Rabu, 09 Maret 2016

Resensi Buku : Ujian Sukses tanpa Stress!




  


Oleh : Annafi`ah Firdaus



Judul buku                : Ujian Sukses tanpa Stress!
Penulis                      : Fatan Fantastik
Tahun                        : 2013 (Cetakan ke-5)
Penerbit                     : BOOK MAGZ kelompokPro U Media
Kota Penerbit            : Yogyakarta
Halaman                    : 116 Halaman
Harga                         : Rp 18.000,-




“Beruntunglah mereka yang bersiap-siap. Kapan pun ujian datang, insya Allah ia siap berjabat tangan. Maklum, seperti teman lama. Ketemuan sama ujian sih oke-oke saja. Karena ia tahu, betapa bejibun manfaat bersahabat dengan si ujian...

Satu kata: UJIAN. Satu kata yang selalu terdengar di telinga kita. Iya kan? Baik ujian hidup ataupun ujian sekolah. Bagi teman-teman yang masih belajar, baik di sekolah maupun kampus, tentu ujian adalah hal yang tidak dapat dihindari. Apalagi di akhir-akhir kenaikan kelas atau kelulusan atau akhir semester. Ujian selalu datang tanpa permisi bertanya terlebih dahulu pada kita; siap atau tidak? Lantas, apa sebenarnya ujian itu? Bagaimana seharusnya sikap kita? Kenapa dia datang? Dan bagaimana kita harus mempersiapkannya?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita bisa membaca buku karangan Fatan Fantastik yang berjudul “Ujian Sukses tanpa Stress!”. Dan ujian, oleh penulis buku ini diibaratkan seperti hujan. Kok bisa? Apa hubungannya ujian dan hujan?

Dikutip dalam buku USTS (Ujian Sukses tanpa Stress) bahwa hujan menyerbu bumi dengan peluru-peluru airnya. Kadang rintik saja. Sering, derasnya tak menyisakan jeda. Lama pula. Suatu saat, diawali dengan tetesan kecil, lalu makin banyak tetesannya dan akhirnya: DERASNYA NYATA!

Sedangkan bagaimana perasaan kita ketika hujan datang? Ada yang masih mengeluh kenapa hujan? Atau ada yang girang dan sangat bahagia? Sampai-sampai tak tertahankan untuk main hujan-hujanan?

Nah, kalau kita ibaratkan hujan adalah ujian, bukankah bisa belajar dari masa kecil  kita yang bahagia dan penuh kenangan tiada tara saat bertemu hujan? Kecuali kalau ada di antara kita yang punya masa lalu kelam (he..he...). Contoh masa kecil kelam adalah jarang bermain di halaman depan rumah, terlalu banyak waktu di depan TV atau temannya hanyalah game saja.

Jadi? Perhatikanlah anak-anak kecil itu ketika hujan datang dan memilih untuk menghadang! Makin deras hujan yang turun, makin girang dan bahagia untuk hujan-hujanan. Lihatlah! Betapa asyiknya mereka yang bermain perang-perangan satu sama lain atau lari-larian saling berkejaran berkawankan hujan. Asyik kan? Tentu asyik, dan kita harus menghadapi UJIAN juga seperti mereka; dengan bahagia dan tertantang. Bukan dengan mengeluh dan pasrah tanpa persiapan yang baik.

Berbicara tentang hujan lagi. Hujan itu turun dari langit ke bumi. Iya kan? Dan kata Rasulullah, di bumi itu ada 3 model tanah yang akan menerima hujan.
1.    Tanah yang SUBUR. Tanah ini mampu menyerap air hujan itu dengan baik. Lalu berbagai tanaman tumbuh dengan subur di atasnya.
2.    Tanah yang KERAS. Tanah ini hanya mampu menampung air saja, sehingga suatu saat ada yang bisa memanfaatkannya. Misalnya hewan di sekitar itu bisa meminum air tersebut atau petanin memanfaatkan untuk irigasi.
3.    Tanah yang BERBATU. Wah, kalau jenis tanah ini sudah tidak bisa menyerap air, tak bisa juga menampung air. Air yang berlimpah tak bisa dimanfaatkan bahkan dibuang sia-sia oleh jenis tanah ini.

Sebenarnya, perumpamaan di atas digunakan untuk pemahaman tentang agama dan ilmu pengetahuan. Tapi, kali ini kita bisa menggunakan juga untuk berbincang tentang hujan dan ujian.

Anggap saja, hujan = ujian. Sedang tanah di bumi adalah kita. Dan harus kita ketahui lagi; suka atau tidak suka, bahagia atau tidak bahagia, siap atau tidak siap, hujan tetap turun ke bumi. Ujian akan terjadi pada setiap kita. Jadi terserah pada kita bagaimana menyikapinya. Pertanyaannya, mau jadi tanah model seperti apa?

Tanah yang subur, ‘hujan’ ujian akan mampu menumbuhkan kesuburan yang berbuah prestasi. Tanah jenis ini bisa menyerap seluruh materi ujian dengan baik sehingga kelak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kebaikan banyak orang.

Atau tanah yang hanya menampung saja. Sehingga kita bisa menjadi ‘tampungan’ ilmu untuk suatu saat ada orang yang bisa memanfaatkannya?

Dan model tanah ketiga adalah tanah yang bebatuan. Sudah tidak bisa menyerap, tidak menampung, dan akhirnya ‘banjir’ masalah.

Sangatlah penting untuk kita segera memutuskan dalam bersikap menghadapi ujian. Mau jadi yang mana? Kalau jadi model tanah yang pertama, minimal kedua, pantaslah kita segera BERSIAP melakukan PERSIAPAN UJIAN. Dan cara bersiap, salah satunya adalah membaca buku USTS. Kalau ada yang masih memilih model ketiga, kita doakan semoga segera bertaubat! Apa kita tidak malu pada anak kecil yang selalu girang akan datangnya hujan?

 Buku ini memang mini kecil, tapi cukup membantu untuk bagaimana menata kembali niat dan sikap kita dalam menghadapi ujian. Juga membantu mendapatkan ilmu bagaimana mempersiapkan ujian, mengenali masalah-masalah dalam ujian serta solusinya, dan bahaya mencontek serta cara menanggulanginya. Dan yang paling penting adalah membantu menguatkan cita-cita jangka panjang kita. Bukankah ujian memang tahapan yang harus kita lewati untuk meraih cita-cita tertinggi kita? SURGA!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar