Senin, 13 Oktober 2014

Ngaji Garasi #1 Oktober

Kamis 02/10/2014, seperti biasa diskusi rutin JAN berlangsung di garasi rumah Ustadz Fauzil Adhim. Pada pertemuan kali ini membahas tentang hukuman dalam konteks pendidikan. Di awal perbincangan Ustadz Fauzil menyampaikan 2 hal yang menjadi sumber masalah dalam pemberian hukuman. Diantara penyebab masalahnya adalah pertama, jika hukuman itu diberikan kepada anak yang tidak sengaja melakukan kesalahan. Kemudian yang kedua adalah mengenai takaran dalam pemberian hukuman. 

Dua hal tersebut jika tidak tepat maka akan menimbulkan perilaku submisif. Perilaku ini merupakan suatu perilaku dimana siapa yang kuat dia yang menang. Perilaku submisif membuat suasana yang tak terkendali, baik di rumah maupun di sekolah.

Mengenai hukuman, ustadz Bagus dalam forum ini menyampaikan bahwa malpraktek dalam menghukum dapat menumbuh kembangkan masalah. Sementara ketidak adilan dalam menghukum dapat menyuburkan pembangkangan. Maka perlu juga dikenali mengenai kesalahan dalam memberikan hukuman diantaranya: Hukuman yang diberikan tidak sesuai takaran
  1. Hukuman yang diberikan tidak tepat obyeknya
  2. Hukuman diberikan kepada orang bodoh atau dalam keadaan sangat terpaksa
Lalu apa penyebab terjadinya kesalahan dalam memberikan hukuman? Ada 2 hal diantaranya: pertama tidak mengetahui hak. Kedua, tidak menunaikan hak.  Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman, diantaranya:
  1.  Takaran yang tepat
  2.  Telah sampainya Ilmu
  3. Kejernihan emosi ketika menunaikan hukuman
  4. Kesesuaian dengan kondisi objek.
Pada kesempatan ini, ustadz Bagus menyampaikan dalam forum mengenai beberapa kandungan dalam ayat Quu anfuskum wa ahlikum naara…. (QS. At-Tahrim : 6) beberapa kandungan yang ada di dalamnya antara lain:
  • Menghentikan keluarga dari perbuatan yang mengantar ke neraka
  • Memberikan pelajaran tentang hal-hal yang harus dijalani, apa bila ditinggalkan maka akan mengantar ke neraka
  • Memberikan pelajaran tentang hal-hal haram, apabila dilakukan maka akan mengantar ke neraka
  • Mengubah/mendidik kebiasaan yang mengantar ke neraka. Dalam hal ini memberikan hukuman kepada anak sebagai upaya agar anak terjauh dari neraka.
Penerapan ayat tersebut dalam keluarga diantaranya adalah memerintahkan anak untuk sholat. Dalam memerintahkan anak untuk sholat mengandung keberatan yang harus disabari, antara lain:
  1. Sabar untuk selalu memerintahkan sholat
  2. Kesabaran untuk menerima kealotan/pembangkangan dari keluarga. Adapun sebab kealotan itu ada 2 hal yaitu pertama, besebab kebodohan dan kefasikan. Kedua bersebab kondisi fisik yang sedang dialami.
  3. Sabar dalam menghukum dan menegakkan disiplin. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi yaitu mengajari anak sholat pada umur 7 tahun dan memukulnya pada umur 10 tahun jika tidak sholat. Mengenai memukul anak ini ada ada syarat dan ketentuannya yakni ketika pembangkangan yang dilakukan oleh anak merupakan sebuah kefasikan.
Wallahu a’lam
(Ano)

1 komentar:

  1. Semoga aja anak q termasuk anak yg sholehah. kalo mau jadi anak sholehah minimal harus mampu menjaga lisan dan aurat dengan mulai berhijab. Sebenarnya saya dulu sebagai ibunya risih juga kalo pake hijab, tapi ketika pakai hijab dari PRODUSEN MUKENA KATUN JEPANG saya malah lebih suka karena mukenanya nyaman, lembut dan adem. Makasih ya mbak udah berbagi cerita...

    BalasHapus