Senin, 04 Maret 2013

IKHTIAR MENDEKAT PADA-NYA




DIENG, Jawa tengah (8/2) kembali menjadi  kota destinasi untuk bertafakkur kepada Allah. Melihat dan memikirkan betapa Allah Maha Indah dengan penciptaan-Nya. Perjalanan yang berharap menjadi bahan renungan untuk kian dekat dengan Sang Pencipta.

Sekitar 40 peserta mengikuti serangkaian kegiatan dari tanggal 8-10 Februari 2013 di Dieng Zona 2. Suhu Dieng pun tak seperti kota pemberangkatan, hingga akhirnya kami memang harus menggunakan pakaian yang bisa menghangatkan hati dan tubuh. Jam 23.00, Kami Tim Outrance JAN dan Jama`ah Al-Muqtashidin Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia ( FE UII ) sampai di daerah Pasurenan, Batur, Banjar Negara, Jawa Tengah.

**

Tepat jam 07.30 (9/2) Kami berkumpul di sebuah masjid di An-Nur untuk melakukan aktivitas pertama. Masjid yang tak jauh dari tempat penginapan. Ya, Kami menginap di rumah salah satu staff JAN Inc Muhammad Adin Setyawan dan Rumah Lurah di daerah itu.

 “Kesuksesan kita hari ini adalah ketika kita semakin dekat dengan Allah SWT,” Trainer utama : Deniz Dinamiz mengawali.

Kesuksesan di ukur dari kedekatan kita kepada Allah. Jika kita makin dekat, maka sukseslah predikatnya. Tapi jika makin jauh dari Allah, maka itulah sebaik-baik kegagalan. Dengan memiliki niat yang benar, impian yang besar, ilmu yang mumpuni, guru yang menjadi teladan, serta kegigihan yang mengakar maka berharap kesuksesan itu di tangan. Tak hanya didunia, terlebih di akhirat.

Dzuha pun menghangatkan suasana. Dzuha yang menjadi saksi sebuah Bangunan Impian yang terbuat dari just kertas saja. Didirikan oleh JAM FE UII dalam tiap kelompoknya. Di pandu oleh trainer utama Deniz Dinamiz, ini adalah bagian dari alur aktifitas : IMPIAN.


Mulai dari kelompok CDM ( Candra di Muka), Mahabbah, Semangat Muda, dan Walang ( Akhwat Petualang ), mempesentasikan hasil karyanya. Masing-masing kelompok pun menggambarkan tentang JAM dan impian mereka di JAM.
“JAM” “Luar Biasa”
“Sukses” “YES”
“Surga” “Masuk” .


Outbound adalah miniatur kehidupan kita. Maka, kesungguhan dalam aktivitas ini tentunya berpengaruh dalam kehidupan kita sebenarnya. Mungkin hari ini kita melakukan sesuatu yang kecil. Namun jika kita mengambil ibrah dan mengingatnya dalam kehidupan, tentu akan berpengaruh untuk hidup kita. Ingat, lebih dekat dengan Allah adalah tujuan kita. Dekat dengan menambah iman, ilmu, dan memperkuat tali ukhuwah.


Pelataran Sumur Jalatunda ( Jalatunda Well ), Kabupaten Banjarnegara adalah tempat berikutnya untuk dekat dengan Allah. Dekat dengan Allah lewat ilmu. Ya, di sekitar pelataran itu, dipandu kembali oleh Deniz Dinamiz peserta diminta membuat sebuah menara ilmu. Berbahankan solasi, 2 lembar kertas HVS, dan selang. Membuat sebuah bangunan menjulang keatas setinggi kira-kira 30 cm dengan mampu menahan sebuah beban diatasnya.





Hasil memang Allah yang pegang. Tapi bagaimana dengan kesungguhan kita? Strategi kita dalam kelompok. Sudahkah merasa puas dengan hasil? Jika belum, maka prosesnya yang mungkin salah.”



Kesempatan pertama untuk membangun di semua kelompok tak ada yang berhasil. Padahal awalan yang baik tentu mempengaruhi proses-proses berikutnya. Maka, kesempatan kedua di berikan dengan konsekuensi sebuah hukuman untuk pembelajaran. Hukuman yang makin menguatkan, bukan menghancurkan asa perjuangan dan pengorbanan.

Lima menit untuk membuat bangunan baru, dengan semua kelompok putra digabung menjadi satu, begitu pula kelompok putri,” Tambah trainer utama.


“Tugas kita adalah ahsanu `amala, bukan aktsaru `amala. Bukan sebanyak-banyak kerja, akan tetapi melakukan suatu pekerjaan dengan yang terbaik. Modal dalam kita meraih sukses pun tak sekedar semangat, namun perlunya ilmu. Dengan ilmulah, cara menjemput kesuksesan dan kemenangan besar.”

Kelompok ikhwan gagal dalam pembuatan Menara Ilmu. So, hukuman yang menguatkan itu adalah janji. Push up yang tak hanya menyehatkan, namun menguatkan. Sementara, Alhamdulillah, kelompok akhwat berhasil.

**


Terik matahari kadang sesekali muncul menampakkan pesonanya. Kabut putih pun tak ingin ketinggalan menjadi kesejukan diantara kami. Danau dringo menjadi puncak perjalanan kami. Surga dunia mungkin bisa kami sebut. Sebuah danau yang terletak diatas pegunungan yang kami rasa butuh perjuangan untuk mendakinya. Tapi tak apalah, lelah kami dibayar dengan kenikmatan mata memandang sebuah pesona. Pesona yang kian menambah keimanan kita.

Adzan dzuhur dikumandangkan di tepi danau. Kami pun shalat berjamaah di pinggir danau. Sebagai sarapan siang bagi jiwa, maka kultum pun adalah makanan yang menyehatkan jiwa. Diiringi kabut yang bergantian lewat disekitar kami. Serta, keindahan alam yang tak akan mampu terekam oleh kamera berosulusi tinggi sekalipun, kecuali memandangnya dengan mata yang di berikan oleh Allah.


Estafet water adalah aktifitas berikutnya. Merindukan! Aktivitas itu bermisikan memindahkan air dari danau ke ember yang diletakkan agak jauh dari danau. Secara estafet, air dipindahkan menggunakan gelas plastik dengan bagian dasar gelas dilubangi. Mahabbah pun menjadi pelopor, untuk memindahkan air danau dengan ukuran yang sedikit. Asalkan tepindahkan, maka yang sedikit akhirnya akan banyak.

Kali ini pemenangnya adalah kelompok ikhwan, dari CDM. Kemenangan yang semoga disertai dengan mohon ampun kepada Allah agar kesombongan tetap hak Allah sebagai pencipta atas diri kita. Maka dalam perjalalan ini, kita berguru kepada alam dan teman, untuk bersama dengan kegigihan mencapai puncak perjalanan : Danau Dringo, Dieng.

Perjalanan pulang kami rasa tidak seterjal pendakian. Ya, semoga karena asa yang makin kuat kami bawa pulang. Bahwa kemenangan ini adalah hak Allah, sehingga kita dengan selalu memintanya. Kemenangan yang sekali lagi kita ukur dengan semakin dekat dengan Allah azza wajalla.

Kawah Candra di Muka adalah buah perjalanan pulang. Ya, kami melewati kawah yang cukup besar di daerah pegunungan Dieng Zona 2 tersebut. Masya Allah, inilah penciptaannya yang makin menambah iman kepada Allah. Bahwa tak ada yang bisa menciptakan segala sesuatu didunia ini kecuali Allah.

“JAM” “Luar Biasa”
“Sukses” “YES”
“Surga” “Masuk”




**

Hari terakhir ( 10/2 ) kami di kota yang merindukan ini. Rangkaian agenda yang terakhir ini adalah training in door di dalam Masjid An-Nur. Kali ini dibersamai oleh Arif Jadmiko. Dimulai jam 07.45 seiring matahari naik menebarkan sinar mentarinya.
Seneng saja dengan JAM tidak akan membuat kita hebat. Seneng itu harus dibarengi karya. Seneng yang harus ada visi didalamnya. Sudahkah mengetahui dan paham visi JAM?”

“Visi akan memberi energi bagi kita untuk berjuang keras. Maka tujuan kalian di JAM harus jelas, kenapa di bergabung di JAM? Kenapa?”

 “Maka visi JAM harusnya adalah kumpulan visi dai orang yang didalamnya.”

“Seberapa besar kontribusi yang akan antum berikan kepada Allah lewat JAM?”

“Barang siapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya, serta meninggikan kedudukannya beberapa derajat.”

Pukul 10.30 kami bertolak dari Dieng. Ah, Rindu yang kami bawa. Merindukan selalu memandang wajah Dieng yang kian lama makin terasa dekat dengan-Nya. Secara beriringan pun kabut seakan menjadi kawan dalam perjalanan. Terlihat beberapa petani Dieng yang sedang menjemput rizki didaerah itu. Ah, Allah menghidupkan Dieng dan penghuni-Nya. Sungguh, kedekatan kami dengan Dieng dan Allah akan terbawa sampai ke tempat berpulang. Tak lupa, kami menyempatkan berwisata di Candi Arjuna di daerah Jalan ArjunaTemple, Dieng Kulon. Sungguh, kami rindu kembali.
Lelah semoga berujung Jannah. Berharap kami kembali dipertemukan-Nya jika tidak di dunia, semoga di Surga.

*Laporan perjalanan di Outbound bersama Tim Outrance JAN dan JAM FE UII.
8-10 Februari 2013 di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah
@annafiahfirdaus

gambar (all) : RIDWAN 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar