Jumat, 30 Mei 2014

Dicari: Sekolah yang Sungguh-Sungguh Mendidik! #Part 1



Kamis, 29 Mei 2014, pukul 08.28 empat orang peserta putri dan dua orang peserta putra duduk dengan tenang di deretam kursi barisan depan. Dengan seksama, mereka menyimak pembukaan acara talkshow pendidikan sesi pertama.

Kali ini, ada yang berbeda dengan acara talkshow pendidikan yang pernah digelar JAN sebelumnya. Meski masih memilih lokasi yang sama, lantai 3 Omah Dakwah Pro-U Media, acara talkshow pada kesempatan ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dijadwalkan pukul 08.00-11.30, sedang sesi kedua adalah pukul 13.30-17.30.

Acara dibuka oleh MC, Irfan Idris dan dilanjutkan dengan pembacaan kalam Illahi oleh Akha. Host pada acara talkshow sesi pertama ini adalah Denis Dinamis. Ditunjuk sebagai pembicara utama pada kesempatan ini adalah Ustadz Bagus Priyosembodo.

Host memberikan pengantar tentang kapasitas daya ingat serta pemantik dengan pertanyaan-pertanyaannya terkait sekolah, tujuan dibangun sekolah, serta pertanyaan lainnya. Pukul 09.16, host mempersilakan pembicara utama sesi pertama.  

Ada banyak manusia Istimewa di dunia ini. Jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Sedangkan di antara mereka, ada 25 orang yang dikabarkan kepada kita. Kita mengenal mereka dengan sebutan “Nabi”. Ustadz Bagus memulai penyampaian materinya.

Di antara manusia istimewa ini ada manusia yang derajatnya lebih istimewa lagi. Yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad. Kemudian di antara manusia yang lebih istimewa ini ada yang lebih istimewa lagi, yakni Nabi Muhammad SAW.

Sejurus kemudian, ustadz Bagus bertanya kepada audiens, “Kalau berbicara mengenai Nabi Nuh A.S. apa yang teringat?” Kapal, banjir, dan fragmen tentang tenggelamnya orang-orang kafir mungkin akan memenuhi benak kita. Tapi ada satu hal yang patut kita pelajari dari kisah hidup Nabi Nuh. Nabi Nuh adalah nabi yang putranya bahkan menjadi kafirin. Orang yang seharusnya sangat terpukul, lebih terpukul dari seorang guru yang muridnya menjadi  seorang penjahat. Nabi Nuh adalah orang yang gigih. Beliau berdakwah ratusan tahun, meski pengikutnya tidak sebanyak dengan Nabi Muhammad yang diberi usia 63 tahun.

Lalu, ketika kita berbicara mengenai nabi Ibrahim A.S. apa yang akan teringat? Api, dibakar tidak hangus, mungkin itu yang lebih banyak diingat dari kisah-kisah Nabi Ibrahim. Kemudian, Ustadz Bagus mencoba memantik daya pikir peserta dengan menyinggung konsep Character dan Competence yang telah diterangkan host sebelumnya.

Kemudian peserta merespon dengan menyebutkan berbagai sifat yang mereka kenal tentang sosok nabi Ibrahim. Seorang peserta di barisan depan menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah sosok yang cerdas. Kemudian ia menyampaikan tentang kisah Nabi Ibrahim AS ketika mencari hakikat Tuhan.

Dari pernyataan seorang peserta tentang kisah pencarian hakikat Tuhan oleh Nabi Ibrahim ini kemudian dibantah oleh Ustadz Bagus Priyosembodo. Beliau menyampaikan bahwa kisah itu tidak benar. Banyak mufasir yang mengatakan bahwa kisah di dalam Al Qur’an terkait pertanyaan tentang Tuhan adalah bahasa Nabi Ibrahim untuk mengedukasi ummatnya. Hal ini bukan menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim sedang kebingungan tentang siapa Tuhannya.
Pertanyaan selanjutnya terkait kehidupan Nabi Musa AS. Beberapa peserta tertawa kecil saat Ustadz Bagus mempertanyakan apakah mereka akan menyampaikan tentang ular dan tongkat? Ustadz Bagus mengulas mengenai pendidikan nabi Musa AS yang saat itu belum ada sekolah. Disebutkan bawha ada pelajaran penting yang terkandung di dalam AL Qur’an. Apa itu? Ketika Musa bertemu dengan dua perempuan. Nabi Musa terpercaya tidak menggoda perempuan.

Ustadz Bagus kemudian beralih untuk membicarakan tentang nabi Isa AS dan langsung dilanjutkan dengan membahas Nabi Muhammad SAW. “Siapa gurunya Nabi Muhammad, sekolah dimana, kurikulumnya seperti apa?” tanya Ustadz Bagus. Lalu, diajukanlah pertanyaan yang lebih mendasar, “Nabi Muhammad punya sekolah atau tidak?” Audiens menjawab, “Tidak!”

“Nabi Muhammad belajar atau tidak?” tanya Ustadz Bagus kemudian.
“ Ya!” jawab peserta serentak.
“Berarti nabi Muhammad adalah orang yang belajar tapi tidak sekolah,” Ustadz Bagus menyimpulkan.

“Pagi hari ini kita sampai pada perkataan bahwa seseorang bisa giat belajar tanpa sekolah. Contohnya adalah Rasulullah SAW. Kemudian, banyak orang menjadi istimewa tanpa lulus dari sekolah tapi mereka semuanya belajar.” Kurang lebih kalimat-kalimat itu yang kemudian ditekankan oleh Ustadz Bagus di sesi awal pembicaran tentang di manakah sekolah yang benar-benar mendidik.

Tempat Nabi Muhammad SAW belajar adalah dalam asuhan Halimah, Abdul Mutholib, dan Abu Tholib. Dari sini kemudian bisa ditelusuri sifat-sifat dari masing-masing tokoh tersebut. Selain nama-nama penting orang-orang yang berpengaruh mendidik Rasulullah,  ada 3 lingkungan penting, yaitu lingkungan Bani Sa’d, lingkungan Abdul Mutholib dan lingkungan Abu Tholib.

Lingkungan Bani Sa’d adalah lingkungan bahasa yang fasih dan bersih dari kekacauan. Dari sini kita perlu kita mencermati bahwa jikalau kita ingin seorang anak tumbuh dengan baik maka perhatikanlah apakah anak tersebut tumbuh dalam lingkungan yang berbahasa baik.

“Itukan para nabi, yang tanpa kita cari formuliasinya ia akan menjadi orang yang luar biasa, “ tutur Ustadz Bagus. Lalu kita lihat orang-orang baik setelah para nabi dan Rasul. Abu Bakr, Utsman bin Affan, Sa’d bin Abi Waqosh. Nama-nama ini adalah orang yang luar biasa di sisi Rasulullah.
Abu Bakr, orang yang kalau mengimami menangis, orang yang kalau tidak punya uang tetap tegar, dermawan, sahabat yang utama. Pertanyaan utamanya adalah, sekolahnya Abu Bakr ada dimana?

Selanjutnya ada 10 nama yang berderet dijamin masuk surga. Kembali kita bertanya, dimana sekolah orang-orang luar biasa ini? Atau  kita tingkatkan ke pertanyaan selanjutnya, bagaimana proses belajarnya?

Ustadz Bagus kemudian berkata, “Baik, kita akan beralih ke negri sendiri. Terlepas beliau ini baik atau buruk.” Peserta talkshow diminta menyebutkan tokoh-tokoh Indonesia yang mereka anggap baik. Audiens ada yang menjawab, Ratu Sima, Gadjah Mada, Pangeran Diponegoro, Kyai Mojo, Hamka, RA Kartini, dan lain-lain.

Ustadz Bagus kemudian memberikan selingan dengan menyampaikan lagu yang harom diperdengarkan kepada anak-anak. Yakni lagu “Balonku”. Kata beliau, lagu  “Balonku” mengajarkan anak-anak tidak tawakal ‘alalloh. Balon pecah satu saja hatinya sangat kacau. Tentu ini sifat yang tidak terpuji.
Kembali ke tokoh, Ustadz Bagus meminta audiens yang menyebutkan nama Ratu Sima untuk menerangkan seperti apa Ratu Sima. Peserta, Zudi, menyebutkan bahwa Ratu Sima adalah penguasa yang cerdas, menghukum keluarga sendiri dengan potong tangan, seorang penguasa kerajaan.
Ustadz Bagus kembali bertanya kepada Zudi, “Siapa gerangan Gadjah Mada?” Ustadz Bagus menyebutkan, “Hayam Wuruk adalah mentor dari Gadjah Mada”.

R.A. Kartini adalah akhwat yang “belum jadi”. Dikatakan bahwa R.A. Kartini sering disebut membuka jalan terang karena berani menyerukan pendidikan untuk kaum perempuan. Tapi R.A. Kartini belum mewujudkan sekolah yang bermutu. “Kartini adalah murid dari K.H Sholeh Darat. Jadi Kartini ini satu guru dengan K.H Hasyim Asy’ari dan K.H. Ahmad Dahlan,” seru Ustadz Bagus.

Bicara tentang Pangeran Diponegoro, maka tidak bisa lepas dari Kyai Mojo. Kyai Mojo adalah seorang guru yang telaten mengurus santri-santrinya. Diponegoro di akhir perjalanan hidupnya disebutkan Ustadz Bagus, “sedikit menyimpang”. Hal ini kemudian membuat Kyai Mojo sedikit menjauh dari Pangeran Diponegoro. Tempat yang pernah di singgahi pasukanya pangeran diponegoro atau santrinya Kyai Mojo kita jumpai menjadi tempat yang religius.

Ustadz Bagus menunjukan buku “Sejarah Pendidikan ISLAM” kemudian beliau menjelaskan bahwa banyak manusia yang istimewa dan ‘jadi’ tanpa sekolah. Jadi keliru kalau ada orang yang mengatakan harapan satu-satunya untuk menjadi manusia istimewa adalah jalan sekolah. Di dalam buku Prof. Ahmad Salabi, ada satu bab yang ditempatkan di bab awal mengenai tempat-tempat untuk memberi pelajaran. Dan beliau menyebutkan dalam kitabnya ini ‘tempat-tempat belajar sebelum sekolah didirikan.’ Beliau menyebutkan yang pertama Kutab kalau zaman dahulu diselenggarakan di masjid, sekarang disebut sebagai TPA. Berikutnya adalah Toko Kitab, Rumah Para Ulama’, Salon Kesusastraan (Sanggar Sastra), padang pasir, masjid.

“ Harusnya Masjid, Toko Kitab, Rumah para ulama’ itu menjadi tempat sumber ilmu pengetahuan. Sudah saya sebutkan tempat-tempat yang jika orang hadir di situ bisa pandai tanpa tempat itu disebut sebagai sekolah, “ tutur Ustadz Bagus.

Tempat belajar yang baik antara lain adalah berhubungan dengan orang yang ahli ‘ilmu. Maka seseorang itu bisa menjadi istimewa tanpa sekolah asalkan dia ini belajar secara sungguh-sungguh kepada ahli ilmu. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang masuk kedalam sekolah tapi tak ada hubungan baik dengan ahli ilmu atau ada tapi tak belajar dengan baik, maka dia tidak akan menjadi orang yang baik meskipun dia rajin sekolah. Karena rajin sekolah itu tidak sama dengan rajin belajar.

Dalam Quran Surat Al-A’la disebutkan bahwa kosakata dalam Islam, dalam hal ini yang merujuk pada Al-Quran, istilah yang sesuai untuk pengajar adalah mu’alim. Tempat di mana proses pengajaran berlangsung disebut dengan majelis ta’lim.

Ustadz Bagus bertanya, “Murid yang pertama bernama siapa?” Jawabannya adalah, Adam.
Adam dan para malaikat diuji oleh Alloh. Malaikat diuji dengan pertanyaan tentang sesuatu yang belum pernah diberitahukan atau diajarkan kepada malaikat. Ujian ini bukan untuk mengetes sajauh mana pengetahuan malaikat, melainkan untuk menunjukan bahwa malaikat itu tidak tahu atau dalam istilah negatifnya adalah bodoh. Sedangkan ujian yang ditujukan kepada Nabi Adam adalah, untuk mengetahui sejauh mana Nabi Adam memahami apa-apa yang telah diajarkan oleh Allah kepadanya. Yaitu saat Allah menyuruh Adam menyebutkan benda-benda yang belum diajarkan kepada malaikat.

Murid adalah orang yang hadir dalam mejlis ilmu untuk mendapatkan kebaikan.
Ada beberapa jenis orang yang hadir di majelis ilmu:
Hadir tetapi tidak sadar
Hadir tetapi tidak berfikir
Hadir, berfikir tetapi tidak berkemampuan belajar.

Syarat belajar adalah memiliki modalnya, yaitu modal otak dan alat (bahasa).
Kalau ada orang yang hadir tapi tidak menyukai gurunya apa yang akan terjadi?
Ustadz Bagus kemudian bertanya kepada seorang peserta, “Kalau ada murid tidak suka dengan gurunya, bisakah orang ini menguasai pelajaran itu?” Banyak audiens yang mengatakan masih memungkinkan.

Ustadz Bagus bertanya lagi, “Kalau murid tidak percaya kepada guru, bisakah sukses belajar?”
Tidak mungkin.
“Murid percaya sama guru tapi tidak suka sama gurunya, mungkin berhasil atau tidak?”
“Bisa atau mungkin.” Seorang murid bisa berhasil dengan alasan mutlak adalah seorang murid percaya dengan gurunya. Seseorang itu bisa menjalani sesuatu yang tidak disukai. Maka, ketika akan menikahi seseorang perhatikan apakah orang ini bisa dipercayai atau tidak. Bukan karena alasan mencintai atau tidak. Demikian pula dalam mencari sekolah dan dalam menyekolahkan anak, patutkah sekolah dan guru-guru di sini untuk dipercaya (dalam hal mengajar dan mendidik)?

Mengajar dan mendidik itu berbeda. Ada orang yang mampu mengajar tapi tak mampu mendidik. Ketika seseorang memiliki ketrampilan menguasai bahan ajar dan menguasai metode mengajar maka orang ini layak menjadi pengajar yang baik.
Ustadz Bagus juga menyampaikan tujuan pendidikan yang benar. Karena di sinilah yang akan menjadi pembeda besar.

Pukul 10.50. Sesi tanya jawab dipersilakan oleh host. Beberapa audiens bertanya kepada Ustadz Bagus priyo sembodo.
Berikut ini adalah point dari pertanyaan:
1.bagaimana kalu kita tidak percaya dengan sekolah, lalu bagaimana sikap kita?
Jawaban ustadz Bagus:
a.Homeschooling
à orang tua membuat sekolah dirumah dengan pengelola dan pengajar bisa orangtua anak sendiri.
b.Unschooling
àmenolak sistem persekolahan. Dirumah juga tidak sekolah. Belajar tanpa sekolah. Ada berbagai macam variasinya misalnya berbentuk seperti bajak laut yang tidak terstruktur.
c.Comunity Schooling
à sekumpulan orang tua yang tidak menyetujui sekolah dengan gaya umum, kemudian bekerjasama dengan keluarga yang lain untuk mendirikian sekolah terbatas dengan maksud sesuai orang tua dengan lingkungan yang terbatas.

Tapi ketiga hal ini harus ada benang merahnya, yaitu:
1.Belajar sungguh-sungguh, 2.Ahli ilmu, 3.Disiplin.
Sekolah itu bisa dipercaya ketika sekolah itu bisa menghantarkan kepada tujuan pendidikan. Maka, kita perhatikan apakah dia pensukses atau penggagal tujuan kita.

Satu diantara indikator keunggulan Sekolah Dasar adalah sebagai berikut:
Seluruh lulusan:
a.Hafal Juz 30 dengan lancar dan benar.
b.Sholat dengan baik dan mandiri. Bisa sholat subuh tanpa susah dibangunkan, sakit tetap sholat.
c.pantang dusta dan mencuri- ghosob.
Hal diatas adalah pencapaian standard di sekolah itu. Jangan tertipu dengan nama sekolah, tapi perhatikan hakikatnya.

2.Hadits, “ajarkanlah anak-anak kalian ketika mereka berusia 7 tahun. Pukul mereka ketika mereka berusia 10tahun.” Dalam hal ini maka usia 7 tahun sudah diperintahkan untuk sholat tapi tidak diberikan sanksi. Kalau ada yang memberikan sanksi, maka hal ini menyelesihi sunnah. Kalau usia sudah 10tahun tapi belum mau sholat boleh diberi sanksi yang bersifat edukatif.

3.sifat Halimah As Sa’diyah. Penyayang, fasih dalam berbahasa, sederhana, miskin. Anak-anak yang ditumbuhkan serba fasilitas akan menjadikan pribadi yang lemah. Kepandaian orang yang perlu ditumbuhkan sampai nanti adalah yang bisa survive dan berbahagia dalam kesederhanaan. Penggunaan bahasa yang buruk adalah satu diantara 10 indikator buruknya karakter dan runtuhnya peradaban bangsa.

Pukul 11.33, host menyatakan bahwa karena keterbatasan waktu maka jikalau ada pertanyaan bisa melalui email pakbagus09@gmail.com atau @orangawam1

Allah SWT berfirman, “Tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” Maka sekolah harusnya mengacu pada hal ini, mendukung hal ini.
Seorang anak dilahirkan atas fitrah, maka tanggung jawab seorang anaorang tualah yang meyahudikan dia, memajusikan dia, menasranikan dia. Maka kalau kita mendidik anak kita, jauhkanlah dari nilai nasrani, yahudi dan majusi. Hari ini banyak orang tua mendidikkan nilai-nilai yahudi, nasrani dan majusi tanpa sadar, bahkan menyerahkan dengan ikhlas untuk dididik demikian. Bahkan di sekolah islam sekalipun.



Diolah dengan perubahan seperlunya dari naskah observasi Fauzan Permadi
Admin: EM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar