Sabtu, 30 Juni 2012

TOTALITAS DALAM PILIHAN


Siapa yang belum pernah mendengar kata menulis. Pasti kebanyakan orang sudah tak asing lagi dengan kata tersebut. Apalagi bagi anak kecil sekitar umur 6 tahun. Aktivitas yang tak terpisahkan di bangku sekolah ini menjadi salah satu idaman semua orang agar anak tersebut mampu menulis dengan baik dan benar. Sedang bagi mereka yang sudah tidak anak-anak lagi, seharusnya menjadi learning culture untuk mengikat segala ilmu yang ada disekitarnya.

Menulis menjadi pilihan banyak orang untuk menyampaikan maksud hati dan pikiran. Lihat saja, mulai dari SMS, pasang status di facebook ataupun twetter, ngeblog, ngerjain tugas sekolah ataupun kampus, dan bahkan sudah ada yang menjadi misi hidupnya: menjadi penulis. Kesemuanya adalah pilihan.

Berbicara tentang memilih. Laiqrahafiddin*1. Tidak ada paksaan untuk masuk Islam. Tetapi ketika memang sudah memilih Islam, tentunya ada konsekuensi-konsekuensi didalamnya. Konsekuensi yang menuntut upaya penyempurnaan atas apa yang dipilihnya. Baik berupa perintah maupun larangan yang harus dijalani bagi tiap manusia yang memilihnya. Kemudian bagaimana dengan pilihan hidupnya pula dengan menjadi seorang penulis?

Menulis juga menjadi pilihan. Pilihan yang tak ada paksaan pula. Pilihan yang berlandaskan atas alasan masing-masing. Alasan yang bagi dirinya membuat mungkin itu ghirah untuk tetap bergairah menulis. Menulis yang bagi sebahagian lain menjadi pilihan untuk memberikan arti sebagai dampak eksistensi dan aktualisasi diri. Atau bahkan menjadi sesuatu yang mulia, yakni sebagai sarana memberi kemanfaatan atas dirinya dengan ilmu yang ditulisnya. Memilih pasti ada konsekuensinya, karena memang akan ada pertanggungjawaban atas pilihannya. Misalnya saja niat dan apa yang akan dibagi kepada pembaca.

Imam Syafi`i masih terdengar namanya dimajelis-majelis ilmu atas karyanya: tulisan yang mencerahkan mengenai fiqih. Tahukan sebelumnya Imam Syafi`i sebenarnya memiliki kecenderungan atas syair, namun kemudian beliau memilih fokus bidang fiqih? Kemudian kita mengetahui Zaid bin Tsabit ra. yang telah dipercaya mengemban tugas terbesar dalam sejarah yakni menghimpun Al-Qur`an. Atau siapa yang tak mengenal Imam At-Thabari dengan karyanya Ath-Thabari. Ya kalau tidak mengenal, minimal pernah mendengarnya dan beliau merupakan salah satu sejarawan periode Abbasiyah yang paling berjasa dalam menyusun data-data sejarah umat Islam. Kitab tafsirnya Jami`ul Bayan.  Tidak ketinggalan pula dengan Al-Bukhari, nama yang tidak asing dalam periwayatan  hadist. Menjadi salah satu Imam hadist pada masanya dengan karya yang paling direkomendasikan oleh banyak ulama yakni Jami`ash-Shahih.

Bagi mereka menulis bukan menjadi paksaan. Banyak dari mereka memang menulis menjadi sarana yang memungkinkan mereka akan tetap selalu “hidup”. Hidup dalam naungan amalan yang mengalir atas ilmu yang dikaji dari masa ke masa. Menulis yang hanya diniatkan Allah semata.

Nah bagaimana dengan kita? Apakah pula sudah memiliki alasan (why) kuat mengapa kita menulis. Atau sekedar mengetahui definisi menulis yang harusnya beda antara pemikiran kita dengan anak SD kita belum tahu. Itulah yang harusnya dikuatkan bagi siapa yang menetapkan hidupnya sebagai penulis, yakni MENGAPA menulis. Harusnya kita memiliki passion yang kuat menancap untuk kemudian menjadi penguat berlelah-lelah bahkan berjuang keras untuk menjalani proses itu. Passion yang tak menjadikan menulis sebagai rutinitas belaka. Dan memang ketika alasan menulis itu sudah mendarah daging, Insha Allah segala hambatan apapun akan terlewati. Karena kemenangan itulah yang akan didapatkan bagi mereka yang yakin atas janji Allah. Kemenangan yang didapatkan melalui proses kerja keras dan sesuai tuntunan. NAH! Sudahkah siap dengan totalitas berupa kesungguhan dalam berproses? Mari kita bersiap dan MENULISLAH! Sekarang!

annafi`ahfirdaus

*1Al-Baqarah :256

Tidak ada komentar:

Posting Komentar