Kamis, 29 Desember 2011

Special! The Courtesy Training

Tahun baru ga dibarengi dengan ilmu dan semangat baru? Ups, tentu sangatlah rugi lah yaw..
Biar hari-harimu ke depan kian bermutu, yuk ikut The Courtesy Training (TCT) edisi spesial.

Temanya, "Tahun Baru, Semanagat Baru"
Jumat, 30 Desember 2011.
8.30 - 15.00
@ Rumah Nah

Fasilitas: makan, snack, ilmu, teman, dan pengalaman baru..
Dipandu langsung oleh trainer-trainer andalan JAN.  Insya Allah akan menjadi forum yang baarakah dengan ilmu yang melimpah. GRTATIS lagi. So, tunggu apalagi teman.. daftar segera yuk, ke 085743025125.
Mari hiasi hari-hari kita dengan aktivitas-aktivitas bermutu. Salam..

Kamis, 22 Desember 2011

Open Recruitmen JAN

Assalamu'alaikum.

JAN Training and Writing Corporation memberitahukan bahwa akan diadakan open rekrutmen untuk magang di JAN. Adapun divisi yang bisa diikuti adalah divisi Anak-anak, Training, Writing, Outbound. Mekanisme pendaftarannya dengan mengisi biodata yang dapat dilihat di www.buletinnah.blogspot.com. Kemudian biodata yang telah diisi diserahkan ke kantor JAN atau dapat dikirim melalui training_top@yahoo.com (setelah mengirim, konfirmasi ke CP)

Rabu, 07 Desember 2011

Saatnya Gerakkan Penamu!



“Ingin Sunguh-Sunguh Menjadi Penulis yang Menggugah dan Mengubah?” Sekilas pertanyaan tersebut akan mengingatkan kita pada sebuah acara kepenulisan yang diprakarsai oleh JAN dan Tim Buletin Nah! Ya, tepatnya Ahad, 27 November 2011 silam, digelarlah Training and Workshop “Bener-Bener Jadi Penulis”. Acara yang dihadiri sekitar 80an peserta training and workshop ini berlangsung dari jam 08.00 WIB sampai sekitar 15.30 WIB

Kamis, 13 Oktober 2011

TRAINING N' WORKSHOP "BENER-BENER JADI PENULIS"

Ingin SUNGGUH-SUNGGUH menjadiPENULIS yang MENGGUGAH dan MENGUBAH?


BERGABUNGLAH!!!

Dalam :

TRAINING AND WORKSHOP “BENER-BENER JADI PENULIS”

Senin, 10 Oktober 2011

Fishing Fun JAN Inc.

"Nggak heran lah, outrance gitu. Udah biasa di lapangan."
"Wuih, gede tenan! Nggone writing lho iki!" (1)
"Memang sesuai dengan namanya, dari tadi dapat yang imut-imut terus."
"Training tu diam-diam menghanyutkan. Pelan tapi pasti."

Sabtu, 01 Oktober 2011

THE COURTESY TRAINING


JAN proudly present
"THE COURTESY TRAINING"
Menginspirasi Melalui Ilmu

GRATISSSS..
Tiap Jumat selama bulan Oktober 2011 dari jam 14.00-17.00 @ Rumah NAH

7 Oktober 2011 Tema : "How To Be A GREAT TRAINER?"
14 Oktober 2011 Tema : "Membuat OUTBOND yang asyik & menyenangkan"
21 Oktober 2011 Tema : "Rahasia BERPRESTASI"
28 Oktober 2011 Tema : "SUMPAH PEMUDA"

Dengan Trainer :
FATAN FANTASTIK
DENIZ DINAMIZ

ARIF JADMIKO

dan TRAINER JAN LAINNYA

Cara Daftar : Ketik DAFTAR_NAMA_ASAL SMA/UNIV
Kirim ke 085743025125

Jangan Lewatkan Kesempatan EMAS ini..
Daftar dan raihlah motivasi yang MENGGUGAH!!!




JAN PUBLIC SPEAKING TRAINING

Ingin tertata dalam bicara di depan umum?
Ingin bisa menyampaikan pelajaran dengan
MENGGUGAH dan MENGUBAH?

Mari bergabung bersama di JAN PUBLIC SPEAKING TRAINING

Tiap Sabtu selama bulan Oktober jam 8.30 - 11.30 atau 13.30-17.00
bersama trainer JAN : FATAN FANTASTIK,
DENIZ DINAMIZ,
ARIF JADMIKO

Biaya 120 ribu untuk 12 jam yang BERMANFAAT.

CP : 085643575883

Kuota maksimal 15 orang

Tunggu apa lagi?
Buruan DAFTAR
dan jadikan dirimu seorang yang mampu MENGINSPIRASI!

Rabu, 31 Agustus 2011

EDISI NAH #25 TERBIT SUDAH!!!



Salam alaykum sobat Nah!

Rindu sama jannah? Ya iyalah!

Rindu sama buletin Nah? Nggak usah resah!

Alhamdulillah.. buletin Nah edisi #25 terbit sudah!

Adalagi satu hal yang istimewah: edisi kali ini edisi terpadu, Ramadhan dan Syawal.

So, setelah bersiap dan berjuang, saatnya meningkat! Lebih jelasnya, santap aja sajian kami...

One more thing:

Taqabalallah minna wa minkum, Semoga Allah menerima kebaikan yang ane dan ente lakukan.. Mohon maaf lahir batin.. We're very sorry for all of our mistakes... gomenasai... afwan minkum.. Nyuwun pangapunten kagem sedaya lepat... ***


Kamis, 28 Juli 2011

Precious Time*

As though as water
It flows and deliver
Time truly is the greatest
When you are a believer

Minggu, 24 Juli 2011

Katanya Kemarin*

Dua hari lalu dia bilang:
"Hari ini aku mau begini dan begitu"
Tapi, pada hari itu si Malas datang
Kemudian dia bilang:
"Ah... besok aja lah"

Kamis, 14 Juli 2011

Kisah Simbok Bakul Gudeg*

seorang simbok bakul gudeg
theklak-thekluk terkantuk-kantuk
menanti pembeli di tepi pagi
berteman nyamuk yang bernyanyi
ngung…ngung…ngung…ngung

Kamis, 07 Juli 2011

Stempel*

Pak RT, Pak RW, Pak Kadus,
Pak Lurah, Pak Camat, Bupati,
Gubernur, Presiden.
Mereka punya stempel.

Selasa, 05 Juli 2011

Public Speaking Training #4


Ramadhan tinggal menghitung hari, sudahkah kita bersiap diri?

PST gelombang keempat siap dimulai. Kali ini JAN Training team membuka kelas basic public speaking. Bagaimana mempersiapkan segala sesuatu sebelum tampil, pentingnya bahasa tubuh (komunikasi non verbal), pilihan kata saat berbicara (komunikasi verbal) akan dibahas di kelas public speaking ini. Selain itu, bagaimana kita mengutarakan serta cara menyampaikan ide dan gagasan saat tampil juga akan dipelajari. Ditambah setiap peserta mendapat kesempatan praktek berbicara dan masukan berharga dari trainernya.

Senin, 04 Juli 2011

Trainer*

1#Trainer. Bukan orang yang paling hebat, tapi orang yang belajar merawat ilmu yang Tuhan titipkan padanya: dengan berbagi.

2#Trainer. Bukan yang paling tahu, tapi yang tak pernah puas dengan sedikit pengetahuan yang dimilikinya.

Jumat, 01 Juli 2011

Jika*

jika malam ini tak kita dapati purnama
percayalah, aku sedang membayang bias wajahnya
untuk kutuang dalam sketsa
kuserahkan padamu dengan sampul hijau muda

Minggu, 19 Juni 2011

Jumat, 10 Juni 2011

OPEN RECRUITMENT Magang JAN!

Dengan ini kami JAN Training and Writing Corporation memberitahukan bahwa akan diadakan open rekrutmen untuk magang di JAN. Adapun divisi yang bisa diikuti adalah divisi Anak-anak, Training, Writing, Outbound. Mekanisme pendaftarannya dengan mengisi biodata yang dapat dilihat di www.buletinnah.blogspot.com. Kemudian biodata yang telah diisi diserahkan ke kantor JAN atau dapat dikirim melalui sukses_ujian@yahoo.co.id. (setelah mengirim, konfirmasi ke CP)

Jumat, 03 Juni 2011

JENDERAL SEJATI*

Rasa haus terasa.
tidak puas, dahaga.
Makan, minum, tidur, membaca
Semua tuntas,
tak satu pun puas

DIMANA KAMU ?*

Kamu
Yang mendorongku perlahan
Berjalan menapak
Merangkak, menanjak
Memikul beban berat
Membelalak!

Kamis, 12 Mei 2011

JADILAH SEPERTI SEMUT*

Semut itu adalah serangga eusosial dari keluarga Formisidae, yang termasuk dalam ordo Himenoptera bersama dengan lebah dan tawon. Hewan kecil satu ini dikenal dengan koloni-koloninya yang super banyak yang terkadang terdiri dari ribuan semut per koloni. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Satu koloni dapat menguasai dan memakai sebuah daerah luas untuk mendukung kegiatan mereka. Koloni semut kadangkala disebut superorganisme dikarenakan koloni-koloni mereka yang membentuk sebuah kesatuan (1).

Senin, 09 Mei 2011

My Dream*

Aku ingin melihat orang-orang tersenyum. Tersenyum karena bahagia. Bukan kebahagiaan semu dimana dia tertawa di dunia tapi kemudian merintih di akherat. Kebahagiaan sejati yang berarti mencapai impian dunia yang berarti. Impian yang menggerakkan dam mengarahkan hati. Dan Allah memberikan ridhoNya atas impian dan usahanya semasa hidup di dunia. Allah ridho kepadanya dan dia ridho pada Allah.

Selasa, 03 Mei 2011

Public Speaking Training Edisi Ketiga


PST gelombang ketiga siap dimulai. Kali ini JAN Training team membuka kelas basic public speaking. Bagaimana mempersiapkan segala sesuatu sebelum tampil, pentingnya bahasa tubuh (komunikasi non verbal), pilihan kata saat berbicara (komunikasi verbal) akan dibahas di kelas public speaking ini. Selain itu, bagaimana kita mengutarakan serta cara menyampaikan ide dan gagasan saat tampil juga akan dipelajari. Ditambah setiap peserta mendapat kesempatan praktek berbicara dan masukan berharga dari trainernya.

Kamis, 14 April 2011

NIKMAT DI ATAS NIKMAT*

Wajah mereka laksana bulan purnama. Teduh, bercahaya penuh. Merekalah rombongan pertama, memimpin di depan. Lalu beriring rombongan-rombongan di belakang mereka, dengan roman muka bersinar bak kemilau bintang; cemerlang. Rombongan demi rombongan, mereka bergantian masuk ke gerbang kemenangan. Memasuki taman surga yang dijanjikan.

Rabu, 30 Maret 2011

DAPATKAN BULETIN NAH # 23!



Salam ‘alaykum sobat Nah! Moga harimu kian cerah!

Alhamdulillah Nah! masih diijinkan Allah untuk hadir menemani sobat semua.
Wahai para pemburu ilmu, sebentar lagi datang yang kita tunggu: UJIAN! Uasyik nian! Bukankah dengan ujian, Allah naikkan derajat kita? Dengan ujian, kita jadi tahu mutu hingga kita terus melaju?

Senin, 28 Maret 2011

OPEN RECRUITMENT Magang JAN!

Assalamu'alaikum wr.wb.

Dengan ini kami JAN Training and Writing Corporation memberitahukan bahwa akan diadakan open rekrutmen untuk magang di JAN. Adapun divisi yang bisa diikuti adalah divisi Training, Writing, Riset, Outbound, dan anak-anak. Mekanisme pendaftarannya dengan mengisi biodata yang dapat dilihat di www.buletinnah.blogspot.com. Kemudian biodata yang telah diisi diserahkan ke kantor JAN atau dapat dikirim melalui sukses_ujian@yahoo.co.id. (setelah mengirim, konfirmasi ke CP)

Kamis, 17 Maret 2011

The Art of The Heart*

Salam alaykum! This time, naskah of the week goes international. The goal: To be rahmat for the universe! Authored by Dynamic Deniz. Hope you can enjoy this new taste.

The Art of The Heart

Knowing what to do and actually doing it are two different things. Knowing what is right doesn’t mean that you will always do the right thing. So, why is it much easier doing wrong things?

Selasa, 15 Maret 2011

The Courtesy Training

Banyak yang menanyakan. Banyak yang merindukan. Bahkan banyak yang mencari infonya lewat seluruh layanan. Ya. THE COURTESY TRAINING. Training GRATIS dari JAN Inc. setiap hari Jum'at.

Minggu, 13 Maret 2011

Lima Detik Untuk Lima Jam*

Oleh: Ainun Nahaar



GAWAT! Ini pertama kalinya pegawai Dell Inc. melakukan pemberhentian besar-besaran! Bahkan, sebuah survey selama musim panas tahun 2001 menunjukkan, setengah dari pegawai Dell akan keluar jika ada kesempatan. Ketidakpuasan sedang menyebar di kalangan para bawahan. Akibatnya, hanya sedikit pegawai yang masih setia pada perusahaan.

Kamis, 10 Maret 2011

Lelaki Pahlawanku*

Salam alaykum sobat nah semua! Alhamdulillah, semoga sehat dunia akhirat :) naskah of the week kali ini terkait dengan tokoh pahlawan terbaik kita:AYAH
Mari kita simak lantunan irama kata dari tarian jari Nisa Aqilah. Selamat menikmati!

Lelaki Pahlawanku
Oleh: Nisa Aqilah

Kau tak pernah menjawab tanyaku tentang kehidupan, tapi kau selalu menjalaninya dan dengan keringatmu itulah jawaban itu kau katakan.

Selasa, 22 Februari 2011

NASKAH of THE WEEK

Untuk Pekan ini, Arif Jadmiko bagi-bagi pengalaman sebagai ketua program 100 Training GRATIS Yes! Ujianku Sukses! Mempersiapkan Ujian Sukses Tanpa Stres! Apa pesannya? Pesan dia untuk kita:

Raihlah Cita-Citamu!

The future belongs to those who believe in beauty of their dream
(Eleanor Roosevelt)

Dalam perjalanan program 100 training gratis Yes Ujianku Sukses! bersama JAN Training Team, Allah memberikan kesempatan pada saya untuk mengunjungi banyak tempat baru. Sekolah-sekolah yang beragam, baik SD, SMP maupun SMA dan sederajat. Sampailah saya di sebuah SMA di Klaten. Ketika itu, saya menjadi trainer di kelas 3 IPA IV. Muridnya sangat antusias, bersemangat dan sopan pada orang baru seperti saya. Satu di antara isi dari training itu adalah menuliskan cita-cita pada selembar kertas. Selanjutnya saya meminta ada yang membacakan di depan kelas. Tiga anak bergantian membacakan cita-citanya. Semuanya putri.

Yang maju pertama membacakan dengan serius dan sungguh-sungguh. Yang maju kedua, membacakannya sambil tertawa dan senyum-senyum tidak jelas. Giliran yang terakhir, semua yang hadir di ruangan itu diam, menyimak dengan seksama. Anak ini membacanya terputus-putus, seolah ada yang mengganjal di tenggorokannya. Dia ragu-ragu untuk membacakannya, antara melanjutkan atau menghentikannya. “Aku malu mau membacanya Kak, gimana ya?” katanya padaku. “Dibaca saja, jangan ragu, kami semua tidak akan mentertawakanmu”, sahutku.

Diam sejenak, dan tiba-tiba dia menangis sambil membaca dengan mantap dan penuh keyakinan. “Aku ingin hidup lebih baik, menjadi pramugari dan menjadi orang yang punya uang untuk membahagiakan kedua orang tua.” Yang hadir di ruangan itu terdiam dan turut meneteskan air mata. Semuanya mengamininya dengan penuh kekhusyukan.
Bagi kita cita-cita itu mungkin biasa saja. Kebanyakan orang juga memilikinya. Tetapi bagi murid yang menuliskan dan membacakannya, hal itu sangat berarti dan membuatnya lebih bersemangat. Itulah kekuatan sebuah impian.

Teringatlah saya dengan kisah yang berbeda. Masih tentang impian atau cita-cita. Monty Roberts namanya. Hari ini dia telah memiliki peternakan kuda di San Ysidro. Awalnya dia adalah seorang remaja miskin yang tidak memiliki apa-apa. Sekolahnya terlantar karena sang ayah adalah seorang pelatih kuda keliling. Ayahnya menjual keahliannya dari satu peternakan ke peternakan, dari pacuan ke pacuan, dari kandang ke kandang dan dari pertanian ke pertanian untuk melatih kuda. Ketika di tingkat terakhir kelas menengah, dia diminta gurunya untuk membuat makalah oleh gurunya tentang ingin menjadi apa dan mengerjakan apa setelah dewasa.

Malamnya, anak itu membuat cita-citanya sebanyak tujuh halaman. Entah kapan dan bagaimana mencapainya, dia menuliskan ingin memiliki peternakan kuda. Dia menuliskan secara rinci dan menggambar diagram peternakan kudanya yang dibangun di atas tanah seluas 80 hektar, lengkap dengan bangunan, kandang dan arena pacu. Dia juga menuliskan akan membangun rumah seluas 375 meter persegi di atas peternakan kudanya.
Keesokan harinya dia mengumpulkan makalahnya itu. Dua hari kemudian, dia menerima kembali makalah itu. Di halaman depan tertulis huruf F besar, di bawahnya terdapat tulisan, “Temui saya sepulang sekolah!”

Monty Roberts menemui gurunya itu dengan penuh tanda tanya, “Mengapa saya mendapat nilai F?” Gurunya menjelaskan bahwa Monty Roberts tidak akan bisa mewujudkan cita-citanya. Untuk memiliki peternakan kuda diperlukan biaya yang sangat besar. Membeli tanahnya, membangun gedungnya, membeli kuda unggulan, biaya pengelolaan dan lain sebagainya. Sedangkan Monty Roberts tidak memiliki uang sebanyak itu. Kemudian, gurunya menambahkan, “Kalau kau mau mengubah makalah ini dengan yang lebih realistis, barangkali aku akan mempertimbangkan nilaimu.”
Pemuda itu pulang dengan penuh kebingungan. Tak tahu harus melakukan apa.

Bertanyalah dia pada sang ayah untuk mendapatkan petunjuk, tetapi ayahnya justru mengatakan, “Lihat ya Nak, kau harus memecahkannya sendiri. Menurut ayah, ini adalah keputusan yang penting sekali bagimu.”
Setelah seminggu merenung, anak itu kemudian menyerahkan makalahnya kembali. Tidak ada yang dirubah sedikitpun. Dia mengatakan kepada gurunya, “Anda boleh tetap memberi saya nilai F, tapi saya juga akan tetap mempertahankan mimpi saya.”
Beberapa tahun kemudian, gurunya beserta 30 muridnya berkemah di pekarangan milik Monty Roberts. Ketika berpamitan pulang, gurunya itu berkata, “Maaf, dulu aku telah menjadi semacam perenggut mimpimu, dan juga mimpi murid-muridku sendiri. Sekarang aku sadar. Untungnya kau memiliki tekad yang cukup kuat untuk tidak menyerah.”

Ketika telah mencapai impiannya, makalah itu oleh Monty Roberts disimpan dengan baik, dipigura dan diletakkan di atas perapian rumahnya.
Dalam usaha untuk meraih impian, terkadang ada orang-orang yang tidak mendukung bahkan menghina bahwa kita tidak bisa meraihnya. Nasehat Paulo Coelho dalam bukunya The Alchemist perlu kita simak, “Kalau kau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seisi jagat raya pasti akan bersatu padu untuk membantumu.”

Sebagai seorang muslim seharusnya kita lebih yakin. Tak ada keraguan untuk melangkah menuju kebaikan. Bagi Allah, segalanya mungkin, kalau Allah sudah menghendaki. Berjuanglah untuk mewujudkan cita-citamu. Sandarkan kekuatan pada Allah semata. Jangan biarkan orang lain merenggut cita-citamu. Majulah dan raihlah cita-citamu.***

Referensi: The Alchemist, Chicken Soup for The Soul People, Pemimpi Luar Bidahsyat

naskah of the week

ini dia naskah pekan sebelumnya.. siapa yang belum kenal dengan musuhnya? Saatnya

KENALI MUSUHMU!

“Jika kamu mengenal dirimu dan musuhmu maka kamu bisa memenangkan 100 pertempuran”

Kata Sun Tzu, salah seorang ahli strategi perang dari Cina. Berarti kalau mau menang dunia dan akherat, syaratnya dua: mengenal diri dan mengenal musuh secara dunia dan akherat!!
Lha terus, selama ini, sekolah udah ngajarin soal pemahaman diri lewat training success skill (hayo, siapa yang dulu mbolos?). Tapi, kok, nggak ada, ya, materi success skill: pemahaman musuh alias syaiton? Padahal, setan adalah sebenar-benarnya musuh yang nyata. Nggak percaya? Bener, kok! Baca aja surat cinta dari Yang Kuasa: Al-Qur’an.
Nah, ngomong-ngomong soal pengenalan musuh (baca: syaiton), Ibnu Qoyyim pernah nulis soal langkah-langkah setan alias syaiton dalam menggoda kita. Antara lain:
1. Kufur dan Syirik
Intinya adalah mengakui Tuhan selain Allah dan beribadah dengan cara yang tidak diridloiNYA. Bentuknya macem-macem. Dari pergi ke dukun sampai percaya ama ramalan. Hati-hati, lho! Bisa aja, ada sesuatu yang kadang kita anggap “Tuhan” tapi kita nggak sadar: harta, kuasa, wanita (baca: lawan jenis), bahkan IPK!!
2. Bid’ah
Wah, berat, nih! Orang yang melakukan bid’ah selalu merasa bener, padahal yang dia lakukan sebenarnya nggak diajarkan oleh Nabi. Jadi niatnya, sih, udah bener untuk Allah, tapi caranya untuk mendekatkan diri dengan Allah alias ibadah mahdhoh udah kelewat kreatif!! Misalnya lewat puasa mutih alias puasa dari yang putih-putih (kertas, kapur, tip-ex), kungkum alias bertapa dengan cara berendam di air (kebo kali??), en so on.
3. Takabur
Yaitu ngerasa bener sendiri sehingga tidak mau mendengarkan pendapat orang lain meskipun pendapat orang tersebut bener. Bisa-bisa dia sampai meremehkan dan ngangap orang lain: nothing!!

Itu baru beberapa dari artileri setan untuk menggoda kita biar nggak berada di jalanNYA. Masih ada lagi artileri yang lain. Setan emang udah punya tugas untuk nggodain manusia. Jadi jangan heran kalau mereka pingin nggodain kita.. WAJAR AJA!!***
(Dnz)

Sabtu, 12 Februari 2011

NAH! Edisi 22



Sobat NAH! tercinta, buletin NAH! edisi 22 sudah terbit!!!

Ijinkan bulan ini NAH! kembali berbagi. Berbagi ilmu? Tentu. Berbagi nasehat? Sepakat! Agar surga Allah kian dekat. Agar iman makin melekat. Maka, sudah NAH! racikkan sajian lezat:

Apa saja resep awet muda? Baca di halaman 3! Bang Deniz Dinamiz sudah menuliskannya...

Mau mengenal lebih jauh sosok Deddy Mizwar? NAH! sajikan hasil wawancaranya di Sajian Spesial...

Dan masih banyak lagi hidangan spesial dari kami...

Persiapkan diri, raih sukses sejati! JAWARA di dunia, di akhirat? TENTU SAJA SURGA!!!

***

NB:
Biar nggak kepikiran, dapatkan segera buletin NAH! di spot-spot andalan! GRATIS!!!
Hubungi: Zaid (085643414411)

Kamis, 03 Februari 2011

From NONE To NINE *

Siapa yang ingin jadi dokter???
Nah, naskah pekan ini bakal ngajak kamu untuk kenal dengan dokter yang satu ini. Namanya Ben Carson. Gimana kisah perjalanannya? Ainun Nahaar akan menuturkan. Ayo kita simak!

From NONE to NINE
Ainun Nahaar



Namanya Ben Carson. Lahir di Detroit, Michigan tahun 1951. Dia dan saudara laki-lakinya hanya dibesarkan oleh ibunya. Sang ayah meninggal saat Ben belum mengerti aksara. Ibunya sering bekerja di dua atau tiga tempat untuk menopang hidup mereka.

Sewaktu kecil ia sangat benci membaca. Selalu langganan juara, peringkat pertama dari urutan paling bawah kelasnya. Di kelas lima, setelah ulangan matematika, gurunya meminta masing-masing anak menyebutkan nilai mereka. Ben mendapatkan kembali hasil ulangan yang sudah dikoreksi teman di bangku belakangnya. Berapa nilainya? NOL dari tiga puluh soal!

Ben mencoba menggumamkan, ”none (tidak ada)”, berharap gurunya akan salah dengar. Dan memang itu yang terjadi. Sang guru berpikir Ben mengatakan “nine (sembilan)”, dan guru itu memujinya begitu tinggi. Sampai gadis di belakangnya tak dapat menahan diri dan segera mengoreksi. Apa yang terjadi? Seisi kelas tertawa keras. Ben merasa sangat terhina, ingin lari dan menghilang selamanya.

Sebelum insiden tak terlupakan itu, Ben mendengar berita tentang para dokter yang punya misi membantu banyak orang di negeri-negeri yang jauh. Ia katakan pada ibunya, bahwa kelak ia ingin menjadi salah satu bagian diantara mereka.

Dan ketika ia menceritakan kejadian memalukan di kelas matematikanya, sang ibu berkata, ”Kamu tidak akan pernah menjadi seorang dokter jika kamu tidak mulai membaca buku. Tapi kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan jika kamu melakukan itu!”

Sejak saat itu, setiap kali Ben menyalakan televisi, ibunya mengatakan untuk membaca saja. Ben dan saudara laki-lakinya juga harus membuat resensi dari buku yang dibaca. Begitu tegasnya sang ibu, sampai mereka selalu dipaksa menyerahkan resensinya. Walaupun akhirnya bertahun-tahun kemudian ia tahu, resensi yang Ben tulis tak pernah dibaca sang ibu. Karena ibunya memang tak bisa membaca. Ibunya adalah seorang yang tidak tamat pendidikan dasar kelas tiga! Tapi semakin banyak ia membaca, semua buku semakin menarik hatinya, dan segera saja ia melahapnya. Dan dalam waktu dua tahun, ia bangkit! Dari peringkat buncit meraih peringkat selangit!

Duka masih berlanjut. Ben punya watak berang yang menakutkan. Ben ingat, suatu ketika ia pernah mencoba menghantam kepala ibunya dengan martil. Sebabnya sepele, ia tak mau memakai pakaian yang diinginkan ibunya. Ia juga pernah menorehkan luka sepanjang tiga inci dengan gembok di dahi teman sekelasnya, hanya karena anak itu mencoba menutup loker Ben.

Puncaknya di usia empat belas. Ben menikam perut seorang teman dengan pisau ketika temannya itu akan mengganti stasiun radio yang sedang mereka dengarkan. Beruntung, pisau itu mengenai bagian logam sabuk temannya. Dan temannya selamat. Tapi kejadian ini begitu mengguncang Ben. Sampai waktu ia pulang ke rumah, ia mengunci diri dan merenung dalam-dalam.

Ia tahu, sekalipun nilainya bagus, ia bisa masuk penjara atau sekolah anak nakal karena kemarahannya. Dan tentu, tidak akan pernah menjadi dokter seperti yang Ben inginkan.

Ben habiskan berjam-jam untuk berdo’a agar kemarahannya hilang. Dan ketika ia keluar, marahnya pun hilang. Ia sadar. Ia paham. Dengan apa yang ia lakukan. Juga dengan apa yang ia cita-citakan.

Tahun terakhir di sekolah menengah atas, ia harus memilih perguruan tinggi. Tapi saat itu, tiap form pendaftaran perguruan tinggi harganya $10. Dan Ben cuma punya uang $10. Artinya, ia hanya bisa mencoba di satu universitas. Sekali atau tidak sama sekali! Setelah melihat tim Yale mengalahkan tim Harvard dalam acara TV favoritnya, College Bowl, ia memilih Universitas Yale.

Dia diterima! Lengkap dengan beasiswa akademis yang menutup sebagian besar biaya kuliah kedokterannya!

Ben bekerja keras di Yale. Ia membaca lebih banyak daripada yang ditugaskan dosen-dosennya. Lulus dari Yale, ia masuk Fakultas Kedokteran Universitas Michigan. Dimana ia menemukan keahlian bedahnya. Lagi-lagi ia memegang pisau di tangannya. Tapi kali ini untuk menyelamatkan nyawa orang lain, bukan sebaliknya.

Selama kerja praktek di rumah sakit, Ben menemukan kecintaannya pada bedah syaraf. Seiring dengan kemampuan alamiahnya, ditambah kebiasaan bacanya yang makin menggila, juga usaha belajarnya yang luar biasa, membuat Ben berada di posisi teratas bidang ini dalam waktu yang tidak lama.

Ketika siap memulai magang, ia mengajukan diri ke Rumah Sakit Johns Hopskins. Setiap tahun rumah sakit ini menerima lebih dari 125 lamaran untuk bergabung dengan bagian bedah syaraf dan yang diterima hanya 2 orang! Tapi Ben tak gentar. Ia ingat kata-kata ibunya, ia dapat menjadi apapun yang ia inginkan jika berusaha!

Ben termasuk satu diantara dua orang yang beruntung itu. Ia diterima di Johns Hopskins. Ben selalu memperlakukan setiap orang dengan sikap hormat yang sama. Meskipun sebagian perawat menganggapnya pesuruh karena berkulit hitam. Bahkan sebagian pasien pun tidak mengijinkan Ben menyentuh mereka (lagi-lagi) karena kulit hitamnya.

Semua perlakuan rasisme menyakitkan itu tak menghalanginya menyelesaikan magang dalam satu tahun saja. Padahal umumnya, magang ini baru bisa diselesaikan dalam waktu dua tahun lamanya. Kemudian Ben mengambil delapan semester residensi di sana.

Tahun 1984, ia bisa mendongakkan kepala. Ia diangkat sebagai direktur bedah syaraf pediatrik di Johns Hopskins pada usia tiga puluh tiga! Menjadi pimpinan bedah syaraf pediatrik termuda dalam sejarah Amerika! Lalu ia mulai menangani beberapa kasus yang sangat penting.

Salah satu kasusnya adalah gadis empat belas tahun yang menderita ayan parah, yang kadang-kadang membuat gadis itu kejang seratus kali dalam sehari. Ben dan timnya melakukan operasi berbahaya. Mereka mengangkat sisi kiri otaknya (hemisferektomi). Jika berhasil, gadis itu akan bebas dari kejang-kejang. Tapi jika gagal, resikonya adalah kematian. Dan pembedahan itu sukses!

Ben juga merupakan dokter bedah utama dalam operasi dua puluh dua jam yang dramatis di tahun 1987. Ia berhasil memisahkan kembar siam dari Jerman Barat yang menyatu bagian belakang kepalanya!

Dulu Ben memang NONE, tapi sekarang, ia buktikan bahwa ia sudah mencapai NINE! From NONE to NINE!!!

“Dengan berpikir BESAR, kita dapat mengubah dunia kita” – Benjamin Solomon Carson Sr., MD

***

Referensi:
Ben Carson, with Cecil Murphey. 1992. Think Big. Grand Rapids, MI: Zondervan.
Sandra McLeod Humphrey. 2007. Berani Bermimpi! (terj.) Jakarta: Banana.

*)naskah of the week pekan ke-4 Shafar 1432 H

Senin, 31 Januari 2011

Tukang Penyet *

Here is naskah of the week. We are sorry to be late.
And the winner is.. (bunyi tabuhan drum) Deniz Dinamiz! Hope you enjoy this week's script! Itadakimasu..

Tukang Penyet yang Lupa

Deniz Dinamiz

Sore itu, setelah sholat Ashar di Maskam (Masjid Kampung) dekat rumah, Dinda terduduk di depan komputer. Membalik-balik halaman buku Syekh Yusuf Qardhawi, seorang dari ulama-ulama kesayangannya, yang berjudul Niat dan Ikhlas. Sebenarnya dia sudah selesai membaca buku itu. Tapi sejenak setelah mencoba membuka-buka kembali beberapa lembar halaman, Dinda kembali ingat akan perasaan yang dikenalinya setelah mengkhatamkan buku itu,”Masya Allah… susahnya ikhlas….”

Lampu penanda monitor yang tadinya menyala, hanya bisa berkedip-kedip menunggu Dinda menggerakkan jarinya. Dinda yang tadinya termenung setelah membuka lembaran buku di depannya, menggerakkan mouse untuk mengembalikan layar ke kondisi semula dan mulai memencet tuts. Baru beberapa kata terketik, jarinya berhenti lagi. Pikiran Dinda menerawang…

“Dasar tukang penyet!” sentak Tya, teman Dinda, dari belakang sambil menepuk bahu Dinda. Dengan muka kaget campur heran, Dinda bertanya,”Apa, sih??”
“Iya. Kamu itu. Kerjanya saban hari pencet-pencet tuts keyboard komputer. Walhasil, jadilah kamu tukang penyet keyboard komputer. Hihihi..” Tya malah cekikikan sendiri. Dinda otomatis manyun. Tapi dalam hati tersenyum,”Bener juga ya…”

”Nulis apa, sih? Diary, ya? Duuh, baru curhat, ya?”
“Nggak. Ini aku diminta nulis sama temenku yang aktif di buletin…”
“Ooo..gichu. Nulis tentang apaan nih?”
“Nah, itu dia yang bikin aku bingung. Tentang ikhlas. Kamu ada ide nggak?”
“Lho? Bukannya kamu udah baca bukunya? Tinggal copy paste, beres ‘kan?”
“Ye, emangnya praktikum gadungan! Main copy paste aja… Aku, tuh, pengennya yang bisa… apa, ya? Pokoknya, yang bisa bikin orang terinspirasi dari tulisanku.”
“Ciee..lagaknya kayak pujangga aja. Ya udah. Cari aja cerita yang inspiratif. Tulis lagi. Beres ‘kan?”
“Tapi ‘kan bukan cerita buatanku sendiri. Aku pingin cerita yang orisinil, cerita inspiratif buatan Dinda!”
“Ih, macem-macem nih maunya. Emang tujuanmu apa sih?”

Toing! Kaget juga Dinda ditanya mendadak kayak gitu. Seingat dia selama ini, kalau dia diminta menulis di suatu media, entah buletin rohis atau majalah kampus, Dinda ingin nunjukin kalau dia emang paham tentang materi itu dan bisa nampilin karya yang disukai banyak orang. Bukannya tulisan itu dibuat untuk dibaca? Sama aja dong kalo nggak ada yang baca…

“Ya, untuk dibaca orang lain dong. Nggak ada gunanya nulis tapi nggak ada yang mau baca..”
“Hm. Aku ngerti. Nah, kalau ada yang nggak suka sama tulisanmu gimana?”
“Berarti tulisanku belum bagus.”
“Maksudku, gimana perasaanmu?”
“Ya… sedih.”
“Hehe.. sedih karena orang lain nggak suka sama tulisanmu ya?”
“Ho oh. Apalagi kalo orang itu pake ngritik kurang ilmiah lah, kurang jelas dasar teorinya lah, nggak nyambung alurnya, bla bla bla…”
Dinda mulai keliatan jengkel karena ngebayangin orang-orang yang suka ngritik dia selama ini. Tya Cuma tersenyum sambil memperhatikannya.

“Dinda.. Kamu udah selesai baca buku ini belum?” tanya Tya sambil membalik-balikkan halaman buku Yusuf Qardhawi yang tadi di meja komputer.
“Udah, sih. Susah banget, ya, untuk bisa ikhlas karena Allah. Ternyata yang namanya ikhlas itu… . Apa tadi… Nah ini,” setelah mengambil buku dari tangan Tya, Dinda membuka halaman 77 yang tertulis judul “Hakikat Ikhlas”.

“Nah, ikhlas itu menunggalkan tujuan kepada Yang Maha Benar dalam ketaatan. Terus.. yang dimaksud ketaatan adalah taqarrub kepada Allah, tanpa tujuan yang lain, seperti kepura-puraan di hadapan makhluk, untuk mendapat pujian di tengah masyarakat manusia, dan sebangsanya... Di buku ini juga ada lho, cara untuk menguatkan ikhlas, kayak berteman dengan orang yang ikhlas, membaca kisah orang-orang yang ikhlas, tahu ilmu tentang ikhlas…Ternyata…” Dinda menghentikan kata-katanya setelah memperhatikan Tya. Tya tampak aneh. Tya nggak memperhatikan Dinda. Tya mengarahkan pandangannya ke tempat lain. Ke komputer Dinda.

“Ada apa, ya?”
“Nggak apa-apa. Oh, iya. Jadi… tujuan Dinda tadi buat tulisan ini untuk… Apa tadi? Untuk disukai tulisannya sama orang yang membacanya, ya?”
“Iya dong! Kan…” mendadak muka Dinda berubah. Jadi pucat pasi. Manahan malu kayaknya..
“Aku.. ng..nggak ikhlas ya…,”kata-kata itu keluar perlahan dari mulut Dinda. Matanya berkedip-kedip. Emang gitu biasanya kalau Dinda grogi. Suka salah tingkah sendiri.
“Aku nggak bilang, lho… ‘Kan yang tau isi hati Dinda cuma Dinda sendiri. Ya, sama Allah juga lah.”

Dinda tertegun. Jadi itu alasannya kenapa Dinda nggak bisa lancar nulisnya. Gara-gara niat Dinda berbelok untuk manusia, Allah nggak ngijinin Dinda mendapat anugerah kefahaman dan kelancaran menulis. Ya Allah, ternyata Dinda udah salah. Salah niat. Padahal baru aja buka-buka buku tentang ikhlas ama niat. Jadi tambah malu… Tapi moga-moga aja malu ini malu yang terhormat. Bukan malu karena pingin keliatan hebat di depan manusia. Tapi malu karena keliatan berdosa di depan Yang Maha Kuasa.***

*) naskah of the week pekan ke-3 Shafar 1432 H

Kamis, 20 Januari 2011

Menyoal Karakter *

Pekan ini kita kedatangan jawara baru! Bicara soal pendidikan, lebih khusus ke pendidikan karakter. Inilah dia:

Menyoal Karakter
Muhammad Fatan Fantastik

Ada banyak pertanyaan tentang karakter yang perlu kita jawab.

Yang pertama: apa itu karakter? Jawaban ini, jika salah, akan berdampak teramat fatal pada proses selanjutnya. Misal, ada orang yang asal jawab. “Karakter itu”, katanya, “adalah gorengan”. Apa akibatnya? Maka, proses pembuatannya jadi bermasalah. Karena, kalau karakter itu gorengan, maka perlakuannya pun (untuk membentuk karakter) mirip dengan orang membuat gorengan. Bisa runyam akibatnya. Jadi, jangan sepelekan menjawabnya.

Yang kedua, proses “pembuatannya”. Ini juga nanti terkait erat dengan pengertian karakter di awal. Kalau sudah jelas apa itu karakter, proses terjadinya juga perlu kita pahami. Jawaban ini mungkin akan membawa kita pada serangkaian proses terjadinya karakter, tahapan-tahapannya.

Yang ketiga: apa saja yang berpengaruh terhadap terbentuknya karakter? Mana yang membentuk karakter, mana yang meruntuhkannya. Hal apa yang berdampak pada karakter yang baik, mana yang berdampak pada yang buruk.

Yang keempat: bagaimana konsep ini dalam Islam, terutama dalam kajian para ulama terdahulu? Seorang ustadz pernah menyampaikan bahwa bahasan tentang karakter ini sangat dekat dengan kata akhlaq. Ini tentu menarik untuk digali lebih dalam.

Yang kelima: contoh-contoh nyata dalam sejarah yang telah berhasil membangun karakter. Baik di lingkup pribadi maupun di lingkup bangsa atau ummat. Bagaimana kisah sukses mereka? Apa saja tantangan yang mereka hadapi? Patut untuk diselidiki.

Jadi, memang banyak yang harus dijawab.

*) naskah of the week pekan ke-2 Shafar 1432 H

Kamis, 13 Januari 2011

SANDHI *

SANDHIDeniz Dinamiz

Pantengin yuk cerita ceria berakhir bahagia yang satu ini:
Sejak kelas 2 SMA, Sandhi udah BB ama impiannya (BB: manteB Banget). Saking manteBnya, kakak kelas, teman seangkatan, adik kelas, guru, sampai Pak Wartono (karyawan penjaga sekolah) tahu kalau impian Sandhi itu satu: INGIN masuk HI (Hubungan Internasional) UGM.

Saking ngebetnya, Sandhi sampai bela-belain pingin coba ikutan kuliah (baca: menyusup) di HI UGM. Meski masih sekolah di kelas 3.
“Nggak apa-apa. Biar ngerasain gimana kuliah di HI!”, ajak Kak Atin, kakak kelas yang sudah diterima di HI UGM.

Nggak hanya sampai disitu. Kak Atin juga ngasih fotokopian buku panduan akademik kuliah di HI. Sandhi jadi tahu apa saja mata kuliah, SKS, masa studi, buku akademik, dan seabreg perangkat lain yang dibutuhkan untuk kuliah di HI. Jangan-jangan, Sandhi jadi lebih tahu tentang HI daripada anak HI sendiri.. Hihihi..

Menjadi Diplomat. Itulah alasan Sandhi memilih masuk HI. Masuk kelas IPS pun menjadi pilihannya ketika kelas 3. Nah, kurang apa coba? Sandhi sendiri menginginkan. Temen-temen menguatkan. Orang tua mendoakan. Apalagi coba?

Ada satu hal yang mengganjal hati Sandhi. Serasa duri dalam kenduri (Mana asyik makan ayam ketusuk duri?). Rasanya sih lumayan enak, tapi ada yang mendesak. Sandhi pun merasa ada yang salah dengan dirinya: ingin jadi diplomat TAPI kok nggak betah baca koran?

Nah lho. Sandhi jadi kepikiran,”Ini nggak bisa dibiarkan!” Lalu, Sandhi menguji dirinya: Kumpulkan kliping koran dan jadikan kebiasaan!
Satu bulan lewat. Artikel-artikel koran asyik Sandhi potongi. Dua bulan dapat. Masih setia Sandhi lakoni. Tiga-empat bulan... Sandhi mulai bertanya: ”Kok, rasanya biasa aja ya.. Rasanya nggak asyik-asik amat. Agak bosen malah...”
Sandhi menemukan jawabannya: “Bukan HI pilihanku!” Lalu apa? Sandhi sendiri belum tahu..

“Masa diplomat nggak enjoy sama berita terkini? Mau jadi apa nanti?” begitu pikir Sandhi.
“Udah nggak apa-apa. Gimana kalau kamu masuk Psikologi?” usul teman sekelas Sandhi.
“Psikologi?!” timpal Sandhi,“Bukannya Psikologi kerjaannya ngurusin orang gila?” kerut dahi Sandhi menandakan pertanyaan kedua hanya muncul dalam hati.
“Yup. ‘Kan kamu sering jadi tempat sampah. Jadi tempat curhat gitu...”
Meski rada jengkel karena dibilang tempat sampah, Sandhi manggut-manggut juga.
-------

Sandhi pun kemudian tanya sana tanya sini, korek sana korek sini (maksudnya mengorek informasi). Beberapa kali bertemu guru BP/BK untuk bertanya tentang penjurusan. Bukan berarti Sandhi anak nakal bermasalah, tapi Alhamdulillah, guru BPnya ramah-ramah. (Jadi keinget guru BP abang: Salam sayang selalu untuk Bu Titun!). Sandhi pun menimbang lagi apa saja kebiasaan dan kesukaannya sehari-hari.

Sampai akhirnya 1 bulan menjelang SPMB (intinya ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Ada yang manggil dia UM-lah, SNMPTN-lah, UMPTN-lah...), Sandhi memutuskan:
Pilihan PERTAMA: Psikologi UGM, Pilihan KEDUA: manajemen UGM

(Meskipun beberapa waktu setelah menulisnya di pendaftaran, Sandhi baru sadar passing grade Manajemen lebih tinggi daripada Psikologi. Pilihan Sandhi: diterima di Psikologi atau tidak sama sekali!)

Yang membuat Sandhi BB dengan Psikologi sebenarnya sederhana. Sandhi sangat menyukai buku “Quantum Learning” karya Bobbi DePorter. Buku itu berbicara tentang BELAJAR CARA BELAJAR.
“Asyik rasanya bisa belajar tentang cara belajar..” tanggap Sandhi dalam hati setelah membaca buku itu. Sandhi pun yakin bisa lebih tahu tentang hal itu di Psikologi Pendidikan.

Lalu bagaimana nasib Sandhi? Apakah dia diterima di Psikologi? Apakah dia terus bertahan melawan godaan dan ancaman? Apakah dia bisa mencapai impiannya? Saksikan kisah selanjutnya pada kesempatan lain di blog ini! (to be continued..)

*) naskah of the week pekan ke-1 Shafar 1432 H

Jumat, 07 Januari 2011

Naskah of The Week

Satu lagi yang baru dari NAH! Writing Team. Program ’30 menit untuk menulis’. Hasilnya akan dikumpulkan tiap pekannya. Dan dipilih naskah of the week pada saat pertemuan KUSEN (Kumpulan SEneng Nulis) tiap Rabu sore.

Inilah naskah of the week untuk pekan ke-4 bulan Muharram 1432 H.

Menjadi Penulis
Ainun Nahaar

Apa yang bikin seseorang tertarik untuk menulis? Apa yang membuatnya tetap menggoreskan pena dalam tiap suasana?

Mari kita lihat contohnya…

Michael Crichton menulis Emergency Room-nya pada tahun 1974. Siang hari dia menjalani Co. Ass di Fakultas Kedokteran. Malam harinya dia bangun dari tidur dan menulis. Bertahun-tahun karyanya ditolak. Bertahun-tahun juga karyanya ia perbaiki. Sampai akhirnya tahun 90-an karyanya laku. Jadi serial yang sangat populer. Merebut 8 Emmy Award dan diputar di stasiun TV 85 negara!

Imam Bukhari lebih hebat lagi. Tiap malam beliau menyalakan pelita saat menulis dan mematikannya saat sedang merenung. Hampir 30 kali. Begitu setiap hari. Kalau ingat sesuatu, meski sedang tidur, beliau bangun. Menyalakan pelita lalu menuliskannya. Hasilnya? Kitab Shahih Bukhari. Kitab ini berisi 7.275 hadits yang ditulis selama 16 tahun! Setelah menyusuri 7 negara, menemui 80.000 perawi dan mengumpulkan 600.000 hadits! Beliau diakui sebagai imamnya para ahli hadits oleh ulama di zamannya. Kitabnya juga diakui sebagai kitab hadits nomor satu sepanjang masa!

“Apapun niat awal seorang penulis”, kata Joni Ariadinata “semuanya sah.” Tapi beliau menuturkan bahwa biasanya, seiring pendalaman pemahaman dan pengalaman yang makin luas, ia hanya akan tiba pada titik jenuh. Jika niatnya tadi tidak dibarengi dengan idealisme. Apakah itu? Yakni perjuangan untuk membuat dirinya semakin berarti.

Ya! Perjuangan untuk membuat dirinya semakin berarti. Untuk membuat tulisannya lebih baik dari hari ke hari. Bukan sekedar kejar target apalagi kejar materi.

Kebahagiaan seorang guru ketika melihat muridnya berhasil, tidak akan bisa digantikan nilainya dengan sekedar menerima gaji. Juga kebahagiaan seorang penulis melihat karyanya bermanfaat bagi orang banyak, tidak akan bisa dibandingkan nilainya saat mendapatkan fee.

Seperti malam ini. Ketika W200-ku melengking tiba-tiba. Satu pesan baru diterima.

Isinya:
Mbak, makasih banyak ya :)

Kubalas segera:
Makasih? Buat apa, Nduk?

Jawabannya:
Aku mesti bisa nulis lagi waktu inget Mbak,
Makasih Mbak :-D


Aku tak bisa berkata-kata. Hanya kembali melonjak: kuatkan tekad, karyamu dinanti umat! (an)


Memasuki pekan kedua “30 Menit Untuk Menulis”
24 Muharram 1432/ 29 Desember 2010
Pukul 22:24