Senin, 31 Januari 2011

Tukang Penyet *

Here is naskah of the week. We are sorry to be late.
And the winner is.. (bunyi tabuhan drum) Deniz Dinamiz! Hope you enjoy this week's script! Itadakimasu..

Tukang Penyet yang Lupa

Deniz Dinamiz

Sore itu, setelah sholat Ashar di Maskam (Masjid Kampung) dekat rumah, Dinda terduduk di depan komputer. Membalik-balik halaman buku Syekh Yusuf Qardhawi, seorang dari ulama-ulama kesayangannya, yang berjudul Niat dan Ikhlas. Sebenarnya dia sudah selesai membaca buku itu. Tapi sejenak setelah mencoba membuka-buka kembali beberapa lembar halaman, Dinda kembali ingat akan perasaan yang dikenalinya setelah mengkhatamkan buku itu,”Masya Allah… susahnya ikhlas….”

Lampu penanda monitor yang tadinya menyala, hanya bisa berkedip-kedip menunggu Dinda menggerakkan jarinya. Dinda yang tadinya termenung setelah membuka lembaran buku di depannya, menggerakkan mouse untuk mengembalikan layar ke kondisi semula dan mulai memencet tuts. Baru beberapa kata terketik, jarinya berhenti lagi. Pikiran Dinda menerawang…

“Dasar tukang penyet!” sentak Tya, teman Dinda, dari belakang sambil menepuk bahu Dinda. Dengan muka kaget campur heran, Dinda bertanya,”Apa, sih??”
“Iya. Kamu itu. Kerjanya saban hari pencet-pencet tuts keyboard komputer. Walhasil, jadilah kamu tukang penyet keyboard komputer. Hihihi..” Tya malah cekikikan sendiri. Dinda otomatis manyun. Tapi dalam hati tersenyum,”Bener juga ya…”

”Nulis apa, sih? Diary, ya? Duuh, baru curhat, ya?”
“Nggak. Ini aku diminta nulis sama temenku yang aktif di buletin…”
“Ooo..gichu. Nulis tentang apaan nih?”
“Nah, itu dia yang bikin aku bingung. Tentang ikhlas. Kamu ada ide nggak?”
“Lho? Bukannya kamu udah baca bukunya? Tinggal copy paste, beres ‘kan?”
“Ye, emangnya praktikum gadungan! Main copy paste aja… Aku, tuh, pengennya yang bisa… apa, ya? Pokoknya, yang bisa bikin orang terinspirasi dari tulisanku.”
“Ciee..lagaknya kayak pujangga aja. Ya udah. Cari aja cerita yang inspiratif. Tulis lagi. Beres ‘kan?”
“Tapi ‘kan bukan cerita buatanku sendiri. Aku pingin cerita yang orisinil, cerita inspiratif buatan Dinda!”
“Ih, macem-macem nih maunya. Emang tujuanmu apa sih?”

Toing! Kaget juga Dinda ditanya mendadak kayak gitu. Seingat dia selama ini, kalau dia diminta menulis di suatu media, entah buletin rohis atau majalah kampus, Dinda ingin nunjukin kalau dia emang paham tentang materi itu dan bisa nampilin karya yang disukai banyak orang. Bukannya tulisan itu dibuat untuk dibaca? Sama aja dong kalo nggak ada yang baca…

“Ya, untuk dibaca orang lain dong. Nggak ada gunanya nulis tapi nggak ada yang mau baca..”
“Hm. Aku ngerti. Nah, kalau ada yang nggak suka sama tulisanmu gimana?”
“Berarti tulisanku belum bagus.”
“Maksudku, gimana perasaanmu?”
“Ya… sedih.”
“Hehe.. sedih karena orang lain nggak suka sama tulisanmu ya?”
“Ho oh. Apalagi kalo orang itu pake ngritik kurang ilmiah lah, kurang jelas dasar teorinya lah, nggak nyambung alurnya, bla bla bla…”
Dinda mulai keliatan jengkel karena ngebayangin orang-orang yang suka ngritik dia selama ini. Tya Cuma tersenyum sambil memperhatikannya.

“Dinda.. Kamu udah selesai baca buku ini belum?” tanya Tya sambil membalik-balikkan halaman buku Yusuf Qardhawi yang tadi di meja komputer.
“Udah, sih. Susah banget, ya, untuk bisa ikhlas karena Allah. Ternyata yang namanya ikhlas itu… . Apa tadi… Nah ini,” setelah mengambil buku dari tangan Tya, Dinda membuka halaman 77 yang tertulis judul “Hakikat Ikhlas”.

“Nah, ikhlas itu menunggalkan tujuan kepada Yang Maha Benar dalam ketaatan. Terus.. yang dimaksud ketaatan adalah taqarrub kepada Allah, tanpa tujuan yang lain, seperti kepura-puraan di hadapan makhluk, untuk mendapat pujian di tengah masyarakat manusia, dan sebangsanya... Di buku ini juga ada lho, cara untuk menguatkan ikhlas, kayak berteman dengan orang yang ikhlas, membaca kisah orang-orang yang ikhlas, tahu ilmu tentang ikhlas…Ternyata…” Dinda menghentikan kata-katanya setelah memperhatikan Tya. Tya tampak aneh. Tya nggak memperhatikan Dinda. Tya mengarahkan pandangannya ke tempat lain. Ke komputer Dinda.

“Ada apa, ya?”
“Nggak apa-apa. Oh, iya. Jadi… tujuan Dinda tadi buat tulisan ini untuk… Apa tadi? Untuk disukai tulisannya sama orang yang membacanya, ya?”
“Iya dong! Kan…” mendadak muka Dinda berubah. Jadi pucat pasi. Manahan malu kayaknya..
“Aku.. ng..nggak ikhlas ya…,”kata-kata itu keluar perlahan dari mulut Dinda. Matanya berkedip-kedip. Emang gitu biasanya kalau Dinda grogi. Suka salah tingkah sendiri.
“Aku nggak bilang, lho… ‘Kan yang tau isi hati Dinda cuma Dinda sendiri. Ya, sama Allah juga lah.”

Dinda tertegun. Jadi itu alasannya kenapa Dinda nggak bisa lancar nulisnya. Gara-gara niat Dinda berbelok untuk manusia, Allah nggak ngijinin Dinda mendapat anugerah kefahaman dan kelancaran menulis. Ya Allah, ternyata Dinda udah salah. Salah niat. Padahal baru aja buka-buka buku tentang ikhlas ama niat. Jadi tambah malu… Tapi moga-moga aja malu ini malu yang terhormat. Bukan malu karena pingin keliatan hebat di depan manusia. Tapi malu karena keliatan berdosa di depan Yang Maha Kuasa.***

*) naskah of the week pekan ke-3 Shafar 1432 H

2 komentar:

  1. good Dinda Denis :)...!
    Bisaan, u memang anak kreatif akhi...

    BalasHapus
  2. aku mau ngomeni.... ikhlas nggak ya.... :P

    nice writing!
    pernah baca buku itu juga, isinya ribuan kali lipat lebih berat dari bukunya yang enak dibawa kemana - mana...

    semoga IKHLAS kian membumi...

    BalasHapus