Rabu, 03 Februari 2016

Tak Kenal Maka Tak Cinta


buletin nah #36


[SAJIAN SPESIAL]

Oleh : Annafi`ah Firdaus

Assalamu'alaikum Sobat Nah! dimanapun berada. Semoga senantiasa memiliki semangat yang merekah. Semangat berpayah-payah sampai jannah.  Semangat mengerjakan apa-apa yang bermanfaat tanpa berkeluh kesah. Alhamdulillah, puji syukur Allah masih mengaruniakan iman dalam dada kita. Iman Islam yang mengantarkan pemeluknya ke surga. Pujian hanya untuk Allah yang telah mengutus manusia paling mulia; Rasulullah ShallaLlaahu `alaihi wa Sallam sang teladan sepanjang masa.

Sobat Nah! pasti punya tokoh inspiratif. Bisa saja masih hidup atau sudah tiada! Tokoh yang sobat perhatikan kehidupannya. Mulai sejak lahir, sampai prestasi-prestasi yang tokoh tersebut lakukan. Bahkan ada yang meniru gaya berpakaiannya. Wah siapa itu hayoo? Semua yang dilakukan si tokoh tersebut menjadi perhatian kita.

Berbicara tentang teladan zaman, kita umat muslim wajib mengenal manusia ini, bahkan mencintainya. Mencintai yang seharusnya nggak sekedar lisan saja. Tapi bisakah disebut cinta, namun kita sungguh tak mengenalnya? Kita nggak tau apa yang beliau suka? Tidak tau keluarga beliau? Apa bisa disebut cinta, tapi kita juga nggak tau siapa sahabatnya? Setiap kejadian-kejadian yang dialaminya? Nah!

Sebagai seorang Muslim kita berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia terbaik yang pernah ada. Para ulama salaf dan khalaf bersepakat atas hal itu. Namun ketika seorang penulis Barat bernama Michael H. Hart secara fair dan objektif  menilai demikian tentu sangat mengherankan. Bahkan, ia menempatkan sosok Muhammad ShallaLlahu `alaihi wa Sallam pada rangking pertama dalam 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah.

Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi,” ungkapnya.

Contoh lagi mereka yang membuktikan cintanya kepada Rasulullah adalah seorang ulama kelahiran India bernama Syaikh Safiyurrahman Mubarakfuri, beliau mengikuti sebuah lomba penulisan Sirah Nabawiyyah.  Karya beliau berjudul Ar Rahiq Al Makhtum. Karya ini ditulis dengan bahasa mudah dipahami, kemudian diterjemahkan hampir ke semua bahasa, termasuk Indonesia. Sirah ini cukup terkenal di Indonesia lho, karena menjadi karya terbaik menurut Persatuan Ulama Sedunia. Karya ini dinilai memiliki bobot ilmiah yang tinggi, serta pengungkapannya yang indah di setiap kisah-kisah Rasulullah. Nah, bagaimana dengan kita Sobat? Apa nih bentuk cinta kita kepada Rasul Allah?

Sobat Nah, setidaknya ada satu cara sederhana tapi penting untuk kita lakukan untuk mencintai Rasulullah. Kalau sebelumnya ulama kelahiran India sudah menuliskan sirah Rasulullah dengan bahasa yang indah, kita bisa memulai dengan membacanya. Ini adalah pintu pertama mengenal beliau. Lewat sirah, kita bakal mengenal sosok beliau yang unggul dalam segala bidang. Dengan membaca sirah kita akan tahu bahwa beliau adalah sosok pembelajar sejati yang langsung dididik oleh Allah, guru terbaik sepanjang zaman. Dialah Rasulullah sang suami yang baik, ayah yang penyayang, panglima perang yang tangguh, pembiacara yang hebat, sahabat sejati, ahli ekonomi, dan kakek yang sangat menyayangi cucunya.
               
