Jumat, 19 Februari 2016

Sang Panglima


Sentot Prawirodirdjo

Oleh : Muhammad Fatan Fantastik


“Telah menjelang saatnya bahwasanya ia akan mencengangkan para lawannya dengan suatu manuver (gerakan pasukan) yang dijalankan dengan kemahiran dan keberaniannya yang luar biasa; bahkan panglima-panglima perang yang berpengalaman sekalipun dapat merasa mujur jikalau mereka dapat memperhatikan tindakan yang demikian.”


Begitulah pujian musuh, penjajah Belanda, tentang sosoknya. Sosok panglima yang sangat dihormati dalam barisan pasukan Pangeran Diponegoro. Dalam “De Java-Oorlog Van 1825-1830” oleh E.S. De Klerek jilid IV, catatan kekaguman itu menyejarah. Konon, banyak dari pihak musuh yang takut serta jerih jika harus berhadapan langsung dalam pertempuran dengannya. Siapakah dia?

Namanya adalah Sentot Prawirodirdjo. Dari garis ibu, dia adalah keturunan Sultan Hamengku Buwono I.

Saat Diponegoro mengobarkan “perang sabil” melawan penjajah Belanda, beliau menyusun struktur pasukan dengan meniru model kemiliteran pasukan elite Turki Utsmani, yang biasa disebut pasukan Janissari. Pangkat militer tertinggi bergelar Alibasyah. Panglima yang membawahi pasukan (infanteri dan kavaleri), setara dengan Komandan Divisi di Janissari. Ada 4 orang yang diangkat untuk mendudukinya. Satu diantaranya adalah Sentot Prawirodirjo. Usianya saat itu? 17 tahun! Muda, dan berkemampuan luar biasa.

Awalnya Sentot muda berpangkat Basah, lalu dinaikkan sebagai Alibasyah yang membawahi Korps Pinilih. Kemudian mendapat kenaikan pangkat lagi sebagai Pemimpin Tertinggi Tentara. Maka, dia lalu dikenal sebagai Sentot Alibasyah Abdullah Musthofa Prawirodirdjo.

Selama masa perperangan mengusir penjajah Belanda, Sentot Alibasyah tampil trengginas.  Tak takut menghadapi musuh, tak gentar menghadapi lawan. Di atas kudanya, mengenakan pakaian khas warna putihnya, Sentot Alibasyah Prawirodirjo mempertahankan keagungan agama dan tanah airnya, dengan gagah perkasa!

Sumber : Buletin Nah #29  
Sumber gambar : Wikipedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar