Kamis, 14 April 2011

NIKMAT DI ATAS NIKMAT*

Wajah mereka laksana bulan purnama. Teduh, bercahaya penuh. Merekalah rombongan pertama, memimpin di depan. Lalu beriring rombongan-rombongan di belakang mereka, dengan roman muka bersinar bak kemilau bintang; cemerlang. Rombongan demi rombongan, mereka bergantian masuk ke gerbang kemenangan. Memasuki taman surga yang dijanjikan.

Inilah para pemenang. Bagi mereka, penderitaan dunia dihapuskan: tak lagi repot buang air kecil, tak lagi ribet buang air besar, tak lagi meludah, tak pula ingus meleleh keluar. Mereka pun tak lagi disibukkan dengan urusan biang keringat yang baunya kadang membuat orang-orang tak hendak mendekat. Bahkan, tak lagi perlu menyemprotkan atau mengoleskan minyak wangi ke sekujur badan; aroma keringat mereka telah Allah miski-kan harumnya.

Telah pula tersedia untuk mereka sisir-sisir dari emas murni. Tercium dalam reruangan istana mereka haruman dari al-aluwwah, kayu yang teramat wangi. Bagi tiap mereka, istana seluas 60 mil persegi, untuk ditinggali sepuas hati. Bersama para bidadari yang bermata jeli. Bidadari yang perawan, sopan dalam menjaga pandangan, penuh dalam memberikan cinta kasihnya. Bagi tiap bidadari, tak ada lelaki lain bersemayam di hati mereka kecuali sang suami. Mereka semua abadi, selamanya di dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Hingga suatu ketika, saat para penghuni surga itu sedang masyuk bercengkerama, terdengarlah suara Tuhan mereka, Allah ‘azza wa jalla, “Wahai hamba-hamba-Ku”. Teramat indah panggilan itu. Maka, serentak para ahlul jannah menjawab, “Labbaika yaa robbanaa. Wa sa’daika, wal khoiro fii yadaika”. Kami terima panggilanMu ya Rabb kami. Dan kebahagiaan serta kebaikan ada dalam genggaman tanganMu.

Allah ta’ala lalu Bertanya,”Apakah kalian telah ridla dengan semua yang kalian terima?” Aduhai, pertanyaan yang teduh sekali. Apakah para penghuni surga telah rela dengan berbagai nikmat yang Allah limpahkan kepada mereka di dalam surga? Berbagai nikmat yang melebihi apa yang bisa dibayangkan oleh mata, didengar oleh telinga, dibersitkan oleh pikiran?

“Tentu ya Rabb. Bagaimana kami tidak ridla dengan semua kenikmatan yang telah Engkau berikan kepada kami, yang tak Engkau berikan ke selain kami?” Betul. Teramat banyak nikmat, berlipat lebihnya dari yang pernah ada di dunia. Bagaimana mungkin mereka tidak rela?

“Maukah kalian kuberi yang lebih baik dari semua itu?”

Apaaaa...???? Masih ada yang LEBIH lagi? Apakah gerangan yang melebih semua nikmat yang memanjakan lidah, mata, telinga, serta semua indra ini?

Ternyata, yang satu ini memang teramat luar biasa. Melebihi semua yang telah ada.
Hijab antara mereka dan Tuhannya dibuka. Dan tampaklah wajah Allah subhanahu wa ta’ala yang teramat indah. Inilah hadiah “tambahan” yang teramat mereka suka. Paling mereka suka. “Saat itu,” kata Rasulullah, “kalian bisa melihat wajah Allah tanpa pembatas. Dan tanpa berdesak-desakan. Sebagaimana kalian bisa melihat bulan purnama tanpa kesusahan”.
Aduhai...

(Muhammad Fatan Fantastik)

Referensi:
Imam an-Nawawi. Riyadhush Shaalihiin, bab “Balasan Orang Beriman Berupa Surga”.

*Naskah of the Week pekan ke-3 Robi'ul Akhir 1432 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar