Jumat, 26 April 2013

Menyulut Inspirasi : Menjadi Pribadi Inspiratif dengan Pengelolaan Diri


Demi meraih sepotong inspirasi, tak segan-segan kita mengejar hingga ke pantai-pantai, gunung, atau bahkan mal-mal tempat manusia datang bergerombol. Seperti emas, kita menantikan inspirasi dengan harap-harap cemas. Begitu dapat, kita perlakukan inspirasi dengan sangat hati-hati agar tak lepas. Sebab, inspirasi menjadi semacam makhluk langka yang sangat manja. Berisik sedikit, bisa buyar seketika. Karena itu, kita butuh tempat khusus untuk menuangkannya.

Meskipun dengan cara ini banyak yang bisa menjadi penulis, tetapi untuk benar-benar produktif dan mampu menghadirkan ide-ide segar, kita perlu belajar mengelola diri agar senantiasa kaya inspirasi. Biarlah inspirasi mengejar kita, bukan kita yang sibuk-sibuk mengejar inspirasi. Apalagi hanya untuk sebuah cerpen atau tulisan ringan. Pertanyaannya, mungkinkah terjadi?
Belajar dari orang-orang yang kaya inspirasi, ada beberapa hal yang perlu kita catat:

Kekuatan Itu Bernama Komitmen

Apabila hatimu dipenuhi oleh kepedihan, keinginan yang kuat untuk menunjukkan orang lain kepada jalan yang kamu yakini kebenarannya, maka pikiranmu akan hidup. Gagasan bermunuculan dan inisiatif akan saling bersusulan. Apapun yang kamu lihat, akan selalu mengalirkan inspirasi kedalam jiwamu sesuai dengan apa yang menjadi kegelisahanmu.

Bagaimana bisa begitu? Komitmen memberi makna pada apa yang kita lihat, rasa, dengar, dan pikirkan. Setiap menjumpai sesuatu, sejauh komitmen memang hidup pada diri kita, langsung akan kita olah dalam otak kita sehingga melahirkan percikan-percikan ide  atau menggugah lahirnya inspirasi yang sangat kaya.
Ketika saya menangisi tradisi yang menghalangi orang untuk menikah secara islami, kepekaan saya meningkat berlipat-lipat. Setiap kali saya membaca buku, apakah itu buku politik, komunikasi, psikologi, ataupun antropologi, selalu memperkaya inspirasi sekaligus ketajaman analisis mengapa adat yang membelenggu itu terjadi, serta apa yang kira-kira bisa dilakukan untuk keluar dari cengkraman adat. Begitu juga ketika saya merisaukan pendidikan anak, buku politik pun bisa membangkitkan kekuatan pena untuk menulis buku Salahnya Kodok. Ringkasnya, komitmen mempengaruhi emosi, pikiran, dn konsi kita. Semua iru merangsang munculnya inspirasi-inspirasi yang  segar , inovasi yang cerdas, dan kekuatan tulisan yang dahsyat.

Kegelisahan yang muncul karena dorongan keinginan untuk menunjukkan apa yang baik, dapat menarik kita untuk benar-benar terserap pada apa yang sedang kita kerjakan. Dan inilah Flow. Secara sederhana, Daniel Goleman mengemukakan dalam Emotional  Intelegence. “Flow berarti keadaan ketika seseorang  sepenuhnya terserap ke dalam apa yang sedang dikerjakannya, perhatiannya hanya terfokus ke pekerjaan itu, kesadaran menyatu dengan tindakan.

Dalam buku Working with Emotional Intelelligence, Goleman menunjukkan bahwa kita dapat mencapai keadaan flow apabila keterlibatan psikologis yang sangat kuat (psychological presence). Keadaan ini membuat otak kita lebih tajam, pikiran kita lebih mudah mengalir dan jiwa kita lebih inspiratif. Menulis terasa lebih menggugah dan membangkitkan semangat apabila kita merasakan benar mengapa kita menulis. Itu sebabnya, mengapa saya lebih tertarik menemukan alasan untuk menulis daripada memikirkan bagaimana membuat tulisan yang menarik.

Jadi, jika kamu sekarang bingung harus menulis apa, beralihlah sejenak. Pikirkanlah mengapa kamu harus menulis? Jika kamu menemukan alasan yang kuat, pertarungan batin seorang akhwat yang baru memulai berjilbab pun bisa kamu tuangkan menjadi novel panjang yang mengesankan. Kamu juga bisa mengangkat tema-tema yang sangat sederhana menjadi satu novel yang memesona.

Agar yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa, ada dua hal yang kamu butuhkan. Pertama, libatkan diri dalam masalah yang sedang kamu tulis. Bukalah interaksi-secara langsung maupun melalui pikiran saja-dengan mereka yang sedang berjuang untuk bisa nyaman memakai jilbab. Melalui interaksi ini, ditambah dengan kesediaan untuk menggali masalah, kamu kan memiliki kepekaan yang tajam sehingga melahirkan tulisan yang hidup. Tanpa itu, tulisanmu hanya semacam interpretasi-tafsiran-atas apa yang kamu lihat dan pikir.

Pendapat Hermawan Kartajaya agaknya menarik untuk dicermati. Meskipun tidak berhubungan dengan menulis, nasihat pakar tentang intuisi sangat berharga untuk kita catat. Kata Hermawan, “Supaya lebih intuisi, kamu harus turun gunung ke market place dan banyak diskusi. Maka kamu akan jadi intuitif, not just interpretative.”

Bila kamu lebih peka terhadap masalah yang kamu tulis, lebih kuat penceritaanmu, kamu perlu bersentuhan langsung dengan masalah dan banyak diskusi. Melalui cara ini, kamu bisa menyelami sampai ke dasar laut. Tidak permukaannya saja sebagaimana sering saya temukan pada berbagai tulisan: fiksi maupun non fiksi. Jujur, saya sering gemes kalau baca cerpen atawa novel yang ditulis teman-teman. Kayaknya, kok banyak yang cuma ngejar setoran. Jadinya, cerita yang tertuang tidak memiliki kedalaman (sorry, kalau kamu tersinggung)

Kedua, kamu tidak bisa tidak perlu banyak membaca. Kamu bisa membaca untuk menyerap isinya (absorber reader), bisa juga membaca sambil secara aktif menilai, mengomentari, dan memberi catatan tentang apa yang bisa di ambil dari buku tersebut (reviewer reader). Keduanya memberi manfaat. Yang pertama, memberi kekayaan data dan pengetahuan, sementara yang kedua merangsang pikiran untuk cepat menemukan gagasan-gagasan cemerlang. Manfaat kedua tidak bisa kita dapatkan, jika kita memiliki kekayaan infomasi, pengetahuan, pengalaman, dan interaksi pikiran.

Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman Saeozi merupakan contoh yang sangat memukau bagaimana melahirkan sebuah karya cemerlang. Novel ini meramu kedekatan penulisnya dengan masalah yang diangkat, keluasan wawasan, dan kekuatan bacaan. Jadilah novel yang berisi, cerdas, lincah, kaya inspirasi, menggoda, dan sekaligus mengharukan. Kekuatan rujukan menjadikan novel ini berbeda dari novel-novel umumnya yang ditulis oleh novelis negeri ini. Sekadar tahu, saat menulis, Habiburrahman mengacu pada sembilan kitab.

Tampaknya, Habiburrahman menulis novel ini berangkat dari kerisauannya terhadap masalah yang bekembang dimasyarakat, sementara pada saat yang sama ada dorongan untuk menyampaikan ilmu dan kebenaran. Ada komitmen yang sangat kuat dipegangnya.

Nah!

Cinta Itu Menumbuhkan Jiwa

Pernah mendengar nama Sha`aban Yahya? Ia pernah jatuh cinta pada seorang gadis Yogya. Karena alasan budaya, ia memendam kecewa-karena keinginannya untuk menikah tidak dapat terlaksana. Kepedihan yang ia rasakan, gejolak jiwa yang bergemuruh karena cinta yang tak sampai, menggerakkan ia mengubah arransemen music yang menyentuh. Alunan musik ini kemudian dikemas dalam album bertajuk Return to Yogya.

Tentu saja untuk membangkitkan kehebatan yang dahsyat, kamu tidak perlu merasakan pedihnya putus cinta. Hidup ini terlalu berharga jika hanya untuk putus cinta. Lebih-lebih putus cinta ketika kamu belum berhak memilikinya karena belum menikah. Akan tetapi, saya hanya ingin menunjukkan satu hal: cinta yang kuat dapat menggerakkan jiwa untuk penuh semangat, yakin, optimis, dan penuh harapan. Salah satu penyebab orang-orang Yahudi yang dididik di kibbutzim (semacam pesantren untuk orang-orang  Yahudi) memiliki ketajaman otak yang dahsyat, adalah kecintaan dan militansi mereka yang sangat kuat untuk mengabdikan apa yang mereka miliki kepada para perjuangan zionisme.

Nah, agar tulisanmu senantiasa penuh kekuatan dan dirimu senantiasa penuh dengan inspirasi, kamu belajar mencintai apa yang kamu tulis. Pada saat yang sama, kamu harus ingat bahwa itu semua hanya menjadi penting ketika didalamnya terkandung keutamaan. Gampangnya begini, meskipun saya tiap hari menulis tema pernikahan, tetapi saya tidak boleh terjebak pada tema-tema ini. Bila diwaktu lain ada tema yang lebih membawa maslahat dan sangat mendesak untuk ditulis, maka tema itu perlu saya tulis apabila Allah memberi kemampuan. Saya tidak boleh terjebak pada merk yang diberikan oleh masyarakat, sebagaimana saya tidak boleh mengungkung diri saya dengan satu label: saya seorang penulis. Menulis hanyalah alat untuk mendatangkan kemanfaatan, kebaikan, kemaslahatan, dan ridha Allah. Melalui jalan ini, justru hati kita menjadi ringan. Kita tidak sibuk dengan atribut kepenulisan yang mengungkung sehingga kita justru lebih kreatif dan inovatif. Ketika kita lebih banyak merisaukan masalah yang sungguh-sungguh ada dihadapan kita, baik kita alami sendiri maupun dialami orang lain, kita akan sangat kaya inspirasi.


Kemudian tulisan dengan tema lain menggunakan nama pena yang berbeda, misalnya, itu adalah persoalan lain. Penggunaan nama pena dengan jenis tulisan berbeda bisa dilakukan atas pertimbangan strategi pemasaran. Tetapi secara pribadi, dalam hubungan saya dengan Allah Azza wa jalla, tidak boleh saya membatasi diri jika memang ada amanah menulis untuk bidang yang mengharuskan keterlibatan saya.

Apa yang terjadi kalau tidak ada cinta saat menulis? Lorraine Monroe bilang, “If You don`t love the work you`re doing, you get sick-physically, mentally, or spiritually. Eventually, you`ll make others sick, too. ( jika kamu tidak mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan, kamu akan sakit-secara fisik, mental, atau spiritual. Bahkan bisa jadi, kamu akan bikin orang lain sakit).”

Apakah dengan cinta tulisan kamu dijamin menyehatkan jiwa? Nggak, sih. Mencintai pekerjaan saja tidak cukup untuk melahirkan karya-karya yang menakjubkan yang memiliki kekuatan luar biasa. Mencintai apa yang kita lakukan hanyalah prasyarat minimal agar kita nggak sakit secara mental dan spiritual sehingga bikin pembaca maupun orang lain ikutan sakit. Ingat, bacaan itu mempengaruhi mental orang yang membaca. Ingat penelitian McCleland yang menyingkap hubungan erat antara cerita dan sikap mental bangsa.

Jadi, ada satu lagi yang perlu kita miliki. Dedikasi. Kita nulis cerita yang hebat bukan demi kehebatan itu sendiri. Tetapi, kita abdikan untuk sebuah misi. Kita menulis untuk melakukan perubahan positif. Sekurang-kurangnya buat diri kita sendiri. Sungguh, kita dilahirkan untuk mengubah dunia karena Allah menciptakan kita sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu, ambillah kesempatan untuk menciptakan perubahan. Setidaknya mengubah diri kita sendiri.

Yes, we`re born to change the world .

Merangsang Inspirasi dengan Menajamkan Visi
Apa sih yang kamu inginkan dari menulis? Apa yang pernah kamu bayangkan tentang tulisanmu? Sebuah perubahan cara pandang? Sebuah peristiwa emosi ketika pembaca diaduk-aduk perasaannya, lalu merenungkan sejenak perjalanan hidupnya? Atau sebuah tulisan yang sekadar menjadi pembunuh waktu luang?

Apa manfaat yang kamu hasratkan dari setiap tulisanmu? Dan, apa manfaat yang ingin sekali kamu berikan kepada pembaca melalui setiap tulisanmu?Antara lain, inilah pertanyaan-pertanyaan mendasar yang perlu kamu jawab untuk merumuskan visi. Seperti kata Philip Kotler, visi merupakan an ideal standard of execellent (standar ideal kemampuan) yang ingin kita raih. Ia memberikan gambaran ideal dan mendorong kita untuk mencapainya.

Sebagian orang merumuskan visi dengan sangat jelas dan tertulis, sebagian lain berusaha untuk menuliskan, karena dengan ini, kita akan lebih mudah merasakan visi itu setiap kali bertindak, dan sebagian lain menghayati sebuah visi yang sangat kuat meskipun tidak bisa menuliskannya dengan jelas. Tiga M, perusahaan yang terkenal dengan produk-produk alat kantor itu, meraih prestasinya yang sangat cemerlang dengan menulis visi perusahaan dalam bentuk alur cerita strategis sehingga para karyawan dan pengambil keputusan lebih membayangkan gambaran ideal yang harus diraih. Begitu disebut dalam buku Ideas at Work.

Apakah visi harus kita tulis? Nggak, sih. Yang penting, kita merasakan sehingga timbul sense of importartance. Kita jadi peka pentingnya nulis. Kita juga peka sekali terhadap apa yang kita tulis, serta bagaimana menuliskannya. Seperti diterangkan oleh Philip Kotler dan kawan-kawan, visi yang kuat akan membangkitakan sense of purpose and direction (kepekaan terhadap tujuan dan arah). Kita peka banget ketika tulisan kita mulai melenceng dari tujuan. Secara perlahan, kita juga akan peka bagaimana tiap-tiap kata memiliki kekuatan yang berbeda untuk mengantarkan kita pada tujuan menulis. Kita jadi lebih peka terhadap lapis-lapis makna dari tulisan kita. Lebih lanjut tentang masalah ini, silakan baca dibagian tiga tulisan berjudul lapis-lapis makna.

Tidak hanya itu, visi yang kuat akan menggerakkan kita untuk menulis dengan antusias! Dan, sejarah orang-orang besar –termasuk di dalamnya sejarah penulis-penulis besar-adalah sejarah antusiasme yang luar biasa!

Nah! Wallaahu a`lam bish-shawaab 

*Ditulis ulang (tanpa penambahan sedikitpun) dari sebuah buku "Dunia Kata" oleh Sang Guru : Ustadz Mohammad Fauzil Adhim 

(annafi`ahfirdaus) 

gambar : smkwidyakarya.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar