Rabu, 25 Juni 2014

Leadership Training Camp Kabupaten Batang

Alhamdulillah setelah perjalanan sekitar enam jam dari Jogja, Jumat 21 Juni 2014 pukul 09.30 tim JAN sampai di lokasi yang dijanjikan panitia. Setelah mengisi perut untuk memberikan asupan energi di sebuah kedai kaki lima, tim JAN berangkat menuju tempat menginap malam itu. Tim putri menempati rumah saudari Uswatun Hasanah, sedang tim putra menempati rumah lain di gang yang berbeda.

Paginya, usai sarapan bersama dan koordinasi tim, kami menyempatkan menyusuri beberapa tempat oleh-oleh di Kabupaten Batang. Usai membeli oleh-oleh, mobil pun melaju menuju Agrowisata Selopajang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang. Sekitar dzuhur kami pun sampai di lokasi Leadership Training Camp 2014. Di sini, para peserta mulai berdatangan dengan perlengkapan kemah masing-masing. Usai registrasi dan mendirikan tenda, acara pembukaan pun dimulai sekitar pukul 16.45. Usai pembukaan, langsung disambung dengan materi karakteristik kepemimpinan yang dibersamai oleh Denis Dinamis.

Berikut foto kegiatan LTC Kab. Batang 2014

 






 







Sabtu, 21 Juni 2014

Ilmu Wajib diburu oleh Kita, Guru

Oleh Annafi`ah Firdaus
Kenapa harus berilmu? Tentu agar amal dilakukan dengan benar. Sederhana begini, kita ingin menanak nasi tapi nggak tau gimana caranya. Seberapa ukuran berasnya, air yang dibutuhkan, berapa lama kira-kira diletakkan diatas api. Bisa jadi bukan nasi putih yang siap disantap dengan hangat. Nasi sangat lembek atau terlalu keras bahkan gosong yang terjadi. Sia-sia bukan?
Kenapa kita harus berilmu? Tentu ia adalah pembenar niat dan pembetul amal. Kita tak tahu niat yang benar, bagaimana bisa kita berniat dengan benar. Kita juga tak paham bagaimana beramal dengan benar, bagaimana amal bisa betul?
Ilmu adalah petunjuk untuk melakukan sesuatu dengan benar. Mengutip dari tulisannya Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya Fiqih Prioritas, sesungguhnya ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas amal perbuatan. Pembeda antara yang haq dan bathil dalam keyakinan. Pembeda antara benar dan salah dalam perkataan mereka. Pembetul tindakan halal dan petunjuk tindakan haram. Nah, sangat penting bukan kita harus berilmu?
Ilmu adalah dasar kita bertindak agar berlaku benar. Tanpa ilmu, malah kerusakan dan kesia-siaan yang kita perbuat. Seperti ucapan khalifah Umar bin Abd al-Aziz, “Barang siapa melakukan suatu pekerjaan tanpa ilmu pengetahuan tentang itu maka apa yang dia rusak lebih banyak dari pada apa yang kita perbaiki. Bukankah alat penanak nasi bisa rusak ketika kita pakai dengan tanpa ilmu? Apalagi kalau kita melakukan sesuatu yang besar dan penting tanpa ilmu, kerusakan pasti terjadi dimana-mana.
Guru, harus Berilmu
Berdetik-detik, bermenit-menit, berjam-jam, berhari-hari, bahkan dalam mungkin ada dalam hitungan kumpulan bulan dan tahun seorang guru mengajar dikelas. Untuk banyak pasang mata, pasang telinga, dan terutama hati mereka. Bisa dibayangkan ketika guru mengajar tanpa landasan yang benar? Tanpa hujjah yang nyata?
Kita sebagai guru (dimanapun itu) adalah pusat ilmu dalam kelas-kelas atau forum-forum kajian. Maka dari itu, tanpa ilmu yang benar, apa yang kita ajarkan? Kita harus berilmu supaya tak salah mendidik. Menyampaikan nilai-nilai kebenaran dengan cara terbaik supaya terbentuk insan terbaik. Menjadikan pondasi-pondasi penanak nasi yang memiliki ilmu. Insan manusia yang tidak membuat kerusakan. Justru kebaikan akan tertanam dimanapun anak berada.
Kita harus mengetahui kemana anak didik dibawa. Siapa Rabb mereka. Siapa pencipta mereka dan untuk apa mereka di cipta. Kita adalah rabbani. Guru adalah sempurna ilmunya dan bertaqwa. Seorang Guru adalah rabbani karena mengajar kitab bersebab mempelajarinya.
“…, “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah)
, karena kamu selalu mengajarkan  al-Kitab dan disebabkan kamu telah mengajarinya.”
(QS Al-Imran : 79) 
Definisi lain rabbani yang ditulis Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya ialah orang yang mengajar dengan ilmu kecilnya, sebelum ilmu besar. Ilmu kecil yang dimaksud adalah ilmu sederhana, namun jelas penjelasannya. Ilmu menanak nasi juga termasuk ilmu kecil. Ilmu yang kita butuhkan sehingga tak berbuat kerusakan. Baik pada nasi itu sendiri atau alatnya. Ilmu yang ditulis dalam tulisan ini juga tulisan sederhana.
Mengajar adalah sebuah seni mendidik agar dekat dengan nilai-nilai kebenaran. Membutuhkan proses dan tentu bertahap serta memperhatikan kondisi dan kemampuan anak didik. Seorang anak berumur masih belia, tentu ilmu sederhana bagaimana birrulwalidain tentu lebih dibutuhkan. Kabar gembira tentang adanya Surga untuk orang beriman tentu akan membuat anak didik semakin cinta dengan RabbNya.
Yuk selalu berburu ilmu, walau sebatas bagaimana menanak nasi. Itu baru ilmu dunia. Ilmu yang sifatnya Fardhu harus menjadi prioritas nomor satu. Ilmu bagaimana beribadah kepada Allah sesuai tuntunan Rasulullah. Agar tak salah, tak sia-sia, dan tertolak. Nah!

Sumber Ilmu : Qardhawi, Yusuf. FIQIH PRIORITAS : Sebuah Kajian Baru Berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Penj : Bahruddin F—Jakarta : Rabbani Press

Syaikh Ahmad Khatib Al Minankabawiy : Guru Para Guru, Sahabat Para Pahlawan*





oleh Zudi Saputro

PART 1

Kalian tahu dan kenal sosok KH. Ahmad Dahlan pendiri Persyarikatan Muhammadiyah? Kenal KH. Hasyim Asy'ariy pendiri Jami’ah Nahdhatul 'Ulama (NU)? Pastinya tahu. Kenal tokoh-tokoh Islam lainnya seperti HOS Tjokroaminoto pendiri Syarikat Islam (SI), The Grand Old Man H. Agus Salim, atau Buya HAMKA Ketua MUI yang pertama itu? Pasti juga tahu. Setidaknya, dari buku-buku sejarah yang sudah kita baca sejak SD. Tapi tahu dan kenalkah kamu dengan guru(-guru) mereka? Siapa sih orang yang berhasil mendidik mereka hingga sehebat itu, menjadi tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan bagi negeri penduduk Islam terbesar di dunia ini? Yang ini seharusnya kamu lebih tahu. Jika belum, kamu harus berkenalan. Nah, sejenak mari kita mengenal salah satu tokoh sejarah ini.

Tokoh satu ini barangkali tidak tertulis dalam buku-buku sejarah di sekolah kita. Namun  percayalah, di balik kesuksesan semua tokoh nasional yang kita sebut di atas, nama beliau tersangkut. Beliaulah guru mereka semua. Beliau pantas kita predikati Guru Para Guru.

Nasab yang Mulia
Syaikh Ahmad Khatib lebih dikenal umum sebagai Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (atau Al Minankabawiy dalam bahasa Arab), yang menunjukkan asal kelahirannya, Minangkabau (Sumatera Barat). Beliau lahir Senin, 6 Zulhijjah 1276 H/26 Jun 1860 M (atau 1855 M), dan wafat di Mekah, 9 Jumadil awal 1334 H/13 Maret 1916 M. Nama lengkapnya ialah Beliau bernama lengkap Al ‘Allamah Asy Syaikhul Ahmad Khatib bin ‘Abdul Lathif [bin ‘Abdurrahman] bin ‘Abdullah bin ‘Abdul’aziz Al Khathib Al Minangkabawi [Al Minkabawiy] Al Jawi Al Makki Asy Syafi’i Al Atsari rahimahullah. Nasab beliau sangat mulia. Dari garis ibu beliau adalah keturunan Tuanku Nan Renceh, tokoh Paderi yang disegani. Dari garis bapak sampai kepada. Khatib Nagari, ulama-bangsawan Negeri Minang. Perpaduan nasab yang mulia ini di kemudian hari nampak bekasnya dalam diri beliau. Beliau menjadi ulama yang kuat dan tegas memegangi prinsip-prinsip dasar Islam dan pro-pembaruan sebagimana para ulama Paderi terdahulu, tetapi juga tidak kehilangan akar tradisonalnya –beliau tetap memilih bermazhab, mazhab Syafii, mazhab yang dianut mayoritas muslimin Indonesia.

Mendalami Agama Islam Sejak Kecil
Beliau mendapat pendidikan awal dari sekolah pemerintah Belanda di Minangkabau selain menerima pendidikan agama dari keluarga sendiri. Kepintaran, kecerdasan, kecemerlangan, serta kesungguhan beliau dalam menunutut ilmu telah nampak sejak usia beliau. Oleh karena itu, keluarganya begitu yakin bahwa Ahmad kecil harus menimba ilmu lebih dalam lagi dari sumbernya langsung, tanah haram.

Menetap di Mekah, dan Tidak Pulang Lagi
Sejak umur 11 tahun, beliau menetap di Mekah. Setelah berada di Mekah barulah beliau mendapat pendidikan agama yang mendalam dari ulama Mekah terutama Sayid Bakri Syatha, Mufti Mazhab Syafi’i Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki dan lain-lain, termasuk mertuanya sendiri, Muhammad Shalih Al Kurdi, pemilik toko buku (kitab) di Mekah.

Menjadi Imam Besar, Khatib, dan Mufti di Mekah 
Ketika dewasa, beliau menjabat sebagai imam dan khatib di Masjidil Haram. Sebagai seorang imam shalat artinya beliau dipercaya oleh pemerintah dan ummat Islam setempat menjadi imam pemimipin shalat jama'ah di masjid kiblatnya ummat Islam itu (terutama saat giliran jamaah Syafiiyah). Berarti bacaan Al Qurannya sangat fasih dan  -tentunya- sangat menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu Al Quran. Sebagai khatib beliau dipercaya sebagai ulama yang senantiasa mengajarkan Islam di sana alias menjadi gudangnya ilmu Islam. Dan sebagai mufti, beliau siap dimintai fatwa-fatwanya. Julukan Al Khatib yang tersemat dalam namanya ditambahkan ketika beliau resmi diangkat menjadi mufti, maknanya adalah ‘seorang Khatib/Mufti dari Minangkabau. Wuih, hebat, padahal orang Nusantara lho!

Ada yang mau mengikuti jejak beliau? Rajin ngaji yuk! 


*naskah ini dimuat di Edisi Buletin Nah 33
Naskah Part II Syaikh Ahmad Khatib Al Minankabawiy  : Guru Para Guru, Sahabat Para Pahlawan bisa Sobat Nikmati di Edisi Buletin Nah #35 yang akan segera hadir buat Sobat semua !!! Nah !

Admin : AF 
gambar : sufiroad.blogspot.com

Rabu, 11 Juni 2014

Sekolah Jumat Kepenulisan: Sucikan Diri Sebelum Menulis



Peradaban itu dibangun dari merahnya darah para syuhada' dan hitamnya tinta para ulama.

Dahulu, dikala teknologi belum secanggih hari ini. Dahulu, dikala peralatan belum selengkap saat ini. Para ulama dengan tekun dan gigih meluangkan waktunya untuk menulis. Ya, menulis adalah bagian dari kerja dakwah. Menulis adalah bagian dari ikhtiar memperbaiki peradaban dengan nasihat berdasar ayat-ayat Allah. Menulis adalah upaya untuk mengikat ilmu. Menulis pula adalah sarana untuk menanam benih kebaikan. Menulis adalah ikhtiar beramal sholih. Berdoa agar orang-orang yang membaca tulisan kita tergerak menjadi pribadi yang lebih baik.

Jika para ulama saja meluangkan waktunya untuk menuliskan kebaikan, bagaimana dengan kita?
Yuk siapkan diri sebelum mulai menulis. Sucikan hati, pikiran, serta fisik kita untuk mengawali proses kebaikan. NAH! penasaran dengan ilmunya? Mari gabung!

SEKOLAH JUMAT KEPENULISAN

Jumat, 13 Juni 2014
Pukul 15.45-selesai di Rumah NAH!
Materi: Sucikan Diri Sebelum Menulis
Pembicara: Fatan Fantastik (Penulis, Trainer, Direktur JAN inc.)
Dapet ilmu, teman, snack, minum dan Buletin NAH! edisi terbaru.
GRATISS!!

Yuk buruan daftar!
CP: 083867372281


Gambar: http://sabariah-wanita.blogspot.com/2012/06/definisi-bersuci.html
Admin: EM

Selasa, 10 Juni 2014

Ilmu, Siapakah Kamu?





Part I
Oleh M Fatan Fantastik 

Pernah bertanya kepada para murid sekolah (SD, SLTP, atau SLTA) tentang alasan mereka bersekolah? Atau, pernahkah engkau bertanya kepada dirimu sendiri: untuk apa aku sekolah/kuliah? 

Saya sudah melakukannya dalam beberapa kesempatan. Jawaban yang saya dapatkan beragam. Sebagian besar, adalah jawaban mengambang. Tak jelas. Kadang, bahkan cenderung sekenanya. Termasuk ada yang menjawab,”Sudah takdir!” 

“Untuk mencari ilmu!” (beberapa menyebutkan “Untuk belajar”) adalah satu diantara jawaban yang paling sering muncul. Belajar apa? Mencari ilmu apa di sekolah atau tempat kuliah? Tambah bingunglah mereka, para siswa yang sudah bertahun-tahun sekolah itu. Maka, ketika pertanyaan khusus ditanyakan, “Mengapa kamu belajar matematika?”, jawabannya ada yang ‘mencengangkan’: karena jadwalnya memang begitu. Kalo Senin jam ketiga, jadwalnya pelajaran matematika…

Maka, makin tak jelaslah bagi banyak pelajar alias penuntut ilmu, untuk apa menuntut ilmu. Apa tujuan sebenarnya dari menuntut ilmu. Sangat mungkin karena mereka sendiri bingung, apa itu ilmu. (Apakah engkau juga begitu?). Padahal pemahaman yang salah tentang ilmu, sangat mungkin akan menyeret mereka ke niat yang menyimpang, hingga penempuhan jalan yang bisa membawa mereka ‘nyemplung’ ke neraka jahannam!

Maka, perlulah kita paham dan mengerti apa sesungguhnya ILMU itu.
Ilmu berasal dari kata ‘alima-ya’lamu yang berarti mengerti, mengetahui, atau benar-benar memahami.
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (dalam kitab “Kitaabul ‘Ilmi”, yang diterjemahkan menjadi “Panduan Lengkap Menuntut Ilmu”):

Secara bahasa, al-‘ilmu adalah lawan dari al-jahlu (kebodohan); yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti. Secara istilah dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa ilmu adalah ma’rifah (pengetahuan) sebagai lawan dari al-jahlu (ketidaktahuan).  Ulama lain mengatakan bahwa ilmu itu lebih jelas dari apa yang diketahui.  Adapun yang dimaksud disini, adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya berupa keterangan dan petunjuk. Ilmu inilah yang mendapat pujian dan sanjungan bagi para pemiliknya. 

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:  “Siapa yang Allah kehendaki ada kebaikan pada dirinya, maka Allah akan menjadikannya paham tentang ilmu agama”.


NAH!


Tulisan berjudul "Siapakah Ilmu" Part II karya M Fatan Fantastik bisa Sobat nikmati di Buletin Nah Edisi 34 yaa. Kalau takut kehabisan, buruaan !!! Ke Rumah Nah dan gratis untuk Sobat semua naa ..

Admin   : AF
Gambar : http://ristyrahmawaty.staff.stainsalatiga.ac.id

Rabu, 04 Juni 2014

Sejarah Mereka dan Sejarah Kita



 
Oleh : Zudi Saputra

Bulan September yang lalu saya mengisi waktu luang dengan mengunduh dan menonton ulang miniseri Band of Brothers besutan duo Tom Hanks-Steven Spielberg. Tak terasa miniseri yang menuai sukses secara pemasukan dan penghargaan ini sudah 11 tahun yang lalu tayang di Amerika dan 9 tahun lalu tayang di TV nasional kita. Bagi penggemar film secara umum dan peminat sejarah secara khusus, miniseri ini memang layak tonton dan begitu menginspirasi. 

Diangkat dari kisah nyata para pejuang Amerika dalam Perang Dunia II berdasarkan buku profesor sejarah Stephen E. Ambrose berjudul sama, miniseri ini mengisahkan heroisme Kompi E (dilafalkan menjadi E-asy Company), Batalyon 2, Resimen 506 PIR, Divisi 101 Airborne US Army. Kompi ini menjadi salah satu kompi paling elit selama Perang Dunia II bukan karena persenjataan yang berbeda dan lebih canggih daripada kompi lainnya, tetapi karena terkenal paling berani sekaligus sukses dalam mengemban setiap misi tempurnya. 

Resimen 506 terdiri dari 9 kompi dari A hingga I; mengapa Kompi E yang paling tangguh? Jawabannya sudah muncul di episode 1. Ya, Kompi E menjadi paling tangguh disebabkan mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang paling berat di antara kompi-kompi lainnya. Saat kompi yang lain makan pagi atau istirahat, sang komandan justru meminta Kompi E naik-turun gunung sepanjang 7 mil, baris-berbaris, atau pelatihan fisik lainnya. Mereka sering diledek oleh kompi lainnya selama pelatihan, tetapi sejarah menuliskan hasil “kesengsaraan” itu, buah manis yang diraih selama Perang Dunia II. Tidak ada ceritanya Kompi E lari kocar-kacir dari garis pertahanan tempur terdepan, banyak prajurit tewas karena salah strategi, atau misi gagal total ketika kompi-kompi lain mengalaminya.

 Bandingkan dengan keadaan mereka 2-3 tahun yang lalu, anak-anak muda sukarelawan dengan intensi dan latar belakang yang beragam yang sama sekali tidak mengenal dunia militer dan senjata, berubah menjadi para prajurit-pejuang yang tangguh melibas musuh-musuhnya. Beragam ujian dan penderitaan yang sama-sama mereka rasakan akhirnya membentuk ikatan persaudaraan yang kuat, band of brothers.

Mmmm... Rasa keingintahuan saya terhadap tema-tema sejarah memang sangat tinggi. Jika 9 tahun lalu setelah ditayangkan di TV saya berburu VCD orisinalnya di rental-rental film, kali ini saya melengkapinya dengan mengoleksi langsung filmnya, buku-buku mengenai mereka, dan berselancar mencari informasi mengenai mereka. Lalu saya merenung ulang. Aahhh, saya memang menggumi mereka, manusia-manusia yang tercatat manis dalam sejarah: Mayor Richard Winters, Kapten Speirs, Letnan Lipton, Sersan Randleman, Sersan Guarnere, Sersan-teknisi Malarkaey, atau Kopral-dokter Roe; tetapi saya lebih kagum lagi dengan manusia sejarah dalam Islam. Saya membaca ulang beberapa sirah dan tarikh Islam, dan, aneka kisah yang lebih heroik daripada Band of Brothers melimpah ruah. 

Kita masih ingat kisah tiga pejuang Islam yang terluka parah dan sekarat dalam medan perang. Ketika seorang muslim penolong mengulurkan minuman, satu demi satu pejuang menolak dan mendahulukan saudara lainnya untuk minum. Sampai akhirnya ketika sang pemberi minum kembali ke pejuang pertama, dia sudah gugur. Berlari ke pejuang kedua, dia pun gugur. Berlari ke pejuang ketiga, dia pun gugur. Semua dilakukan karena para pejuang itu itsar (mengutamakan) saudaranya daripada dirinya sendiri. Bukankah ini lebih ngukhuwah daripada kisah Mayor Winters cs di atas? Jadi, mari mengintip sejarah Islam lebih seksama. Niscaya kita dibuat takjub.

Nah !!!

Admin    : AF

Minggu, 01 Juni 2014

Segera Hadir! Buletin NAH! #34



Assalamu'alaykum sobat NAH! pendamba jannah..
Alhamdulillah.. Insya' Allah Buletin NAH! akan menyapa kembali sobat semua..
Jazzakumullah khoiron katsir untuk pikiran, tangan, juga hati yang telah bekerja untuk terbitnya buletin ini.
Juga teruntuk sobat semua yang tak pernah putus dukungan dan doanya..
Semoga Allah meridhoi kita semua.




Admin: EM