Minggu, 17 Maret 2013

Spiritual Writing: Jalan Lain Membangkitkan Kehebatan



Berapa lama waktu yang kita perlukan untuk menyelesaikan satu buku? Agar Cinta Bersemi Indah, saya selesaikan dalam waktu satu bulan. Buku lainnya ada yang rampung dalam waktu 2 minggu, 12 hari, 6 hari, dan ada juga yang selesai dalam waktu tiga hari. Umumnya, saya menulis buku sambil tetap melakukan berbagai aktivitas. Bahkan terkadang saya menulis di tengah aktivitas yang sangat padat. Ketika menulis buku Agar Cinta Bersemi Indah, saya tetap harus memenuhi berbagai undangan tuk curhat. Buku lainnya ada yang saya tulis di sela-sela kesibukan KKN. Jangan bayangkan KKN saya mudah dicapai kendaraan. Sekadar gambaran, untuk mencapai lokasi KKN dari tempat saya mencuci pakaian butuh waktu 2,5 jam jalan-kaki.

Lalu, apakah yang mempengaruhi cepat lambatnya merampungkan buku? Selain soal tebal tidaknya buku dan padat longgarnya kegiatan, kecepatan menulis buku juga sangat dipengaruhi oleh kekuatan jiwa. Jika kamu mampu mencapai kekuatan tekad yang kokoh, kejelasan visi, dan kemantapan niat, buku setebal 200-an halaman bisa selesai dalam waktu kurang dari dua minggu. Buku tercepat yang saya susun, Memasuki Pernikahan Agung, saya tulis dalam waktu kurang dari tiga hari. Waktu itu, saya di Kendari, Sulawesi Tenggara. Ketika menghadiri pesta perkawinan, saya lihat ada kebiasaan yang sangat merisaukan, dan saya ingin sekali menyampaikan kepada masyarakat bagaimana seharusnya. Dorongan itu demikian kuat dan Allah mencurahkan anugerah ide yang tak henti mengalir, kalimat yang meluncur dengan cepat, dan jari-jemari yang menari dengan lincah di atas tuts mesin ketik.

                  Tetapi ….

                Spiritual Writing tidak sama dengan menulis cepat. Seperti amal, kita berpihak kepada ahsanu `amala. Beramal yang sebaik-baiknya, menghasilkan karya yang terbaik dan memberi manfaat yang terbaik bagi pembaca. Semoga dengan demikian, Allah akan menghitung amal kita sebagai kebaikan yang penuh barakah. Kita tidak berorientasi pada aktsaru `amala (amal sebanyak-banyaknya). Menulis satu buku yang sangat baik dalam setahun, jauh lebih baik daripada menulis sepuluh buku yang sekadar “daripada tidak ada”.

                Bukan kehebatan bisa menulis buku setiap bulan kalau cuma sekadar produktif, sementara isinya kosong tak bermakna.

                Diluar kecerdasan otak, sikap mental dan kekuatan motivasi, faktor yang sangat berperan dalam membangkitkan kehebatanmu adalah kejernihan spiritual. Bila sedang shalat, `Ali bin Abi Thalib tak lagi merasakan beratnya segala kesusahan dunia. Ketika menantu Nabi Saw. ini terkena anak panah, ia mendirikan shalat dan minta agar anak panah itu dicabut pada saat ia sedang khusuk dalam shalatnya. Benarlah. Anak panah itu dicabut dan `Ali bin Abi Thalib seperti tidak merasakan sakit sama sekali.

                Apa yang bisa kita ambil dari kisah ini? Kondisi ruhani itu berpengaruh sangat besar terhadap ketajaman otak, kekuatan fisik, dan kecermalangan pikiran kita. Menulis fiksi hanya dengan mengandalkan kekuatan imajinasi, akan menyerap energi yang lebih besar, butuh ketenangan untuk menuangkannya, dan meminta daya tahan yang cukup tinggi. Penulis dengan tipe seperti ini, jangan coba-coba diganggu meski hanya sehari, sebab ketenangan dan kesinambungan berkaitan erat dengan kemampuan mempertahankan, mengembangkan, dan menuangkan imajinasi. Bila penulisnya kurang mampu mempertahankan, karyanya akan kering. Ada suspend, tetapi tanpa kedalaman. Ada alur cerita yang lancar, tetapi dangkal tidak mengalir.

                Ketajaman spiritual (ruhiyah) kita berpengaruh terhadap kuat tidaknya pancaran tulisan kita. Sebuah tulisan yang dituangkan dengan hati, akan meresap sampai kehati. Bila kita menuangkan dengan hati yang jernih, yang terlahir adalah tulisan yang menyentuh bahkan menggetarkan jiwa. Kekuatan tulisan kamu akan semakin dahsyat apabila orang yang membaca juga sedang jernih hatinya dan lurus niatnya. Bertemu ruhnya penulis dan pembaca dapat menggerakkan jiwa untuk melangkah, sebab ruh itu seperti pasukan berbaris. Bila bertemu dengan ruh yang sejenis, akan mudah menyatu. Sementara, bila bertemu dengan yang bertentangan, akan berselisih. Kita membaca tulisan yang tampaknya baik, tetapi hati kita tetap risau.

                Kembali ke soal kekuatan ruhiyah dalam menulis. Saya teringat dengan Imam Bukhari. Setelah melakukan penelitian secara seksama, mendalam, dan ekstra teliti, Imam Bukhari mengharuskan dirinya melakukan shalat istikharah setiap akan menuliskan satu hadis. Bila Allah memberi petunjuk bahwa hadis itu sebaiknya ditulis, barulah Imam Bukhari menuliskannya dalam tulisan. Begitulah, setiap hendak menuliskan satu hadis, ia selalu melakukan shalat istikharah. Hasilnya, Shahih Bukhari menjadi kitab yang insya Allah paling berkah dan sampai hari ini menjadi rujukan yang paling dipercaya.

                Imam Malik yang terkenal dengan kitab Muwatha`-nya, memiliki kisah lain. Bila orang datang hendak meminta fatwa, Imam Malik bisa segera keluar untuk menemui. Tetapi, bila ada yang datang hendak belajar hadis, Imam Malik memerlukan diri untuk mandi terlebih dahulu. Hadis merupakan perkataan yang sangat agung sehingga Imam Malik memerlukan diri untuk menyucikan jiwa sebelum menyampaikan.

                Kisah Imam Malik maupun Imam Bukhari merupakan contoh spiritual writing ( menulis spiritual). Mereka menulis dengan terlebih dahulu menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs) sehingga Allah jadikan setiap tetes tintanya penuh berkah. Mereka membersihkan hati, memantapkan niat, dan menjernihkan pikiran sehingga benar-benar tawajjuh (menghadapkan diri kepada Allah) untuk menulis apa-apa yang sungguh-sungguh penting. Hasilnya, kecermelangan dan kemampuan menulis yang dahsyat.

                Apa yang bisa kita lakukan untuk menulis spiritual? Tidak ada ritual-ritual khusus. Prinsipnya, apa yang membuat kita lebih suci secara ruhiyah. Kita justru perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada praktik-praktik ritual yang dituntunkan agama. Jika kita merasa, dengan mandi hati kita bisa lebih bersih, kita dapat menerapkannya sebagaimana Imam Malik melakukannya. Dengan men-dawam-kan wudhu sebelum menulis, lalu membuat hati kita makin khusyuk, maka yang demikian dapat kita lakukan. Ia hanyalah jalan untuk mencapai titik jernih hati kita sehingga kita menulis dengan niat yang lebih bersih.

                Saya perlu menjelaskan masalah ini agar tidak terjadi kesalahpahaman. Jangan sampai kita terjatuh pada bid`ah di saat ingin menyucikan jiwa. Jika saat menulis trilogi Kupinang Engkau dengan Hamdalah, saya berusaha agar selalu dalam keadaan suci, itu bukan berarti cara menulis yang cemerlangan adalah dengan bewudhu terlebih dahulu. Begitupun jika sekali waktu melakukan shalat sebelum menulis dan kemudian buku-buku itu menjadi best-seller adalah dengan shalat atau bahkan puasa. Tetapi, yang kita perlu garis bawahi adalah usaha untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga niat kita dalam menulis lebih mulia.

                Alhasil, jika kamu bertanya kepada saya doa apa yang bisa diamalkan untuk menjadi penulis best-seller, jawabnya, “Tak ada. Rasulullah Saw. tidak menuntunkan doa menjadi penulis hebat. “Tetapi jika kamu bertanya apakah saya biasa berdoa saat menulis, tanpa ragu saya jawab, “Ya. Sebab, doa adalah otaknya ibadah. Dengan berdoa, saya berharap tulisan saya bernilai ibadah. Dan inilah inti dari spiritual writing.

                                                                                                Ditulis ulang (rewrite) oleh Annafi`ah Firdaus dari buku “DUNIA KATA, Mewujudkan Impian Menjadi Penulis Brilian” tulisan Mohammad Fauzil Adhim



Tidak ada komentar:

Posting Komentar