Jumat, 22 Januari 2016

Agus Salim : Penjaga Akidah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia


sumber : haji+agus+salim.jpgwww.biografiku.com
Oleh : Ridwan Hidayat

Menjadi seorang nasionalis yang dilandasi karena Allah Swt, menjadi sosok kuat yang ada pada diri Agus Salim. Laki-laki jenius yang lahir di Kota Gadang, Sumatera Barat, tahun 1884, telah menghabiskan separuh hidupnya berjuang melawan tirani kolonialisme yang ada di bumi nusantara. Ketika ide-ide sekulerisme dan komunisme yang datang dari barat merasuk kesebagian besar para intelektual pribumi saat itu, Agus Salim adalah politikus yang tetap kokoh mempertahankan Islam sebagai ideologi perjuangan.

Perjuangan terberat Agus Salim menghadapi pemikiran komunis ketika wasilah perjuangannya, Sarekat Islam, disusupi oleh paham ini. Kehadiran tokoh sosialis Belanda yang bernama Sneevliet di Indonesia bukan sekedar memperkenalkan paham sosialis-komunis namun juga mengkader anak-anak muda yang sedang semangat melawan kolonialisme. Sarekat Islam menjadi wadah perjuangan terbesar saat itu. Kader-kader muda Sarekat Islam seperti Semaun, Darsono, dkk, terpengaruh oleh Sneevliet dan membawa ideologi barunya ke dalam tubuh perjuangan Sarekat Islam.Terjadilah perpecahan yang kita kenal dengan Sarekat Merah dan Sarekat Putih. Agus Salim sangat berperan menghadapi kelompok itu untuk mempertahankan asas Islam di dalam tubuh organisasi. “Tidak perlu mencari isme-isme yang lain yang akan mengobati penyakit pergerakan. Obatnya ada di dalam asasnya sendiri. Asas itu ialah Islam,” kata Salim yang dimuat di surat kabar Neratja 18 oktober 1921.

Menurut Deliar Noer dalam buku Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Agus Salim-lah yang lebih banyak memberi cap Islam pada Sarekat Islam. Dia bukan saja mengetahui pikiran Barat, tetapi dia adalah seorang pimpinan Sarekat Islam yang paling mengetahui tentang Islam dari sumber aslinya.
               
Perdebatan soal cinta tanah air dalam semangat kemerdekaan juga menjadi diskusi hangat saat itu. Semangat keberislaman Agus Salim membawanya terlibat perdebatan dengan Soekarno. Agus Salim memperingatkan, khususnya kepada Umat Islam, bahwa cinta tanah air yang didengungkan Soekarno bisa menjauhkan keyakinan tauhid seseorang. Soekarno mengajak rasa nasionalisme bangsa dengan membanggakan tanah air dengan mempersonifikasikan ke sosok ibu yang layak dihambakan.

“Dalam mencintai tanah air semestinya lebih mengutamakan cinta kepada yang menciptakan tanah air, yaitu Allah Swt. Semangat perjuangan kemerdekaan dalam bingkai cinta tanah air inilah harus karena rasa pengabdian kepada Allah sebagai cermin iman dan Islam. Dengan begitu, rasa kebangsaan bisa menjauhkan dari penghambaan kepada selain Allah juga menjauhkan dari kesombongan atas kelebihan yang dimiliki bangsa ini.” Tulis Agus Salim di surat kabar Fadjar Asia tahun 1928.

Sebenarnya Agus Salim bukanlah sosok yang pernah mendapat pendidikan Islam secara runut sejak muda. Sejak umur 6 tahun hingga remaja, usia mudanya terdidik secara barat. Sampai-sampai ia mengakui pernah mengalami fase dimana tak mempercayai agama yang ada. Islam-nya saat muda lebih kepada bawaan keluarga saja. Kesadarannya ber-Islamnya berubah setelah diminta sang ibu menerima pekerjaan menjadi penterjemah di kantor konsulat Belanda di Jeddah. Sang ibu berharap agar Agus Salim bisa bertemu sang paman, Syeikh Ahmad Khatib, yang kala itu adalah Mufti Mazhab Imam Syafi'i di Makkah. Syeikh Ahmad Khatib mampu merubah pikiran Agus Salim yang kala itu banyak dipengaruhi pemikiran-pemikiran filsafat barat.

“Semasa itu keislamanku seolah-olah bawaan kebangsaan saja dan bukanlah menjadi agama keyakinan yang bersungguh-sungguh. Tetapi selama lima tahun di Saudi Arabia saya lima kali naik haji, dan bertambah dalam sikap saya terhadap agama. Dari tidak percaya menjadi ragu, dari ragu menjadi yakin mengakui keadaan Allah dan agama Allah.” Kata Agus Salim yang ditulisnya di surat kabar Bendera Islam tertanggal 2 Mei 1927.”

Di masa tuanya Agus Salim terkenal sebagai diplomat ulung dengan beberapa kali menjabat Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Berkat kedekatan dengan ulama dan tokoh politik di tanah arab, usaha negoisasi di negeri Mesir pada 1945 mengantarkan negeri tersebut menjadi negeri pertama secara de yure mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.


Sumber : Naskah Buletin Nah Edisi 37 dan 38 [KOLOM : PERCIK]  

Buletin Nah l buletinnah.blogspot.com l Twitter, Telegram : @buletinnah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar