Minggu, 05 Oktober 2014

Beraksi Sejak Dini



Oleh : Arif Jadmiko




Anak berusia 14 tahun itu ingin sekali berjuang membela Islam bersama sahabat Rasulullah yang lain. Dia ditemani sahabatnya yang berusia lebih muda, yaitu 13 tahun. Karena fisiknya yang kuat, meskipun masih muda, Rasulullah menerima mereka menjadi tentara Perang Badar. Yang pertama adalah Mu’adz bin Amr bin al-Jumuh, sedangkan yang kedua adalah Mu’adz bin Afra.
Bahkan, beginilah Abdurrahman bin ‘Auf menceritakan kekaguman terhadap keduanya:
Saat Perang Badar, kedua anak tersebut berada di samping kanan dan kiriku. Tiba-tiba salah satu dari keduanya berkata kepadaku dengan berbisik, agar tidak terdengar temannya, ”Wahai Paman, tunjukkan mana Abu Jahal?” Yang bertanya adalah Mu’adz bin Amr. Dia adalah golongan Anshar dan belum pernah melihat Abu Jahal sebelumnya. Abdurrahman bin ’Auf justru bertanya balik, “Apa yang akan kamu lakukan padanya?”
Aku beritahu bahwa Abu Jahal adalah sosok yang amat membenci Rasulullah. “Demi jiwaku yang ada dalam Genggaman-Nya, sungguh jika aku melihatnya, tidak akan berpisah biji mataku dengan biji matanya sampai ada yang mati di antara kami!” sahut Mu’adz bin Amr.
Sahabatnya yang bernama Mu’adz bin Afra tidak mau ketinggalan. Dia menanyakan pertanyaan yang sama kepada Abdurrahman bin ‘Auf. Ketika mereka berdua mengetahui Abu Jahal, keduanya naik pitam. Ingin segera membunuh pembesar kaum kafir tersebut. Mu’adz bin ‘Amr bercerita, “Ketika aku mendengar Abu Jahal tidak bisa dikalahkan, maka aku jadikan dia sebagai urusanku. Lalu aku menuju ke arahnya. Ketika aku mendapat kesempatan menyerangnya, maka aku menebasnya dengan tebasan yang memutuskan separuh betisnya. Separuh betisnya terputus.”
“Anaknya Abu Jahal,” lanjut Mu’adz bin Amr, “yang bernama Ikrimah (waktu itu Ikrimah belum berislam), menyerang pundakku hingga tanganku terputus dan bergelantungan pada kulitnya yang ada di sampingnya.”
Mu’adz meneruskan kalimatnya, “Sungguh, aku telah berperang seharian, sedangkan aku menarik tanganku (yang hampir putus) di sampingku. Ketika aku merasakan kesakitan karenanya, aku letakkan kakiku di atasnya. Kemudian aku memelintirkan tubuhku ke samping hingga aku bisa membuangnya. Kemudian Mu’adz bin Afra melewati Abu Jahal yang membuatnya terkejut. Lalu Mu’adz bin Afra menebaskan pedangnya sampai memastikan kematiannya. Dia meninggalkan jasadnya dengan terus menatapnya.”
Seusai peperangan, Rasulullah bertanya kepada keduanya sebagaimana yang terdapat pada hadis Bukhari dan Muslim, “Apakah kalian telah membersihkan kedua pedang kalian?” Keduanya menjawab, “Tidak.” Lalu beliau memeriksanya dan berkata, “Kalian berdua telah membunuhnya.”
Kawan, untuk melakukan suatu pekerjaan tidak perlu menunggu nanti. Lakukan saat ini juga. Salah satu ciri pejuang sejati adalah banyak aksi daripada mengomentari sana-sini. Mu’adz bin Amr dan Mu’adz bin Afra telah mengajari kita untuk berprestasi tak perlu mengenal kata nanti.
Ketika yang lainnya diam saja, kita banyak bekerja. Ketika yang lainnya tertidur lelap, kita banyak menghasilkan karya. Jangan mengatakan, “Aku kan masih muda.” Tak perlu banyak beralasan. Lakukan sekarang juga. Mulailah dari yang sederhana dan mudah dilakukan. Itu baru pahlawan!***

Sumber gambar : http://entriaprilia1.wordpress.com/2012/11/03/manajemen-waktu-3/
*diambil dari naskah pesesat Buletin Nah edisi 27

1 komentar:

  1. Semoga aja anak q termasuk anak yg sholehah. kalo mau jadi anak sholehah minimal harus mampu menjaga lisan dan aurat dengan mulai berhijab. Sebenarnya saya dulu sebagai ibunya risih juga kalo pake hijab, tapi ketika pakai hijab dari PRODUSEN MUKENA KATUN JEPANG saya malah lebih suka karena mukenanya nyaman, lembut dan adem. Makasih ya mbak udah berbagi cerita...

    BalasHapus