Kita bisa membaca beberapa karya klasik maupun kontemporer yang tersedia ditoko buku. Diantara kitab klasik adalah as-Siroh an-Nabawiyyyah karya Imam Abdul Malik bin Hisyam. Kitab ini terkenal dengan nama Sirah Ibnu Hisyam. Adapula karya lain, yaitu sirah Nabawiyyah karya Imam Ibnu katsir dan Zadul Ma`ad karya Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Atau tertarik karya bernuansa kontemporer? Diantaranya ar-Rohiq al-Makhtum karya Syaikh Safiyurrahman Mubarakfuri, Fiqhu as-Siroh masing-masing karya DR. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi dan DR. Muhammad al-Ghozali. Alhamdulilah saat ini kitab-kitab di atas sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia guna memudahkan para pembaca.

Tentang Rasulullah

Nasabnya ialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hisyam bin Abdi Manaf bin Qushayyi bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Mu`iddu bin Adnan. Nabi Muhammad lahir di Tahun Gajah. Saat itu Abraham al-Asyram berusaha menyerang Makkah dan menghancurkan Ka'bah. Namun Allah menggagalkannya. Sesuai riwayat yang paling kuat, kelahiran Nabi ShallaLlaahu'alaihi wa Sallam adalah Senin malam, 12 Rabi'ul Awwal Tahun Gajah.
               
Sobat perlu tahu bahwa Nabi kita lahir dalam keadaan yatim. Bapaknya, Abdullah meninggal ketika ibunya mengandung usia 2 bula. Begitu juga dengan ibunda Rasulullah, Aminah meninggal dunia ketika beliau usia 6 tahun. Setelah itu, beliau diasuh oleh kakeknya Abu Thalib yang sampai meninggalnya tidak berikrar masuk Islam.

Mari kita susuri hikmah kenapa Rasulullah ditaqdirkan oleh Allah dalam keadaan yatim. Diantara hikmahnya adalah agar musuh Allah tidak punya kesempatan menuduh Muhammad ShallaLlaahu'alaihi wa Sallam dididik oleh kakek dan bapaknya yang saat itu terpandang di kalangan kaum Quraisy. Abdul Muthalib adalah seseorang tokoh diantara kaumnya yang diberi tanggung jawab memberi jamuan makanan dan minuman untuk tamu yang datang pada musim haji. Mereka musuh Allah akan berfikiran sudah wajar bila kakek dan bapaknya membimbing dan mengarahkan Rasulullah. Padahal Rasulullah semasa kecil hidup di pedalaman Sa'ad, jauh dari keluarganya. Abu Thalib yang tidak menyatakan diri masuk Islam sudah diatur oleh Allah untuk tidak menjadi celah bahwa pamannya ikut berperan mendidik Rasulullah terhadap misi yang dibawanya.

Rasulullah di waktu kecil, disusui oleh seorang wanita bernama Halimah as-Sa'diyah. Keberkahan pun datang di desa tempat tinggal Halimah. Untanya yang sudah tua dan telah berhenti meneteskan air susu bahkan kembali memproduksi lagi. Kondisi saat itu sedang kemarau panjang, Allah pun menurunkan hujan. Kejadian ini menunjukkan ketinggian derajat dan kemuliaan Rasulullah ShallaLlaahu'alaihi wa Sallam. Keberadaannya di rumah Halimah dan bagi desanya membawa keberkahan. Rasulullah adalah rahmat bagi manusia, sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya, “Dan Kami tidak mengutus kamu kecuali sebagai rahmat bagi segenap alam.”

Itulah sekelumit tentang beliau. Sudah selayaknya kita mencintai Rasulullah ShallaLlaahu'alaihi wa Sallam. Jika kita mengenalnya, sungguh kita akan mencintainya. Bagaimana caranya? Contoh sudah ada. Nah, selamat mencinta !!!

Sumber : Naskah Buletin Nah edisi 36 

sumber : www.tokopedia.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar