Kamis, 10 Maret 2011

Lelaki Pahlawanku*

Salam alaykum sobat nah semua! Alhamdulillah, semoga sehat dunia akhirat :) naskah of the week kali ini terkait dengan tokoh pahlawan terbaik kita:AYAH
Mari kita simak lantunan irama kata dari tarian jari Nisa Aqilah. Selamat menikmati!

Lelaki Pahlawanku
Oleh: Nisa Aqilah

Kau tak pernah menjawab tanyaku tentang kehidupan, tapi kau selalu menjalaninya dan dengan keringatmu itulah jawaban itu kau katakan.

Subuh itu masih seperti hari –hari biasanya. Angin pagi yang masih membawa sisa-sisa hujan tadi malam membuat hawa dingin senantiasa memeluk dan memaksaku untuk menggunakan sweater tebal. Jalan kecil sepanjang kost menuju masjid di sebelah utara masih juga basah dan becek oleh genangan air hujan. Kicauan burung kenari dari sebuah rumah terdengar sangat nyaring memecah keheningan. Jalanan yang kulalui masih sepi dan tak tampak banyak orang yang biasanya sudah bersiap-siap menuju tempat kerja mereka masing-masing. Tampaknya hujan yang menguyur Yogyakarta seharian kemarin membuat orang enggan ke luar rumah karena hawa dinginnya. Jika saja bukan karena ada sesuatu hal yang sangat penting dan mendesak, aku juga pasti masih berada di dalam kamar, ditemani selimut dan bantal. Tapi tidak pagi itu, ada seseorang yang ingin kutemui. Harus kutemui dan ingin kupeluk erat serta kucium dengan penuh hangat. Pahlawanku.

Sampailah aku di depan gerbang masjid yang juga sama nasibnya dengan tempat lain. Sepi dan kesepian. Jika saja ada orang yang mau dengan lebih memperhatikannya. Pasti nasibnya tak seburuk ini. Kotor dan tak terawat. Hanya dedaunan yang Nampak berserakan dan terkadang terbang disapu angin dingin yang semakin membuatnya lebih kotor. Di sudut bagian timur ada sebuah tong sampah yang cukup besar, namun di sekitar tong sampah itu juga banyak kulihat sampah berserakan. Nampaknya kesadaran manusia akan lingkungan sudah mulai tergerus oleh budaya dan euforia. Bakan di rumah Tuhan pun yang harusnya mereka jaga dengan baik. Mataku mencari sosok laki-laki itu. Laki-laki dengan badan tegap dan tinggi serta tampan. Di manapun mataku menjelajah, tak kutemukan jua tanda-tanda keberadaannya.

Kecewa dan sedih. Perasaanku sudah tak sanggup lagi menahan pertemuan dengannya. Sampai kudengar alunan ayat suci dari dalam masjid yang merdu dan tak asing. Aku mendekat. Dengan gelisah dan penuh tanya ingin kulihat siapa pemilik suara indah itu. Kakiku berhenti tepat di depan pintu dan kulihat sosok pahlawanku sedang duduk sembari membaca kata-kata syahdu. Aku diam. Aku menunggu sampai pahlawanku mengetahui kedatanganku dan berhenti kemudian menghampiriku. Tersenyum.
Dengan hitungan detik aku sudah berada dipelukannya. Tak ingin segera kulepaskan pelukan, erat, dan semakin kuat merengkuh. Lalu dielusnya dengan lembut wajahku yang saat itu dihiasi jilbab berwarna pudar. Kedua pasang mataku menatapnya hangat, penuh selaksa rindu. Tangannya pun perlahan takzim kucium, berharap kelak merengkuh surga.

Sosok tubuh itu tampak semakin lemah namun tak mengurangi perasaanku untuk menautkan bulir-bulir rindu. Lelaki biasa itu sesungguhnya sosok yang begitu sederhana. Sosok tegar pahlawanku itu memang tak pernah ragu mencari rezeki walau hanya sekedar sesuap nasi. Hatinya teguh, bahkan ketika semburat merah belum sempurna karena sang surya masih meringkuk di peraduan. Demi keluarga, jiwa serta raga rela digadang dengan kerasnya kehidupan. Meniti hari dan waktu, dibelahnya langit serta samudra. Berharap kelak dapat mengirim kembang untuk yang disayang.
Masya Allah.

Kembali kupatri di lubuk hati, lelaki perkasa itu adalah seseorang yang mendapatkan sedikit harta dengan cucuran keringat sendiri. Kemudian dengan itu diberikannya makanan dan pakaian untuk dirinya serta orang-orang terkasih. Kesungguhannya mencari nafkah sungguh menyemburatkan bangga. Keikhlasan membanting tulang demi keluarga, bahkan walau dengan bergenang air mata darah menunjukkan jati dirinya sebagai qawwam. Tak heran, bau keringatnya setelah seharian mencari nafkah selalu menebarkan aroma kerinduan. Dan ketika bola mataku menyorotkan tanya kepadanya perihal kedatangannya bahkan ketika rasa capainya belum lagi enggan hilang, pahlawanku pun menjawab dengan lembut,
"Karena kau sayangku..."
Selalu, dan senantiasa hanya karena itu.***

Duhai Pemilik Cinta...
Betapa sebenarnya sujud panjang dan tetesan air mata kesyukuran seakan tak ada arti dengan apa yang telah Engkau berikan selama ini.
Lelaki itu juga sesungguhnya bukanlah Nabiullah Daud yang senantiasa mencari makan dari hasil usahanya sendiri. Namun, semoga jerih payahnya menuai pahala tiada jeda dan henti.

Untuk ayahku, Miranu Triantoro


*) Naskah of The Week pekan ke empat bulan Rabiul Awwal 1432 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar