Rabu, 17 Februari 2016

Waktu untuk Berprestasi



sumber :
solocom.co.id
 Oleh :  Arif Jadmiko

“Banyak manusia yang sering melupakan dua kenikmatan, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR Bukhari)

          Dalam lindungan risalah, dalam bimbingan nubuwah, dengan kondisi umat Islam yang belum begitu banyak berjumlah, Abu Bakar menjadi shahabat yang paling cepat menerima apa yang didengarnya dan apa yang dilihatnya dari Rasul tercinta. Ia benar, dan selalu membenarkan setiap kata yang keluar dari Nabi Allah. Pantaslah ia mendapat gelar ‘ash-Shiddiq’, benar dan membenarkan. Dialah shahabat yang pertama-tama beriman, dan iman itu tak hanya di hati, tapi juga di lisan dan mewujud dalam perbuatan. Terbukti, berdasarkan hadis di atas, beliau adalah shahabat yang produktif dalam beramal. 

          Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa seperti Abu Bakar yang produktif dalam beramal? Tentu faktor iman yang mendasar. Selain itu, pengaturan diri dan waktu juga sangat penting. Disiplin sangat diperlukan. Di sela-sela kesibukan kita yang padat, seharusnya kita pandai mengaturnya. Mana yang paling penting dan mana yang kurang penting. Mana yang harus diprioritaskan pertama kali dan mana yang dikerjakan belakangan. 

          Menurut Hasan al-Bashri, waktu kita hanya ada tiga: waktu kemarin yang sudah bukan milik kita; esok hari yang belum tentu kita punyai; dan waktu sekarang yang ada di tangan kita.
Yusuf al-Qardhawi mengatakan bahwa waktu adalah kehidupan dan hidup itu sendiri. Dengan demikian, kehidupan kita adalah kumpulan dari waktu-waktu yang senantiasa berjalan. Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji siapakah yang terbaik amalnya. Maka, waktu adalah ladang untuk beramal, ladang untuk bekerja. Artinya, waktu adalah batas masa kerja kita hidup di dunia ini. 

         “Kewajiban itu,” kata Hasan al-Banna, “lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Maka, bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya, dan jika engkau punya kepentingan atau tugas, selesaikanlah segera.”
Agar usia kita produktif, kita butuh pengaturan diri yang baik. Dalam sehari, berapa jam waktu kita? Tetap 24 jam, bukan? Dengan waktu yang ada, banyak orang yang mampu mengoptimalkannya. Menghasilkan karya nyata. Waktunya tak terbuang sia-sia. Urusannya tertata. Dalam sehari mereka dapat mengurus diri sendiri dengan baik dan bahkan mengurus banyak manusia. 

         Timbul pertanyaan, ”Apakah tidak ada masalah dalam hidupnya?” Setiap manusia tentu memiliki masalah. Hanya saja kadarnya berbeda. Telah disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Dan orang-orang hebat tersebut dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik.

          Mereka menjadi orang yang bermanfaat bagi umat. Hidupnya tidak untuk diri sendiri. Pikirannya digunakan untuk memikirkan hal-hal yang bermanfaat. Energinya disalurkan untuk sesuatu yang berguna, bukan yang sia-sia. Kok bisa?

          Ya, sebab orang-orang yang produktif itu punya kejelasan tujuan. Punya cita-cita, punya goals dan pengaturan agenda di setiap harinya. Mereka tidak kebingungan hendak melakukan apa. Semuanya sudah jelas. Tinggal melaksanakan saja. Setelah itu, mengevaluasi diri dan memperbaiki. Begitu seterusnya. Sehingga, makin lama mereka makin produktif. Makin bertambah pandai mengatur waktunya, meski mereka supersibuk.


“Tidak kudapatkan cela yang paling besar pada diri seseorang,
selain kemampuannya untuk sempurna,
akan tetapi dia tidak mau berjuang untuk meraihnya.”
Abu Thayyib al-Mutanabbi

Sumber : Buletin Nah #30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar