Minggu, 30 Agustus 2015

Sekolah Jumat Pengembangan SDM Agustus 2015


Sekolah Jumat SDM

Oleh : Amin Novianto

Apa yang terpikir oleh kita ketika mendengar kata sumber daya manusia? Apakah banyak sedikitnya jumlah? Apakah tentang kualitasnya? Atau tentang keduanya? Lalu bagaimana ukuran kualitas SDM itu? Apakah dari bentuk fisiknya? Jenjang pendidikannya? Jabatannya? Atau kekayaannya?

Nah sobat, pada kesempatan sekolah jum'at kali ini (21/08/2015) dibersamai oleh Pak Denis berbincang mengenai SDM yang berkualitas. Di awal perbincangan, Pak Denis mengisahkan tentang seorang tokoh. Beliau seorang ulama yang aktif dalam dunia akademis dan perjuangan melawan penjajah di negri umat Islam. Beliau dikenal pula sebagai arsitek jihad abad 20. Diantara karyanya adalah sebuah kitab berjudul Tarbiyah Jihadiyah. Nama beliau Dr. Abdullah Azzam. Usai menyampaikan sepintas tentang Dr. Abdullah Azzam, Pak Denis menyampaikan materi mengenai SDM yang berkualitas dengan referensi kitab Tarbiyah Jihadiyah.

Dalam pandangan Islam ada hal penting yang sangat mempengaruhi kualitas SDM adalah keimanannya kepada Allah. Sebagai contoh yang disampaikan oleh Pak Denis adalah kisah Bilal dan Abu Sufyan yang bertamu kepada Umar bin Khattab. Singkat cerita dari kedua tamu itu Umar hanya mempersilakan Bilal untuk masuk. Sementara Abu Sufyan menunggu di luar. Mengapa demikian? Tentu sebab Bilal memiliki keutamaan bagi Umar. Ia lebih dahulu beriman dari Abu Sufyan. Inilah dia, SDM yang dibina oleh manusia terbaik sepanjang zaman, Rasulullah saw. Hasil didikan beliau menjadi SDM dengan kualitas unggulan. Nah! (ANo)

Catatan Sekolah Jum`at Menulis*



Sumber : www.kupasbuku.com

Oleh : Annafi`ah Firdaus

Jum`at, 14 Agustus 2015

Menulis adalah proses yang “bisa” tentu dengan izin Allah, karena terbiasa. Kalau kita ingin bisa menulis, maka mulailah dari sekarang. Kemudian di “kulino”-aken. Menulis kemudian diistiqomahkan dan konsisten, dalam keadaan apapun, tetaplah menulis. Ada pepatah, “Writing tresno jalaran seko kulino”

Lagi, bisa nulis karena TERPAKSA atau DIPAKSA, baru BISA, lantas BIASA. Maka, menulis sebenarnya bukan masalah bakat dan tidak bakat. Namun masalah “mau” atau tidak? Kalau mau, namun belum bisa, maka paksalah. Kita paksa diri kita untuk menulis, maka semoga Allah izinkan bisa untuk menulis, lantas kita akan biasa untuk menulis.
Jadi menulis harus dibiasakan. Ulama hebat menyalin dari karya orang lain. Al-Bukhari menyalin tulisan dari Rosulullah. Kita bisanya apa? Menulis apa? Ya sudah TULISLAH.

Kita mulai tetapkan targetnya :
1.    Bisa Nulis
Semua butuh proses untuk melakukan. Jangan menggunkan cara INSTANT. Mari kita paksa, semoga akan menghasilkan peningkatan.
2.    Referensi
Kualitas tulisan kita bergantung pada apa yang kita baca. Maka penting mencari referensi yang benar dalam menjadikan “gizi” bagi tulisan kita.
3.    Belajar pada orang
4.    Dengan pengalaman, pengalaman setiap bulan meningkat. Pengalaman-pengalaman akan membuat orang waspada. Ingat, kualitas diatas kuantitas

Ketika kita betul betul ingin bisa menulis, maka hal yang harus kita lakukan adalah MENYEDIAKAN WAKTU. HARUS DIPAKSA UNTUK MENYEDIAKAN WAKTU DAN MENULIS. Lakukanlah dengan senang dan bahagia. Hal ini seperti orang tidak bisa menghafal Al-Qur`an karena dia tidak dapat menyempatkan waktu untuk hafalan. Begitu pula dengan menulis.


Berawal dari kata BISA. Apa yang kamu bisa kamu tulis. Agar kamu bisa menjadi bisa maka :
1.    Daya ketuk atau daya dobrak
Tuangkan dengan melibatkan perasaan ke dalam tulisan. Bisa dalam bentuk Blog (diary online), twitter (menceritakan dalam bentuk yang pendek) atau fasilitas yang lain. Kemudian latih agar kita bisa kokoh yaitu dengan NIAT. Untuk apa kamu menulis? Karya besar ada karna lurusnya niat. Karya yang besar ayat ayat cinta. Laskar pelangi bukankah menjadi tulisan yang fenomenal? Hal ini berawal dari niat.
2.    Daya isi, tulisan bergizi, ada isinya yang dapat dimanfaatkan oleh pembaca. Gizi dan thoyibnya makanan bergantung pada bahannya. Bila ingin tulisannya bergizi maka mencari referensi-referensi yang bergizi
3.    Daya ubah, niatnya yang jelek tidaka kan mengena di hati. Belajar menulis cara yang baik dan benar (EYD, majas)


Niat terjaga, dilengkapi dengan referensi disempurnakan dengan kata-kata yang indah. Menulis ulang karya-karya terbaik akan membuat kita memahami kata dan ketajaman dalam memilih kata. Nah, siap menulis? (af)

*Materi ini disampaikan oleh Ustadz M. Fatan Fantastik.