Rabu, 24 Oktober 2012

Mari Kita Baca!



Bermula dari mengeja kata
Disertai penghayatan terhadapnya
Entah tersirat ataupun tersurat

Membaca kata demi kata
Menatap satu persatu ciptaan-Nya
Pastilah kita takjub pada-Nya

Entah itu tegak berdiri, duduk maupun berbaring
Kitalah yang harus selalu mengingat-Nya
Karena kita lemah dan tak berdaya, tanpa pertolongan-Nya

Maka sungguh tak ada yang sia-sia
Apapun yang Engkau cipta
kamilah yang sering tak menyadarinya
Ciptaan-Mu sedemikian banyaknya dan tak terhingga
Kuasa-Mu tak terbatas ruang dan waktu

Naskah      : Amin Novianto 
Gambar    : http://suksesmuda-indonesia.blogspot.com


Sabtu, 20 Oktober 2012

Sungguh-Sunguh Setelah Menulis



Kesungguhan dalam menulis tidak hanya dibutuhan ketika kita sedang menggoreskan ide dalam rangkaian huruf dan kata lho sobat. Kesungguhan juga diperlukan ketika kita telah selesai dengan satu tulisan. Maksudnya, kita tidak boleh segera puas dengan hasil tulisan yang sudah terangkum dalam bait-bait kalimat atau paragraf hasil pikiran kita. Yusuf Maulana dalam Sekolah Kepenulisan Jumat (19/10) lalu, berbagi sejumlah ilmu tentang apa yang harus kita lakukan setelah tulisan kita jadi. Setelah pekan lalu menyampaikan kiat-kiat untuk menyungguhi saat menulis, kini saatnya kita belajar tentang bagaimana untuk sungguh-sungguh setelah menulis. Penasaran dengan petuah beliau? Check this out.

Menulis, kata Yusuf Maulana dapat didorong oleh dua hal mendasar. Pertama, bisa karena faktor dari luar (ekstrinsik) seperti honorarium, hadiah, prestige, atau lingkungan sekitar kita. Kedua, menulis dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri kita (intrinsik). Fator intrinsik ini lebih didasarkan pada motivasi atau keinginan yang kuat oleh si penulis sendiri. Keinginan ini biasanya muncul karena alasan yang lebih kuat daripada faktor material. Misalnya saja seperti keinginan untuk berbagi dengan orang lain, mendedikasikan tulisan untuk orang yang disayangi, atau keinginan untuk merubah suatu keadaan dengan tulisan mereka. Nah faktor intrinsik inilah yang sepatutnya lebih kuat dimiliki oleh penulis agar dapat melahirkan karya-karya yang bermanfaat bagi orang lain. Karena dengan hasrat yang kuat dari dalam diri penulis, maka dirinya akan dengan sungguh-sungguh menghidupi tulisannya. Tentu saja juga dibarengi dengan sikap kesungguhan setelah tulisan jadi.

Memangnya apa saja sih yang perlu kita perhatikan setelah selesai menulis? Nah berikut ini poin-poinnya.
  1. 1     Endapkan tulisan kita untuk beberapa waktu. Jangan menghakimi tulisan saat menulis. Biarkan jemari kita kontinyu menuliskan ide-ide di kepala kita dengan mengalir, tanpa kritik dan beban. Hakimi tulisan kita setelah satu tulisan benar-benar jadi. Sembari mengendapkan tulisan ini, kita bisa melakukan aktivitas lain terlebih dahulu. Harapannya, pikiran kita menjadi lebih tersegarkan saat kita dituntut untuk menggunakan daya kritis ketika mengedit nantinya.
  2. 2.    Objektif terhadap tulian yang kita buat. Anggap saja itu tulisan orang lain yang sedang kita edit. Dengan demikian, kita lebih bebas untuk mencoret bagian-bagian yang tidak penting. Kalau dirasa ada beberapa kalimat yang tidak efektif, atau bahkan satu dua paragraf tidak relevan, jangan merasa sayang untuk segera memotongnya. Kalau perlu, buat satu paragraf baru. Susah? Ya begitlah proses belajar sobat. Kita harus berani tegas dengan tulisan kita, berani mencaci keburukan yang kita lakukan. Sebelum orang lain dengan tak berperasaan membuang tulisan kita ketika baru membaca sebagian tulusan kita. Tentu kalau ini sampai terjadi, kita bisa-bisa lebih sakit hati kalau tidak kuat mental. Pilih mana coba?
  3. 3.    Bandingkan tulisan kita dengan karya orang lain. Jika kita tidak mau membaca tulisan-tulisan orang lain, bisa jadi kia akan menganggap tulisan kita sudah hebat. Padahal bukannya tak mungkin tulisan kita kalah bagusnya dengan hasil karya anak SMP atau adik kelas kita. Dengan sering mengamati tulisan orang lain (tidak hanya dilihat lho, tetapi juga dibaca dan diresapi), kita akan mendapatkan banyak ilmu tentang bagaiman menciptakan tulisan yang lebih menarik dan mudah dipahami. Baik-buruknya tulisan kita, seberapa jauh kapasitas menulis kita, dapat dengan mudah dinilai ketika kita mampu ‘membaca’ baik-buruk tulisan orang lain.

Bagaimana, semakin bertambah ilmu menulisnya? Susah untuk mempraktekkan kiat-kiat di ata? Tidak mengapa, setidaknya sedikit demi sedikit ada perubahan dalam proses belajar kita. bagaimanapun sobat, untuk menjadi penulis hebat dan bermanfaat itu memang tidak mudah. Tapi ketika kita memiliki niat yang lurus untuk berbagi lewat tulisan, insya Allah kelelahan kita akan dibayar oleh Allah Swt.

“Inti menulis itu bukan pada masalah teknisnya. Inspirasi itu dilatih.” Begitu kata Yusuf Maulana dalam sesi Sekolah Kepenulisan di Rumah Nah lalu. Jika kita cermati, orang-orang yang karyanya banyak diminati oleh khalayak adalah mereka yang menuliskannya dengan tujuan yang tulus. Andrea Hirata bahkan mengaku tak pernah menulis sebelum novel bestsellernya “Laskar Pelangi”. Namun masyarakat mengakui kehebatan tulisan-tulisannya. Tahu kenapa? Karena Andrea Hirata menulis dengan hati.

“Remeh-temeh kata orang, sepele kata orang, tapi berkesan menurut kita.” Komitmen yang kuat untuk menulislah yang akan menggerakkan jemari kita dalam menuangkan inspirasi di otak kita. Niat kita harus bersahaja, anggap unsure ekstrinsik dalam menulis itu sebagai pendukung kesungguhan kita.
Semoga kita selalu dikuatkan komitmennya, diluruskan niatnya dan dijaga untuk tetap istoqomah dalam menulis sobat. Selamat berkarya dan menebar manfaat bagi semua. Salam

Naskah: Eko Megawati

Kamis, 18 Oktober 2012

How to be a Great Public Speaker


Dedicate your speech to Allah.” Penggalan kalimat inilah yang harusnya menjadi ruh dalam proses public speaking. Tak hanya sekadar mempesona dalam menyampaikan materi pembicaraan;  perlu ada alasan mendasar yang harus dipahami oleh seorang pembicara atau public speaker sebelum “ribut” dengan hal-hal teknis. Teknis itu penting, tapi ada yang jauh lebih penting: tujuan yang tinggi dan niat yang lurus. Fatan Fantastik dalam Public Speaking Training (PST) di Auditorium Kampus I UAD Ahad (13/10) lalu, menekankan pada pentingnya niat dan tujuan dalam setiap proses belajar yang kita jalani. Termasuk dalam belajar tentang public speaking.
Baik buruknya public speaking seseorang ditentukan oleh pribadi masing-masing diri kita. Apa yang masuk dalam otak, akan berpengaruh dalam setiap kata yang keluar dari mulut kita. Apa yang kita pelajari dalam hidup ini, akan berpengaruh dalam tingkah laku kita sehari-hari. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana kita bersikap dan bertindak menghadapi sebuah masalah. Untuk itulah seorang public speaker perlu memiliki tujuan jangka panjang dalam melakukan public speaking. Berbicara di depan umum adalah proses untuk belajar berbagi kebaikan, bagi sesama dan diri kita.
Acara yang dihadiri oleh 100 lebih peserta ini terselenggara atas kerjasama JAN Training Team dan Kelompok Studi Psikologi UAD, Insight Community. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30-15.00 WIB ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama, peserta dibekali dengan poin-poin yang harus dipersiapkan oleh public speaker sebelum, saat dan setelah public speaking. Sesi selanjutnya, peserta dituntut untuk praktek berbicara di depan umum dalam kelompok-kelompok kecil.
Peserta tampak antusias sejak awal sampai akhir pelatihan. Semoga forum ini menjadi pemicu semangat semua pihak yang terlibat untuk terus menerus belajar. Sebagaimana yang disampaikan pembicara di akhir sesi kedua,”This is not the end. This is a beginning.” Berakhirnya public speaking training ini adalah awal untuk memanfaatkan apa yang telah didapatkan dalam kehidupan nyata; serta terus menyalakan kemauan untuk terus memperbaiki diri. Semoga.  

Naskah   : Eko Megawati
Foto       : Tim JAN

Senin, 08 Oktober 2012

It’s Just Not about Deliver


“Seorang trainer sejati adalah mereka yang sangat senang untuk belajar, tidak senang yang instan.” Begitulah sepenggal pernyataan yang disampaikan oleh Fatan Fantastik dalam Sekolah Training, Jumat (5/10) lalu di Rumah NAH, Karangwaru Lor Yogyakarta.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 14.15-15.15 ini dibagi menjadi dua sesi materi. Materi pertama disampaikan oleh Fauzan Permadi mengenai esensi dari proses “deliver” dalam sebuah training. Ibarat sebuah teko yang diisi dengan teh, maka saat dituangkan dalam gelas juga akan keluar teh. Begitu pula ketika kita mengisi teko dengan madu ataupun susu, maka ketika dituang dalam wadah akan mengeluarkan hal yang sama dengan apa yang kita isikan. Di sinilah pengetahuan dan referensi seorang trainer sangat diperlukan sehingga dapat memberikan yang terbaik kepada audiens.

Selanjutnya, sesi kedua dipandu oleh Fatan Fantastik. Dalam forum ini pembicara lebih banyak menekankan pada tujuan dari sebuah proses training. Seorang trainer seringkali terjebak pada hal-hal yang berbau teknis dan melupakan elemen-elemen yang lebih penting, seperti halnya alasan mengapa training diadakan dan capaian yang ingin dihasilkan.

Sebelum trainer disibukkan oleh bagaimana design dan kiat-kiat berbicara di dalam forum, ia semestinya terlebih dahulu memiliki passion atau kecintaan terhadap apa yang ia sampaikan. Sebuah sesi training selayaknya dijadikan sebagai “noble mission”, suatu tugas yang mulia. 

Sebagaimana seorang guru yang dengan semangat memiliki hasrat untuk mencerdaskan anak didiknya, seorang trainer pun perlu memandang bahwa tugasnya tidak hanya sebatas menyampaikan materi. Namun lebih daripada itu, pemahaman tentang trainer dan kegiatan yang dilakukannya harus diarahkan pada tujuan yang jauh lebih agung daripada sekadar hubungan pembicara dan pendengar. Training adalah sebuah usaha untuk  berbagi kebaikan kepada orang lain, dengan tak lupa mengingatkan kepada diri sendiri.

Tak kalah pentingnya, seorang trainer yang baik adalah mereka yang dengan adil mengakui kelemahan dan kelebihannya. Mereka akan mengatakan dengan jujur mana yang menjadi keahliannya dan bagian mana yang bukan bidangnya. Seorang trainer yang baik adalah mereka yang tidak mengklaim dirinya serba bisa. Mereka adalah orang-orang yang “tahu diri” dengan kemampuan dan kapasitasnya.

Jumat, 05 Oktober 2012

Berbicara tentang Bicara




Lembaga pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) JAN Inc. kembali berbagi di daerah Bantul. Acara yang diselenggarakan pada Ahad 30 Setember 2012, di Lantai III Gedung Induk Parasamya Bantul, Yogyakarta ini diadakan oleh CDS (Corp Dakwah Sekolah) Bantul. Public Speaking Training yang bertema ‘Speak Up Your Ideas!’ kali ini dibersamai oleh Fatan Fantastik yang merupakan direktur JAN Inc.


“ Alasan menentukan kualitas tindakan”, ujar Fatan Fantastik dalam bahasan pertama. Pembicara pun menekankan niat yang benar dan besar dalam proses training ini (PST, 30/9). Tidak sekedar short  term orientation (berorientasi jangka pendek), namun long term orientation (memiliki tujuan jangka panjang).


“Alat utama Public Speaking adalah kita. Jika kita error, maka yang kita sampaikan error. Jadi yang harus  kita perbaiki adalah karakter diri kita”, ujar pembicara.


“Indeks baca bangsa kita adalah 0,0009 yang berarti rata-rata dalam 1 tahun setiap orang Indonesia tidak menyelesaikan 1 buku. Kalaupun iya selesai, apa yang mereka baca adalah bacaan bermutu? Atau malah komik”, tambahnya.


“Apa-apa yang kita masukkan jika ecek-ecek, maka kualitas pembicaraan kita pun akan ecek-ecek”, imbuhnya. 


Dalam sesi pertama ini, yakni sebelum istirahat dzuhur, ditekankan bagaimana membangun mental dan adab belajar terlebih dahulu. Trainer mengajak peserta untuk membangun kesadaran akan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi logis dalam profesi ini. Sehingga menjadi pembicara itu tak hanya asal bicara, tapi juga siap bertanggung jawab dengan segala yang disampaikan.


Dijelaskan pula oleh pembicara aspek-aspek public speaking, yakni mengenai verbal dan non verbal. Latihan pelafalan yang benar, intonasi, pengatuan tempo, menjadikan peserta makin paham aspek verbal yang harus dipelajari. Belajar berekspresi, senyum, kontak mata, gesture &posture yang kesemuanya itu juga dipelajari karena berpengaruh terhadap proses penyampaian pesan.


Di sesi kedua, peserta dibagi ke kelompok-kelompok kecil untuk praktek berbicara. Secara bergantian satu orang tampil, dan yang lain memberikan feedback.

Perfect practices make perfect. Latihan adalah hal yang harus kita lakukan jika memang ingin menjadi public speaker yang benar. Tentu latihan yang benar, bukan latihan yang salah”, ujar pembicara.


Peserta yang hadir, sebanyak 69 orang, tampak sangat antusias mengikuti training dari awal hingga akhir. Mereka menyampaikan bahwa walaupun waktu pelatihan panjang, yakni pukul 09.00 sampai 15.00, berlangsung tidak membosankan. Mereka mednganggap materi training memang sangat pantas untuk dipelajari dan kemudian dipraktekkan. Cara penyampaiannya pun  tidak bikin bosan.


Dituliskan dalam wawancara secara tertulis kepada ketua panitia, Zia Ul Haq (22) acara mengenai alasan mengadakan acara ini adalah Kami menyadari bahwa pelajar Bantul masih sangat sedikit yang mau dan mampu untuk berbicara di depan umum. Padahal sesungguhnya ide dan gagasan yang dimiliki pelajar Bantul tidak kalah pula dengan pelajar kota. Maka dari itu Kami adakan event ini.


Ditambahkan pula oleh Zia tentang harapan acara ini yakni dapat menjalin komunikasi aktif dengan peserta yang hadir pasca acara. Dan Kami akan melakukan follow up dengan membentuk speaking club. Dari club ini kami berharap akan terlahir orang-orang dengan kompetensi akal dan hati yang bagus, serta kemampuan public speaking yang luar biasa.


Naskah : Annafi`ah Firdaus
Foto       : Nur Huda


Kamis, 04 Oktober 2012

Practice Make Pefect


Menginginkan menjadi seorang trainer yang mengubah dan menggugah tak sekadar teori. Perlu praktek yang benar. Ya, practice make perfect. Latihan yang benar secara berulang akan membuat kita punya skill yang benar pula. Maka, mari kita praktekan segala teori (ilmu) training  yang ada !

Proses belajar bersama akan makin menguatkan keyakinan akan kebenaran. Dengan saling menasihati dalam kesabaran dan kebenaran, berharap menjadi salah satu langkahnya. Hadir kembali forum bagi mereka yang ingin bersungguh-sungguh menjadi trainer yang mengubah dan menggugah. Sekolah Training, Jumat 5 Oktober 2012 pukul 14.15 sampai 17.15 di Rumah NAH!*. Bersama Fatan Fantastik dan Tim Training JAN akan belajar tentang "DELIVER: MENYAMPAIKAN DENGAN MEMPESONA". So, buat semua yang ingin belajar, yuk mari!

Sebelum datang, harap konfirmasi ke 0857.2900.2493 ya. Tentunya, boleh ajak yang lain :) NAH!


*denah tersedia dibawah 

Redaktur: Annafi`ah Firdaus