Kamis, 25 September 2014

Ngaji Garasi #4 September


           Tema diskusi pada Forum Garasi pagi ini, Kamis (25/09) yang disampaikan oleh Ustadz Fauzil Adhim mengenai Classroom Crime. Pada kesempatan ini beliau menyampaikan beberapa data terkait dengan kejadian classroom crime, yang terjadi di Amerika Serikat. Diantara data yang beliau sampaikan adalah pada Tahun 2009-2010 ada sebuah sekolah yang dipanggil oleh kantor polisi sebanyak 5091 kali dalam kurun waktu satu tahun. 

            Jika saja diasumsikan dalam waktu setahun hari efektif sekolah selama 250 hari, maka rata-rata sekolah tersebut dipanggil polisi sebanyak 20 kali per harinya. Lebih lanjut Ustadz Fauzil Adhim menyampaikan bahwa penanganan anak nakal di sekolah tidak boleh dilakukan langsung oleh guru. Di negri tersebut para pelajar yang berperilaku menyimpang (baca: nakal) hanya boleh ditangani oleh polisi. Bahkan sekolah pun tidak boleh mengeluarkan anak nakal.  

         Menyimak kejadian yang terjadi di Amerika ini sungguh ada hal yang jauh berbeda secara penegakan aturannya jika dibandingkan dengan teladan yang ada dalam kisah Nabi Musa dan Khidr. Ketegasan dalam menegakkan aturan belajar Allah ajarkan kepada kita melalui kisah Nabi Musa dan Khidr. Pada saat berlangsung diskusi muncul satu pertanyaan menarik yang insya Allah akan dibahas pekan depan. Pertanyaan yang sempat terlontar pagi ini adalah "Bagaimana tuntunan syariat islam dalam memberikan hukuman (tentu dalam rangka mendidik) kepada anak?" 

        Menjelang zhuhur Ustadz Bagus Priyo Sembodo sempat menyampaikan beberapa hal terkait dengan penanganan perilaku bermasalah menurut tinjauan dien ini. Diantara poin yang sempat disampaikan oleh beliau antara lain: 
1. Ta'zhim terhadap sunnah
2. Berfikir dengan menggunakan logika sunnah
3. Khusnuzhon terhadap sunnah (apa yang diperintahkan oleh Rosul pasti mendatangkan maslahat, dan apa yang dilarang oleh Rosul pasti membawa mudharat). (ano)

Selasa, 23 September 2014

Sekolah Jumat JAN Pendidikan



Sumber foto : Proumedia

Pendidikan, bahasan penting yang patut diperbincangkan. Berbicara tentang pendidikan di sekolah, ia tak akan lepas dari kurikulum pendidikan, guru, kenakalan murid serta banyak hal yang menjadikan apakah proses mendidik di lembaga pendidikan menjadi kondusif. 

Ikuti, Sekolah Jumat JAN di pekan ini bersama Ustadz Mohammad Fauzil Adhim di Rumah NAH. Membincangkan tentang “Pendidikan”, Jumat, 26 September 2014 jam 15.45-17.00. Silahkan mendaftar di 0899 454 0777 ( Ketik Daftar_Nama_Instansi). Rasakan dan sebarkan manfaatnya !! Gratis! NAH!!



Jumat, 19 September 2014

Ngaji Garasi #3 September

Dokumentasi Ngaji Garasi

Kamis pagi (18/09), seperti biasanya agenda rutin Jan, "Forum Garasi Pendidikan berlangsung di rumah Ustadz Fauzil Adhim. Tema diskusi kali ini membahas tentang problem di dunia pendidikan. Diantara permasalahan yang sering muncul adalah bagaimana seorang guru menangani perilaku bermasalah para siswa di sekolah. Diantara contoh problem pendidikan yang disampaikan oleh Ustadz Fauzil Adhim adalah yang terjadi di Amerika Serikat. Beberapa contoh kasus yang terjadi di Amerika Serikat beliau sampaikan, diantaranya adalah tingginya angka putus sekolah.

Pada forum ini turut hadir juga Ustadz Bagus Priyo Sembodo. Beliau menyampaikan materi tentang proses pembelajaran yang terjadi antara Nabi Musa dan Khidr. Ada beberapa hal peting disampaikan oleh Ustadz Bagus berkaitan proses belajar antara guru dan murid yang ada dalam kisah Nabi Musa dan Khidr. 

Sebagai murid Nabi Musa menunjukkan contoh profil pembelajar sejati. Jauhnya jarak yang harus ditempuh untuk bertemu dengan sang guru ia jalani (jarak tempuhnya sekitar 1000 km). Maka dari kesungguhan Nabi Musa ini kita belajar satu hal penting dalam belajar yakni daya tahan dalam belajar. Selain itu, sebagai murid Nabi Musa juga memberikan contoh tentang kesediaan untuk mendisiplinkan diri.

Mengenai sosok Khidr kita dapati beberpa poin penting tentang profil seorang guru. Pertama, Khidr bukan tokoh populer, namun kompeten di bidangnya. Kedua, Khidr menetapkan peraturan dalam belajar dan tegas dalam menegakkan aturan. Ketiga, dalam menyampaikan pelajaran Khidr menggunakan metode demonstrasi (mempraktekkan secara langsung di hadapan murid). Keempat, Khidr melakukan assesment (analisi kondisi) terhadap muridnya. (ano)


Minggu, 14 September 2014

Tadinya Nggak Kuat, Jadinya Nikmat...






Oleh : Deniz Dinamiz


Pernah dalam kondisi dimana tadinya kamu ngerasa nggak kuat, tapi setelah bertahan dan berjuang, ternyata nikmatnya bukan kepalang? 

Rasanya persis ketika kamu kerja keras banting buku (kalau tulang, sakit sih...) buat ngadepin ujian pelajaran favorit kamu. Pelajaran favorit dimana kamu selalu sukses menggaruk-garuk kepala pertanda nggak ngerti pelajarannya. Pelajaran favorit untuk bingung (Semoga bukan favorit untuk bolos.. ). Udah waktu di kelas pelajarannya nggak paham, di luar kelas malah kelayapan maen sampe begadang! (Perhatian...perhatian... Mohon ditiru kalo kamu pingin nilaimu bikin malu...). 

Beda banget ama mereka yang punya impian. Menghadapi pelajaran favorit ini, mereka nggak akan tinggal diam apalagi tinggal main. Mereka akan berjuang sampe titik darah penghabisan! Gunung buku kan didaki, samudera soal kan diseberangi. Kalo perlu buat target tambahan: belajar khusus pelajaran favorit itu tiap malem Ahad dari jam 20!! (Daripada kelayapan malem-malem malah masuk angin?). 

Awalnya udah kebayang bakal bersimbah keringat (kasihan ya? Udah simbah-simbah, masih keringetan pula...). Eh ternyata, malah asyik belajar sampai tidur pun tak sempat! Nggak terasa waktu belajar terasa begitu cepat. Baru asyik latihan soal halaman 22, ternyata sudah jam 23! Tadinya jam 21, mata udah nggak kuat. Kepala udah manggut-manggut. Manggut-manggut karena ngerti? Bukan... Bukan karena ngerti. Tetapi karena nahan ngantuk... 

Tiba-tiba teringat! Impian di sekolah menjadi peringkat pertama! Sampai dapat diterima di perguruan tinggi tanpa ujian dan mendapat beasiswa! Terbayang wajah bangga orang tua yang selalu bekerja keras tiap harinya! Impian mendapatkan nilai 9, nggak bakal kalo cuma dengan ngerjain soal sampai jam 9. Walhasil, mau naruh bolpen terus tidur, rasanya kok berat. Mending lanjut ngerjain soal sampai dapat. Kok bisa? Itulah rasa lezat yang muncul dari impian yang kuat. Subhanallaah! Allah Maha Hebat!

Rasa nikmat itu sama seperti yang dirasakan seorang atlet lari. Mister Mihalyi pernah nyebutin di bukunya yang berjudul “Flow”, kalo seorang atlet itu akan merasakan suatu kondisi dimana ia penuh semangat dan nikmat seakan nggak ada rasa selain bahagia ketika dia berjuang dan memenangkan kejuaraan. 

Tapi justru di saat itulah dia merasa sangat nikmat karena dapat memenangkan kejuaraan lari. Rasanya sangat puas ketika dadanya menyentuh pita “finish” di ujung lintasan. Rasanya luar biasa bahagia ketika dapat berdiri di atas podium ber-angka-kan satu sambil menerima kalung medali. Rasanya nikmat meski untuk berdiri aja kakinya udah nggak kuat. Itulah impian! Impianlah yang menopang kakinya, badannya, jiwanya untuk terus berdiri dan berlari! JADI TUNGGU APALAGI?  YAKINKAN IMPIAN, KUNCI ‘TUK MASA DEPAN!!


Sumber gambar : ppistanbul.wordpress.com