Selasa, 02 September 2014

Menjelajahi Dunia


Oleh :  Fatan Fantastik

            Tujuan awal sang pemuda sederhana: ingin menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Untuk itu, ia tinggalkan keluarga dan kotanya di Tangier, Maroko. Dalam usia yang masih muda, 21 tahun, Makkah dan Madinah telah menjadi idamannya. 

            Ternyata, perjalanan itu menjadi titik balik kehidupannya. Hampir 30 tahun kemudian, ia menempuh perjalanan  ke tiga benua. Memasuki 44 negara.  Menempuh jarak 117 ribu kilometer. Bertemu dengan berbagai tipikal orang dan budaya. Sungguh menakjubkan!

Sejarawan Brockelman memberi komentar,”Kehebatan Ibnu Battuta hanya bisa dibandingkan dengan penjelajah terkemuka Eropa, Marcopolo.” Christopher Columbus.. Vasco da Gama.. Magellan.. lewat!. Hanya Marcopolo, lainnya tidak!

            Dalam bukunya Tuhfat al-Nazhar, Ibnu Battuta menceritakan berbagai pengalamannya berkeliling dunia. Tidak selalu menyenangkan, memang. Tapi banyak peristiwa menakjubkan yang ia alami. Termasuk, ia menyebutkan, bertemu dengan 7 raja yang memiliki kelebihan luar biasa. Yaitu: raja Iraq yang berbudi bahasa, raja Hindustani yang sangat ramah, raja Yaman yang berakhlak mulia, raja Turki yang gagah perkasa, raja Romawi yang pemaaf, raja Turkistan, dan raja Samudera Pasai yang berilmu luas dan mendalam.

            Betul. Ibnu Battuta pernah mampir ke Nusantara. Lebih tepatnya di Aceh, pada masa kerajaan Samudera Pasai, kerajaan Islam pertama di Nusantara. Kedatangannya disambut dengan suka cita. Ia pun berkenalan dengan banyak orang penting di kerajaan Samudera Pasai, termasuk sang raja, Sultan Mahmud Malik Al-Zahir.

Ia ungkapkan kekagumannya pada Sultan. ”Beliau adalah seorang pemimpin yang sangat mengedepankan hukum Islam. Pribadinya sangat rendah hati. Beliau berangkat ke masjid untuk shalat Jum'at dengan berjalan kaki. Selesai sholat Jum'at, beliau dan rombongan biasa berkeliling kota untuk melihat keadaan rakyatnya.”

Di Samudera Pasai, Ibnu Battuta singgah selama 15 hari. Segala keperluannya dipenuhi selama tinggal di sana. Pulangnya, ia membawa berbagai hadiah dari Sultan. Alhamdulillah..!

            Memang: satu lawan, sudah kebanyakan. Seribu teman, tetaplah merasa kurang!

           
            1 Rajab 1430 H
           
           
Sumber gambar : themyxero.blogspot.com
Naskah ini di muat di buletin Nah edisi #10 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar