Rabu, 18 April 2012

Pangeran yang Hilang: Fiksi dan Fakta Dalam Bingkai Novel Sejarah


Judul                   : The Lost Prince
Penulis                : Sinta Yudisia Wisudanti
Penerbit              : Gema Insani Press, Cet. 1, Juli 2007
Tebal                  : 258 halaman

Khoja Amir memilih padang keemasan sejauh mata memandang, di mana sejauh mata menjangkau hanya areal putih dan kuning dibatasi selintas melengkung garis hitam memanjang. Bukit berpasir. Lekukan jejak arah angin dan taufan menggila. Bahkan tak tampak bekas tertinggal, seakan jalan ini tak pernah dijamah makhluq hidup sebelumnya. Ia mungkin berada di ujung bumi. Tanah tak bertuan. Tak ada yang coba meributkan wilayah gurun luas yang hanya mendengungkan bisik kematian. Gurun Gobi.
Novel sejarah, menurut Ensiklopedi Britannica, adalah sebuah novel yang memiliki setting periode sejarah. Juga sebuah novel yang mencoba untuk menyampaikan semangat, perilaku, dan kondisi sosial waktu lampau, dengan detail realistis dan ketepatan ke fakta sejarah. Hal tersebut terkait tokoh sejarah yang sebenarnya, atau mungkin mengandung campuran karakter fiksi dan sejarah.

Apsanti Djokosujatno, salah seorang pengajar di FIB UI pernah menuliskan “Novel Sejarah Indonesia: Konvensi, Bentuk, Warna, dan Pengarangnya”. Beliau mengupas lima novel yang dianggap mewakili, salah satunya adalah Subang Zamrud Nurhayati (Kelana, 1992). Subang Zamrud Nurhayati melukiskan kisah fiktif dan fantastik. Novel ini menceritakan kisah cinta panglima utusan Sultan Agung Mataram dengan hulubalang wanita kerajaan Aceh, Nurhayati. Bahkan novel ini diawali dengan sentuhan fantastik: penuturnya dari abad XX, dalam keadaan tak sadar, masuk ke abad XVII dan menjadi panglima Sultan Agung.

Dengan hadirnya The Lost Prince, Sinta Yudisia, kembali menuliskan novel sejarah yang begitu apik. Sesuatu yang belum banyak digeluti oleh para penulis negeri ini, lebih-lebih penulis perempuan. The Lost Prince merupakan buku kedua setelah novel Sebuah Janji. Mengisahkan tentang Pangeran Takudar, Putra Mahkota Imperium Mongolia.

Novel berlatar Mongolia ini akan membawa kita berziarah ke dataran Gurun Gobi. Sebuah wilayah padang pasir Asia yang pernah dikuasai oleh para kaisar Muslim. Berbekal buku-buku peninggalan almarhum ayahnya yang ia baca sejak tahun 1999, Sinta Yudisia mampu merampungkan novel ini dengan unsur yang menakjubkan. Settingnya yang kental, penggambaran tempatnya yang sangat detail, dan karakter tokohnya yang begitu kuat, membuat novel ini terasa sangat hidup. Dari petikan di awal tentang penggambaran Gurun Gobi tadi, kita seolah dapat merasakan sengatan panas yang seakan matahari hanya berjarak sejengkal dari kepala, juga hawa yang begitu menggigit di malam hari.

Di bagian yang lain, kita diajak melihat indahnya istana Ulaan Bataar. Namun, seindah apapun bangunannya, Gurun Gobi yang ganas ternyata tak sekejam permainan licik orang-orang penuh nafsu di balik tembok istana. Begitu yang penulis gambarkan.

Novel ini menceritakan kisah hijrahnya Takudar, bersama dayang setianya ke Baabussalaam. Menanggalkan atribut kebangsawanan, menuntut ilmu di Syakhrisyabz, wilayah subur antara Bukhara dan Samarkand. Takudar atau Baruji menjalani hari-harinya yang baru. Ia nyaris melupakan impian besar dan janji Kaisar Tuqluq Timur Khan. Namun ada kawan-kawan yang senantiasa membangkitkan semangatnya untuk kembali ke singgasana. Dan tentu yang lebih utama, mengembalikan Islam pada kejayaannya.

Kekurangan pada novel ini adalah tokohnya yang terlalu banyak dan kompleks. Di satu sisi tokoh-tokoh tersebut menguatkan penggambaran tokoh utama, yaitu Pangeran Takudar. Tapi di sisi lain, tokoh yang banyak ini membuat para pembaca harus mengingat-ingat kembali siapa tokoh-tokoh tadi. Apalagi karena tokoh-tokoh ini memiliki nama lebih dari satu. Tokoh yang banyak ini juga menimbulkan konfliknya sendiri-sendiri di tempat mereka berada. Sehingga terkesan menjadi konflik yang bercabang.

Terlepas dari itu, novel ini tetap menarik untuk dibaca. Baik para pecinta sastra, bahkan peminat sejarah Asia. Juga bagi siapapun yang ingin tahu, bagaimana Islam berjaya di Mongolia.*** (an)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar