Jumat, 08 Januari 2016

Tentang Kitab Shahih Bukhari



sumber : play.google.com



Oleh : Annafi`ah Firdaus 

Ditulis ulang dari buku  :
Al-Maliki, Muhammad Alawi, 2009, Ilmu Ushul Hadis, Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Kitab Shahih Al-Bukhari telah memperoleh penghargaan tinggi dari para ulama. Terhadap kitab ini, mereka telah memberikan pernyataan, bahwa Shahih Al-Bukhari adalah satu-satunya kitab yang paling shahih sesudah Al-Qur`an.

Judul lengkap kitab ini ialah sebagaimana yang disebutkan Imam Al-Bukhari sendiri, yaitu “Al-Jami`u Al-Shahihu Al-Musnadu Al-Mukhtasharu min Hadiitsi Rasuulullahi wa Sunnanihi wa Ayyaamini”.

Kitab ini merupakan himpunan hadis-hadis shahih, yang sekaligus menjadi objek pembahasannya. Hal itu dapat diketahui secara jelas dari kriteria dan syarat-syarat yang digunakan oleh Al-Bukhari dalam mengidentifikasi hadis-hadis yang dikatakannya sebagai hadis shahih. Dan hanya hadis-hadis yang memenuhi kriteria dan syarat-syarat yang ditetapkan itulah yang dimasukkannya ke dalam kitabnya ini. Oleh karena itu di dalam kitab ini hanya terdapat hadis-hadis shahih. 

Imam Ibnu Al-Shalah, Al-Nawawi, dan Ibnu Hajar mengatakan, “Bahwa kriteria dan syarat-syarat hadis untuk dapat dikatakan sebagai hadis shahih itulah yang menjadi pokok pembahasannya, sebagai penjabaran dari Al-Jami`u Al-Shahihu Al-Musnadu Al-Mukhtasharu min Hadiitsi Rasuulullahi wa Sunnanihi wa Ayyaamini.

Imam Ibnu Al-Shalah berkata, “Bahwa kitab ini hanya khusus menghimpun hadis-hadis shahih adalah sebagaimana diucapkan oleh Al-Bukhari sendiri, `Bahwa aku tidak memasukkan dalam kitab jami` ini kecuali hadis-hadis yang shahih.`” 

Al-Hafiz Abu Nasr Al-Wayili Al-Sajazi berkata, “Bahwa seluruh ahli ilmu, baik ahli fiqh maupun yang lainnya, telah bersesuaian pendapat, bahwa seandainya ada seorang laki-laki bersumpah mengenai talak yang dijatuhkannya dengan mengucapkan `Bahwa semua yang terdapat dalam kitab Al-Bukhari merupakan hadis yang diriwayatkan dari Nabi adalah benar-benar shahih dari nabi, maka tidak diragukan lagi bahwa lelaki itu tidak meanggar sumpahnya. Demikian pula, jika seorang wanita bersumpah mengenai kehamilannya dengan menggunakan kata-kata sumpah seperti itu, dia pun dianggap tidak melanggar sumpahnya.” 

Orang-orang yang hafizh hadis dan para imam telah meriwayatkan dari Al-Bukhari tentang perkataannya mengenai kitab ini, dia berkata, “kitabku ini aku jadikan sebagai hujjah antara aku dan Allah.” 

Abu Abdillah Al-Humaidi di dalam kitabnya, Al-Jam`u baina Al-Shahihaini, mengatakan, “Bahwa aku tidak menemukan dari imam-imam zaman klasik seorang yang lebih fashih menghafalkan himpunan hadis-hadis shahih kecuali dua imam ini (Al-Bukhari dan Muslim). 

Komentar tersebut adalah dimaksudkan bahwa semua pokok bahasan dan tujuan pembahasan serta matan-matan dari bab-bab yang ada di dalam kitab ini, jika ditinjau darii segi syarat shahih berupa mutassil, adalah bukan sebagai fragmentasi biografi dan lain sebagainya. Akan tetapi, yang dimaksud pembahasan Al-Jami` itu hadis-hadis shahih adalah tidak berarti semua yang ada di dalam kitab itu total muallaq dan hadis-hadis mauquf. Namun, oleh karena keberadaan kedua macam hadis itu dimaksudkan sebagai pelengkap dan penguat keshahihannya, maka konseptual kedua macam hadis itu tidak bisa menggeser dari pokok pembahasannya.

1 komentar:

  1. alhamdulillah, terimakasih mba annafi'ah firdaus. tulisannya bagus. tulisan lainnya ditunggu lho..

    BalasHapus