapkan Murid/ Anak untuk Sukses Ujian tanpa Stress
Fasilitas           : ilmu, teman menuntut ilmu, Snack dan insya Allah Kopi Arabica Gunung Ijen:
Tempat            : Kantor JAN yaitu di Kompleks Ponpes Rumah Sajada, Sorolaten, Sidokarto, Godean, Sleman.


Lokasi:
https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah sekali. Bisa langsung via WA dengan klik link ini:
https://goo.gl/DFWjEU

Atau hubungi CP: 0895 336 336 005

*Gratis*
Sebarkan dan ajak teman-temanmu ya..! 

Rabu, 10 Januari 2018

MENULIS ILMU (1)


Oleh: @emfatan

Dia adalah pemuda yang kekar badannya, sempurna bentuk tubuhnya, tangkas dan gesit gerak-geriknya. Di samping itu, cerdas akalnya, antusias terhadap kebajikan, dan menjauhi dosa.

Warna kulitnya yang hitam, rambutnya yang keriting, dan asalnya yang dari Habasyah, tak menjatuhkan rasa percaya dirinya untuk menjadi manusia istimewa, apalagi dengan usianya yang masih muda. Demikian Abdurrahman Ra’fat al-Basya memperkenalkan kita dengan sosok mulia ini: Sa’id bin Jubair.

Lahir di kota Kufah pada tahun 38 H, Sa’id mencintai ilmu semenjak kecil. Dia tempuh hidupnya tanpa berleha-leha dan berpangku tangan. Orang-orang mengenalnya sebagai pemuda yang tekun mempelajari kitab-kitab. Dia hadiri halaqah (pengajian) para Sahabat Rasulullah SAW, mereguk manisnya ilmu dari mereka, dan meriwayatkan sejumlah hadits Nabi SAW dari mereka.

Sa’id bin Jubair menimba ilmu dari para Sahabat utama, diantaranya adalah Anas bin Malik, Abu Sa’id al-Khudri, Adi bin Hatim ath-Thayy, adh-Dhahhak bin Qais, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah ad-Dausi, Abdullah bin Umar, bahkan juga Ummul Mukminiin ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa. Tapi, guru utamanya adalah Abdullah bin Abbas, sang Tinta Umat.

Sa’id mendampingi Ibnu Abbas layaknya bayangan. Dari Ibnu Abbas-lah, Sa’id bin Jubair belajar menggali tafsir Al-Quran, hadits-hadits dan seluk beluknya. Juga berbagai persoalan agama maupun tafsirnya. Hingga pun berada di atas pelana unta, menjadi momen yang sangat berharga dalam mengikat ilmu dari sang gurunda.

#Yangmudayangmencitasurga
#KILMdM

Sumber foto dan tulisan: IG @emfatan 

Rabu, 20 Desember 2017

Belajar kepada Umar (3)

 
Oleh: M. Fatan Ariful Ulum 

Sebelum membebaskan Baitul Maqdis, Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berhenti di Jabiyah. Di hadapan para tentara mukminin, Umar menyampaikan khutbah panjang yang penuh makna. Ibnu Katsir membuatkan ringkasan khutbah bersejarah tersebut untuk kita.

"Wahai saudara-saudara sekalian! Perbaikilah sisi bathin kalian niscaya sisi lahir kalian akan baik. Bekerjalah untuk akhirat niscaya kalian tercukupi dari urusan dunia.
Ketahuilah, ketahuilah, bahwa tiada seorang pun yang memiliki ayah yang masih hidup yang dapat menghubungkan dirinya dengan Adam, juga tidak ada penghubung antara dia dan Allah. Karena itu, siapa pun yang menginginkan jalan surga, hendaklah mengikuti jamaah karena syaithon itu menyertai orang yang sendirian; ia lebih jauh dari dua orang.
Jangan sampai ada di antara kalian menyepi berdua dengan seorang wanita karena syaithon-lah yang ketiga di antaranya. Sesiapa senang karena kebaikannya dan sedih karena keburukannya, dialah orang yang beriman.”


Sumber tulisan dan foto: @emfatan 



Belajar kepada Umar (2)


Oleh: M. Fatan Ariful Ulum

Ya. Inilah Umar bin al-Khaththab. Yang menurut Ibnu Mas’ud, “Di antara kami, Umar-lah yang paling mengetahui Kitabullah dan paling memahami agama Allah.”

Lantas bagaimanakah cara Umar mengikat ilmu sedemikian kuat? Putranya, Abdullah bin Umar, mengabarkan kepada kita. “ Umar mempelajari surat Al-Baqarah selama dua belas tahun. Lalu setelah memahami kandungan surat tersebut, dia menyembelih seekor sapi.”

Ya. Inilah Umar. Mulia karena ilmu, dan beramal dengan ilmu. Yang pertama memerintahkan umat Islam agar mengerjakan sholat tarawih di bulan Ramadhan secara berjamaah. Yang pertama diberi gelar Amirul Mukminin. Yang menetapkan kalender Hijriyah.

Yang menyusun peraturan pajak dan membentuk instansi pemerintah, serta berkata, “Tidak boleh menyusahkan seseorang untuk membayar lebih dari satu dirham dalam satu bulan.” Yang mengangkat para qadhi dan membuat undang-undang peradilan. Menetapkan evaluasi tahunan bagi para penguasa di wilayah Islam.

Yang menyiapkan gudang suplai makanan dan perbekalan. Menggagas peraturan untuk memonitor harga pasaran serta memantau takaran dan timbangan di pasar. Memberi perhatian khusus bagi anak-anak terlantar. Membangun kota-kota baru untuk mengokohkan peradaban Islam.

Ya. Inilah Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Rabah bin Abdullah bin Qarth bin Razzah bin Adi bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib al-Qurasyi. Satu diantara yang lebih dahulu beriman, termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga, bagian dari Khulafaur Rasyidin, mertua Rasulullah SAW, tergolong ulama besar di kalangan para Shahabat, serta yang paling zuhud diantara mereka. Dialah Al-Faruq, sang pembebas Al-Aqsha. Radhiyallaahu ‘anhu.

Sumber tulisan dan
📷: @emfatan

Belajar kepada Umar (1)


Oleh: M Fatan Ariful Ulum

Ketika tidur,” demikian Rasulullah SAW memulai sabdanya yang diriwayatkan al-Bukhari, “aku bermimpi minum susu hingga aku melihat susu itu mengalir di kukuku, atau di kuku-kukuku; lalu aku berikan susu itu kepada Umar.” Para sahabat pun bertanya, “Apa takwil engkau (terhadapnya)?” Rasulullah SAW menjawab, “Ilmu.”

Ya. Umar mendapatkan beragam keutamaan, karena bersumber dari ilmu. Sebagaimana dalam kesempatan lain, Rasulullah menyebutkan keunggulan Umar dalam hal ilmu. Al-Bukhari meriwayatkan kepada kita dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Sungguh telah ada pada zaman orang-orang sebelum kalian banyak lelaki dari kalangan Bani Israil yang diberikan ilham, namun mereka bukan Nabi; jika di kalangan umatku ada orang seperti mereka, maka Umarlah orangnya.” Alangkah mulia persaksian itu, langsung dari sebaik-baik insan. Dari lisan yang tak pernah berdusta.

Bukankah kita ingat, saat Umar belum masuk ke dalam barisan orang-orang beriman, Rasulullah memanjatkan doa khusus—diriwayatkan oleh Ibnu Majah—untuknya? “
Ya Allah, muliakanlah (kuatkanlah) Islam dengan masuk Islamnya Umar bin al-Khaththab.”

Maka, inilah pernyataan Ibnu Mas’ud tentang peristiwa penting tersebut. “Masuk Islamnya Umar adalah kemuliaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Demi Allah, kami tidak sanggup mengerjakan sholat di sekeliling Ka’bah secara terang-terangan hingga Umar masuk Islam.” Dalam riwayat Al-Bukhari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Kami selalu merasa mulia sejak Umar bin al-Khaththab masuk Islam.”

Ya. Inilah Umar. Ilmu dan iman ditopang dengan keperkasaannya, sehingga Islam kian menjulang mulia. Hudzaifah ibnul Yaman menyebutkan, “Ilmu manusia terselip di lubang bersama ilmu Umar bin Khaththab.” Ibnu Mas’ud menegaskan, “Seandainya ilmu Umar diletakkan di satu sisi timbangan dan ilmu seluruh penduduk bumi diletakkan di timbangan lain, niscaya ilmu Umar akan mengungguli ilmu mereka."

Sumber tulisan dan
📷@emfatan

Senin, 18 Desember 2017

Mulia

Oleh: Muhammad Fikri 

Tempat yang mulia
Tempat bersih dan suci
Untuk tempat beribadah umat muslimin
Pusatnya tempat barokah dan mulia
Dari sejak dahulu milik umat muslimin
Tetapi, sekarang musuh muslimin merebutnya
Dan suatu saat, para mujahid akan merebutnya kembali
Mujahid di jalan Allah Ta’ala
Tunggulah kemerdekaan Al-Aqsha!

Sumber: @sahabatalaqsha

*Naskah lolos KUSEN per 15 Desember 2017