Senin, 09 Mei 2011

My Dream*

Aku ingin melihat orang-orang tersenyum. Tersenyum karena bahagia. Bukan kebahagiaan semu dimana dia tertawa di dunia tapi kemudian merintih di akherat. Kebahagiaan sejati yang berarti mencapai impian dunia yang berarti. Impian yang menggerakkan dam mengarahkan hati. Dan Allah memberikan ridhoNya atas impian dan usahanya semasa hidup di dunia. Allah ridho kepadanya dan dia ridho pada Allah.

Menemukan impian dan mencapainya. Memperjuangkan dengan sepenuh hati hingga Allah menentukan keputusanNya. Kunci mencapai impian tidak akan bisa lebih jelas lagi: Ridho Ilahi. Kalau Allah sudah meridhoi, apakah ada yang sanggup menghalangi? Kesulitan, gangguan, rasa jengah untuk berubah, rasa bosan yang melenakan, godaan setan untuk mengejar impian semu, dekapan nafsu yang mengkungkung diri, dan semua yang menghalangi pandangan pada kilauan Impian Sejati. Semua hanya bisa bertekuk lutut dihadapan ridhoNya.

Jalan Pedang adalah jalan yang dipilih Musashi. Jalan Zen adalah yang diambil Takuan Soho. Jalan Cinta adalah yang ditempuh Otsu.(1) Yang manakah jalanku? Jalan Islam itu yang kutahu. Namun seberapa tahukah aku tentang jalan itu? Anehkah kalau mengatakan jalanku adalah jalan dakwah? Tidak! Karena jalan Islam adalah jalan dakwah itu sendiri! Apakah sempurna Islam-ku jika aku tidak mencintai orang di sekitarku seperti aku mencintai diriku sendiri? Maka dakwah adalah bukti pernyataan cintaku kepada mereka.

Jalan dakwah. Penuh onak dan duri. Ha! Tidak ada waktu untuk bersantai dan tenggelam di lautan kesenangan atau pun sungai kesia-siaan. Ternyata, Anjing Nafsuku masih menarikku menuju tempat yang sebenarnya ditolak Akal Penasehatku. (2) Tapi… seperti seorang raja yang terbuai kecantikan polos seorang kembang desa, godaan untuk bersantai dan menikmati hiburan yang tak bermanfaat menggodaku dengan rayuannya yang malu-malu. Tidak!! Aku harus tahu apa yang terbaik untukku!! Aku harus menghibur jiwaku yang haus dengan meneguk air ilmu, embun hikmah, dan salju pengetahuan. Ah! Begitu segar dan menghidupkan!

Ah, buat apa meratap dan menangisi keadaan diri. Saatnya menguasai diri dan berbuat nyata untuk menghidupkannya. Tidak sedikit orang-orang yang hidup tapi sebenarnya mati. Mati hati. Tidak ada alasan yang dapat diterima akal sehat untuk mematikan diri. Bahkan setan pun akan menertawakannya dan melonjak gembira karena ada yang bakal menemaninya di neraka! Cih! Sudah hidup disiakan, hidup yang kedua pun hanya mendekam di sekam! Lalu menghidupkan diri bukan lagi kewajiban. Tetapi kebutuhan.

Menghidupkan diri. Bagaikan kekasih yang selalu dirindukan. Bahagia saat bersua, merana ketika tak terlaksana. Dan diriku selalu mencari dan mencoba mendekap sekuat-kuatnya agar ia tak pergi. Ketika “menghidupkan diri” ada dalam dekapan maka itulah kehidupan yang sebenarnya! Senantiasa mendengar desiran samudera hati, menatap kilauan cahaya akal, menyentuh halusnya baju jiwa, mengobarkan nyala api semangat, dan mendisiplinkan tentara tubuh agar setia pada sang jenderal hati. Saat berbenah, rindukan jannah!***
Deniz Dinamiz)

Referensi:
(1) “Musashi” karya Eiji Yoshikawa
(2) “Ihya Ulumuddin” karya Imam Ghozali

*Naskah of the week bulan April 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar