Kamis, 13 Januari 2011

SANDHI *

SANDHIDeniz Dinamiz

Pantengin yuk cerita ceria berakhir bahagia yang satu ini:
Sejak kelas 2 SMA, Sandhi udah BB ama impiannya (BB: manteB Banget). Saking manteBnya, kakak kelas, teman seangkatan, adik kelas, guru, sampai Pak Wartono (karyawan penjaga sekolah) tahu kalau impian Sandhi itu satu: INGIN masuk HI (Hubungan Internasional) UGM.

Saking ngebetnya, Sandhi sampai bela-belain pingin coba ikutan kuliah (baca: menyusup) di HI UGM. Meski masih sekolah di kelas 3.
“Nggak apa-apa. Biar ngerasain gimana kuliah di HI!”, ajak Kak Atin, kakak kelas yang sudah diterima di HI UGM.

Nggak hanya sampai disitu. Kak Atin juga ngasih fotokopian buku panduan akademik kuliah di HI. Sandhi jadi tahu apa saja mata kuliah, SKS, masa studi, buku akademik, dan seabreg perangkat lain yang dibutuhkan untuk kuliah di HI. Jangan-jangan, Sandhi jadi lebih tahu tentang HI daripada anak HI sendiri.. Hihihi..

Menjadi Diplomat. Itulah alasan Sandhi memilih masuk HI. Masuk kelas IPS pun menjadi pilihannya ketika kelas 3. Nah, kurang apa coba? Sandhi sendiri menginginkan. Temen-temen menguatkan. Orang tua mendoakan. Apalagi coba?

Ada satu hal yang mengganjal hati Sandhi. Serasa duri dalam kenduri (Mana asyik makan ayam ketusuk duri?). Rasanya sih lumayan enak, tapi ada yang mendesak. Sandhi pun merasa ada yang salah dengan dirinya: ingin jadi diplomat TAPI kok nggak betah baca koran?

Nah lho. Sandhi jadi kepikiran,”Ini nggak bisa dibiarkan!” Lalu, Sandhi menguji dirinya: Kumpulkan kliping koran dan jadikan kebiasaan!
Satu bulan lewat. Artikel-artikel koran asyik Sandhi potongi. Dua bulan dapat. Masih setia Sandhi lakoni. Tiga-empat bulan... Sandhi mulai bertanya: ”Kok, rasanya biasa aja ya.. Rasanya nggak asyik-asik amat. Agak bosen malah...”
Sandhi menemukan jawabannya: “Bukan HI pilihanku!” Lalu apa? Sandhi sendiri belum tahu..

“Masa diplomat nggak enjoy sama berita terkini? Mau jadi apa nanti?” begitu pikir Sandhi.
“Udah nggak apa-apa. Gimana kalau kamu masuk Psikologi?” usul teman sekelas Sandhi.
“Psikologi?!” timpal Sandhi,“Bukannya Psikologi kerjaannya ngurusin orang gila?” kerut dahi Sandhi menandakan pertanyaan kedua hanya muncul dalam hati.
“Yup. ‘Kan kamu sering jadi tempat sampah. Jadi tempat curhat gitu...”
Meski rada jengkel karena dibilang tempat sampah, Sandhi manggut-manggut juga.
-------

Sandhi pun kemudian tanya sana tanya sini, korek sana korek sini (maksudnya mengorek informasi). Beberapa kali bertemu guru BP/BK untuk bertanya tentang penjurusan. Bukan berarti Sandhi anak nakal bermasalah, tapi Alhamdulillah, guru BPnya ramah-ramah. (Jadi keinget guru BP abang: Salam sayang selalu untuk Bu Titun!). Sandhi pun menimbang lagi apa saja kebiasaan dan kesukaannya sehari-hari.

Sampai akhirnya 1 bulan menjelang SPMB (intinya ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Ada yang manggil dia UM-lah, SNMPTN-lah, UMPTN-lah...), Sandhi memutuskan:
Pilihan PERTAMA: Psikologi UGM, Pilihan KEDUA: manajemen UGM

(Meskipun beberapa waktu setelah menulisnya di pendaftaran, Sandhi baru sadar passing grade Manajemen lebih tinggi daripada Psikologi. Pilihan Sandhi: diterima di Psikologi atau tidak sama sekali!)

Yang membuat Sandhi BB dengan Psikologi sebenarnya sederhana. Sandhi sangat menyukai buku “Quantum Learning” karya Bobbi DePorter. Buku itu berbicara tentang BELAJAR CARA BELAJAR.
“Asyik rasanya bisa belajar tentang cara belajar..” tanggap Sandhi dalam hati setelah membaca buku itu. Sandhi pun yakin bisa lebih tahu tentang hal itu di Psikologi Pendidikan.

Lalu bagaimana nasib Sandhi? Apakah dia diterima di Psikologi? Apakah dia terus bertahan melawan godaan dan ancaman? Apakah dia bisa mencapai impiannya? Saksikan kisah selanjutnya pada kesempatan lain di blog ini! (to be continued..)

*) naskah of the week pekan ke-1 Shafar 1432 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar