Kamis, 21 Maret 2013

RUMAH NAH !



 Rumah NAH begitu Kami menyebutnya. Kadang Kantor JAN. Tempat berkumpul membangun asa bersama tuk raih Kesuksesan yang tak hanya Dunia, terlebih Akhirat. Rumah ini adalah milik keluarga Guru Besar Fakultas Pertanian UGM Prof . Dr. Ir Edhi Martono, M. Sc . Sekaligus ayahanda dari salah satu Direktur Ide dan Kreasi JAN Inc. Dinda Denis Prawitasandhi Putrantya, S. Si atau biasa kami mengenalnya dengan nama Deniz Dinamiz ( Penulis buku Bikin Belajar Selezat Coklat) 


Jika ingin bersilaturakhim belajar bersama untuk menguatkan Dien ini baik lewat dunia Training JAN, Writing NAH, Kependidikan JAN, dan Outrance JAN, boleh . Jika sobat ke kota Jogja yang istimewa ini, sempatkan mampir. Semoga pertemuan yang ber-ghirahkan JANNAH ! 



Dari titik Tugu Jogja kearah barat, bertemu dengan perempatan Jalan Magelang belok ke kanan.  Lurus saja  sampai bertemu pertigaan Plaza Ambarukmo masih lurus. Nanti akan di dapati SMA N 4 Yogyakarta yang sebelah utaranya ada Gang Karangwaru Lor. Ikuti Jln Gotong Royong tersebut sampai nanti didapat Rumah NAH atau Kantor JAN ! 

Jl. Gotong Royong Karangwaru Lor 376
Yogyakarta 55241
(0274) 8309274

NAH ! 

Minggu, 17 Maret 2013

Spiritual Writing: Jalan Lain Membangkitkan Kehebatan



Berapa lama waktu yang kita perlukan untuk menyelesaikan satu buku? Agar Cinta Bersemi Indah, saya selesaikan dalam waktu satu bulan. Buku lainnya ada yang rampung dalam waktu 2 minggu, 12 hari, 6 hari, dan ada juga yang selesai dalam waktu tiga hari. Umumnya, saya menulis buku sambil tetap melakukan berbagai aktivitas. Bahkan terkadang saya menulis di tengah aktivitas yang sangat padat. Ketika menulis buku Agar Cinta Bersemi Indah, saya tetap harus memenuhi berbagai undangan tuk curhat. Buku lainnya ada yang saya tulis di sela-sela kesibukan KKN. Jangan bayangkan KKN saya mudah dicapai kendaraan. Sekadar gambaran, untuk mencapai lokasi KKN dari tempat saya mencuci pakaian butuh waktu 2,5 jam jalan-kaki.

Lalu, apakah yang mempengaruhi cepat lambatnya merampungkan buku? Selain soal tebal tidaknya buku dan padat longgarnya kegiatan, kecepatan menulis buku juga sangat dipengaruhi oleh kekuatan jiwa. Jika kamu mampu mencapai kekuatan tekad yang kokoh, kejelasan visi, dan kemantapan niat, buku setebal 200-an halaman bisa selesai dalam waktu kurang dari dua minggu. Buku tercepat yang saya susun, Memasuki Pernikahan Agung, saya tulis dalam waktu kurang dari tiga hari. Waktu itu, saya di Kendari, Sulawesi Tenggara. Ketika menghadiri pesta perkawinan, saya lihat ada kebiasaan yang sangat merisaukan, dan saya ingin sekali menyampaikan kepada masyarakat bagaimana seharusnya. Dorongan itu demikian kuat dan Allah mencurahkan anugerah ide yang tak henti mengalir, kalimat yang meluncur dengan cepat, dan jari-jemari yang menari dengan lincah di atas tuts mesin ketik.

                  Tetapi ….

                Spiritual Writing tidak sama dengan menulis cepat. Seperti amal, kita berpihak kepada ahsanu `amala. Beramal yang sebaik-baiknya, menghasilkan karya yang terbaik dan memberi manfaat yang terbaik bagi pembaca. Semoga dengan demikian, Allah akan menghitung amal kita sebagai kebaikan yang penuh barakah. Kita tidak berorientasi pada aktsaru `amala (amal sebanyak-banyaknya). Menulis satu buku yang sangat baik dalam setahun, jauh lebih baik daripada menulis sepuluh buku yang sekadar “daripada tidak ada”.

                Bukan kehebatan bisa menulis buku setiap bulan kalau cuma sekadar produktif, sementara isinya kosong tak bermakna.

                Diluar kecerdasan otak, sikap mental dan kekuatan motivasi, faktor yang sangat berperan dalam membangkitkan kehebatanmu adalah kejernihan spiritual. Bila sedang shalat, `Ali bin Abi Thalib tak lagi merasakan beratnya segala kesusahan dunia. Ketika menantu Nabi Saw. ini terkena anak panah, ia mendirikan shalat dan minta agar anak panah itu dicabut pada saat ia sedang khusuk dalam shalatnya. Benarlah. Anak panah itu dicabut dan `Ali bin Abi Thalib seperti tidak merasakan sakit sama sekali.

                Apa yang bisa kita ambil dari kisah ini? Kondisi ruhani itu berpengaruh sangat besar terhadap ketajaman otak, kekuatan fisik, dan kecermalangan pikiran kita. Menulis fiksi hanya dengan mengandalkan kekuatan imajinasi, akan menyerap energi yang lebih besar, butuh ketenangan untuk menuangkannya, dan meminta daya tahan yang cukup tinggi. Penulis dengan tipe seperti ini, jangan coba-coba diganggu meski hanya sehari, sebab ketenangan dan kesinambungan berkaitan erat dengan kemampuan mempertahankan, mengembangkan, dan menuangkan imajinasi. Bila penulisnya kurang mampu mempertahankan, karyanya akan kering. Ada suspend, tetapi tanpa kedalaman. Ada alur cerita yang lancar, tetapi dangkal tidak mengalir.

                Ketajaman spiritual (ruhiyah) kita berpengaruh terhadap kuat tidaknya pancaran tulisan kita. Sebuah tulisan yang dituangkan dengan hati, akan meresap sampai kehati. Bila kita menuangkan dengan hati yang jernih, yang terlahir adalah tulisan yang menyentuh bahkan menggetarkan jiwa. Kekuatan tulisan kamu akan semakin dahsyat apabila orang yang membaca juga sedang jernih hatinya dan lurus niatnya. Bertemu ruhnya penulis dan pembaca dapat menggerakkan jiwa untuk melangkah, sebab ruh itu seperti pasukan berbaris. Bila bertemu dengan ruh yang sejenis, akan mudah menyatu. Sementara, bila bertemu dengan yang bertentangan, akan berselisih. Kita membaca tulisan yang tampaknya baik, tetapi hati kita tetap risau.

                Kembali ke soal kekuatan ruhiyah dalam menulis. Saya teringat dengan Imam Bukhari. Setelah melakukan penelitian secara seksama, mendalam, dan ekstra teliti, Imam Bukhari mengharuskan dirinya melakukan shalat istikharah setiap akan menuliskan satu hadis. Bila Allah memberi petunjuk bahwa hadis itu sebaiknya ditulis, barulah Imam Bukhari menuliskannya dalam tulisan. Begitulah, setiap hendak menuliskan satu hadis, ia selalu melakukan shalat istikharah. Hasilnya, Shahih Bukhari menjadi kitab yang insya Allah paling berkah dan sampai hari ini menjadi rujukan yang paling dipercaya.

                Imam Malik yang terkenal dengan kitab Muwatha`-nya, memiliki kisah lain. Bila orang datang hendak meminta fatwa, Imam Malik bisa segera keluar untuk menemui. Tetapi, bila ada yang datang hendak belajar hadis, Imam Malik memerlukan diri untuk mandi terlebih dahulu. Hadis merupakan perkataan yang sangat agung sehingga Imam Malik memerlukan diri untuk menyucikan jiwa sebelum menyampaikan.

                Kisah Imam Malik maupun Imam Bukhari merupakan contoh spiritual writing ( menulis spiritual). Mereka menulis dengan terlebih dahulu menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs) sehingga Allah jadikan setiap tetes tintanya penuh berkah. Mereka membersihkan hati, memantapkan niat, dan menjernihkan pikiran sehingga benar-benar tawajjuh (menghadapkan diri kepada Allah) untuk menulis apa-apa yang sungguh-sungguh penting. Hasilnya, kecermelangan dan kemampuan menulis yang dahsyat.

                Apa yang bisa kita lakukan untuk menulis spiritual? Tidak ada ritual-ritual khusus. Prinsipnya, apa yang membuat kita lebih suci secara ruhiyah. Kita justru perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada praktik-praktik ritual yang dituntunkan agama. Jika kita merasa, dengan mandi hati kita bisa lebih bersih, kita dapat menerapkannya sebagaimana Imam Malik melakukannya. Dengan men-dawam-kan wudhu sebelum menulis, lalu membuat hati kita makin khusyuk, maka yang demikian dapat kita lakukan. Ia hanyalah jalan untuk mencapai titik jernih hati kita sehingga kita menulis dengan niat yang lebih bersih.

                Saya perlu menjelaskan masalah ini agar tidak terjadi kesalahpahaman. Jangan sampai kita terjatuh pada bid`ah di saat ingin menyucikan jiwa. Jika saat menulis trilogi Kupinang Engkau dengan Hamdalah, saya berusaha agar selalu dalam keadaan suci, itu bukan berarti cara menulis yang cemerlangan adalah dengan bewudhu terlebih dahulu. Begitupun jika sekali waktu melakukan shalat sebelum menulis dan kemudian buku-buku itu menjadi best-seller adalah dengan shalat atau bahkan puasa. Tetapi, yang kita perlu garis bawahi adalah usaha untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga niat kita dalam menulis lebih mulia.

                Alhasil, jika kamu bertanya kepada saya doa apa yang bisa diamalkan untuk menjadi penulis best-seller, jawabnya, “Tak ada. Rasulullah Saw. tidak menuntunkan doa menjadi penulis hebat. “Tetapi jika kamu bertanya apakah saya biasa berdoa saat menulis, tanpa ragu saya jawab, “Ya. Sebab, doa adalah otaknya ibadah. Dengan berdoa, saya berharap tulisan saya bernilai ibadah. Dan inilah inti dari spiritual writing.

                                                                                                Ditulis ulang (rewrite) oleh Annafi`ah Firdaus dari buku “DUNIA KATA, Mewujudkan Impian Menjadi Penulis Brilian” tulisan Mohammad Fauzil Adhim



Sabtu, 09 Maret 2013

NAH ! Semoga MENGGUGAH !


Ini adalah NAH Wajah baru ! Beda kan Sobat NAH ???



Kalau kemarin, sering kita baca di Percik adalah kisah-kisah sahabat, kali ini kan kita dapati kisah dari orang Indonesia . Ya, Syaikh Ahmad Khatib Al Minankabawiy, Guru Para Guru !



Di Sajian Spesial, juga Kami sajikan dengan format beda. Dengan jumlah halaman yang lebih banyak, semoga makin menambah khasanah keilmuan kita. Bacalah ! 


GELEGAR BELAJAR yang dulunya jadi rubrik dimajalah ini. Dan sekarang, berganti menjadi SINAU. Disini akan kami sajikan betapa pentingnya adab dari seorang Pemburu ilmu. Salah satunya apa Sobat ?? Ya, kita mencintai ilmu itu sendiri. 

NAH ! Semoga Tergugah !!!

Annafi`ah Firdaus 

Senin, 04 Maret 2013

IKHTIAR MENDEKAT PADA-NYA




DIENG, Jawa tengah (8/2) kembali menjadi  kota destinasi untuk bertafakkur kepada Allah. Melihat dan memikirkan betapa Allah Maha Indah dengan penciptaan-Nya. Perjalanan yang berharap menjadi bahan renungan untuk kian dekat dengan Sang Pencipta.

Sekitar 40 peserta mengikuti serangkaian kegiatan dari tanggal 8-10 Februari 2013 di Dieng Zona 2. Suhu Dieng pun tak seperti kota pemberangkatan, hingga akhirnya kami memang harus menggunakan pakaian yang bisa menghangatkan hati dan tubuh. Jam 23.00, Kami Tim Outrance JAN dan Jama`ah Al-Muqtashidin Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia ( FE UII ) sampai di daerah Pasurenan, Batur, Banjar Negara, Jawa Tengah.

**

Tepat jam 07.30 (9/2) Kami berkumpul di sebuah masjid di An-Nur untuk melakukan aktivitas pertama. Masjid yang tak jauh dari tempat penginapan. Ya, Kami menginap di rumah salah satu staff JAN Inc Muhammad Adin Setyawan dan Rumah Lurah di daerah itu.

 “Kesuksesan kita hari ini adalah ketika kita semakin dekat dengan Allah SWT,” Trainer utama : Deniz Dinamiz mengawali.

Kesuksesan di ukur dari kedekatan kita kepada Allah. Jika kita makin dekat, maka sukseslah predikatnya. Tapi jika makin jauh dari Allah, maka itulah sebaik-baik kegagalan. Dengan memiliki niat yang benar, impian yang besar, ilmu yang mumpuni, guru yang menjadi teladan, serta kegigihan yang mengakar maka berharap kesuksesan itu di tangan. Tak hanya didunia, terlebih di akhirat.

Dzuha pun menghangatkan suasana. Dzuha yang menjadi saksi sebuah Bangunan Impian yang terbuat dari just kertas saja. Didirikan oleh JAM FE UII dalam tiap kelompoknya. Di pandu oleh trainer utama Deniz Dinamiz, ini adalah bagian dari alur aktifitas : IMPIAN.


Mulai dari kelompok CDM ( Candra di Muka), Mahabbah, Semangat Muda, dan Walang ( Akhwat Petualang ), mempesentasikan hasil karyanya. Masing-masing kelompok pun menggambarkan tentang JAM dan impian mereka di JAM.
“JAM” “Luar Biasa”
“Sukses” “YES”
“Surga” “Masuk” .


Outbound adalah miniatur kehidupan kita. Maka, kesungguhan dalam aktivitas ini tentunya berpengaruh dalam kehidupan kita sebenarnya. Mungkin hari ini kita melakukan sesuatu yang kecil. Namun jika kita mengambil ibrah dan mengingatnya dalam kehidupan, tentu akan berpengaruh untuk hidup kita. Ingat, lebih dekat dengan Allah adalah tujuan kita. Dekat dengan menambah iman, ilmu, dan memperkuat tali ukhuwah.


Pelataran Sumur Jalatunda ( Jalatunda Well ), Kabupaten Banjarnegara adalah tempat berikutnya untuk dekat dengan Allah. Dekat dengan Allah lewat ilmu. Ya, di sekitar pelataran itu, dipandu kembali oleh Deniz Dinamiz peserta diminta membuat sebuah menara ilmu. Berbahankan solasi, 2 lembar kertas HVS, dan selang. Membuat sebuah bangunan menjulang keatas setinggi kira-kira 30 cm dengan mampu menahan sebuah beban diatasnya.





Hasil memang Allah yang pegang. Tapi bagaimana dengan kesungguhan kita? Strategi kita dalam kelompok. Sudahkah merasa puas dengan hasil? Jika belum, maka prosesnya yang mungkin salah.”



Kesempatan pertama untuk membangun di semua kelompok tak ada yang berhasil. Padahal awalan yang baik tentu mempengaruhi proses-proses berikutnya. Maka, kesempatan kedua di berikan dengan konsekuensi sebuah hukuman untuk pembelajaran. Hukuman yang makin menguatkan, bukan menghancurkan asa perjuangan dan pengorbanan.

Lima menit untuk membuat bangunan baru, dengan semua kelompok putra digabung menjadi satu, begitu pula kelompok putri,” Tambah trainer utama.


“Tugas kita adalah ahsanu `amala, bukan aktsaru `amala. Bukan sebanyak-banyak kerja, akan tetapi melakukan suatu pekerjaan dengan yang terbaik. Modal dalam kita meraih sukses pun tak sekedar semangat, namun perlunya ilmu. Dengan ilmulah, cara menjemput kesuksesan dan kemenangan besar.”

Kelompok ikhwan gagal dalam pembuatan Menara Ilmu. So, hukuman yang menguatkan itu adalah janji. Push up yang tak hanya menyehatkan, namun menguatkan. Sementara, Alhamdulillah, kelompok akhwat berhasil.

**


Terik matahari kadang sesekali muncul menampakkan pesonanya. Kabut putih pun tak ingin ketinggalan menjadi kesejukan diantara kami. Danau dringo menjadi puncak perjalanan kami. Surga dunia mungkin bisa kami sebut. Sebuah danau yang terletak diatas pegunungan yang kami rasa butuh perjuangan untuk mendakinya. Tapi tak apalah, lelah kami dibayar dengan kenikmatan mata memandang sebuah pesona. Pesona yang kian menambah keimanan kita.

Adzan dzuhur dikumandangkan di tepi danau. Kami pun shalat berjamaah di pinggir danau. Sebagai sarapan siang bagi jiwa, maka kultum pun adalah makanan yang menyehatkan jiwa. Diiringi kabut yang bergantian lewat disekitar kami. Serta, keindahan alam yang tak akan mampu terekam oleh kamera berosulusi tinggi sekalipun, kecuali memandangnya dengan mata yang di berikan oleh Allah.


Estafet water adalah aktifitas berikutnya. Merindukan! Aktivitas itu bermisikan memindahkan air dari danau ke ember yang diletakkan agak jauh dari danau. Secara estafet, air dipindahkan menggunakan gelas plastik dengan bagian dasar gelas dilubangi. Mahabbah pun menjadi pelopor, untuk memindahkan air danau dengan ukuran yang sedikit. Asalkan tepindahkan, maka yang sedikit akhirnya akan banyak.

Kali ini pemenangnya adalah kelompok ikhwan, dari CDM. Kemenangan yang semoga disertai dengan mohon ampun kepada Allah agar kesombongan tetap hak Allah sebagai pencipta atas diri kita. Maka dalam perjalalan ini, kita berguru kepada alam dan teman, untuk bersama dengan kegigihan mencapai puncak perjalanan : Danau Dringo, Dieng.

Perjalanan pulang kami rasa tidak seterjal pendakian. Ya, semoga karena asa yang makin kuat kami bawa pulang. Bahwa kemenangan ini adalah hak Allah, sehingga kita dengan selalu memintanya. Kemenangan yang sekali lagi kita ukur dengan semakin dekat dengan Allah azza wajalla.

Kawah Candra di Muka adalah buah perjalanan pulang. Ya, kami melewati kawah yang cukup besar di daerah pegunungan Dieng Zona 2 tersebut. Masya Allah, inilah penciptaannya yang makin menambah iman kepada Allah. Bahwa tak ada yang bisa menciptakan segala sesuatu didunia ini kecuali Allah.

“JAM” “Luar Biasa”
“Sukses” “YES”
“Surga” “Masuk”




**

Hari terakhir ( 10/2 ) kami di kota yang merindukan ini. Rangkaian agenda yang terakhir ini adalah training in door di dalam Masjid An-Nur. Kali ini dibersamai oleh Arif Jadmiko. Dimulai jam 07.45 seiring matahari naik menebarkan sinar mentarinya.
Seneng saja dengan JAM tidak akan membuat kita hebat. Seneng itu harus dibarengi karya. Seneng yang harus ada visi didalamnya. Sudahkah mengetahui dan paham visi JAM?”

“Visi akan memberi energi bagi kita untuk berjuang keras. Maka tujuan kalian di JAM harus jelas, kenapa di bergabung di JAM? Kenapa?”

 “Maka visi JAM harusnya adalah kumpulan visi dai orang yang didalamnya.”

“Seberapa besar kontribusi yang akan antum berikan kepada Allah lewat JAM?”

“Barang siapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya, serta meninggikan kedudukannya beberapa derajat.”

Pukul 10.30 kami bertolak dari Dieng. Ah, Rindu yang kami bawa. Merindukan selalu memandang wajah Dieng yang kian lama makin terasa dekat dengan-Nya. Secara beriringan pun kabut seakan menjadi kawan dalam perjalanan. Terlihat beberapa petani Dieng yang sedang menjemput rizki didaerah itu. Ah, Allah menghidupkan Dieng dan penghuni-Nya. Sungguh, kedekatan kami dengan Dieng dan Allah akan terbawa sampai ke tempat berpulang. Tak lupa, kami menyempatkan berwisata di Candi Arjuna di daerah Jalan ArjunaTemple, Dieng Kulon. Sungguh, kami rindu kembali.
Lelah semoga berujung Jannah. Berharap kami kembali dipertemukan-Nya jika tidak di dunia, semoga di Surga.

*Laporan perjalanan di Outbound bersama Tim Outrance JAN dan JAM FE UII.
8-10 Februari 2013 di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah
@annafiahfirdaus

gambar (all) : RIDWAN