Rabu, 23 Maret 2016

Sang Pencipta Berbeda dengan Ciptaan-Nya



Oleh : Annafi`ah Firdaus

          Dialah Allah, yang memberikan banyak hal sesuai kebutuhan kita. Contohnya saja setiap tarikan nafas kita. Bukankah menjadi repot ketika jalan pernafasan sedang terganggu? Kita butuh bernafas kan? Contoh lainnya; bukankah telah diatur oleh-Nya di setiap menit jantung berdenyut memompa darah guna mengedarkan kandungan oksigen di dalamnya ke seluruh sendi-sendi tubuh kita? Setiap bagian tubuh kita pun menjadi kuat melakukan aktivitas seperti berjalan, berlari, mengangkat beban, bahkan otak yang dapat digunakan untuk berfikir.  Akan tetapi, sudahkah kita mengenal Allah? Sudahkah kita mengetahui siapa Rabb kita yang sudah memberikan banyak hal pada kita?


Allah, Berbeda dengan Makhluk-Nya

          “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”
(Q.S. Asy-Syuuraa [42] : 11)

            Allah Ta`ala telah menyifati diri-Nya dengan sejumlah sifat, menamai diri-Nya dengan sejumlah nama. Dan Allah tidak melarang kita untuk menyifati dengan sifat-sifat-Nya dan menamai-Nya dengan nama-nama-Nya tersebut.

            Dialah Allah, Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, Maha Kuat lagi Maha Perkasa, Maha Lembut lagi Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan bahwasanya Dia telah berbicara kepada Nabi secara langsung, beristiwa` (bersemayam) di atas `Arsy-Nya, dan Dia menciptakan segala sesuatu dengan kedua tangan-Nya. Dia mencintai orang-orang yang berbuat baik, dan ridha kepada orang yang beriman.

            Namun Sobat, ada satu hal penting yang harus kita pahami dan yakini. Apa itu? Bahwa cara  Allah mendengar, berbeda dengan mendengarnya kita. Cara Allah melihat, berbeda dengan melihatnya kita. Tangannya Allah, berbeda dengan tangannya kita. Allah itu berbeda dengan makhluk-Nya. Ya, ini hanya persamaan nama saja.

Yakin saja, Tanpa Bertanya Bagaimananya
           
            Inilah sikap Imam Ahmad bin Hanbal, seorang imam besar yang terkenal dengan semangatnya mencari hadits dengan berkeliling kota dan negri terkait dengan berbagai sabda Rasulullah yang menegaskan bahwa sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, dan bahwasanya Allah Ta`ala kelak akan melihat kita pada Hari Kiamat, Allah Ta`ala takjub, tertawa, marah, meridhai, membenci, dan mencintai.

            Beliau berkomentar, “Kami mengimani dan membenarkan semuanya, tanpa takyiif (tanpa memperinci bagaimana) dan tanpa makna.”

            Mari kita simak maksud komentar Imam Ahmad bin Hanbal tersebut yang dijelaskan oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam bukunya “Minhajul Muslim”. Maksudnya adalah  kita mengimani bahwasanya Allah Ta`ala itu turun ke langit dunia, Allah melihat kita kelak di akhirat. Dia juga berada di atas `Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Namun kita tidak mengetahui cara turun-Nya, cara melihat-Nya pada Hari Kiamat, cara Allah Ta`ala bersemayam dan kita tidak mengetahui makna hakiki dari itu semua.

            Kita pasrahkan sepenuhnya pengetahuan tentang seluruh perkara itu kepada Allah yang telah memfirmankan dan mewahyukannya kepada Nabi Muhammad. Kita tidak boleh menolak atau menyangkal (apapun yang datang dari) Rasulullah. Kita juga tidak boleh menyifati Allah Ta`ala melebihi penyifatan Rasulullah terhadap-Nya, tanpa batas dan tujuan.

            Sobat Nah, ketika seorang Muslim itu beriman kepada sifat-sifat Allah Ta`ala dan menyifati-Nya dengan sifat-sifat itu, dia sama sekali tidak memiliki keyakinan dan tidak pernah terlintas di dalam benaknya bahwa turunnya Allah  -misalnya– menggunakan sayap atau yang lainnya. Kita harus mengimani bahwa Allah Ta`ala bersemayam di atas `Arsy,  tanpa mempertanyakan bagaimana caranya Allah bersemayam, berapa luas `Arys itu, mana yang lebih besar Allah atau `Arsy, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mungkin diajukan. Selain tidak bisa dijawab karena itu masalah ghaib, juga tidak ada gunanya, bahkan hanya akan menghabiskan waktu saja.

            Hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Termasuk urusan ini. Tugas kita; hanya yakin saja, tanpa perlu bertanya bagaimananya.

Yuk Diamalkan!

            “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, seratus kurang satu. Tiadalah seseorang menghafalkan kecuali dia akan masuk surga. Dia itu tunggal dan menyukai yang tunggal.”
(H.R. Bukhari Muslim).

            Menyimak hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim di atas, kita jadi tahu bahwa Allah memiliki 99 nama. Kemudian juga ada sesuatu yang menarik;  jika menghafalnya, kita akan masuk surga.

            Nah, kata menghafal dalam hadist tersebut dijelaskan Prof. Yunahar Ilyas dalam buku beliau berjudul “Kuliah Aqidah” diartikan tidak secara sempit dengan sekadar menghafal di lisan saja. Lebih dari itu, yakni mengimani dan mengamalkannya dalam kehidupan.

            Kita meyakini bahwa Allah Maha Melihat. Maka harusnya kita sadar, Allah melihat atas apapun yang kita kerjakan. Dalam keadaan sepi, ataupun ramai. Dalam keadaan sendiri maupun bersama-sama. Taat pun semangat. Maksiat? Tentu lewat. Bukankah tak pantas kita mengabaikan penglihatan dan pengawasan-Nya?

Sumber : Buletin Nah #39

Tidak ada komentar:

Posting Komentar