Senin, 22 Desember 2014

Pelatihan Pendidikan Karakter Disiplin

Dalam pelaksanaan pendidikan karakter  membutuhkan kesengajaan dalam berusaha untuk menumbuhkan kualitas-kualitas personal seperti kejujuran, kebaikan hati, kearifan dan disiplin diri. Menjadikan anak didik memiliki sikap disiplin menjadi sebuah kebutuhan bagi setiap pendidik. Oleh karena itu setiap pendidik hendaknya tiada lelah belajar (baik teori maupun praktek) tentang bagaimana menjadikan disiplin itu sebagai hal yang harus melekat pada diri setiap anak didik. 
Berkaitan dengan hal tersebut maka JAN Training Team bermaksud untuk mengajak para guru, orang tua, mahasiswa, praktisi pendidikan dan siapapun yang berminat atau memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan untuk belajar bersama dalam acara "Pelatihan Pendidikan Karakter Disiplin." Adapun kegiatan tersebut akan diadakan pada:
    • Hari/Tanggal : Jum'at/26 Desember 2014
    • Waktu            : Jam 09.00-17.00
    • Tempat          : Rumah NAH!
Insya Allah dalam acara tersebut akan diisi oleh M.Fatan 'Ariful Ulum. Untuk itu kami menanti kehadiran anda sekalian untuk hadir dalam acara tersebut. Mari belajar bersama demi mendidik generasi selanjutnya agar semakin berguna bagi agama, bangsa dan negara. Nah!


NB: untuk informasi kegiatan dapat menghubungi nomor 0857 293 293 04 (SMS/WA)

Selasa, 25 November 2014

Kekuatan Buku





Oleh Fadlan Al Ikhwani

                     
Tahukah engkau bangsa Israel Raya? Mereka bangkit untuk menguasai dunia diantaranya karena pengaruh buku. Buku itu berjudul Der Judenstaat (The Jewish State) dan Altneuland (Old New Land) ditulis oleh seorang Yahudi asal Jerman bernama Theodore Hertzl. Digambarkan seakan mereka adalah penguasa dunia. Mereka pun berusaha mewujudkan kebenaran yang dipaksakan itu. 

Buku lainnya yang menggemparkan adalah Ayat-Ayat Setan (Satanic Verses). Penulisnya adalah Salman Rushdie. Buku itu berisi hujatan-hujatan kepada Rasulullah Saw. Sebagai akibatnya si penulis mendapatkan ancaman fatwa mati dari pemerintah Iran dibawah pimpinan Ayatollah Khomeini. Kendati demikian ia berhasil melarikan diri. Kabar terakhir justru malah mendapatkan penghargaan dari Ratu Elizabeth di Inggris. Betapa sangat memprihatinkan..

            Maka, ada dua pilihan bagimu. Yaitu menjadi penulis buku atau pembaca buku. Bila mampu menghasilkan tulisan bermutu, jadilah penulis buku. Warnailah peradaban. Keuntungannya luar biasa. Bisa mendapat royalti dunia (materi) dan royalti akherat (pahala). Mengapa bisa mendapat royalti dunia? Karena bila buku kita diterbitkan dan terjual di pasaran, sebagai konsekuensi kita mendapatkan sekian persen dari harga bandrolnya—sesuai perjanjian dengan pihak penerbit. Adapun royalti akherat (pahala) juga kita dapatkan bila buku kita menjadi jalan hidayah bagi seseorang sehingga berubah menjadi lebih baik. Senang kan? 

Itulah satu diantara sinyalemen dari Rasululullah Saw bahwasanya setelah meninggal dunia, seseorang itu terputus amalnya kecuali tiga perkara. Pertama, shadaqah jariyah. Kedua, ilmu yang bermanfaat. Ketiga, anak saleh yang mendoakan. Ya, buku yang kita tulis termasuk ketegori kedua. Bila buku kita dibaca banyak orang dan menjadi jalan hidayah, akan menjadi amal saleh yang terus mengalir pahalanya walau kita telah meninggal dunia. 

Adapun  bila enggan atau berat menulis buku, jangan bersedih. Jadilah pembaca buku. Para pembaca buku tidak akan pernah rugi. Para pembaca buku akan semakin tambah ilmu. Dengan membaca buku, wawasanmu akan bertambah. Cara berpikirmu pun akan berubah. Dan hidupmu pun akan lebih bergairah. InsyaAllah.

Al Jahiz pernah berkata, ” Buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu dan teman yang tidak akan membuatmu bosan. Dia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu, dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu dan dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang anda miliki. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan, dan tidak akan membuat kebohongan”.

Sudahkah engkau membaca buku hari ini?

Sumber gambar : penjajakata.wordpress.com

Rabu, 19 November 2014

Sekolah Jumat : Menjadi SDM yang Militan


Militan, lekat dengan mereka yang bersemangat tinggi, bekerja keras, dan penuh gairah dalam mencapai sesuatu. Militan, adalah mereka yang dicari untuk melakukan kerja-kerja besar untuk memberikan kemanfaatan bagi siapapun. 

Nah, Sekolah Jumat Pengembangan SDM pekan ini hadir kembali 
Jumat, 21 November 2014 
Jam 15.45-17.15
di Rumah NAH
"Menjadi SDM yang Militan"
Bersama Deniz Dinamiz 

GRATISSSS !!!!
Informasi pendaftaran 0878 3878 2421
Yuk rasakan dan sebarkan manfaatnya ....

Selasa, 04 November 2014

Cerdas dengan Gagal






                                                           oleh Deniz Dinamiz

“Selamat! Anda Gagal! Kesempatan untuk menjadli lebih cerdas!”

            Pernah mendapat kata-kata seperti ini setelah gagal melakukan sesuatu? Entah itu gagal memasukkan bola di gawang, mengerjakan soal di depan kelas, mengerjakan ujian semester, atau berlomba di tingkat nasional? Kalau belum pernah mendengarnya, saatnya mengatakan kata-kata tersebut pada dirimu sendiri! Terutama ketika gagal berhasil ditemui.

            Yup. Psikolog Carol Dweck, Ph.D. juga setuju. Kegagalan dapat mencerdaskan otak. Hal ini bisa terjadi karena kegagalan dapat memicu neuron otak untuk tumbuh dan membentuk koneksi neuron baru. Koneksi terjadi ketika otak sedang belajar. Begitu menurut psikolog yang meneliti cara manusia menghadapi kegagalan selama 40 tahun.

            Hasil penelitian Bu Carol juga mendapatkan hal lain yang tak kalah menarik. Mereka yang otaknya cerdas karena bertemu dengan si gagal, punya suatu pola pikir atau mind set tertentu. Namanya growth mind set. 

             Beda dengan lawannya, yaitu fixed mind set, pola pikir tumbuh (growth mind set) memiliki keyakinan bahwa bakat bukan segalanya. Usaha dan belajarlah yang membuat seseorang dapat mencapai tujuan. Tentu saja dengan ridlo Allah, sang Penguasa Kekuatan.
            Nah, ini beda banget dengan pola pikir macet (fixed mind set). Menurut dia yang memiliki pola pikir ini, bakat diyakini bersifat genetis. Seseorang dilahirkan menjadi seniman hebat dunia, juara renang tingkat nasional, atau juara matematika di sekolah. Menurut dia, sukses tanpa kerja keras itu wajar. Udah dari sononya pinter! katanya.

            Walhasil, ketika dia sendiri menemui kegagalan, harga dirinya serasa dicabik-cabik. Untuk membuat dirinya lebih nyaman, dia akan menyalahkan orang lain, berbohong, dan menghindari tantangan atau risiko di masa depan.

            Nah, yang manakah pola pikir kamu?         

Sekolah Jum`at Training Menjadi Trainer yang Menguasai Forum


Jumat, 17 Oktober 2014

Menulis adalah Persoalan Mission*




Pernah buntu mau nulis apa? Atau termasukkah didalam golongan penulis yang kalau ada mood baru menulis? Maka patut dipertanyakan satu hal mendasar kepada penulis. Apa misi (mission) yang ingin di raih? Satu kondisi jangka panjang yang ingin di raih penulis dengan tulisannya, tidak hanya di dunia terlebih di akhirat. Sebab, jika menulis adalah passion tak akan bertahan lama. Kalau passion hilang, menulis pun begitu. Misi adalah satu hal yang harus dimiliki penulis sejati. Misi ini yang akan menuntun penulis, tidak pernah lelah belajar, tetap menulis, dan tetap menjadi pembaca yang baik. 

Seperti halnya dalam agama kita yang mengerjakan mission, bukan passion. Ibadah shalat adalah aturan wajib bagi setiap muslim. Tak memperdulikan malas atau banyak pekerjaan. Setiap muslim wajib beribadah kepada Allah dengan shalat. Maka, menulis juga begitu. Masalahnya bukan suka dan tidak suka, tapi menulis untuk apa? Ummat butuh tulisanmu tentang apa? 

Setelah penulis memiliki mission yang jelas, hal berikunya adalah menguatkan dengan tiga daya. Meminjam dari kosa kata Ustadz Salim A Fillah yakni dengan daya ketuk, daya isi, dan daya memahamkan. Setiap penulis menggunakan huruf A sampai Z untuk menulis. Namun, kenapa tulisan setiap orang memiliki pengaruh yang berbeda? Ini yang disebut daya ketuk. Niat yang suci dan bersih akan memiliki dampak yang berbeda dengan penulis yang niatnya macam-macam. Salah satunya ingin terkenal atau mendapatkan uang. Mungkin, satu kali terbit menjadi best seller. Setelahnya tak begitu “besar” seperti yang pertama. Setiap penulis akan mendapat apa yang diniatkannya. Ingin best seller segera? Allah akan kasih, tapi hampa di akhirat kelak. 

Daya berikutnya adalah daya isi. Kalau seorang penulis ingin menulis tentang wanita, tentu harusnya ia tak asing dengan bacaan fiqh wanita bahkan sampai merampungkan baca. Seorang penulis yang memiliki mission di dunia pendidikan, tentu ia tak malas untuk membaca buku-buku tentang pendidikan terutama pendidikan islam. Intinya, setiap apapun yang ditulis bergantung kuat pada setiap bacaan penulis tersebut. Sebuah teko, apabila isinya air bening dan dituang ke gelas akan mengeluarkan air bening pula. 

Daya ketiga adalah daya memahamkan. Daya ketiga ini berkaitan erat dengan bagaimana cara kita memahamkan apa yang kita tulis kepada pembaca.  Mulai dari pemilihan kata, pemakaian tanda baca, dan bahasa yang disesuaikan dengan aturan. Ini adalah satu hal yang harus terus dilatih dan dilakukan (deliberate practice). Kemampuan menulis akan semakin baik dengan cara terus menulis dan senantiasa memperbaiki tulisan. 

Siap menjadi penulis? Bukan sekedar penulis abal-abal, namun penulis yang akan diperhitungkan oleh siapapun termasuk Allah. Penulis yang setiap deretan katanya dipercaya kebenaran dan kebermanfaatannya. Penulis yang memiliki mission mulia untuk ummat dan agama. So, “Jangan sibuk apa trend-nya sekarang, namun apa yang dibutuhkan? Bisa jadi kamu akan membuat trend yang mengalir kebaikan. Nah !!!

*Diolah dari hasil observasi Sekolah Jumat Menulis, Jumat 10 Oktober 2014 di Rumah Nah bersama Ustadz M Fatan Fantastik. 

Penulis    : Annafiah Firdaus

Selasa, 14 Oktober 2014

Sekolah Jumat : Pengembangan SDM Pekan Ini

Sekolah Jumat 

Ngaji Kamis Pagi di Rumah Nah


 Edisi berbeda kali ini, Kamis, 10 Oktober 2014 yang biasanya ngaji garasi di Rumah Ustadz Fauzil Adhim pindah ke rumah NAH (Jln Gotong Royong No.376 Yogyakarta). Ngaji kali ini, lesehan dan belajar dengan tema pendidikan yakni karakter dan kompetensi bersama Ustadz Fatan Fantastik. Acara dimulai tepat pukul 09.30 WIB sampai menjelang jam 11.00.

“Tujuan sekolah ada dua, membangun karakter dan kompetensi. Apa itu karakter, dan apa itu kompetensi? Karakter adalah kombinasi dari sebuah kualitas yang membuat seseorang berbeda dengan orang lain. Karakter  adalah apa yang tampak dan tidak tampak pada seseorang.” Penjelasan pemateri pagi ini (10/10).

Poin kedua dari tujuan sekolah atau pendidikan adalah kompetensi. Ustadz menjelaskan bahwa kompetensi itu kemampuan seseorang melakukan pekerjaan dengan baik. Kompetensi bukan sekedar bisa, tetapi melakukannya dengan usaha sebaik mungkin (ahsanu `amala).

“Ada tiga jenis kompetensi yang harus kita tanamkan ke peserta didik kita, pertama kemampuan untuk hidup ( Life Competence), kedua kemampuan akademis (Academic Competence), dan ketiga adalah kemampuan bekerja atau berkarir (Career Competence).”
Urip itu butuh ilmu,” lanjut beliau.

                Live Competence itu dibagi menjadi dua yakni Personal Competence dan Social Competence. Kecakapan seseorang untuk mengelola diri, baik berupa kelebihan ataupun kekurangan seseorang untuk menghasilkan manfaat adalah kompetensi pribadi. Sedangkan social competence itu berupa kemampuan seseorang untuk hidup dengan orang lain, diantaranya berkomunikasi dengan baik, atau bagaimana bekerja sama dengan orang lain.”

“Selesaikan dengan dirinya sendiri (Personal Competence) , kemudian baru ke hal Social Competence. Jika Social Competence sudah beres, engkau akan mudah menjawab cita-citamu dan rencana hidupmu kelak. Maka, materi seperti ini harusnya masuk ke dalam lingkungan kurikulum sekolah.”

Kompetensi kedua adalah urusan akademis (Academic Competence). Kompetensi ini dibagi menjadi dua, pertama Learning Attitudes (belajar) dan kedua Learning Skill (keterampilan belajar). Kompetensi pertama Learning Attitudes yang harus ditanamkan oleh pendidik adalah sikap sangat postif terhadap belajar. Bukan sibuk murid itu bisa apa, namun kecintaan, suka, senang, serta minat untuk belajar. Murid suka membaca diutamakan, sebelum bisa membaca.

Kompetensi akademik kedua adalah bagaimana murid memiliki keterampilan untuk belajar (Learning Skill). Dalam hal ini murid memiliki beberapa keterampilan dalam hal belajar, diantaranya berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan berkolaborasi dengan teman yang lain.

                Kompetensi terakhir yang harus ditanamkan kepada murid adalah Career Competence. Dalam hal ini, pertama yakni soft skill murid memiliki kualitas yang memungkinkan menjadi pribadi yang produktif, sukses, dan berharga. Semakin hari tambah ilmu, selayaknya mendapati murid yang takut kepada Allah (keagungan Sang Pencipta) serta tambahnya amal shaleh yang dilakukan. Kedua Hard Skill, murid memiliki pengetahuan yang membuatnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi kebutuhan kolektif orang banyak serta keberhasilannya dimasa mendatang.

“Karir harusnya bukan masalah passion, tapi masalah mission. Kalau sekedar gairah, maka tidak akan bertahan lama ketika gairah itu hilang. Mission itu berkaitan dengan apa yang dibutuhkan kolektif atas diri kita. Bukan urusan suka dan tidak suka pada, tapi Allah ridho atau tidak,” penutup oleh Ustadz Fatan ngaji kamis pagi di Rumah Nah. (AF)

















Senin, 13 Oktober 2014

Ngaji Garasi #1 Oktober

Kamis 02/10/2014, seperti biasa diskusi rutin JAN berlangsung di garasi rumah Ustadz Fauzil Adhim. Pada pertemuan kali ini membahas tentang hukuman dalam konteks pendidikan. Di awal perbincangan Ustadz Fauzil menyampaikan 2 hal yang menjadi sumber masalah dalam pemberian hukuman. Diantara penyebab masalahnya adalah pertama, jika hukuman itu diberikan kepada anak yang tidak sengaja melakukan kesalahan. Kemudian yang kedua adalah mengenai takaran dalam pemberian hukuman. 

Dua hal tersebut jika tidak tepat maka akan menimbulkan perilaku submisif. Perilaku ini merupakan suatu perilaku dimana siapa yang kuat dia yang menang. Perilaku submisif membuat suasana yang tak terkendali, baik di rumah maupun di sekolah.

Mengenai hukuman, ustadz Bagus dalam forum ini menyampaikan bahwa malpraktek dalam menghukum dapat menumbuh kembangkan masalah. Sementara ketidak adilan dalam menghukum dapat menyuburkan pembangkangan. Maka perlu juga dikenali mengenai kesalahan dalam memberikan hukuman diantaranya: Hukuman yang diberikan tidak sesuai takaran
  1. Hukuman yang diberikan tidak tepat obyeknya
  2. Hukuman diberikan kepada orang bodoh atau dalam keadaan sangat terpaksa
Lalu apa penyebab terjadinya kesalahan dalam memberikan hukuman? Ada 2 hal diantaranya: pertama tidak mengetahui hak. Kedua, tidak menunaikan hak.  Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman, diantaranya:
  1.  Takaran yang tepat
  2.  Telah sampainya Ilmu
  3. Kejernihan emosi ketika menunaikan hukuman
  4. Kesesuaian dengan kondisi objek.
Pada kesempatan ini, ustadz Bagus menyampaikan dalam forum mengenai beberapa kandungan dalam ayat Quu anfuskum wa ahlikum naara…. (QS. At-Tahrim : 6) beberapa kandungan yang ada di dalamnya antara lain:
  • Menghentikan keluarga dari perbuatan yang mengantar ke neraka
  • Memberikan pelajaran tentang hal-hal yang harus dijalani, apa bila ditinggalkan maka akan mengantar ke neraka
  • Memberikan pelajaran tentang hal-hal haram, apabila dilakukan maka akan mengantar ke neraka
  • Mengubah/mendidik kebiasaan yang mengantar ke neraka. Dalam hal ini memberikan hukuman kepada anak sebagai upaya agar anak terjauh dari neraka.
Penerapan ayat tersebut dalam keluarga diantaranya adalah memerintahkan anak untuk sholat. Dalam memerintahkan anak untuk sholat mengandung keberatan yang harus disabari, antara lain:
  1. Sabar untuk selalu memerintahkan sholat
  2. Kesabaran untuk menerima kealotan/pembangkangan dari keluarga. Adapun sebab kealotan itu ada 2 hal yaitu pertama, besebab kebodohan dan kefasikan. Kedua bersebab kondisi fisik yang sedang dialami.
  3. Sabar dalam menghukum dan menegakkan disiplin. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi yaitu mengajari anak sholat pada umur 7 tahun dan memukulnya pada umur 10 tahun jika tidak sholat. Mengenai memukul anak ini ada ada syarat dan ketentuannya yakni ketika pembangkangan yang dilakukan oleh anak merupakan sebuah kefasikan.
Wallahu a’lam
(Ano)