Selasa, 25 November 2014

Kekuatan Buku





Oleh Fadlan Al Ikhwani

                     
Tahukah engkau bangsa Israel Raya? Mereka bangkit untuk menguasai dunia diantaranya karena pengaruh buku. Buku itu berjudul Der Judenstaat (The Jewish State) dan Altneuland (Old New Land) ditulis oleh seorang Yahudi asal Jerman bernama Theodore Hertzl. Digambarkan seakan mereka adalah penguasa dunia. Mereka pun berusaha mewujudkan kebenaran yang dipaksakan itu. 

Buku lainnya yang menggemparkan adalah Ayat-Ayat Setan (Satanic Verses). Penulisnya adalah Salman Rushdie. Buku itu berisi hujatan-hujatan kepada Rasulullah Saw. Sebagai akibatnya si penulis mendapatkan ancaman fatwa mati dari pemerintah Iran dibawah pimpinan Ayatollah Khomeini. Kendati demikian ia berhasil melarikan diri. Kabar terakhir justru malah mendapatkan penghargaan dari Ratu Elizabeth di Inggris. Betapa sangat memprihatinkan..

            Maka, ada dua pilihan bagimu. Yaitu menjadi penulis buku atau pembaca buku. Bila mampu menghasilkan tulisan bermutu, jadilah penulis buku. Warnailah peradaban. Keuntungannya luar biasa. Bisa mendapat royalti dunia (materi) dan royalti akherat (pahala). Mengapa bisa mendapat royalti dunia? Karena bila buku kita diterbitkan dan terjual di pasaran, sebagai konsekuensi kita mendapatkan sekian persen dari harga bandrolnya—sesuai perjanjian dengan pihak penerbit. Adapun royalti akherat (pahala) juga kita dapatkan bila buku kita menjadi jalan hidayah bagi seseorang sehingga berubah menjadi lebih baik. Senang kan? 

Itulah satu diantara sinyalemen dari Rasululullah Saw bahwasanya setelah meninggal dunia, seseorang itu terputus amalnya kecuali tiga perkara. Pertama, shadaqah jariyah. Kedua, ilmu yang bermanfaat. Ketiga, anak saleh yang mendoakan. Ya, buku yang kita tulis termasuk ketegori kedua. Bila buku kita dibaca banyak orang dan menjadi jalan hidayah, akan menjadi amal saleh yang terus mengalir pahalanya walau kita telah meninggal dunia. 

Adapun  bila enggan atau berat menulis buku, jangan bersedih. Jadilah pembaca buku. Para pembaca buku tidak akan pernah rugi. Para pembaca buku akan semakin tambah ilmu. Dengan membaca buku, wawasanmu akan bertambah. Cara berpikirmu pun akan berubah. Dan hidupmu pun akan lebih bergairah. InsyaAllah.

Al Jahiz pernah berkata, ” Buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu dan teman yang tidak akan membuatmu bosan. Dia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu, dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu dan dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang anda miliki. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan, dan tidak akan membuat kebohongan”.

Sudahkah engkau membaca buku hari ini?

Sumber gambar : penjajakata.wordpress.com

Rabu, 19 November 2014

Sekolah Jumat : Menjadi SDM yang Militan


Militan, lekat dengan mereka yang bersemangat tinggi, bekerja keras, dan penuh gairah dalam mencapai sesuatu. Militan, adalah mereka yang dicari untuk melakukan kerja-kerja besar untuk memberikan kemanfaatan bagi siapapun. 

Nah, Sekolah Jumat Pengembangan SDM pekan ini hadir kembali 
Jumat, 21 November 2014 
Jam 15.45-17.15
di Rumah NAH
"Menjadi SDM yang Militan"
Bersama Deniz Dinamiz 

GRATISSSS !!!!
Informasi pendaftaran 0878 3878 2421
Yuk rasakan dan sebarkan manfaatnya ....

Selasa, 04 November 2014

Cerdas dengan Gagal






                                                           oleh Deniz Dinamiz

“Selamat! Anda Gagal! Kesempatan untuk menjadli lebih cerdas!”

            Pernah mendapat kata-kata seperti ini setelah gagal melakukan sesuatu? Entah itu gagal memasukkan bola di gawang, mengerjakan soal di depan kelas, mengerjakan ujian semester, atau berlomba di tingkat nasional? Kalau belum pernah mendengarnya, saatnya mengatakan kata-kata tersebut pada dirimu sendiri! Terutama ketika gagal berhasil ditemui.

            Yup. Psikolog Carol Dweck, Ph.D. juga setuju. Kegagalan dapat mencerdaskan otak. Hal ini bisa terjadi karena kegagalan dapat memicu neuron otak untuk tumbuh dan membentuk koneksi neuron baru. Koneksi terjadi ketika otak sedang belajar. Begitu menurut psikolog yang meneliti cara manusia menghadapi kegagalan selama 40 tahun.

            Hasil penelitian Bu Carol juga mendapatkan hal lain yang tak kalah menarik. Mereka yang otaknya cerdas karena bertemu dengan si gagal, punya suatu pola pikir atau mind set tertentu. Namanya growth mind set. 

             Beda dengan lawannya, yaitu fixed mind set, pola pikir tumbuh (growth mind set) memiliki keyakinan bahwa bakat bukan segalanya. Usaha dan belajarlah yang membuat seseorang dapat mencapai tujuan. Tentu saja dengan ridlo Allah, sang Penguasa Kekuatan.
            Nah, ini beda banget dengan pola pikir macet (fixed mind set). Menurut dia yang memiliki pola pikir ini, bakat diyakini bersifat genetis. Seseorang dilahirkan menjadi seniman hebat dunia, juara renang tingkat nasional, atau juara matematika di sekolah. Menurut dia, sukses tanpa kerja keras itu wajar. Udah dari sononya pinter! katanya.

            Walhasil, ketika dia sendiri menemui kegagalan, harga dirinya serasa dicabik-cabik. Untuk membuat dirinya lebih nyaman, dia akan menyalahkan orang lain, berbohong, dan menghindari tantangan atau risiko di masa depan.

            Nah, yang manakah pola pikir kamu?         

Sekolah Jum`at Training Menjadi Trainer yang Menguasai Forum