Selasa, 08 Oktober 2013

Kompak dengan Aktivitas Outbound


Ahad, 29 September 2013, Outrance JAN salah satu divisi  bidang outbound JAN Inc mengadakan “Outbound Bimbel Rumah Belajar” di KP4 UGM. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 08.00 sampai 13.00.

Tujuan dari diadakan kegiatan ini, menurut keterangan dari Deniz, salah satu Tim Outrance JAN adalah untuk keakraban antar peserta bimbingan belajar. Selain itu untuk meningkatkan keyakinan dalam mencapai cita-cita serta melatih inisiatif dan kepemimpinan dalam kelompok.



Kegiatan ini berlangsung dari pagi sampai siang. Diantara aktivitasnya adalah aktivitas udara yakni Wobbly and Two Line Bridge dengan ketinggian 6 meter. Aktifitas darat bernama Kereta kompak serta yang terakhir adalah air amanah. Nah!


Senin, 07 Oktober 2013

Membangun Komitmen Organisasi



Organisasi. Kata yang tak asing kita dengar. Ia selalu menjadi kosakata yang tak jauh-jauh dari pendengaran kita. Entah di sekolah, di kampus, bahkan di lingkungan masyarakat. Sudahkah kita benar-benar mengetahui apa itu organisasi dan kenapa ia menjadi kekuatan besar dalam sebuah visi kebaikan? Mari kita bincang bersama.

Komitmen menjadi bagian penting yang harus tertanam di sebuah organisasi. Ia menjadi salah satu ikatan yang akan merapikan sebuah barisan. Lantas bagaimana membangunnya? Mari kita bincang bersama di Rumah NAH !

Jumat, 04 Oktober 2013

Petarung Sejati*

 
           Bukan Ken, Ryu, ataupun Guile dalam Street Fighter. Bukan pula Wong Fei Hung si Jet Lie dalam Once Upon A Time in China. Ataupun si Jacky Chan dengan Drunken Master-nya. Tapi, kamu!! Lho Kok?!

            Iya!!Kamulah petarung itu! The Fighter! Tapi, bukan mirip si Drunken itu lho?! Trus mau bertarung ngelawan siapa? Teman! Orangtua! Atau guru karena kamu dapat nilai jeblok! Eits, jangan salah!

            Petarung sejati tidak harus suka kelahi. Apalagi kelahinya sama orangtua, adik, teman, atau bapak ibu guru. Bukan itu. Itu namanya Jagoan Kesorean. Saudaranya Pahlawan Kesiangan. Beraninya sama orangtua. Beraninya sama teman sendiri. Beraninya sama wanita. Coba kalau berani, pergi ke Palestine sana. Bantu anak-anak sana yang lagi ngelawan zionis Israel. Bawa ketapel atau bawa batu. Tunjukkan aksimu!

            Kalau kamu ngerasa jagoan atau ingin jadi jagoan perhatikan sini. Kata Rasulullah Saw: orang kuat itu bukan orang yang sukanya berkelahi. Tapi? Mereka yang pandai mengendalikan hawa nafsunya ketika marah. Jadi, kalau kamu merasa jagoan tapi tidak bisa mengendalikan hawa nafsu ketika marah, berarti kamu belum bisa disebut jagoan.  

Kenapa?! Lha iya! Ngelawan diri sendiri saja belum bisa. Mana bisa ngelawan musuh. Kamu tahu perang Badar? Itu lho perang penentuan antara kamu muslimin dan kaum kafir Mekah. Mengapa dinamakan perang penentuan?! Karena saat itu jumlah pasukan muslim baru sedikit. 300-an orang. Sedangkan lawannya 1000 orang. Senjatanya pun lebih lengkap.

Yach, betul-betul penentuan. Dan kalau sampai kalah atau hancur, habis riwayat. Sampai-sampai Rasulullah Saw merengek-rengek di hadapan Allah. Memohon janji-Nya. Lantas, apa yang terjadi? Tentara langit berupa 3000 malaikat dikirim oleh Allah ke medan badar.

            Perlu kamu tahu juga. Pada saat itu bulan Ramadhan. Bayangkan?! Sudah perang, puasa lagi. Kalau dinalar tidak nyambung ya? Sudah lemes, laper, disuruh tempur dengan musuh yang gemuk-gemuk dan seger-seger. Tapi, rupanya itulah kekuatan kaum muslimin. Ketika berhasil mengalahkan nafsunya dengan puasa, mereka jadi dekat dengan Allah. Dan pertolongan pun datang. Merekapun menang! Betul-betul menang.

Unik ya?! Kalau diibaratkan. Sudah jumlahnya sedikit, peralatan perangnya cuma pisau dapur, tapi kok bisa mengalahkan yang senjatanya lebih lengkap? Mungkin kalau saat itu ada pengamat perang, mereka akan berkata: mimpi kali yee..!

            Tapi itu semua bukan mimpi. Kenyataan. Mereka adalah jagoan-jagoan badar. Mereka menang dalam perang. Setelah sebelumnya mengalahkan dirinya sendiri. Mereka melawan nafsunya. Nah, itulah jagoan sejati. Bukan sekedar berani berantem, tapi juga berani mengendalikan diri. Ibarat kata pepatah: musuh jangan dicari. Ketemu jangan lari. Artinya: petarung sejati tidak pernah takut kepada musuh segede apapun melebihi takutnya kepada Allah. Sebaliknya ia pun tidak segan-segan menahan dirinya dan mengendalikan kemarahannya. Itulah petarung sejati!

Fadlan el Qossam
           
*tulisan diambil dari bank Naskah NAH redaksi #5
Gambar : republika.co.id
@annafiahfirdaus

Kamis, 03 Oktober 2013

Jadilah pembicara yang Menggugah dan Mengubah



Berbicara itu tak boleh asal. Karena setiap kata yang kita lontarkan, bisa saja bernilai pisau. Kebaikan ataukah kejahatan. Maka, tiap "matan" pembicaraan kita haruslah bernilai BENAR.

Berbicara pun harus dengan adab. Bagaimana agar kita tak merasa sombong dengan apa yang kita bicarakan. Tentu berbicara itu harus dengan cara BAIK

Nah, hayuk berbincang bersama agar menjadi trainer yang mengubah dan menggugah ..

Rabu, 25 September 2013

Berbincang tentang "Anak" Kita



Anak yang sholih dan sholihat adalah dambaan kita semua. Baik oleh orang tua atas anaknya, atau adik oleh kakaknya, atau murid-murid yang kita bina disekolah formal maupun non formal. Nah, lantas bagaimana jika saat ini anak kita atau adik kita belum sesuai harapan kita? Anak kita yang terlihat baik-baik saja di rumah, namun tiba-tiba mendapat laporan dari sekolah jika anak tidak melakukan proses belajar yang baik? Malah dia membawa gadget atau hp untuk nge-game? Atau yang lebih memprihatinkannya lagi ternyata pamit dari rumah untuk sekolah namun absense dari kehadiran sekolah?

Tak perlu tergesa-gesa untuk bertindak untuk mendekat dengan mereka lantas menelusuri apa penyebabnya. Mari kita berbincang bersama terlebih dahulu. Membincangkan tentang anak-anak kita. Membincangkan adik-adik kita, sehingga tak perlu juga menunggu waktu untuk kita mendidik anak harus memiliki anak terlebih dahulu. Tetapi mulai dari sekarang mendidik diri dan memantaskan diri untuk bersiap mendidik mereka. NAH !! Siap?? Hayuk datang ke majelis ilmu ini ...

@annafiahfirdaus

Minggu, 23 Juni 2013

JAN Inc. Mengadakan PST di Masjid Komplek UTY



The power is You. Alat utama dalam Public Speaking itu ada pada dirimu. Ya, diri kita sendiri. Wawasann yang kita miliki serta kesiapan-kesiapan secara mental untuk berani berbicara dan bertanggungjawab terhadap apa yang kita sampaikan. Bukan bergantung pada seberapa bagusnya fasilitas yang ada, bukan karena berada di gedung yang mewah, bukan pula karena soundsystem yang bisa memantulkan suara yang indah dan keras.”beberapa paparan materi yang disampaikan pembicara pada Public Speaking Training (22/6) edisi persiapan bulan Ramadhan.

Public Speaking Training atau yang sering disingkat PST ini berlangsung di Masjid Al-Kautsar Kompleks UTY Sastra Yogyakarta. Dibersamai oleh salah satu Trainer JAN Inc. Adhli Ghaniy beserta Tim Trainer JAN lainnya acara berlangsung dari jam 8.30 sampai menjelang shalat Dzuhur. Peserta yang berjumlah 8 orang ini berasal dari umum dan mahasiswa.

Dimulakan dengan materi tentang apa itu definisi berbicara dengan baik dan benar acara dilanjutkan sampai akhir dengan prakik-praktik. Diantaranya adalah praktik latihan vocal, gesture, volume suara, latihan pernafasan, dan yang terakhir masing-masing praktik berbicara di depan forum.***

Red : Annafi`ah Firdaus 





Minggu, 28 April 2013

Sekolah “Islam” yang Tak Sekedar Label



Apa yang kita ajarkan pada murid saat pertama menginjakkan kaki di kelas ?” Tanya pemateri Sekolah Kependidikan, M Fatan Fantastik selaku direktur utama JAN Inc (26/4) di Rumah NAH sebagai pemantik sudahkah secara Islam kita mendidik murid-murid kita. 

Pandaikah murid-murid kita dalam bersyukur? Seperti halnya yang diajarkan oleh Guru yang dipuji Allah dalam Al-Quran. Atau kita sudah menasihati mereka dengan cara dan waktu yang tepat? Bahkan, sudahkah kita meluruskan niat anak didik kita bahwa belajar ini untuk siapa? Maka kan didapati bagaimana pendidikan dri Luqman kepada anak-anaknya.

Sekolah Islam itu bermasalah ketika ia tak merujuk pada Al-Quran dan As-Sunnah. Tentang apa yang diajarkan dan bagaimana dalam mengajarkannya. Sekolah bermasalah, sekedar berlabel Islam serta tak bangga dengan apa yang ada dalam kedua sumber utama Agama ini. Justru begitu lebih bangga dengan teori barat, apalagi sudah melabelkan International dalam penamaannya.



Kalau kita berbicara sekolah Islam, mari kita lihat Islamnya. Hanya ada dua sumber referensi : Al-Quran dan As-Sunnah. Kalau kedua hal itu kita pegang, maka Insyaallah Sekolah kita akan beres.” Kalimat penutup acara Sekolah Kependidikan pekan ke-4 ditiap bulannya. NAH !






*annafi`ahfirdaus 

Jumat, 26 April 2013

Menyulut Inspirasi : Menjadi Pribadi Inspiratif dengan Pengelolaan Diri


Demi meraih sepotong inspirasi, tak segan-segan kita mengejar hingga ke pantai-pantai, gunung, atau bahkan mal-mal tempat manusia datang bergerombol. Seperti emas, kita menantikan inspirasi dengan harap-harap cemas. Begitu dapat, kita perlakukan inspirasi dengan sangat hati-hati agar tak lepas. Sebab, inspirasi menjadi semacam makhluk langka yang sangat manja. Berisik sedikit, bisa buyar seketika. Karena itu, kita butuh tempat khusus untuk menuangkannya.

Meskipun dengan cara ini banyak yang bisa menjadi penulis, tetapi untuk benar-benar produktif dan mampu menghadirkan ide-ide segar, kita perlu belajar mengelola diri agar senantiasa kaya inspirasi. Biarlah inspirasi mengejar kita, bukan kita yang sibuk-sibuk mengejar inspirasi. Apalagi hanya untuk sebuah cerpen atau tulisan ringan. Pertanyaannya, mungkinkah terjadi?
Belajar dari orang-orang yang kaya inspirasi, ada beberapa hal yang perlu kita catat:

Kekuatan Itu Bernama Komitmen

Apabila hatimu dipenuhi oleh kepedihan, keinginan yang kuat untuk menunjukkan orang lain kepada jalan yang kamu yakini kebenarannya, maka pikiranmu akan hidup. Gagasan bermunuculan dan inisiatif akan saling bersusulan. Apapun yang kamu lihat, akan selalu mengalirkan inspirasi kedalam jiwamu sesuai dengan apa yang menjadi kegelisahanmu.

Bagaimana bisa begitu? Komitmen memberi makna pada apa yang kita lihat, rasa, dengar, dan pikirkan. Setiap menjumpai sesuatu, sejauh komitmen memang hidup pada diri kita, langsung akan kita olah dalam otak kita sehingga melahirkan percikan-percikan ide  atau menggugah lahirnya inspirasi yang sangat kaya.
Ketika saya menangisi tradisi yang menghalangi orang untuk menikah secara islami, kepekaan saya meningkat berlipat-lipat. Setiap kali saya membaca buku, apakah itu buku politik, komunikasi, psikologi, ataupun antropologi, selalu memperkaya inspirasi sekaligus ketajaman analisis mengapa adat yang membelenggu itu terjadi, serta apa yang kira-kira bisa dilakukan untuk keluar dari cengkraman adat. Begitu juga ketika saya merisaukan pendidikan anak, buku politik pun bisa membangkitkan kekuatan pena untuk menulis buku Salahnya Kodok. Ringkasnya, komitmen mempengaruhi emosi, pikiran, dn konsi kita. Semua iru merangsang munculnya inspirasi-inspirasi yang  segar , inovasi yang cerdas, dan kekuatan tulisan yang dahsyat.

Kegelisahan yang muncul karena dorongan keinginan untuk menunjukkan apa yang baik, dapat menarik kita untuk benar-benar terserap pada apa yang sedang kita kerjakan. Dan inilah Flow. Secara sederhana, Daniel Goleman mengemukakan dalam Emotional  Intelegence. “Flow berarti keadaan ketika seseorang  sepenuhnya terserap ke dalam apa yang sedang dikerjakannya, perhatiannya hanya terfokus ke pekerjaan itu, kesadaran menyatu dengan tindakan.

Dalam buku Working with Emotional Intelelligence, Goleman menunjukkan bahwa kita dapat mencapai keadaan flow apabila keterlibatan psikologis yang sangat kuat (psychological presence). Keadaan ini membuat otak kita lebih tajam, pikiran kita lebih mudah mengalir dan jiwa kita lebih inspiratif. Menulis terasa lebih menggugah dan membangkitkan semangat apabila kita merasakan benar mengapa kita menulis. Itu sebabnya, mengapa saya lebih tertarik menemukan alasan untuk menulis daripada memikirkan bagaimana membuat tulisan yang menarik.

Jadi, jika kamu sekarang bingung harus menulis apa, beralihlah sejenak. Pikirkanlah mengapa kamu harus menulis? Jika kamu menemukan alasan yang kuat, pertarungan batin seorang akhwat yang baru memulai berjilbab pun bisa kamu tuangkan menjadi novel panjang yang mengesankan. Kamu juga bisa mengangkat tema-tema yang sangat sederhana menjadi satu novel yang memesona.

Agar yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa, ada dua hal yang kamu butuhkan. Pertama, libatkan diri dalam masalah yang sedang kamu tulis. Bukalah interaksi-secara langsung maupun melalui pikiran saja-dengan mereka yang sedang berjuang untuk bisa nyaman memakai jilbab. Melalui interaksi ini, ditambah dengan kesediaan untuk menggali masalah, kamu kan memiliki kepekaan yang tajam sehingga melahirkan tulisan yang hidup. Tanpa itu, tulisanmu hanya semacam interpretasi-tafsiran-atas apa yang kamu lihat dan pikir.

Pendapat Hermawan Kartajaya agaknya menarik untuk dicermati. Meskipun tidak berhubungan dengan menulis, nasihat pakar tentang intuisi sangat berharga untuk kita catat. Kata Hermawan, “Supaya lebih intuisi, kamu harus turun gunung ke market place dan banyak diskusi. Maka kamu akan jadi intuitif, not just interpretative.”

Bila kamu lebih peka terhadap masalah yang kamu tulis, lebih kuat penceritaanmu, kamu perlu bersentuhan langsung dengan masalah dan banyak diskusi. Melalui cara ini, kamu bisa menyelami sampai ke dasar laut. Tidak permukaannya saja sebagaimana sering saya temukan pada berbagai tulisan: fiksi maupun non fiksi. Jujur, saya sering gemes kalau baca cerpen atawa novel yang ditulis teman-teman. Kayaknya, kok banyak yang cuma ngejar setoran. Jadinya, cerita yang tertuang tidak memiliki kedalaman (sorry, kalau kamu tersinggung)

Kedua, kamu tidak bisa tidak perlu banyak membaca. Kamu bisa membaca untuk menyerap isinya (absorber reader), bisa juga membaca sambil secara aktif menilai, mengomentari, dan memberi catatan tentang apa yang bisa di ambil dari buku tersebut (reviewer reader). Keduanya memberi manfaat. Yang pertama, memberi kekayaan data dan pengetahuan, sementara yang kedua merangsang pikiran untuk cepat menemukan gagasan-gagasan cemerlang. Manfaat kedua tidak bisa kita dapatkan, jika kita memiliki kekayaan infomasi, pengetahuan, pengalaman, dan interaksi pikiran.

Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman Saeozi merupakan contoh yang sangat memukau bagaimana melahirkan sebuah karya cemerlang. Novel ini meramu kedekatan penulisnya dengan masalah yang diangkat, keluasan wawasan, dan kekuatan bacaan. Jadilah novel yang berisi, cerdas, lincah, kaya inspirasi, menggoda, dan sekaligus mengharukan. Kekuatan rujukan menjadikan novel ini berbeda dari novel-novel umumnya yang ditulis oleh novelis negeri ini. Sekadar tahu, saat menulis, Habiburrahman mengacu pada sembilan kitab.

Tampaknya, Habiburrahman menulis novel ini berangkat dari kerisauannya terhadap masalah yang bekembang dimasyarakat, sementara pada saat yang sama ada dorongan untuk menyampaikan ilmu dan kebenaran. Ada komitmen yang sangat kuat dipegangnya.

Nah!

Cinta Itu Menumbuhkan Jiwa

Pernah mendengar nama Sha`aban Yahya? Ia pernah jatuh cinta pada seorang gadis Yogya. Karena alasan budaya, ia memendam kecewa-karena keinginannya untuk menikah tidak dapat terlaksana. Kepedihan yang ia rasakan, gejolak jiwa yang bergemuruh karena cinta yang tak sampai, menggerakkan ia mengubah arransemen music yang menyentuh. Alunan musik ini kemudian dikemas dalam album bertajuk Return to Yogya.

Tentu saja untuk membangkitkan kehebatan yang dahsyat, kamu tidak perlu merasakan pedihnya putus cinta. Hidup ini terlalu berharga jika hanya untuk putus cinta. Lebih-lebih putus cinta ketika kamu belum berhak memilikinya karena belum menikah. Akan tetapi, saya hanya ingin menunjukkan satu hal: cinta yang kuat dapat menggerakkan jiwa untuk penuh semangat, yakin, optimis, dan penuh harapan. Salah satu penyebab orang-orang Yahudi yang dididik di kibbutzim (semacam pesantren untuk orang-orang  Yahudi) memiliki ketajaman otak yang dahsyat, adalah kecintaan dan militansi mereka yang sangat kuat untuk mengabdikan apa yang mereka miliki kepada para perjuangan zionisme.

Nah, agar tulisanmu senantiasa penuh kekuatan dan dirimu senantiasa penuh dengan inspirasi, kamu belajar mencintai apa yang kamu tulis. Pada saat yang sama, kamu harus ingat bahwa itu semua hanya menjadi penting ketika didalamnya terkandung keutamaan. Gampangnya begini, meskipun saya tiap hari menulis tema pernikahan, tetapi saya tidak boleh terjebak pada tema-tema ini. Bila diwaktu lain ada tema yang lebih membawa maslahat dan sangat mendesak untuk ditulis, maka tema itu perlu saya tulis apabila Allah memberi kemampuan. Saya tidak boleh terjebak pada merk yang diberikan oleh masyarakat, sebagaimana saya tidak boleh mengungkung diri saya dengan satu label: saya seorang penulis. Menulis hanyalah alat untuk mendatangkan kemanfaatan, kebaikan, kemaslahatan, dan ridha Allah. Melalui jalan ini, justru hati kita menjadi ringan. Kita tidak sibuk dengan atribut kepenulisan yang mengungkung sehingga kita justru lebih kreatif dan inovatif. Ketika kita lebih banyak merisaukan masalah yang sungguh-sungguh ada dihadapan kita, baik kita alami sendiri maupun dialami orang lain, kita akan sangat kaya inspirasi.


Kemudian tulisan dengan tema lain menggunakan nama pena yang berbeda, misalnya, itu adalah persoalan lain. Penggunaan nama pena dengan jenis tulisan berbeda bisa dilakukan atas pertimbangan strategi pemasaran. Tetapi secara pribadi, dalam hubungan saya dengan Allah Azza wa jalla, tidak boleh saya membatasi diri jika memang ada amanah menulis untuk bidang yang mengharuskan keterlibatan saya.

Apa yang terjadi kalau tidak ada cinta saat menulis? Lorraine Monroe bilang, “If You don`t love the work you`re doing, you get sick-physically, mentally, or spiritually. Eventually, you`ll make others sick, too. ( jika kamu tidak mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan, kamu akan sakit-secara fisik, mental, atau spiritual. Bahkan bisa jadi, kamu akan bikin orang lain sakit).”

Apakah dengan cinta tulisan kamu dijamin menyehatkan jiwa? Nggak, sih. Mencintai pekerjaan saja tidak cukup untuk melahirkan karya-karya yang menakjubkan yang memiliki kekuatan luar biasa. Mencintai apa yang kita lakukan hanyalah prasyarat minimal agar kita nggak sakit secara mental dan spiritual sehingga bikin pembaca maupun orang lain ikutan sakit. Ingat, bacaan itu mempengaruhi mental orang yang membaca. Ingat penelitian McCleland yang menyingkap hubungan erat antara cerita dan sikap mental bangsa.

Jadi, ada satu lagi yang perlu kita miliki. Dedikasi. Kita nulis cerita yang hebat bukan demi kehebatan itu sendiri. Tetapi, kita abdikan untuk sebuah misi. Kita menulis untuk melakukan perubahan positif. Sekurang-kurangnya buat diri kita sendiri. Sungguh, kita dilahirkan untuk mengubah dunia karena Allah menciptakan kita sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu, ambillah kesempatan untuk menciptakan perubahan. Setidaknya mengubah diri kita sendiri.

Yes, we`re born to change the world .

Merangsang Inspirasi dengan Menajamkan Visi
Apa sih yang kamu inginkan dari menulis? Apa yang pernah kamu bayangkan tentang tulisanmu? Sebuah perubahan cara pandang? Sebuah peristiwa emosi ketika pembaca diaduk-aduk perasaannya, lalu merenungkan sejenak perjalanan hidupnya? Atau sebuah tulisan yang sekadar menjadi pembunuh waktu luang?

Apa manfaat yang kamu hasratkan dari setiap tulisanmu? Dan, apa manfaat yang ingin sekali kamu berikan kepada pembaca melalui setiap tulisanmu?Antara lain, inilah pertanyaan-pertanyaan mendasar yang perlu kamu jawab untuk merumuskan visi. Seperti kata Philip Kotler, visi merupakan an ideal standard of execellent (standar ideal kemampuan) yang ingin kita raih. Ia memberikan gambaran ideal dan mendorong kita untuk mencapainya.

Sebagian orang merumuskan visi dengan sangat jelas dan tertulis, sebagian lain berusaha untuk menuliskan, karena dengan ini, kita akan lebih mudah merasakan visi itu setiap kali bertindak, dan sebagian lain menghayati sebuah visi yang sangat kuat meskipun tidak bisa menuliskannya dengan jelas. Tiga M, perusahaan yang terkenal dengan produk-produk alat kantor itu, meraih prestasinya yang sangat cemerlang dengan menulis visi perusahaan dalam bentuk alur cerita strategis sehingga para karyawan dan pengambil keputusan lebih membayangkan gambaran ideal yang harus diraih. Begitu disebut dalam buku Ideas at Work.

Apakah visi harus kita tulis? Nggak, sih. Yang penting, kita merasakan sehingga timbul sense of importartance. Kita jadi peka pentingnya nulis. Kita juga peka sekali terhadap apa yang kita tulis, serta bagaimana menuliskannya. Seperti diterangkan oleh Philip Kotler dan kawan-kawan, visi yang kuat akan membangkitakan sense of purpose and direction (kepekaan terhadap tujuan dan arah). Kita peka banget ketika tulisan kita mulai melenceng dari tujuan. Secara perlahan, kita juga akan peka bagaimana tiap-tiap kata memiliki kekuatan yang berbeda untuk mengantarkan kita pada tujuan menulis. Kita jadi lebih peka terhadap lapis-lapis makna dari tulisan kita. Lebih lanjut tentang masalah ini, silakan baca dibagian tiga tulisan berjudul lapis-lapis makna.

Tidak hanya itu, visi yang kuat akan menggerakkan kita untuk menulis dengan antusias! Dan, sejarah orang-orang besar –termasuk di dalamnya sejarah penulis-penulis besar-adalah sejarah antusiasme yang luar biasa!

Nah! Wallaahu a`lam bish-shawaab 

*Ditulis ulang (tanpa penambahan sedikitpun) dari sebuah buku "Dunia Kata" oleh Sang Guru : Ustadz Mohammad Fauzil Adhim 

(annafi`ahfirdaus) 

gambar : smkwidyakarya.wordpress.com

Selasa, 09 April 2013

NAH ! Semoga Menggugah !

Atas Izin Allah !

Buletin NAH bisa kembali di NIKMATI SAJIANNYA :D
Sajian yang semoga di tunggu oleh Sobat NAH Semuanya. 

Di edisi ini akan ada kelanjutan kisah Syaikh Ahmad Khatib Al Minankabawiy, Guru Para Guru ! Serta akan ada sajian spesial dari sang Pengolah Rasa Tim NAH ! Yup, wawancara langsung dengan seorang sosok SpOG. Penasaran Siapakah dia?
Juga tak ketinggalan di kolom "Sinau", akan didapati sebuah hal yang jika kita miliki, Kesuksesan itu ditangan kita. Apa itu ? Penasaran kaaaan ???







Makanya, Jangan sampai KEHABISAN !!!
Datang saja ke Rumah NAH untuk mendapatkannya^^
Bisa juga hubungi di 0898.149.6061 @buletinnah


GRATIS !

BURUAN !!!! 

Kamis, 21 Maret 2013

RUMAH NAH !



 Rumah NAH begitu Kami menyebutnya. Kadang Kantor JAN. Tempat berkumpul membangun asa bersama tuk raih Kesuksesan yang tak hanya Dunia, terlebih Akhirat. Rumah ini adalah milik keluarga Guru Besar Fakultas Pertanian UGM Prof . Dr. Ir Edhi Martono, M. Sc . Sekaligus ayahanda dari salah satu Direktur Ide dan Kreasi JAN Inc. Dinda Denis Prawitasandhi Putrantya, S. Si atau biasa kami mengenalnya dengan nama Deniz Dinamiz ( Penulis buku Bikin Belajar Selezat Coklat) 


Jika ingin bersilaturakhim belajar bersama untuk menguatkan Dien ini baik lewat dunia Training JAN, Writing NAH, Kependidikan JAN, dan Outrance JAN, boleh . Jika sobat ke kota Jogja yang istimewa ini, sempatkan mampir. Semoga pertemuan yang ber-ghirahkan JANNAH ! 



Dari titik Tugu Jogja kearah barat, bertemu dengan perempatan Jalan Magelang belok ke kanan.  Lurus saja  sampai bertemu pertigaan Plaza Ambarukmo masih lurus. Nanti akan di dapati SMA N 4 Yogyakarta yang sebelah utaranya ada Gang Karangwaru Lor. Ikuti Jln Gotong Royong tersebut sampai nanti didapat Rumah NAH atau Kantor JAN ! 

Jl. Gotong Royong Karangwaru Lor 376
Yogyakarta 55241
(0274) 8309274

NAH ! 

Minggu, 17 Maret 2013

Spiritual Writing: Jalan Lain Membangkitkan Kehebatan



Berapa lama waktu yang kita perlukan untuk menyelesaikan satu buku? Agar Cinta Bersemi Indah, saya selesaikan dalam waktu satu bulan. Buku lainnya ada yang rampung dalam waktu 2 minggu, 12 hari, 6 hari, dan ada juga yang selesai dalam waktu tiga hari. Umumnya, saya menulis buku sambil tetap melakukan berbagai aktivitas. Bahkan terkadang saya menulis di tengah aktivitas yang sangat padat. Ketika menulis buku Agar Cinta Bersemi Indah, saya tetap harus memenuhi berbagai undangan tuk curhat. Buku lainnya ada yang saya tulis di sela-sela kesibukan KKN. Jangan bayangkan KKN saya mudah dicapai kendaraan. Sekadar gambaran, untuk mencapai lokasi KKN dari tempat saya mencuci pakaian butuh waktu 2,5 jam jalan-kaki.

Lalu, apakah yang mempengaruhi cepat lambatnya merampungkan buku? Selain soal tebal tidaknya buku dan padat longgarnya kegiatan, kecepatan menulis buku juga sangat dipengaruhi oleh kekuatan jiwa. Jika kamu mampu mencapai kekuatan tekad yang kokoh, kejelasan visi, dan kemantapan niat, buku setebal 200-an halaman bisa selesai dalam waktu kurang dari dua minggu. Buku tercepat yang saya susun, Memasuki Pernikahan Agung, saya tulis dalam waktu kurang dari tiga hari. Waktu itu, saya di Kendari, Sulawesi Tenggara. Ketika menghadiri pesta perkawinan, saya lihat ada kebiasaan yang sangat merisaukan, dan saya ingin sekali menyampaikan kepada masyarakat bagaimana seharusnya. Dorongan itu demikian kuat dan Allah mencurahkan anugerah ide yang tak henti mengalir, kalimat yang meluncur dengan cepat, dan jari-jemari yang menari dengan lincah di atas tuts mesin ketik.

                  Tetapi ….

                Spiritual Writing tidak sama dengan menulis cepat. Seperti amal, kita berpihak kepada ahsanu `amala. Beramal yang sebaik-baiknya, menghasilkan karya yang terbaik dan memberi manfaat yang terbaik bagi pembaca. Semoga dengan demikian, Allah akan menghitung amal kita sebagai kebaikan yang penuh barakah. Kita tidak berorientasi pada aktsaru `amala (amal sebanyak-banyaknya). Menulis satu buku yang sangat baik dalam setahun, jauh lebih baik daripada menulis sepuluh buku yang sekadar “daripada tidak ada”.

                Bukan kehebatan bisa menulis buku setiap bulan kalau cuma sekadar produktif, sementara isinya kosong tak bermakna.

                Diluar kecerdasan otak, sikap mental dan kekuatan motivasi, faktor yang sangat berperan dalam membangkitkan kehebatanmu adalah kejernihan spiritual. Bila sedang shalat, `Ali bin Abi Thalib tak lagi merasakan beratnya segala kesusahan dunia. Ketika menantu Nabi Saw. ini terkena anak panah, ia mendirikan shalat dan minta agar anak panah itu dicabut pada saat ia sedang khusuk dalam shalatnya. Benarlah. Anak panah itu dicabut dan `Ali bin Abi Thalib seperti tidak merasakan sakit sama sekali.

                Apa yang bisa kita ambil dari kisah ini? Kondisi ruhani itu berpengaruh sangat besar terhadap ketajaman otak, kekuatan fisik, dan kecermalangan pikiran kita. Menulis fiksi hanya dengan mengandalkan kekuatan imajinasi, akan menyerap energi yang lebih besar, butuh ketenangan untuk menuangkannya, dan meminta daya tahan yang cukup tinggi. Penulis dengan tipe seperti ini, jangan coba-coba diganggu meski hanya sehari, sebab ketenangan dan kesinambungan berkaitan erat dengan kemampuan mempertahankan, mengembangkan, dan menuangkan imajinasi. Bila penulisnya kurang mampu mempertahankan, karyanya akan kering. Ada suspend, tetapi tanpa kedalaman. Ada alur cerita yang lancar, tetapi dangkal tidak mengalir.

                Ketajaman spiritual (ruhiyah) kita berpengaruh terhadap kuat tidaknya pancaran tulisan kita. Sebuah tulisan yang dituangkan dengan hati, akan meresap sampai kehati. Bila kita menuangkan dengan hati yang jernih, yang terlahir adalah tulisan yang menyentuh bahkan menggetarkan jiwa. Kekuatan tulisan kamu akan semakin dahsyat apabila orang yang membaca juga sedang jernih hatinya dan lurus niatnya. Bertemu ruhnya penulis dan pembaca dapat menggerakkan jiwa untuk melangkah, sebab ruh itu seperti pasukan berbaris. Bila bertemu dengan ruh yang sejenis, akan mudah menyatu. Sementara, bila bertemu dengan yang bertentangan, akan berselisih. Kita membaca tulisan yang tampaknya baik, tetapi hati kita tetap risau.

                Kembali ke soal kekuatan ruhiyah dalam menulis. Saya teringat dengan Imam Bukhari. Setelah melakukan penelitian secara seksama, mendalam, dan ekstra teliti, Imam Bukhari mengharuskan dirinya melakukan shalat istikharah setiap akan menuliskan satu hadis. Bila Allah memberi petunjuk bahwa hadis itu sebaiknya ditulis, barulah Imam Bukhari menuliskannya dalam tulisan. Begitulah, setiap hendak menuliskan satu hadis, ia selalu melakukan shalat istikharah. Hasilnya, Shahih Bukhari menjadi kitab yang insya Allah paling berkah dan sampai hari ini menjadi rujukan yang paling dipercaya.

                Imam Malik yang terkenal dengan kitab Muwatha`-nya, memiliki kisah lain. Bila orang datang hendak meminta fatwa, Imam Malik bisa segera keluar untuk menemui. Tetapi, bila ada yang datang hendak belajar hadis, Imam Malik memerlukan diri untuk mandi terlebih dahulu. Hadis merupakan perkataan yang sangat agung sehingga Imam Malik memerlukan diri untuk menyucikan jiwa sebelum menyampaikan.

                Kisah Imam Malik maupun Imam Bukhari merupakan contoh spiritual writing ( menulis spiritual). Mereka menulis dengan terlebih dahulu menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs) sehingga Allah jadikan setiap tetes tintanya penuh berkah. Mereka membersihkan hati, memantapkan niat, dan menjernihkan pikiran sehingga benar-benar tawajjuh (menghadapkan diri kepada Allah) untuk menulis apa-apa yang sungguh-sungguh penting. Hasilnya, kecermelangan dan kemampuan menulis yang dahsyat.

                Apa yang bisa kita lakukan untuk menulis spiritual? Tidak ada ritual-ritual khusus. Prinsipnya, apa yang membuat kita lebih suci secara ruhiyah. Kita justru perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada praktik-praktik ritual yang dituntunkan agama. Jika kita merasa, dengan mandi hati kita bisa lebih bersih, kita dapat menerapkannya sebagaimana Imam Malik melakukannya. Dengan men-dawam-kan wudhu sebelum menulis, lalu membuat hati kita makin khusyuk, maka yang demikian dapat kita lakukan. Ia hanyalah jalan untuk mencapai titik jernih hati kita sehingga kita menulis dengan niat yang lebih bersih.

                Saya perlu menjelaskan masalah ini agar tidak terjadi kesalahpahaman. Jangan sampai kita terjatuh pada bid`ah di saat ingin menyucikan jiwa. Jika saat menulis trilogi Kupinang Engkau dengan Hamdalah, saya berusaha agar selalu dalam keadaan suci, itu bukan berarti cara menulis yang cemerlangan adalah dengan bewudhu terlebih dahulu. Begitupun jika sekali waktu melakukan shalat sebelum menulis dan kemudian buku-buku itu menjadi best-seller adalah dengan shalat atau bahkan puasa. Tetapi, yang kita perlu garis bawahi adalah usaha untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga niat kita dalam menulis lebih mulia.

                Alhasil, jika kamu bertanya kepada saya doa apa yang bisa diamalkan untuk menjadi penulis best-seller, jawabnya, “Tak ada. Rasulullah Saw. tidak menuntunkan doa menjadi penulis hebat. “Tetapi jika kamu bertanya apakah saya biasa berdoa saat menulis, tanpa ragu saya jawab, “Ya. Sebab, doa adalah otaknya ibadah. Dengan berdoa, saya berharap tulisan saya bernilai ibadah. Dan inilah inti dari spiritual writing.

                                                                                                Ditulis ulang (rewrite) oleh Annafi`ah Firdaus dari buku “DUNIA KATA, Mewujudkan Impian Menjadi Penulis Brilian” tulisan Mohammad Fauzil Adhim



Sabtu, 09 Maret 2013

NAH ! Semoga MENGGUGAH !


Ini adalah NAH Wajah baru ! Beda kan Sobat NAH ???



Kalau kemarin, sering kita baca di Percik adalah kisah-kisah sahabat, kali ini kan kita dapati kisah dari orang Indonesia . Ya, Syaikh Ahmad Khatib Al Minankabawiy, Guru Para Guru !



Di Sajian Spesial, juga Kami sajikan dengan format beda. Dengan jumlah halaman yang lebih banyak, semoga makin menambah khasanah keilmuan kita. Bacalah ! 


GELEGAR BELAJAR yang dulunya jadi rubrik dimajalah ini. Dan sekarang, berganti menjadi SINAU. Disini akan kami sajikan betapa pentingnya adab dari seorang Pemburu ilmu. Salah satunya apa Sobat ?? Ya, kita mencintai ilmu itu sendiri. 

NAH ! Semoga Tergugah !!!

Annafi`ah Firdaus 

Senin, 04 Maret 2013

IKHTIAR MENDEKAT PADA-NYA




DIENG, Jawa tengah (8/2) kembali menjadi  kota destinasi untuk bertafakkur kepada Allah. Melihat dan memikirkan betapa Allah Maha Indah dengan penciptaan-Nya. Perjalanan yang berharap menjadi bahan renungan untuk kian dekat dengan Sang Pencipta.

Sekitar 40 peserta mengikuti serangkaian kegiatan dari tanggal 8-10 Februari 2013 di Dieng Zona 2. Suhu Dieng pun tak seperti kota pemberangkatan, hingga akhirnya kami memang harus menggunakan pakaian yang bisa menghangatkan hati dan tubuh. Jam 23.00, Kami Tim Outrance JAN dan Jama`ah Al-Muqtashidin Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia ( FE UII ) sampai di daerah Pasurenan, Batur, Banjar Negara, Jawa Tengah.

**

Tepat jam 07.30 (9/2) Kami berkumpul di sebuah masjid di An-Nur untuk melakukan aktivitas pertama. Masjid yang tak jauh dari tempat penginapan. Ya, Kami menginap di rumah salah satu staff JAN Inc Muhammad Adin Setyawan dan Rumah Lurah di daerah itu.

 “Kesuksesan kita hari ini adalah ketika kita semakin dekat dengan Allah SWT,” Trainer utama : Deniz Dinamiz mengawali.

Kesuksesan di ukur dari kedekatan kita kepada Allah. Jika kita makin dekat, maka sukseslah predikatnya. Tapi jika makin jauh dari Allah, maka itulah sebaik-baik kegagalan. Dengan memiliki niat yang benar, impian yang besar, ilmu yang mumpuni, guru yang menjadi teladan, serta kegigihan yang mengakar maka berharap kesuksesan itu di tangan. Tak hanya didunia, terlebih di akhirat.

Dzuha pun menghangatkan suasana. Dzuha yang menjadi saksi sebuah Bangunan Impian yang terbuat dari just kertas saja. Didirikan oleh JAM FE UII dalam tiap kelompoknya. Di pandu oleh trainer utama Deniz Dinamiz, ini adalah bagian dari alur aktifitas : IMPIAN.


Mulai dari kelompok CDM ( Candra di Muka), Mahabbah, Semangat Muda, dan Walang ( Akhwat Petualang ), mempesentasikan hasil karyanya. Masing-masing kelompok pun menggambarkan tentang JAM dan impian mereka di JAM.
“JAM” “Luar Biasa”
“Sukses” “YES”
“Surga” “Masuk” .


Outbound adalah miniatur kehidupan kita. Maka, kesungguhan dalam aktivitas ini tentunya berpengaruh dalam kehidupan kita sebenarnya. Mungkin hari ini kita melakukan sesuatu yang kecil. Namun jika kita mengambil ibrah dan mengingatnya dalam kehidupan, tentu akan berpengaruh untuk hidup kita. Ingat, lebih dekat dengan Allah adalah tujuan kita. Dekat dengan menambah iman, ilmu, dan memperkuat tali ukhuwah.


Pelataran Sumur Jalatunda ( Jalatunda Well ), Kabupaten Banjarnegara adalah tempat berikutnya untuk dekat dengan Allah. Dekat dengan Allah lewat ilmu. Ya, di sekitar pelataran itu, dipandu kembali oleh Deniz Dinamiz peserta diminta membuat sebuah menara ilmu. Berbahankan solasi, 2 lembar kertas HVS, dan selang. Membuat sebuah bangunan menjulang keatas setinggi kira-kira 30 cm dengan mampu menahan sebuah beban diatasnya.





Hasil memang Allah yang pegang. Tapi bagaimana dengan kesungguhan kita? Strategi kita dalam kelompok. Sudahkah merasa puas dengan hasil? Jika belum, maka prosesnya yang mungkin salah.”



Kesempatan pertama untuk membangun di semua kelompok tak ada yang berhasil. Padahal awalan yang baik tentu mempengaruhi proses-proses berikutnya. Maka, kesempatan kedua di berikan dengan konsekuensi sebuah hukuman untuk pembelajaran. Hukuman yang makin menguatkan, bukan menghancurkan asa perjuangan dan pengorbanan.

Lima menit untuk membuat bangunan baru, dengan semua kelompok putra digabung menjadi satu, begitu pula kelompok putri,” Tambah trainer utama.


“Tugas kita adalah ahsanu `amala, bukan aktsaru `amala. Bukan sebanyak-banyak kerja, akan tetapi melakukan suatu pekerjaan dengan yang terbaik. Modal dalam kita meraih sukses pun tak sekedar semangat, namun perlunya ilmu. Dengan ilmulah, cara menjemput kesuksesan dan kemenangan besar.”

Kelompok ikhwan gagal dalam pembuatan Menara Ilmu. So, hukuman yang menguatkan itu adalah janji. Push up yang tak hanya menyehatkan, namun menguatkan. Sementara, Alhamdulillah, kelompok akhwat berhasil.

**


Terik matahari kadang sesekali muncul menampakkan pesonanya. Kabut putih pun tak ingin ketinggalan menjadi kesejukan diantara kami. Danau dringo menjadi puncak perjalanan kami. Surga dunia mungkin bisa kami sebut. Sebuah danau yang terletak diatas pegunungan yang kami rasa butuh perjuangan untuk mendakinya. Tapi tak apalah, lelah kami dibayar dengan kenikmatan mata memandang sebuah pesona. Pesona yang kian menambah keimanan kita.

Adzan dzuhur dikumandangkan di tepi danau. Kami pun shalat berjamaah di pinggir danau. Sebagai sarapan siang bagi jiwa, maka kultum pun adalah makanan yang menyehatkan jiwa. Diiringi kabut yang bergantian lewat disekitar kami. Serta, keindahan alam yang tak akan mampu terekam oleh kamera berosulusi tinggi sekalipun, kecuali memandangnya dengan mata yang di berikan oleh Allah.


Estafet water adalah aktifitas berikutnya. Merindukan! Aktivitas itu bermisikan memindahkan air dari danau ke ember yang diletakkan agak jauh dari danau. Secara estafet, air dipindahkan menggunakan gelas plastik dengan bagian dasar gelas dilubangi. Mahabbah pun menjadi pelopor, untuk memindahkan air danau dengan ukuran yang sedikit. Asalkan tepindahkan, maka yang sedikit akhirnya akan banyak.

Kali ini pemenangnya adalah kelompok ikhwan, dari CDM. Kemenangan yang semoga disertai dengan mohon ampun kepada Allah agar kesombongan tetap hak Allah sebagai pencipta atas diri kita. Maka dalam perjalalan ini, kita berguru kepada alam dan teman, untuk bersama dengan kegigihan mencapai puncak perjalanan : Danau Dringo, Dieng.

Perjalanan pulang kami rasa tidak seterjal pendakian. Ya, semoga karena asa yang makin kuat kami bawa pulang. Bahwa kemenangan ini adalah hak Allah, sehingga kita dengan selalu memintanya. Kemenangan yang sekali lagi kita ukur dengan semakin dekat dengan Allah azza wajalla.

Kawah Candra di Muka adalah buah perjalanan pulang. Ya, kami melewati kawah yang cukup besar di daerah pegunungan Dieng Zona 2 tersebut. Masya Allah, inilah penciptaannya yang makin menambah iman kepada Allah. Bahwa tak ada yang bisa menciptakan segala sesuatu didunia ini kecuali Allah.

“JAM” “Luar Biasa”
“Sukses” “YES”
“Surga” “Masuk”




**

Hari terakhir ( 10/2 ) kami di kota yang merindukan ini. Rangkaian agenda yang terakhir ini adalah training in door di dalam Masjid An-Nur. Kali ini dibersamai oleh Arif Jadmiko. Dimulai jam 07.45 seiring matahari naik menebarkan sinar mentarinya.
Seneng saja dengan JAM tidak akan membuat kita hebat. Seneng itu harus dibarengi karya. Seneng yang harus ada visi didalamnya. Sudahkah mengetahui dan paham visi JAM?”

“Visi akan memberi energi bagi kita untuk berjuang keras. Maka tujuan kalian di JAM harus jelas, kenapa di bergabung di JAM? Kenapa?”

 “Maka visi JAM harusnya adalah kumpulan visi dai orang yang didalamnya.”

“Seberapa besar kontribusi yang akan antum berikan kepada Allah lewat JAM?”

“Barang siapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya, serta meninggikan kedudukannya beberapa derajat.”

Pukul 10.30 kami bertolak dari Dieng. Ah, Rindu yang kami bawa. Merindukan selalu memandang wajah Dieng yang kian lama makin terasa dekat dengan-Nya. Secara beriringan pun kabut seakan menjadi kawan dalam perjalanan. Terlihat beberapa petani Dieng yang sedang menjemput rizki didaerah itu. Ah, Allah menghidupkan Dieng dan penghuni-Nya. Sungguh, kedekatan kami dengan Dieng dan Allah akan terbawa sampai ke tempat berpulang. Tak lupa, kami menyempatkan berwisata di Candi Arjuna di daerah Jalan ArjunaTemple, Dieng Kulon. Sungguh, kami rindu kembali.
Lelah semoga berujung Jannah. Berharap kami kembali dipertemukan-Nya jika tidak di dunia, semoga di Surga.

*Laporan perjalanan di Outbound bersama Tim Outrance JAN dan JAM FE UII.
8-10 Februari 2013 di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah
@annafiahfirdaus

gambar (all) : RIDWAN 

Sabtu, 23 Februari 2013

#duniakataNAH




Menulis mungkin memiliki definisi yang berbeda antar tiap orang. Sekedar memindahkan gagasan tanpa alasan mungkin ada. Bahkan, menulis adalah satu diantara aktivitas pilihan untuk mengisi waktu luang mungkin juga ada. Lantas, sudahkah kita punya definisi menulis secara mendarah daging hingga kita ingin berpayah-payah di dalamnya? Nah, itulah mission kita.

Yuk kita bersama-sama santap intisari dari buku “DUNIA KATA” karangan Mohammad Fauzil Adhim dari kultwit @buletinnah. Bersama belajar untuk ikhtiar mendapat Ridlo-Nya dengan menjadi penulis yang dapat mengubah dan menggugah jiwa tiap pembacanya. Menjadikan menulis sebagai sarana perbaikan  diri sendiri dan orang lain untuk lebih dekat dengan-Nya. Hingga Allah menjadikan kita memang layak untuk menghuni Surga-Nya.

Kita mulai dari Hernowo (Penulis Buku Best Seller) yang memberikan tanggapannya terhadap buku Dunia Kata Karangan gurunda Mohammad Fauzil Adhim. 

1. Pentingnya memperkaya pikiran lebih dahulu dengan membaca buku, sebelum seseorang memutuskan untuk menulis & menggelutinya #duniakataNAH

2. Setiap orang tentu ingin maju dan hidupnya senantiasa membaik dari hari kehari. Lewat buku-bukulah  #duniakataNAH >>

2 . -> seseorang dapat mengalami hal itu (tergugah jiwanya). #duniakataNAH

3. Penulis bertemu dengan pikiran seorang psikolog, James W. Pennebaker lewat buku yahudnya, “Opening Up”, >>  #duniakataNAH

3. >> bahwa menulis dapat membebaskan seseorang dari tekanan hidupnya. #duniakataNAH

4. Lantas, penulis juga berjumpa dengan pikiran-pikiran seorang ahli linguistic. Stephen D Krasen, “The Power of Reading”. #duniakataNAH

5. Krashen juga mengajak penulis untuk menjelajahi dunia menakjubkan dihadapannya, ketika kita mau memadukan membaca dan menulis. #duniakataNAH

6. Kekuatan jiwalah yang menjadikan seseorang mampu menuliskan pikiranya secara panjang dan bermakna. #duniakataNAH

7. Kekuatan jiwalah yang mampu membuat seorang Ibnu Hajar Asqalani / Imam Al-Ghazali menjadi penulis sekaliber sampai sekarang #duniakataNAH

8. Kekuatan jiwa itu lahir dari NIAT yg bersih, TUJUAN yg jelas, KOMITMEN yg kuat, VISI yg tajam, dan SIKAP MENTAL yg baik. #duniakataNAH

9. ADA yang mereka PERJUANGKAN dalam hidupnya. #duniakataNAH

10.  Semoga lewat beberapa intisari dari DUNIA KATA pengarang @kupinang, dapat membangkitkan semangat menulis sesuatu hal yang dapat mengubah pembaca menjadi lebih baik. #duniakataNAH

NAH ! 

Annafi`ah Firdaus 



Jumat, 15 Februari 2013

MEMBANGUN ASA BERSAMA SAJADA DI DIENG



Part 1
BA`DA SHUBUH Tepatnya jam 5 pagi  Kamis, 3 Januari 2013 Kami satu bus berangkat dari Jogja. Tepatnya dari Pondok Pesantren Sajada, Winokraman RT 04/ RW 13 Sidokarto, Godean, Sleman, DIY menuju Banjarnegara, Jawa Tengah.  Kami Tim Outrance JAN dan teman-teman dari Pondok Pesantren Sajada akan bermalam dan melakukan aktivitas outbound di daerah yang masih alami itu. Udara yang masih bersih, suasana pedesaan yang merindukan, serta berjumpa dengan masyarakat Banjarnegara yang ramah dan grapyak.

 Pagi itu, teriring doa semoga agenda liburan dari adek-adek Pondok Pesantren Sajada ini berkah. Agenda liburan yang tak sekedar hiburan, namun proses belajar yang tiada henti kita ikhtiarkan. Bercengkerama dalam kebersamaan serta saling menguatkan dalam kesabaran dan ketaatan.

Sekitar enam jam Kami melalui dari satu daerah ke daerah lain. Satu jalan ke jalan lain bahkan satu hikmah ke hikmah lain. Sesekali Kami rehat sejenak melepas penat dalam ruangan bus. Dan kembali dalam istirahat itu pun ada hikmah. Apa itu? Diantaranya jika badan merasa lelah, maka berikanlah hak tubuh  dengan istirahat.

Jam 11-an Kami tiba di rumah yang akan Kami gunakan untuk bermalam. Rumah milik Ustadz Sadhli begitu sapaannya. Salah satu ustadz di pondok pesantren sajada. Daerah yang terletak di Jalan Raya Pejawaran KM 04 Desa Karangsari Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara. Memang begitu berbeda bagaimana suasana daerah itu. Deretan rumah yang didepannya begitu menentramkan jika dipandang. Ya, hijaunya pepohonan dan persawahan menjadi rasa kesan tersendiri ketika memandangnya. Ditambah, didaerah itu tak jarang ditiap rumahnya memiliki kolam budidaya ikan. Ah, bikin rindu jika mengingatnya.

***

Meluruskan Niat
Siapakah mereka yang dikatakan orang bejo? Kalimat pembuka oleh MOT Deniz Dinamiz disaat pembukaan serangkaian kegiatan yang akan berjalan dari tanggal 3-4 Januari 2013. Sebelumnya sudah dibacakan beberapa kalam illahi oleh adek kita dari Sajada: Mas Hanny dan Mas Bagus. Orang bejo atau orang beruntung adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah. Yang kita semua tahu petunjuk hidup kita adalah Al-Quran.

Sebelum materi penguatan, terlebih dahulu pula Tim Outrance JAN yang akan membersamai dalam aktivitas melakukan perkenalan terlebih dahulu. Siapa mereka? Ada Dinda Denis Prawitasandhi Putrantya bisa dipanggil Mas Denis, Andhi Wijaya, Arif Jadmiko, Muhammad Jalaluddin Assunni, Sarah Trisna Maisaroh, serta Atik Setyoasih.

Sebagai awalan dari kegiatan ini adalah penekanan niat. Ya, semua balasan tergantung niatnya. Jika kita hari ini niatnya belajar karena Allah semata, maka beruntunglah ia. Tapi yang saat ini niatnya masih ecek-ecek, mungkin yang didapat akan ecek-ecek pula. Hanya capek atau malah pakaian kotor saja. Tak lebih.

Dilanjutkan aktivitas yang tak kalah menarik adalah menulis dengan tangan kiri. Coretan mengenai diri mereka di tuliskan dalam selemba kertas putih. Mulai dari nama, hobi, tempat tanggal lahir, dan yang paling penting adalah impian mereka. Target dibulan ini (januari_red) pun ikut dituliskan. Hafalan, tilawah, sholat serta hal lain yang berharap menambah keimanan kita kepada Allah.

***

Berilmu dari Tantangan
Bau tanah khas pertanda mau hujan menyapa. Hal itulah yang menjadi kawan saat agenda berikutnya siap dilaksanakan. Berteman air berjatuhan dari indahnya langit, kami menuju sebuah lokasi yang tak jauh dari tempat kami singgah. Ya, SD N 2 Karangsari menjadi tempat pilihan tepat untuk kami beraktivitas outdoor karena bisa sambil berteduh di teras kelas.

Peserta outbound yang berjumlahkan 20 orang dibagi menjadi 4 kelompok. Terbentuklah kelompok Firdaus (5) dan Aisyah (5) yang beranggotakan putri semua, serta kelompok Umar Bin Khatab (5) dan Ibnu Mas`ud (5) yang beranggotakan putra semua.

Tangan kami eratkan dan terbentuklah sebuah lingkaran kecil sesuai kelompok masing-masing. Ya, tantangan tangan bundet level satu harus kami lalui dimana posisi awal tangan yang menyilang menghadap titik pusat lingkaran harus diposisikan terbuka. Dilanjutkan level kedua, posisi tangan yang menyilang menghadap titik pusat lingkaran, tangan harus kami ubah dalam keadaan terbuka dan kembali lagi harus disilangkan lagi. Nah begitulah aktivitas yang ternyata membuat urat-urat saraf sekitar wajah semakin terbuka karena rasa bahagia dalam ukhuwah yang seiman.

Permainan kedua adalah War Game. Ya, permainan kekompakan dan keseriusan dalam melihat kondisi sekitar. Masing-masing kelompok dibagi dalam 4 banjar, dimana secara bergantian dan berkesinambungan bilang Siap-siap, Klik-Klik, Tembak, Door dan menyebutkan nama kelompok yang ingin ditembak. Begitu berjalan dengan riuh disertai keunikan-keunikan ditiap kelompoknya.

Kelompok Firdaus, “Siap-siap, Klik-Klik, Tembaaak, Door Aisyah.”
Kelompok Aisyah, “Siap-siap, Klik-Klik, Tembaaak, Door Umar Bin Khatab”
Kelompok Umar Bin Khatab, “Siap-siap, Klik-Klik, Tembaaak, Door Ibnu Mas`ud”
Kelompok Ibnu Mas`ud, “Siap-siap, Klik-Klik, Tembaaak, Door Firdaus”

Akhir dari aktivitas, debrief sejenak adalah hal yang paling penting. Tak ada yang sia-sia apa yang kita lakukan jika memang kita niatkan untuk Allah. Termasuk permainan yang mungkin sepele bagi kami kali ini. Namun hikmah ketika kita mau mencari, itulah sebuah penguatan jiwa yang bisa kita lakukan. Apa saja yang bisa kita ambil pada dolanan kali ini? Kata Mas Denis, permainan yang pertama adalah permainan saling menjaga sahabat. Berpegangan erat dalam satu ikatan, adalah hal untuk bersama-sama watawa shoubil-haq watawa shoubis-sabr. Jika ada teman yang jatuh, hendaknya kita menolongnya yang tentu atas izin-Nya. War Game juga tak kalah mengandung hikmah. Apa itu? Ya, kunci kemenangan adalah kita fokus pada tujuan serta konsentrasi terhadap peran kita masing-masing. Bukan berebut peran, namun kita menyungguhi apa yang jadi tugas  kita sehingga bukan sebuah kemustahilan, jika Allah Ijinkan kita akan merebut kemenangan itu dengan kekuatan kelompok yang kompak. Bukankah begitu?

Malam Berhiaskan Mimpi

Memang tak sedingin yang kami perkirakan.  Walaupun masih sedingin di kota ini dari pada kota Jogja berharap hati-hati kami makin hangat. Ya, hangat dengan kesyukuran dengan bertebarannya nikmat disekitar kami. Ditambah malam ini menjadi awalan lagi untuk menuliskan mimpi-mimpi kami. Mimpi yang menjadi asa diwaktu kemudian hari. Ah, usia 40 tahun berharap kita menjadi orang-orang yang bisa memberikan kemanfaatan bagi sesama. Pun tak sekedar itu saja, Surga-lah yang sebagai Long-Term Vission hidup kami.
Suasana makin hangat ketika Direktur dari Pondok Pesantren Sajada: Muhammad Fatan Arifil Ulum memberikan motivasi kepada kami. Ya, waktu makin larut malam, tapi hati kami beharap makin hangat dengan indahnya berbagi.

“Jika kita keras terhadap hidup ini, maka hidup akan lunak terhadap hidup kita. Tapi jika kita lemah terhadap hidup, maka dunia ini akan memperdaya kita.”ujar Ustad Fatan

“Mengeluh bukanlah sifat muslim yang kuat. Mengeluh hanya membuat kita tidak segera ingin bercapek-capek belajar mempersiapkan diri. Membuat kita tidak serius belajar,” tambahnya

“Orang korea hanya tidur 4 jam. Ngapain tidak tidur? Mereka belajar. Ayo kita kalahkan capek kita, dan mengeluh kita.”

“Islam ini butuh para Pejuang, bukan Pecundang.”



Part 2
Kurang lebih pukul 8 pagi, kita berangkat dari penginapan menuju lembah Dieng. Walau tak seperti rencana awal yakni ba`da shubuh bisa berangkat, tak menyurutkan semangat tuk menatap keindahan panorama alam dan dinginnya udara di lembah itu. Ya, bus kami sedikit bermasalah sehingga kami harus menunda keberangkatan.

Satu jam perjalanan cukup untuk menjadi waktu perenungan tentang bertebarannya nikmat di sekitar perjalanan. Penciptaan alam yang menjadi bukti begitu indah Yang Maha Indah itu. Menyimpan ke-Maha Agung-an Sang Pencipta tiap nafs manusia. Tadabbur alam yang membuat makin cinta pada Allah.

Masyaallah, membersamai anak-anak harapan agama pun menjadi kesyukuran tersendiri. Harapan bersama dan berjuang membangun batu-bata peradaban kejayaan Islam. Ya Allah, semoga Engkau teguhkan kami.  Dengan setiap ilmu yang Engkau pahamkan kepada kami. Hingga kami benar-benar yakin atas janji dan ketetapan-Mu bagi orang-orang yang rela menghidupkan agama-Mu dengan menjual diri segala apa yang dimiliki di dunia ini untuk menegakkan Dien ini.

***
Jam setengah sepuluh Alhamdulillah kami tiba di bawah lembah, tepatnya di daerah Jalan Sumur Jalatunda, Pekasiran, Batur, Banjarnegara. Ya, Sumur Jalatunda seperti halnya surga dunia bagi mereka yang memikirkannya. Sumur berdiameter sekitar 150 meter dengan kedalaman 100 meter dari permukaan tanah menuju permukaan air serta ditumbuhi tumbuhan hijau itu berisikan air yang berwarna kehijauan. Dan sesekali memang para pengunjung melemparkan batu untuk mendengarkan gema yang dihasilkan ketika batu itu menghantam air sumur. Tak terbayangkan bagaimana sumur itu karena sang petugas penjaga sumur itu bilang kalau waktu musim hujan, air akan semakin naik. Masyaallah. Fantastik!

Perjalanan tracking akan kita mulai. Sebelumnya kami naik, stretching terlebih dahulu kami lakukan agar otot-otot kami tak kram, pun berhaap hati kami semakin hangat pula. Jam sepuluh pagi, kami mulai naik. Bertemankan jaket tebal, sepatu cat, minuman, makanan, serta ikatan ukhuwah kami siap naik. Mentari pagi juga tak mau mau ketinggalan menjadi saksi perjalan kami. Terimakasih Ya Rabb, atas segala nikmat yang engkau berikan. Sungguh kami termasuk orang yang zalim jika masih mengeluh dan mengeluh.

Menyimpan rindu
Angin ini berbeda
Tak sama dengan angin kotaku
Bahkan sangat berbeda
Karena, angin ini menyimpan asa
Asa bergerak menebar kebaikan

Dingin ini juga berbeda
Tak sama dengan dinginnya malam kotaku
Bahkan sangat berbeda rasanya
Karena, dinginnya udara ini
Menghangatkan hati hati kami


Belajar dari Alam

Sesekali kami berhenti sejenak. Mengambil oksigen lembah dieng untuk mengisi sendi-sendi jaringan tubuh ini. Pun, itulah obat bagi tubuh yang pegal-pegal akibat kelebihan asam lakat dalam tubuh. Oksigen yang cukup dalah salah satu obat kelelahan fisik. Sambil melihat sekitar, sebelah kanan, sebelah kiri, belakang, dan depan. Tanaman kubis, kentang, carica, buncis, dan kawah sudah menjadi santapan bagi mata. Begitu sempurna tanpa cacat sedikitpun penciptaan-Nya. Semakin menambah keimanan sebagai buah kelelahan dalam perjalanan. Dan itulaah obat lelahnya hati.

Merasakan kelelahan dan tetesan keringat itu nikmat. Hanya kadang kita sering melupakan hal itu. Hingga malah sering kita mengeluh dalam sebuah perjalanan. Padahal sudah dirasakan untuk melihat surga dunia selanjutnya Danau Dringo: danau diatas lembah saja perjuangannya harus berpayah-payah menaiki setiap tangga besar, apalagi surga sesungguhnya.  

Kami yang terbagi menjadi 4 kelompok: Ibnu Mas`ud, Umar bin Khatab, Aisyah dan Firdaus bersama-sama mendaki. Jika dalam satu kelompok ada yang sakit, kelompok itulah yang pertama menjadi penolong atas izin Allah. Menjadi guru satu sama lain adalah penting, disamping alam sekitar juga adalah tempat pengambilan banyak ibrah dan ilmu. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran untuk mencapai satu tujuan: Surga. Dan jika kita ingin menggenggam dunia, maka dengan ilmu. Mengenggam akhirat juga dengan ilmu dan kita bisa mendapatkan ilmu itu lewat guru disekitar kita.

Berjuang dengan GIGIH

Kegigihan itulah menjadikan istiqomah tetap ada pada kami. Betapa tidak, kelelahan dan mengeluh terkadang menjadi godaan ditiap perjalanan kami. Mengeluh dan mengeluh yang kian makin membuat jauh kepada harapan rahmat Allah atas keteguhan diri memperjuangkan apa yang layak diperjuangkan. Walaupun ada peserta yang sakit, tapi atas izin Allah kami sampai juga di tempat tujuan kami. Alhamdulillah, dengan kegigihan itu sampailah kami di Danau Dringo sekitar jam 12.00. Jumat Mubarok! Bersiap diri mengambil air wudhu dan kami melaksanakan shalat Jumat dipinggir danau. Dinginnya air danau itu begitu membuat kami rindu. Pun beralaskan mantel tak menambah kerisauan kami dalam beribadah, justru menambah kesyukuran kami atas kondisi yang kami lalui.

Makan dalam satu nampan menjadi agenda kami berikutnya setelah shalat. Ya, satu nampan untuk putra dan satu nampan untuk putri. Sesekali kabut putih juga menghampiri, hingga tak terlihat satu sama lain. Ya, kabut disertai angin. Datang kemudian pergi, datang lagi dan kemudian pergi lagi. Makan dengan tangan pun itu yang kami lakukan. Berbagi cerita dalam ikatan ukhuwah yang beharap hingga sampai jannah.

Sabar untuk Menang
Tak terbayangkan jika saat perjalanan, kami tidak sabar dengan diri kami sendiri. Pun, dengan games yang kami lakukan sekitar pukul 13.40. Ya, perkelompok dengan misi memindahkan air secara estafet menggunakan kaleng plastik yang kedua ujungnya berlubang. Bagaimanapun caranya, monggo harus dalam satu tim memindahkan air dari danau ke ember yang disediakan dengan waktu 10 menit.

Pemenangnya adalah kelompok Aisyah, walaupun awalnya Ibnu Mas`ud akan menjadi pemenangnya. Kenapa bisa begitu? Saat pengukuran hasil air yang dipindahkan, anggota kelompok yang secara kegirangan menumpahkan air yang sedang di ukur karena yakin atas kelompoknya akan menang. Padahal proses pengukuran belum selesai. Itulah ketidaksabaran dalam menghadapi kemenangan, padahal tinggal sedikit lagi.

Jet Coster ala Dieng

Berjalan terus dengan sambil betasbih memuji nama Allah adalah langkah kami. Walaupun tubuh sudah terlalu lelah, tapi itu yang bisa kami lakukan. Hanya satu yang harus kita yakini, Allah akan tetap membantu dalam setiap kesulitan kita. Ya, jika memang kita berniat lurus memudahkan urusan agama-Nya.

Sopir pengemudi truk hasil panen di kebun lembah dieng, membolehkan kami untuk turun lembah menumpang truk tersebut. Apa yang menarik? Kami harus berpegangan kuat karena kami seperti naik jet coster ala dieng. Batu bata yang menjadi tatanan utama jalan itu membuat kami sesekali terpental secara halus dalam box belakang truk. Ah, aku rindu waktu itu bersama Ustadz Fatan, Kang Jalal, Mbak sarah, Dek Yunita, Dek Novita, Dek Imas, Dek Fatim, Dek Puja, Dek Masna, Dek Selvi, Dek Ningrum, dan Dek Tari.


Pulang

Kabut seakan beriringan
Mempersilakan kami kembali ke kota kami

Bagi kami
Dieng dan Banjarnegara adalah
Sebuah kota kenangan asa perjuangan
Begitu dalam menyimpan rindu
Rindu akan berlelah-lelah dalam misi kemenangan




*Laporan perjalanan bersama Tim Outrance JAN dan adik-adik Pondok Pesantren Sajada
3-4 Januari 2013 di Dieng, Jawa Tengah
Annafi`ah Firdaus