Rabu, 07 Desember 2011

Saatnya Gerakkan Penamu!



“Ingin Sunguh-Sunguh Menjadi Penulis yang Menggugah dan Mengubah?” Sekilas pertanyaan tersebut akan mengingatkan kita pada sebuah acara kepenulisan yang diprakarsai oleh JAN dan Tim Buletin Nah! Ya, tepatnya Ahad, 27 November 2011 silam, digelarlah Training and Workshop “Bener-Bener Jadi Penulis”. Acara yang dihadiri sekitar 80an peserta training and workshop ini berlangsung dari jam 08.00 WIB sampai sekitar 15.30 WIB
Sesuai nama kegiatannya, acara ini dibagi menjadi dua sesi; training (08.30-11.30) dan workshop (12.30-15.30). Pada sesi pertama, peserta dipaparkan tentang bagaimana cara menghidupi sebuah tulisan, serta membuat tulisan menjadi lebih bermakna. Sesi ini dibersamai oleh Fatan Fantastik.

Lebih dari itu, supaya pengetahuan peserta tak hanya sebatas pada peningkatan kualitas tulisan secara internal, dihadirkan pula editor Pro-U Media, Yusuf Maulana. Bersama Pak Yusuf, peserta diberi penjelasan tentang bagaimana membuat tulisan yang mampu menembus penerbit dan menjadi best-seller.
Lelah dengan materi-materi yang sedikit berbau teoritis? Kini saatnya peserta praktik menulis di sesi workshop. Dipandu oleh Deniz Dinamis, peserta ‘disegarkan’ dengan kejutan kecil menerapkan praktik menulis T 7. Apakah itu? Yap, menulis selama tujuh menit tanpa henti.

Tak hanya sekadar menulis, peserta juga dituntut untuk menuliskan berapa kali ia mengambil jeda, berhenti menulis untuk mencari ide, serta berapa coretan yang digoreskan karena kesalahan menulis. Terbayang bagaimana para peserta yang tak terbiasa menulis mulai sedikit ‘berontak’ pada proses ini?

Meski awalnya sedikit terseok-seok, tapi toh akhirnya ada pula produk tulisan yang dihasilkan selama tujuh menit itu. Luar biasanya, pada sesi terakhir, para peserta workshop berhasil menghasilkan 8 buah naskah tim yang disusun dari tulisan masing-masing peserta sesuai pembagian tugas yang ada.

Sekali lagi, menulis pada dasarnya bukanlah pekerjaan yang sulit. Termasuk di dalamnya adalah untuk membiasakan menulis secara teratur. Kita hanya perlu ‘memaksa’ diri agar pena di tangan terus bergerak.    Terus berusaha istiqomah dalam menulis dan menjadikan kesabaran sebagai penyejuk semua peluh. Kemudian, yang paling utama dari itu semua, jangan lupa mengahdirkan Allah swt dalam setiap goresan tinta kita. Agar tulisan yang tertoreh tak hanya sekadar untaian kata tanpa makna. Raih Surga dengan Pena!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar