Sabtu, 20 Oktober 2012

Sungguh-Sunguh Setelah Menulis



Kesungguhan dalam menulis tidak hanya dibutuhan ketika kita sedang menggoreskan ide dalam rangkaian huruf dan kata lho sobat. Kesungguhan juga diperlukan ketika kita telah selesai dengan satu tulisan. Maksudnya, kita tidak boleh segera puas dengan hasil tulisan yang sudah terangkum dalam bait-bait kalimat atau paragraf hasil pikiran kita. Yusuf Maulana dalam Sekolah Kepenulisan Jumat (19/10) lalu, berbagi sejumlah ilmu tentang apa yang harus kita lakukan setelah tulisan kita jadi. Setelah pekan lalu menyampaikan kiat-kiat untuk menyungguhi saat menulis, kini saatnya kita belajar tentang bagaimana untuk sungguh-sungguh setelah menulis. Penasaran dengan petuah beliau? Check this out.

Menulis, kata Yusuf Maulana dapat didorong oleh dua hal mendasar. Pertama, bisa karena faktor dari luar (ekstrinsik) seperti honorarium, hadiah, prestige, atau lingkungan sekitar kita. Kedua, menulis dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri kita (intrinsik). Fator intrinsik ini lebih didasarkan pada motivasi atau keinginan yang kuat oleh si penulis sendiri. Keinginan ini biasanya muncul karena alasan yang lebih kuat daripada faktor material. Misalnya saja seperti keinginan untuk berbagi dengan orang lain, mendedikasikan tulisan untuk orang yang disayangi, atau keinginan untuk merubah suatu keadaan dengan tulisan mereka. Nah faktor intrinsik inilah yang sepatutnya lebih kuat dimiliki oleh penulis agar dapat melahirkan karya-karya yang bermanfaat bagi orang lain. Karena dengan hasrat yang kuat dari dalam diri penulis, maka dirinya akan dengan sungguh-sungguh menghidupi tulisannya. Tentu saja juga dibarengi dengan sikap kesungguhan setelah tulisan jadi.

Memangnya apa saja sih yang perlu kita perhatikan setelah selesai menulis? Nah berikut ini poin-poinnya.
  1. 1     Endapkan tulisan kita untuk beberapa waktu. Jangan menghakimi tulisan saat menulis. Biarkan jemari kita kontinyu menuliskan ide-ide di kepala kita dengan mengalir, tanpa kritik dan beban. Hakimi tulisan kita setelah satu tulisan benar-benar jadi. Sembari mengendapkan tulisan ini, kita bisa melakukan aktivitas lain terlebih dahulu. Harapannya, pikiran kita menjadi lebih tersegarkan saat kita dituntut untuk menggunakan daya kritis ketika mengedit nantinya.
  2. 2.    Objektif terhadap tulian yang kita buat. Anggap saja itu tulisan orang lain yang sedang kita edit. Dengan demikian, kita lebih bebas untuk mencoret bagian-bagian yang tidak penting. Kalau dirasa ada beberapa kalimat yang tidak efektif, atau bahkan satu dua paragraf tidak relevan, jangan merasa sayang untuk segera memotongnya. Kalau perlu, buat satu paragraf baru. Susah? Ya begitlah proses belajar sobat. Kita harus berani tegas dengan tulisan kita, berani mencaci keburukan yang kita lakukan. Sebelum orang lain dengan tak berperasaan membuang tulisan kita ketika baru membaca sebagian tulusan kita. Tentu kalau ini sampai terjadi, kita bisa-bisa lebih sakit hati kalau tidak kuat mental. Pilih mana coba?
  3. 3.    Bandingkan tulisan kita dengan karya orang lain. Jika kita tidak mau membaca tulisan-tulisan orang lain, bisa jadi kia akan menganggap tulisan kita sudah hebat. Padahal bukannya tak mungkin tulisan kita kalah bagusnya dengan hasil karya anak SMP atau adik kelas kita. Dengan sering mengamati tulisan orang lain (tidak hanya dilihat lho, tetapi juga dibaca dan diresapi), kita akan mendapatkan banyak ilmu tentang bagaiman menciptakan tulisan yang lebih menarik dan mudah dipahami. Baik-buruknya tulisan kita, seberapa jauh kapasitas menulis kita, dapat dengan mudah dinilai ketika kita mampu ‘membaca’ baik-buruk tulisan orang lain.

Bagaimana, semakin bertambah ilmu menulisnya? Susah untuk mempraktekkan kiat-kiat di ata? Tidak mengapa, setidaknya sedikit demi sedikit ada perubahan dalam proses belajar kita. bagaimanapun sobat, untuk menjadi penulis hebat dan bermanfaat itu memang tidak mudah. Tapi ketika kita memiliki niat yang lurus untuk berbagi lewat tulisan, insya Allah kelelahan kita akan dibayar oleh Allah Swt.

“Inti menulis itu bukan pada masalah teknisnya. Inspirasi itu dilatih.” Begitu kata Yusuf Maulana dalam sesi Sekolah Kepenulisan di Rumah Nah lalu. Jika kita cermati, orang-orang yang karyanya banyak diminati oleh khalayak adalah mereka yang menuliskannya dengan tujuan yang tulus. Andrea Hirata bahkan mengaku tak pernah menulis sebelum novel bestsellernya “Laskar Pelangi”. Namun masyarakat mengakui kehebatan tulisan-tulisannya. Tahu kenapa? Karena Andrea Hirata menulis dengan hati.

“Remeh-temeh kata orang, sepele kata orang, tapi berkesan menurut kita.” Komitmen yang kuat untuk menulislah yang akan menggerakkan jemari kita dalam menuangkan inspirasi di otak kita. Niat kita harus bersahaja, anggap unsure ekstrinsik dalam menulis itu sebagai pendukung kesungguhan kita.
Semoga kita selalu dikuatkan komitmennya, diluruskan niatnya dan dijaga untuk tetap istoqomah dalam menulis sobat. Selamat berkarya dan menebar manfaat bagi semua. Salam

Naskah: Eko Megawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar