Jumat, 12 Februari 2016

Berkedudukan Mulia karena Ilmu


 


Oleh : M. Fatan Fantastik

                Betapa agungnya ilmu. Tak heran bila pemiliknya pun menjadi termuliakan dengannya.

                Diriwayatkan Ibnu Jarir, sebagaimana tersebut dalam Lubabun Nuqul (dalam Al-Quran Miracle The Reference), dari Qatadah, “Jika segolongan orang mukmin melihat orang yang akan menuju ke arah mereka, mereka tidak enggan untuk bergeser dari tempat duduk yang dekat dengan Rasulullah.”

                Maka dari itu, turunlah ayat ini:
 “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, 'Berilah kelapangan di dalam majlis-majlis,' maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, 'Berdirilah kamu,' maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Al-Khobir –Mahateliti—dengan apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Mujaadilah/58: 11).

                Inilah ta'dib dari Allah untuk hamba-hambaNya yang beriman, jelas Abdurrahman As-Sa'di. Jika orang-orang beriman berkumpul dalam suatu majlis, lalu ada yang datang untuk duduk bersama mereka, maka yang lain meluangkan tempat baginya agar bisa duduk bersama mereka di dalam majlis. Dan memberi tempat bagi orang lain (yang baru saja datang) tidaklah akan merusak atau membahayakan bagi yang telah duduk terlebih dulu. Bahkan, kebaikan ini akan dibalas oleh Allah dengan kebaikan, sesuai jenis amalnya. Siapa yang memberi kelapangan bagi orang lain, Allah pun akan memberi kelapangan baginya. Siapa yang memberi ruang kepada orang lain, Allah pun akan memberi ruang untuknya.

                Inilah keutamaan orang-orang beriman dan berilmu. Mereka bergembira bila ada orang lain turut bersama mereka dalam kebaikan, termasuk duduk bersama mereka di majlis ilmu. Mereka diberi anugerah ilmu, dan mereka beramal dengan ilmu tersebut. Termasuk di dalamnya, menegakkan adab-adab.

                Dan karena ilmu-lah kedudukan seseorang ditinggikan. Dari Urwah, dia berkata, “Kami diberi keterangan oleh  Abdullah bin 'Amr bin Al-Ash, maka saya mendengar dia berkata, 'Saya mendengar Rasulullah ShallaLlaahu`alaihi wa Sallam bersabda, 'Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (agama) dengan serta merta dari hamba-hambaNya. Tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama sehingga Allah tidak menyisakan orang pandai. Maka, manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu, mereka ditanya, dan mereka memberi fatwa tanpa ilmu.” (H.r. Bukhari).

                Demikianlah.

Sumber : Buletin Nah #37

Tidak ada komentar:

Posting Komentar