Rabu, 04 Juni 2014

Sejarah Mereka dan Sejarah Kita



 
Oleh : Zudi Saputra

Bulan September yang lalu saya mengisi waktu luang dengan mengunduh dan menonton ulang miniseri Band of Brothers besutan duo Tom Hanks-Steven Spielberg. Tak terasa miniseri yang menuai sukses secara pemasukan dan penghargaan ini sudah 11 tahun yang lalu tayang di Amerika dan 9 tahun lalu tayang di TV nasional kita. Bagi penggemar film secara umum dan peminat sejarah secara khusus, miniseri ini memang layak tonton dan begitu menginspirasi. 

Diangkat dari kisah nyata para pejuang Amerika dalam Perang Dunia II berdasarkan buku profesor sejarah Stephen E. Ambrose berjudul sama, miniseri ini mengisahkan heroisme Kompi E (dilafalkan menjadi E-asy Company), Batalyon 2, Resimen 506 PIR, Divisi 101 Airborne US Army. Kompi ini menjadi salah satu kompi paling elit selama Perang Dunia II bukan karena persenjataan yang berbeda dan lebih canggih daripada kompi lainnya, tetapi karena terkenal paling berani sekaligus sukses dalam mengemban setiap misi tempurnya. 

Resimen 506 terdiri dari 9 kompi dari A hingga I; mengapa Kompi E yang paling tangguh? Jawabannya sudah muncul di episode 1. Ya, Kompi E menjadi paling tangguh disebabkan mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang paling berat di antara kompi-kompi lainnya. Saat kompi yang lain makan pagi atau istirahat, sang komandan justru meminta Kompi E naik-turun gunung sepanjang 7 mil, baris-berbaris, atau pelatihan fisik lainnya. Mereka sering diledek oleh kompi lainnya selama pelatihan, tetapi sejarah menuliskan hasil “kesengsaraan” itu, buah manis yang diraih selama Perang Dunia II. Tidak ada ceritanya Kompi E lari kocar-kacir dari garis pertahanan tempur terdepan, banyak prajurit tewas karena salah strategi, atau misi gagal total ketika kompi-kompi lain mengalaminya.

 Bandingkan dengan keadaan mereka 2-3 tahun yang lalu, anak-anak muda sukarelawan dengan intensi dan latar belakang yang beragam yang sama sekali tidak mengenal dunia militer dan senjata, berubah menjadi para prajurit-pejuang yang tangguh melibas musuh-musuhnya. Beragam ujian dan penderitaan yang sama-sama mereka rasakan akhirnya membentuk ikatan persaudaraan yang kuat, band of brothers.

Mmmm... Rasa keingintahuan saya terhadap tema-tema sejarah memang sangat tinggi. Jika 9 tahun lalu setelah ditayangkan di TV saya berburu VCD orisinalnya di rental-rental film, kali ini saya melengkapinya dengan mengoleksi langsung filmnya, buku-buku mengenai mereka, dan berselancar mencari informasi mengenai mereka. Lalu saya merenung ulang. Aahhh, saya memang menggumi mereka, manusia-manusia yang tercatat manis dalam sejarah: Mayor Richard Winters, Kapten Speirs, Letnan Lipton, Sersan Randleman, Sersan Guarnere, Sersan-teknisi Malarkaey, atau Kopral-dokter Roe; tetapi saya lebih kagum lagi dengan manusia sejarah dalam Islam. Saya membaca ulang beberapa sirah dan tarikh Islam, dan, aneka kisah yang lebih heroik daripada Band of Brothers melimpah ruah. 

Kita masih ingat kisah tiga pejuang Islam yang terluka parah dan sekarat dalam medan perang. Ketika seorang muslim penolong mengulurkan minuman, satu demi satu pejuang menolak dan mendahulukan saudara lainnya untuk minum. Sampai akhirnya ketika sang pemberi minum kembali ke pejuang pertama, dia sudah gugur. Berlari ke pejuang kedua, dia pun gugur. Berlari ke pejuang ketiga, dia pun gugur. Semua dilakukan karena para pejuang itu itsar (mengutamakan) saudaranya daripada dirinya sendiri. Bukankah ini lebih ngukhuwah daripada kisah Mayor Winters cs di atas? Jadi, mari mengintip sejarah Islam lebih seksama. Niscaya kita dibuat takjub.

Nah !!!

Admin    : AF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar