Selasa, 22 Februari 2011

NASKAH of THE WEEK

Untuk Pekan ini, Arif Jadmiko bagi-bagi pengalaman sebagai ketua program 100 Training GRATIS Yes! Ujianku Sukses! Mempersiapkan Ujian Sukses Tanpa Stres! Apa pesannya? Pesan dia untuk kita:

Raihlah Cita-Citamu!

The future belongs to those who believe in beauty of their dream
(Eleanor Roosevelt)

Dalam perjalanan program 100 training gratis Yes Ujianku Sukses! bersama JAN Training Team, Allah memberikan kesempatan pada saya untuk mengunjungi banyak tempat baru. Sekolah-sekolah yang beragam, baik SD, SMP maupun SMA dan sederajat. Sampailah saya di sebuah SMA di Klaten. Ketika itu, saya menjadi trainer di kelas 3 IPA IV. Muridnya sangat antusias, bersemangat dan sopan pada orang baru seperti saya. Satu di antara isi dari training itu adalah menuliskan cita-cita pada selembar kertas. Selanjutnya saya meminta ada yang membacakan di depan kelas. Tiga anak bergantian membacakan cita-citanya. Semuanya putri.

Yang maju pertama membacakan dengan serius dan sungguh-sungguh. Yang maju kedua, membacakannya sambil tertawa dan senyum-senyum tidak jelas. Giliran yang terakhir, semua yang hadir di ruangan itu diam, menyimak dengan seksama. Anak ini membacanya terputus-putus, seolah ada yang mengganjal di tenggorokannya. Dia ragu-ragu untuk membacakannya, antara melanjutkan atau menghentikannya. “Aku malu mau membacanya Kak, gimana ya?” katanya padaku. “Dibaca saja, jangan ragu, kami semua tidak akan mentertawakanmu”, sahutku.

Diam sejenak, dan tiba-tiba dia menangis sambil membaca dengan mantap dan penuh keyakinan. “Aku ingin hidup lebih baik, menjadi pramugari dan menjadi orang yang punya uang untuk membahagiakan kedua orang tua.” Yang hadir di ruangan itu terdiam dan turut meneteskan air mata. Semuanya mengamininya dengan penuh kekhusyukan.
Bagi kita cita-cita itu mungkin biasa saja. Kebanyakan orang juga memilikinya. Tetapi bagi murid yang menuliskan dan membacakannya, hal itu sangat berarti dan membuatnya lebih bersemangat. Itulah kekuatan sebuah impian.

Teringatlah saya dengan kisah yang berbeda. Masih tentang impian atau cita-cita. Monty Roberts namanya. Hari ini dia telah memiliki peternakan kuda di San Ysidro. Awalnya dia adalah seorang remaja miskin yang tidak memiliki apa-apa. Sekolahnya terlantar karena sang ayah adalah seorang pelatih kuda keliling. Ayahnya menjual keahliannya dari satu peternakan ke peternakan, dari pacuan ke pacuan, dari kandang ke kandang dan dari pertanian ke pertanian untuk melatih kuda. Ketika di tingkat terakhir kelas menengah, dia diminta gurunya untuk membuat makalah oleh gurunya tentang ingin menjadi apa dan mengerjakan apa setelah dewasa.

Malamnya, anak itu membuat cita-citanya sebanyak tujuh halaman. Entah kapan dan bagaimana mencapainya, dia menuliskan ingin memiliki peternakan kuda. Dia menuliskan secara rinci dan menggambar diagram peternakan kudanya yang dibangun di atas tanah seluas 80 hektar, lengkap dengan bangunan, kandang dan arena pacu. Dia juga menuliskan akan membangun rumah seluas 375 meter persegi di atas peternakan kudanya.
Keesokan harinya dia mengumpulkan makalahnya itu. Dua hari kemudian, dia menerima kembali makalah itu. Di halaman depan tertulis huruf F besar, di bawahnya terdapat tulisan, “Temui saya sepulang sekolah!”

Monty Roberts menemui gurunya itu dengan penuh tanda tanya, “Mengapa saya mendapat nilai F?” Gurunya menjelaskan bahwa Monty Roberts tidak akan bisa mewujudkan cita-citanya. Untuk memiliki peternakan kuda diperlukan biaya yang sangat besar. Membeli tanahnya, membangun gedungnya, membeli kuda unggulan, biaya pengelolaan dan lain sebagainya. Sedangkan Monty Roberts tidak memiliki uang sebanyak itu. Kemudian, gurunya menambahkan, “Kalau kau mau mengubah makalah ini dengan yang lebih realistis, barangkali aku akan mempertimbangkan nilaimu.”
Pemuda itu pulang dengan penuh kebingungan. Tak tahu harus melakukan apa.

Bertanyalah dia pada sang ayah untuk mendapatkan petunjuk, tetapi ayahnya justru mengatakan, “Lihat ya Nak, kau harus memecahkannya sendiri. Menurut ayah, ini adalah keputusan yang penting sekali bagimu.”
Setelah seminggu merenung, anak itu kemudian menyerahkan makalahnya kembali. Tidak ada yang dirubah sedikitpun. Dia mengatakan kepada gurunya, “Anda boleh tetap memberi saya nilai F, tapi saya juga akan tetap mempertahankan mimpi saya.”
Beberapa tahun kemudian, gurunya beserta 30 muridnya berkemah di pekarangan milik Monty Roberts. Ketika berpamitan pulang, gurunya itu berkata, “Maaf, dulu aku telah menjadi semacam perenggut mimpimu, dan juga mimpi murid-muridku sendiri. Sekarang aku sadar. Untungnya kau memiliki tekad yang cukup kuat untuk tidak menyerah.”

Ketika telah mencapai impiannya, makalah itu oleh Monty Roberts disimpan dengan baik, dipigura dan diletakkan di atas perapian rumahnya.
Dalam usaha untuk meraih impian, terkadang ada orang-orang yang tidak mendukung bahkan menghina bahwa kita tidak bisa meraihnya. Nasehat Paulo Coelho dalam bukunya The Alchemist perlu kita simak, “Kalau kau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seisi jagat raya pasti akan bersatu padu untuk membantumu.”

Sebagai seorang muslim seharusnya kita lebih yakin. Tak ada keraguan untuk melangkah menuju kebaikan. Bagi Allah, segalanya mungkin, kalau Allah sudah menghendaki. Berjuanglah untuk mewujudkan cita-citamu. Sandarkan kekuatan pada Allah semata. Jangan biarkan orang lain merenggut cita-citamu. Majulah dan raihlah cita-citamu.***

Referensi: The Alchemist, Chicken Soup for The Soul People, Pemimpi Luar Bidahsyat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar