Jumat, 15 Februari 2013

MEMBANGUN ASA BERSAMA SAJADA DI DIENG



Part 1
BA`DA SHUBUH Tepatnya jam 5 pagi  Kamis, 3 Januari 2013 Kami satu bus berangkat dari Jogja. Tepatnya dari Pondok Pesantren Sajada, Winokraman RT 04/ RW 13 Sidokarto, Godean, Sleman, DIY menuju Banjarnegara, Jawa Tengah.  Kami Tim Outrance JAN dan teman-teman dari Pondok Pesantren Sajada akan bermalam dan melakukan aktivitas outbound di daerah yang masih alami itu. Udara yang masih bersih, suasana pedesaan yang merindukan, serta berjumpa dengan masyarakat Banjarnegara yang ramah dan grapyak.

 Pagi itu, teriring doa semoga agenda liburan dari adek-adek Pondok Pesantren Sajada ini berkah. Agenda liburan yang tak sekedar hiburan, namun proses belajar yang tiada henti kita ikhtiarkan. Bercengkerama dalam kebersamaan serta saling menguatkan dalam kesabaran dan ketaatan.

Sekitar enam jam Kami melalui dari satu daerah ke daerah lain. Satu jalan ke jalan lain bahkan satu hikmah ke hikmah lain. Sesekali Kami rehat sejenak melepas penat dalam ruangan bus. Dan kembali dalam istirahat itu pun ada hikmah. Apa itu? Diantaranya jika badan merasa lelah, maka berikanlah hak tubuh  dengan istirahat.

Jam 11-an Kami tiba di rumah yang akan Kami gunakan untuk bermalam. Rumah milik Ustadz Sadhli begitu sapaannya. Salah satu ustadz di pondok pesantren sajada. Daerah yang terletak di Jalan Raya Pejawaran KM 04 Desa Karangsari Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara. Memang begitu berbeda bagaimana suasana daerah itu. Deretan rumah yang didepannya begitu menentramkan jika dipandang. Ya, hijaunya pepohonan dan persawahan menjadi rasa kesan tersendiri ketika memandangnya. Ditambah, didaerah itu tak jarang ditiap rumahnya memiliki kolam budidaya ikan. Ah, bikin rindu jika mengingatnya.

***

Meluruskan Niat
Siapakah mereka yang dikatakan orang bejo? Kalimat pembuka oleh MOT Deniz Dinamiz disaat pembukaan serangkaian kegiatan yang akan berjalan dari tanggal 3-4 Januari 2013. Sebelumnya sudah dibacakan beberapa kalam illahi oleh adek kita dari Sajada: Mas Hanny dan Mas Bagus. Orang bejo atau orang beruntung adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah. Yang kita semua tahu petunjuk hidup kita adalah Al-Quran.

Sebelum materi penguatan, terlebih dahulu pula Tim Outrance JAN yang akan membersamai dalam aktivitas melakukan perkenalan terlebih dahulu. Siapa mereka? Ada Dinda Denis Prawitasandhi Putrantya bisa dipanggil Mas Denis, Andhi Wijaya, Arif Jadmiko, Muhammad Jalaluddin Assunni, Sarah Trisna Maisaroh, serta Atik Setyoasih.

Sebagai awalan dari kegiatan ini adalah penekanan niat. Ya, semua balasan tergantung niatnya. Jika kita hari ini niatnya belajar karena Allah semata, maka beruntunglah ia. Tapi yang saat ini niatnya masih ecek-ecek, mungkin yang didapat akan ecek-ecek pula. Hanya capek atau malah pakaian kotor saja. Tak lebih.

Dilanjutkan aktivitas yang tak kalah menarik adalah menulis dengan tangan kiri. Coretan mengenai diri mereka di tuliskan dalam selemba kertas putih. Mulai dari nama, hobi, tempat tanggal lahir, dan yang paling penting adalah impian mereka. Target dibulan ini (januari_red) pun ikut dituliskan. Hafalan, tilawah, sholat serta hal lain yang berharap menambah keimanan kita kepada Allah.

***

Berilmu dari Tantangan
Bau tanah khas pertanda mau hujan menyapa. Hal itulah yang menjadi kawan saat agenda berikutnya siap dilaksanakan. Berteman air berjatuhan dari indahnya langit, kami menuju sebuah lokasi yang tak jauh dari tempat kami singgah. Ya, SD N 2 Karangsari menjadi tempat pilihan tepat untuk kami beraktivitas outdoor karena bisa sambil berteduh di teras kelas.

Peserta outbound yang berjumlahkan 20 orang dibagi menjadi 4 kelompok. Terbentuklah kelompok Firdaus (5) dan Aisyah (5) yang beranggotakan putri semua, serta kelompok Umar Bin Khatab (5) dan Ibnu Mas`ud (5) yang beranggotakan putra semua.

Tangan kami eratkan dan terbentuklah sebuah lingkaran kecil sesuai kelompok masing-masing. Ya, tantangan tangan bundet level satu harus kami lalui dimana posisi awal tangan yang menyilang menghadap titik pusat lingkaran harus diposisikan terbuka. Dilanjutkan level kedua, posisi tangan yang menyilang menghadap titik pusat lingkaran, tangan harus kami ubah dalam keadaan terbuka dan kembali lagi harus disilangkan lagi. Nah begitulah aktivitas yang ternyata membuat urat-urat saraf sekitar wajah semakin terbuka karena rasa bahagia dalam ukhuwah yang seiman.

Permainan kedua adalah War Game. Ya, permainan kekompakan dan keseriusan dalam melihat kondisi sekitar. Masing-masing kelompok dibagi dalam 4 banjar, dimana secara bergantian dan berkesinambungan bilang Siap-siap, Klik-Klik, Tembak, Door dan menyebutkan nama kelompok yang ingin ditembak. Begitu berjalan dengan riuh disertai keunikan-keunikan ditiap kelompoknya.

Kelompok Firdaus, “Siap-siap, Klik-Klik, Tembaaak, Door Aisyah.”
Kelompok Aisyah, “Siap-siap, Klik-Klik, Tembaaak, Door Umar Bin Khatab”
Kelompok Umar Bin Khatab, “Siap-siap, Klik-Klik, Tembaaak, Door Ibnu Mas`ud”
Kelompok Ibnu Mas`ud, “Siap-siap, Klik-Klik, Tembaaak, Door Firdaus”

Akhir dari aktivitas, debrief sejenak adalah hal yang paling penting. Tak ada yang sia-sia apa yang kita lakukan jika memang kita niatkan untuk Allah. Termasuk permainan yang mungkin sepele bagi kami kali ini. Namun hikmah ketika kita mau mencari, itulah sebuah penguatan jiwa yang bisa kita lakukan. Apa saja yang bisa kita ambil pada dolanan kali ini? Kata Mas Denis, permainan yang pertama adalah permainan saling menjaga sahabat. Berpegangan erat dalam satu ikatan, adalah hal untuk bersama-sama watawa shoubil-haq watawa shoubis-sabr. Jika ada teman yang jatuh, hendaknya kita menolongnya yang tentu atas izin-Nya. War Game juga tak kalah mengandung hikmah. Apa itu? Ya, kunci kemenangan adalah kita fokus pada tujuan serta konsentrasi terhadap peran kita masing-masing. Bukan berebut peran, namun kita menyungguhi apa yang jadi tugas  kita sehingga bukan sebuah kemustahilan, jika Allah Ijinkan kita akan merebut kemenangan itu dengan kekuatan kelompok yang kompak. Bukankah begitu?

Malam Berhiaskan Mimpi

Memang tak sedingin yang kami perkirakan.  Walaupun masih sedingin di kota ini dari pada kota Jogja berharap hati-hati kami makin hangat. Ya, hangat dengan kesyukuran dengan bertebarannya nikmat disekitar kami. Ditambah malam ini menjadi awalan lagi untuk menuliskan mimpi-mimpi kami. Mimpi yang menjadi asa diwaktu kemudian hari. Ah, usia 40 tahun berharap kita menjadi orang-orang yang bisa memberikan kemanfaatan bagi sesama. Pun tak sekedar itu saja, Surga-lah yang sebagai Long-Term Vission hidup kami.
Suasana makin hangat ketika Direktur dari Pondok Pesantren Sajada: Muhammad Fatan Arifil Ulum memberikan motivasi kepada kami. Ya, waktu makin larut malam, tapi hati kami beharap makin hangat dengan indahnya berbagi.

“Jika kita keras terhadap hidup ini, maka hidup akan lunak terhadap hidup kita. Tapi jika kita lemah terhadap hidup, maka dunia ini akan memperdaya kita.”ujar Ustad Fatan

“Mengeluh bukanlah sifat muslim yang kuat. Mengeluh hanya membuat kita tidak segera ingin bercapek-capek belajar mempersiapkan diri. Membuat kita tidak serius belajar,” tambahnya

“Orang korea hanya tidur 4 jam. Ngapain tidak tidur? Mereka belajar. Ayo kita kalahkan capek kita, dan mengeluh kita.”

“Islam ini butuh para Pejuang, bukan Pecundang.”



Part 2
Kurang lebih pukul 8 pagi, kita berangkat dari penginapan menuju lembah Dieng. Walau tak seperti rencana awal yakni ba`da shubuh bisa berangkat, tak menyurutkan semangat tuk menatap keindahan panorama alam dan dinginnya udara di lembah itu. Ya, bus kami sedikit bermasalah sehingga kami harus menunda keberangkatan.

Satu jam perjalanan cukup untuk menjadi waktu perenungan tentang bertebarannya nikmat di sekitar perjalanan. Penciptaan alam yang menjadi bukti begitu indah Yang Maha Indah itu. Menyimpan ke-Maha Agung-an Sang Pencipta tiap nafs manusia. Tadabbur alam yang membuat makin cinta pada Allah.

Masyaallah, membersamai anak-anak harapan agama pun menjadi kesyukuran tersendiri. Harapan bersama dan berjuang membangun batu-bata peradaban kejayaan Islam. Ya Allah, semoga Engkau teguhkan kami.  Dengan setiap ilmu yang Engkau pahamkan kepada kami. Hingga kami benar-benar yakin atas janji dan ketetapan-Mu bagi orang-orang yang rela menghidupkan agama-Mu dengan menjual diri segala apa yang dimiliki di dunia ini untuk menegakkan Dien ini.

***
Jam setengah sepuluh Alhamdulillah kami tiba di bawah lembah, tepatnya di daerah Jalan Sumur Jalatunda, Pekasiran, Batur, Banjarnegara. Ya, Sumur Jalatunda seperti halnya surga dunia bagi mereka yang memikirkannya. Sumur berdiameter sekitar 150 meter dengan kedalaman 100 meter dari permukaan tanah menuju permukaan air serta ditumbuhi tumbuhan hijau itu berisikan air yang berwarna kehijauan. Dan sesekali memang para pengunjung melemparkan batu untuk mendengarkan gema yang dihasilkan ketika batu itu menghantam air sumur. Tak terbayangkan bagaimana sumur itu karena sang petugas penjaga sumur itu bilang kalau waktu musim hujan, air akan semakin naik. Masyaallah. Fantastik!

Perjalanan tracking akan kita mulai. Sebelumnya kami naik, stretching terlebih dahulu kami lakukan agar otot-otot kami tak kram, pun berhaap hati kami semakin hangat pula. Jam sepuluh pagi, kami mulai naik. Bertemankan jaket tebal, sepatu cat, minuman, makanan, serta ikatan ukhuwah kami siap naik. Mentari pagi juga tak mau mau ketinggalan menjadi saksi perjalan kami. Terimakasih Ya Rabb, atas segala nikmat yang engkau berikan. Sungguh kami termasuk orang yang zalim jika masih mengeluh dan mengeluh.

Menyimpan rindu
Angin ini berbeda
Tak sama dengan angin kotaku
Bahkan sangat berbeda
Karena, angin ini menyimpan asa
Asa bergerak menebar kebaikan

Dingin ini juga berbeda
Tak sama dengan dinginnya malam kotaku
Bahkan sangat berbeda rasanya
Karena, dinginnya udara ini
Menghangatkan hati hati kami


Belajar dari Alam

Sesekali kami berhenti sejenak. Mengambil oksigen lembah dieng untuk mengisi sendi-sendi jaringan tubuh ini. Pun, itulah obat bagi tubuh yang pegal-pegal akibat kelebihan asam lakat dalam tubuh. Oksigen yang cukup dalah salah satu obat kelelahan fisik. Sambil melihat sekitar, sebelah kanan, sebelah kiri, belakang, dan depan. Tanaman kubis, kentang, carica, buncis, dan kawah sudah menjadi santapan bagi mata. Begitu sempurna tanpa cacat sedikitpun penciptaan-Nya. Semakin menambah keimanan sebagai buah kelelahan dalam perjalanan. Dan itulaah obat lelahnya hati.

Merasakan kelelahan dan tetesan keringat itu nikmat. Hanya kadang kita sering melupakan hal itu. Hingga malah sering kita mengeluh dalam sebuah perjalanan. Padahal sudah dirasakan untuk melihat surga dunia selanjutnya Danau Dringo: danau diatas lembah saja perjuangannya harus berpayah-payah menaiki setiap tangga besar, apalagi surga sesungguhnya.  

Kami yang terbagi menjadi 4 kelompok: Ibnu Mas`ud, Umar bin Khatab, Aisyah dan Firdaus bersama-sama mendaki. Jika dalam satu kelompok ada yang sakit, kelompok itulah yang pertama menjadi penolong atas izin Allah. Menjadi guru satu sama lain adalah penting, disamping alam sekitar juga adalah tempat pengambilan banyak ibrah dan ilmu. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran untuk mencapai satu tujuan: Surga. Dan jika kita ingin menggenggam dunia, maka dengan ilmu. Mengenggam akhirat juga dengan ilmu dan kita bisa mendapatkan ilmu itu lewat guru disekitar kita.

Berjuang dengan GIGIH

Kegigihan itulah menjadikan istiqomah tetap ada pada kami. Betapa tidak, kelelahan dan mengeluh terkadang menjadi godaan ditiap perjalanan kami. Mengeluh dan mengeluh yang kian makin membuat jauh kepada harapan rahmat Allah atas keteguhan diri memperjuangkan apa yang layak diperjuangkan. Walaupun ada peserta yang sakit, tapi atas izin Allah kami sampai juga di tempat tujuan kami. Alhamdulillah, dengan kegigihan itu sampailah kami di Danau Dringo sekitar jam 12.00. Jumat Mubarok! Bersiap diri mengambil air wudhu dan kami melaksanakan shalat Jumat dipinggir danau. Dinginnya air danau itu begitu membuat kami rindu. Pun beralaskan mantel tak menambah kerisauan kami dalam beribadah, justru menambah kesyukuran kami atas kondisi yang kami lalui.

Makan dalam satu nampan menjadi agenda kami berikutnya setelah shalat. Ya, satu nampan untuk putra dan satu nampan untuk putri. Sesekali kabut putih juga menghampiri, hingga tak terlihat satu sama lain. Ya, kabut disertai angin. Datang kemudian pergi, datang lagi dan kemudian pergi lagi. Makan dengan tangan pun itu yang kami lakukan. Berbagi cerita dalam ikatan ukhuwah yang beharap hingga sampai jannah.

Sabar untuk Menang
Tak terbayangkan jika saat perjalanan, kami tidak sabar dengan diri kami sendiri. Pun, dengan games yang kami lakukan sekitar pukul 13.40. Ya, perkelompok dengan misi memindahkan air secara estafet menggunakan kaleng plastik yang kedua ujungnya berlubang. Bagaimanapun caranya, monggo harus dalam satu tim memindahkan air dari danau ke ember yang disediakan dengan waktu 10 menit.

Pemenangnya adalah kelompok Aisyah, walaupun awalnya Ibnu Mas`ud akan menjadi pemenangnya. Kenapa bisa begitu? Saat pengukuran hasil air yang dipindahkan, anggota kelompok yang secara kegirangan menumpahkan air yang sedang di ukur karena yakin atas kelompoknya akan menang. Padahal proses pengukuran belum selesai. Itulah ketidaksabaran dalam menghadapi kemenangan, padahal tinggal sedikit lagi.

Jet Coster ala Dieng

Berjalan terus dengan sambil betasbih memuji nama Allah adalah langkah kami. Walaupun tubuh sudah terlalu lelah, tapi itu yang bisa kami lakukan. Hanya satu yang harus kita yakini, Allah akan tetap membantu dalam setiap kesulitan kita. Ya, jika memang kita berniat lurus memudahkan urusan agama-Nya.

Sopir pengemudi truk hasil panen di kebun lembah dieng, membolehkan kami untuk turun lembah menumpang truk tersebut. Apa yang menarik? Kami harus berpegangan kuat karena kami seperti naik jet coster ala dieng. Batu bata yang menjadi tatanan utama jalan itu membuat kami sesekali terpental secara halus dalam box belakang truk. Ah, aku rindu waktu itu bersama Ustadz Fatan, Kang Jalal, Mbak sarah, Dek Yunita, Dek Novita, Dek Imas, Dek Fatim, Dek Puja, Dek Masna, Dek Selvi, Dek Ningrum, dan Dek Tari.


Pulang

Kabut seakan beriringan
Mempersilakan kami kembali ke kota kami

Bagi kami
Dieng dan Banjarnegara adalah
Sebuah kota kenangan asa perjuangan
Begitu dalam menyimpan rindu
Rindu akan berlelah-lelah dalam misi kemenangan




*Laporan perjalanan bersama Tim Outrance JAN dan adik-adik Pondok Pesantren Sajada
3-4 Januari 2013 di Dieng, Jawa Tengah
Annafi`ah Firdaus




2 komentar:

  1. masya Allah.. laporannya mengesankan ukh.. semoga bisa istiqomah. aamiin.. CC: Annafi'ah Firdaus

    BalasHapus
  2. Semoga jadi perjalanan yang tak sekedar jalan-jalan tanpa asupan :D

    BalasHapus