Rabu, 24 Februari 2016

BERENCANA BELAJAR? BELAJARLAH BERENCANA!




Oleh Deniz Dinamiz



“Gagal Merencanakan Sama Dengan Merencanakan Kegagalan”

            Sobat Nah, berapa waktu yang kamu sediakan untuk merencanakan aksimu tiap hari? Jangan bilang nggak pernah, kalau kamu ingin jadi juara. Soalnya, para juara adalah yang persiapannya juga kualitas juara. Juara dunia didapat, lanjut juara di akhirat! 

            Apa aja sih yang harus direncanakan? Ada target aksi, waktu, orang, and many more. Bisa dilengkapi sesuai kebutuhan. Satu hal yang jelas, satu diantara rencana adalah target aksi. So, simak nih, 3 cara luar biasa agar target aksi oke punya:

1.    Target adalah wujud dari CITA-CITA YANG KITA YAKINI
Ketika target berpondasikan cita-cita, hidup kan menjadi lebih seru dan bermakna. Selain itu, kamu bisa lebih jelas menentukan prioritas. Mulai dari yang paling penting sampai yang paling tidak penting. Sesuai urutan impian kamu.

2.    Target harus SPESIFIK
Apa target hidupmu? Sukses, kaya, dan bahagia? Semua orang juga iya (kecuali yang rada..) Target seperti itu nggak akan banyak bantu kamu. Harusnya? Sebutin target aksi yang TERUKUR dengan WAKTU target yang jelas.
Contoh kurang pas: pingin belajar bahasa Indonesia.
Contoh lebih pas: belajar bahasa Indonesia tentang bab “Puisi” tiap pekan 1,5 jam selama 2 bulan
He.. he.. Abang pernah nih belajar begini sama temen-temen KUSEN (KUmpulan SEneng Nulis) JAN. Terus berjuang, raih surga dengan pena!

3.    Target harus DITULIS
Dengan menulis, berarti menunjukkan komitmen dan kesungguhan kamu. Selain itu, mencatat terbukti punya dampak luar biasa pada ingatan kita. (Cek aja di gelegar belajar buletin Nah edisi 12! Boleh juga lihat galeri-nya di blog kita..)

            So, gimana dengan rencana belajar kamu? Sampai kapan mau belajar, harus ditentukan mulai dari sekarang. Kalau abang sih tentu saja: sampai jempol kaki ini mencium wanginya tanah surga! Itu dia! Di dunia jadi juara, di akhirat? Surga, surga, surga!***  

Sumber : Buletin Nah #25 

Jumat, 19 Februari 2016

Sang Panglima


Sentot Prawirodirdjo

Oleh : Muhammad Fatan Fantastik


“Telah menjelang saatnya bahwasanya ia akan mencengangkan para lawannya dengan suatu manuver (gerakan pasukan) yang dijalankan dengan kemahiran dan keberaniannya yang luar biasa; bahkan panglima-panglima perang yang berpengalaman sekalipun dapat merasa mujur jikalau mereka dapat memperhatikan tindakan yang demikian.”


Begitulah pujian musuh, penjajah Belanda, tentang sosoknya. Sosok panglima yang sangat dihormati dalam barisan pasukan Pangeran Diponegoro. Dalam “De Java-Oorlog Van 1825-1830” oleh E.S. De Klerek jilid IV, catatan kekaguman itu menyejarah. Konon, banyak dari pihak musuh yang takut serta jerih jika harus berhadapan langsung dalam pertempuran dengannya. Siapakah dia?

Namanya adalah Sentot Prawirodirdjo. Dari garis ibu, dia adalah keturunan Sultan Hamengku Buwono I.

Saat Diponegoro mengobarkan “perang sabil” melawan penjajah Belanda, beliau menyusun struktur pasukan dengan meniru model kemiliteran pasukan elite Turki Utsmani, yang biasa disebut pasukan Janissari. Pangkat militer tertinggi bergelar Alibasyah. Panglima yang membawahi pasukan (infanteri dan kavaleri), setara dengan Komandan Divisi di Janissari. Ada 4 orang yang diangkat untuk mendudukinya. Satu diantaranya adalah Sentot Prawirodirjo. Usianya saat itu? 17 tahun! Muda, dan berkemampuan luar biasa.

Awalnya Sentot muda berpangkat Basah, lalu dinaikkan sebagai Alibasyah yang membawahi Korps Pinilih. Kemudian mendapat kenaikan pangkat lagi sebagai Pemimpin Tertinggi Tentara. Maka, dia lalu dikenal sebagai Sentot Alibasyah Abdullah Musthofa Prawirodirdjo.

Selama masa perperangan mengusir penjajah Belanda, Sentot Alibasyah tampil trengginas.  Tak takut menghadapi musuh, tak gentar menghadapi lawan. Di atas kudanya, mengenakan pakaian khas warna putihnya, Sentot Alibasyah Prawirodirjo mempertahankan keagungan agama dan tanah airnya, dengan gagah perkasa!

Sumber : Buletin Nah #29  
Sumber gambar : Wikipedia

Rabu, 17 Februari 2016

Waktu untuk Berprestasi



sumber :
solocom.co.id
 Oleh :  Arif Jadmiko

“Banyak manusia yang sering melupakan dua kenikmatan, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR Bukhari)

          Dalam lindungan risalah, dalam bimbingan nubuwah, dengan kondisi umat Islam yang belum begitu banyak berjumlah, Abu Bakar menjadi shahabat yang paling cepat menerima apa yang didengarnya dan apa yang dilihatnya dari Rasul tercinta. Ia benar, dan selalu membenarkan setiap kata yang keluar dari Nabi Allah. Pantaslah ia mendapat gelar ‘ash-Shiddiq’, benar dan membenarkan. Dialah shahabat yang pertama-tama beriman, dan iman itu tak hanya di hati, tapi juga di lisan dan mewujud dalam perbuatan. Terbukti, berdasarkan hadis di atas, beliau adalah shahabat yang produktif dalam beramal. 

          Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa seperti Abu Bakar yang produktif dalam beramal? Tentu faktor iman yang mendasar. Selain itu, pengaturan diri dan waktu juga sangat penting. Disiplin sangat diperlukan. Di sela-sela kesibukan kita yang padat, seharusnya kita pandai mengaturnya. Mana yang paling penting dan mana yang kurang penting. Mana yang harus diprioritaskan pertama kali dan mana yang dikerjakan belakangan. 

          Menurut Hasan al-Bashri, waktu kita hanya ada tiga: waktu kemarin yang sudah bukan milik kita; esok hari yang belum tentu kita punyai; dan waktu sekarang yang ada di tangan kita.
Yusuf al-Qardhawi mengatakan bahwa waktu adalah kehidupan dan hidup itu sendiri. Dengan demikian, kehidupan kita adalah kumpulan dari waktu-waktu yang senantiasa berjalan. Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji siapakah yang terbaik amalnya. Maka, waktu adalah ladang untuk beramal, ladang untuk bekerja. Artinya, waktu adalah batas masa kerja kita hidup di dunia ini. 

         “Kewajiban itu,” kata Hasan al-Banna, “lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Maka, bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya, dan jika engkau punya kepentingan atau tugas, selesaikanlah segera.”
Agar usia kita produktif, kita butuh pengaturan diri yang baik. Dalam sehari, berapa jam waktu kita? Tetap 24 jam, bukan? Dengan waktu yang ada, banyak orang yang mampu mengoptimalkannya. Menghasilkan karya nyata. Waktunya tak terbuang sia-sia. Urusannya tertata. Dalam sehari mereka dapat mengurus diri sendiri dengan baik dan bahkan mengurus banyak manusia. 

         Timbul pertanyaan, ”Apakah tidak ada masalah dalam hidupnya?” Setiap manusia tentu memiliki masalah. Hanya saja kadarnya berbeda. Telah disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Dan orang-orang hebat tersebut dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik.

          Mereka menjadi orang yang bermanfaat bagi umat. Hidupnya tidak untuk diri sendiri. Pikirannya digunakan untuk memikirkan hal-hal yang bermanfaat. Energinya disalurkan untuk sesuatu yang berguna, bukan yang sia-sia. Kok bisa?

          Ya, sebab orang-orang yang produktif itu punya kejelasan tujuan. Punya cita-cita, punya goals dan pengaturan agenda di setiap harinya. Mereka tidak kebingungan hendak melakukan apa. Semuanya sudah jelas. Tinggal melaksanakan saja. Setelah itu, mengevaluasi diri dan memperbaiki. Begitu seterusnya. Sehingga, makin lama mereka makin produktif. Makin bertambah pandai mengatur waktunya, meski mereka supersibuk.


“Tidak kudapatkan cela yang paling besar pada diri seseorang,
selain kemampuannya untuk sempurna,
akan tetapi dia tidak mau berjuang untuk meraihnya.”
Abu Thayyib al-Mutanabbi

Sumber : Buletin Nah #30

Selasa, 16 Februari 2016

Memulai dengan Membaca



Sumber : www.anaqamaghribia.com

oleh : Deniz Dinamiz

            Siapa orang terhebat sepanjang masa? Nabi Muhammad SAW, tentu saja! Keindahan sifatnya, kehalusan sikapnya, kesejukan hatinya, ketajaman pikirnya, kekuatan fisiknya, kelembutan tuturnya, dan segala yang ada padanya adalah yang terhebat! Atau... kamu tidak banyak tahu tentang dirinya? Pasti kurang membaca!

            Manusia terhebat pastilah melalui tempaan terhebat. Ingatkah kamu apa yang awal mula diperintahkan Allah kepada Rasulullah? Buka aja Qur’an surat ke 96!

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan.”  
(Q.S. Al-‘Alaq (96) : 1)

            Tuh kan? Beliau pertama kali diperintahkan untuk membaca. Hal ini juga menjadi kekuatan luar biasa bagi para sahabat dan ulama-ulama hebat Islam untuk mengikutinya. Kita ikutin yuk apa saja yang mereka lakukan!

Pernah perjalanan jauh sampai berhari-hari? Ini dia Jabir bin Abdullah Al-Anshari! Bayangkan. Dia melakukan perjalanan sampai sebulan naik unta, dari Madinah sampai dengan Mesir. Untuk apa padahal? Mendapatkan satu hadits! Mantab!

Ada lagi. Ibnul Jauzi membaca 200.000 jilid buku. Bahkan lebih! Kata beliau begini:
“ Aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika menemukan buku yang belum pernah kulihat, maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun!”Lanjutnya lagi,”Aku pernah membaca semua  200.000 jilid buku lebih. Sampai sekarang aku masih terus mencari ilmu.”

Masih ada yang dahsyat lagi. Kakek dari Ahmad Ibnu Taimiyah, yaitu Abul Barakat, apabila mau masuk ke WC untuk buang hajat, maka beliau menyuruh anaknya untuk membacakan suatu buku dengan bacaan yang keras agar dia bisa mendengar.

            Itu dia contoh-contoh hebat kebanggaan umat. Sudah jelas membaca adalah cara tepat untuk memulai menjadi hebat (dengan izin-Nya). Pastikan dirimu: SUKSES SETIAP SAAT dengan membaca!

Sumber : Buletin Nah #26