Jumat, 05 Februari 2016

Nilai Berbakti dan Menyayangi Orang Tua



Oleh: Silvia Maharani*

            Ini adalah kisah seorang laki-laki yang berbakti dan memenuhi haknya kepada ibunya, sebagaimana yang diperintahkan Allah dan diwasiatkan kepada Rasulullah ShallaLlaahu`alaihi wa Sallam. Kisah ini terjadi pada masa kekhalifahan Umar radhiyaLlaahu `anhu, ketika manusia melakukan thawaf di Baitul Haram dalam suatu ziarah.

            Ketika itu Umar radhiyaLlaahu `anhu tengah ada di Baitul Haram ditemani oleh Ali bin Abi Thalib radhiyaLlaahu `anhu dan beberapa orang sahabat. Mereka menyaksikan seorang laki-laki yang tengah menggendong ibunya, yaitu seorang wanita yang telah lanjut usia, buta, dan tidak mampu bergerak. Dia mengelilingi ka’bah untuk melakukan thawaf dan mengucapkan talbiah.

            Orang laki-laki itu berkata, “Aku tidak peduli jika dia menjadikan aku sebagai binatang tunggangannya. Karena yang sedang aku lakukan adalah sebuah upaya untuk membalas sebagian utangku kepadanya sepanjang hidupku.” Setelah itu ia melantunkan ucapan talbiah, “LabaikaLlaahumma labbaik” (Wahai Tuhanku, aku penuhi panggilan-Mu kepadaku).

            Menyaksikan perbuatan laki-laki tersebut, Umar radhiyaLlaahu`anhu berkata, “Marilah kita ikut melakukan thawaf. Sekarang ini adalah waktu turunnya rahmat dan ampunan Allah. Mudah-mudahan dengan keberkahan bakti laki-laki ini kepada ibunya yang telah tua ini, kita juga mendapat curahan dan rahmat ampunan dari Allah Ta`ala.”

Referensi tulisan : Dikutip dan diubah seperlunya dari buku berjudul “40 Kisah Penghantar Anak Tidur” karangan Najwa Husein Abdul Aziz: Gema Insani Press

Sumber : Buletin Nih #4 

*Kelas 1 SMP 1 Muhammadiyah Gamping

Tidak ada komentar:

Posting Komentar