Jumat, 17 Oktober 2014

Menulis adalah Persoalan Mission*




Pernah buntu mau nulis apa? Atau termasukkah didalam golongan penulis yang kalau ada mood baru menulis? Maka patut dipertanyakan satu hal mendasar kepada penulis. Apa misi (mission) yang ingin di raih? Satu kondisi jangka panjang yang ingin di raih penulis dengan tulisannya, tidak hanya di dunia terlebih di akhirat. Sebab, jika menulis adalah passion tak akan bertahan lama. Kalau passion hilang, menulis pun begitu. Misi adalah satu hal yang harus dimiliki penulis sejati. Misi ini yang akan menuntun penulis, tidak pernah lelah belajar, tetap menulis, dan tetap menjadi pembaca yang baik. 

Seperti halnya dalam agama kita yang mengerjakan mission, bukan passion. Ibadah shalat adalah aturan wajib bagi setiap muslim. Tak memperdulikan malas atau banyak pekerjaan. Setiap muslim wajib beribadah kepada Allah dengan shalat. Maka, menulis juga begitu. Masalahnya bukan suka dan tidak suka, tapi menulis untuk apa? Ummat butuh tulisanmu tentang apa? 

Setelah penulis memiliki mission yang jelas, hal berikunya adalah menguatkan dengan tiga daya. Meminjam dari kosa kata Ustadz Salim A Fillah yakni dengan daya ketuk, daya isi, dan daya memahamkan. Setiap penulis menggunakan huruf A sampai Z untuk menulis. Namun, kenapa tulisan setiap orang memiliki pengaruh yang berbeda? Ini yang disebut daya ketuk. Niat yang suci dan bersih akan memiliki dampak yang berbeda dengan penulis yang niatnya macam-macam. Salah satunya ingin terkenal atau mendapatkan uang. Mungkin, satu kali terbit menjadi best seller. Setelahnya tak begitu “besar” seperti yang pertama. Setiap penulis akan mendapat apa yang diniatkannya. Ingin best seller segera? Allah akan kasih, tapi hampa di akhirat kelak. 

Daya berikutnya adalah daya isi. Kalau seorang penulis ingin menulis tentang wanita, tentu harusnya ia tak asing dengan bacaan fiqh wanita bahkan sampai merampungkan baca. Seorang penulis yang memiliki mission di dunia pendidikan, tentu ia tak malas untuk membaca buku-buku tentang pendidikan terutama pendidikan islam. Intinya, setiap apapun yang ditulis bergantung kuat pada setiap bacaan penulis tersebut. Sebuah teko, apabila isinya air bening dan dituang ke gelas akan mengeluarkan air bening pula. 

Daya ketiga adalah daya memahamkan. Daya ketiga ini berkaitan erat dengan bagaimana cara kita memahamkan apa yang kita tulis kepada pembaca.  Mulai dari pemilihan kata, pemakaian tanda baca, dan bahasa yang disesuaikan dengan aturan. Ini adalah satu hal yang harus terus dilatih dan dilakukan (deliberate practice). Kemampuan menulis akan semakin baik dengan cara terus menulis dan senantiasa memperbaiki tulisan. 

Siap menjadi penulis? Bukan sekedar penulis abal-abal, namun penulis yang akan diperhitungkan oleh siapapun termasuk Allah. Penulis yang setiap deretan katanya dipercaya kebenaran dan kebermanfaatannya. Penulis yang memiliki mission mulia untuk ummat dan agama. So, “Jangan sibuk apa trend-nya sekarang, namun apa yang dibutuhkan? Bisa jadi kamu akan membuat trend yang mengalir kebaikan. Nah !!!

*Diolah dari hasil observasi Sekolah Jumat Menulis, Jumat 10 Oktober 2014 di Rumah Nah bersama Ustadz M Fatan Fantastik. 

Penulis    : Annafiah Firdaus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar