Kamis, 28 April 2016

Jalan Sepi



Oleh: Annafi`ah Firdaus
Aku dan kau mengerti
Saat berjalan dalam sepi
Tak ada yang menemani
Bukan berarti kita dalam sendiri
Bukankah ada yang selalu mengawasi?
Bukankah para malaikat-Nya selalu mengikuti?
Kenapa masih takut dalam menapaki?

Kemana pun kita lari
Arah utara ataupun selatan bumi
Seluruh rizki dan mati telah ditetapkan Ilahi
Dan para malaikat, dicipta tuk taat pada Rabbi
Taat tanpa berkata tapi
Untuk menjaga manusia
Mengawasi manusia
Mencabut ruh manusia
Mendoakan manusia
Serta mencatat amalan detiknya

Jalan sepi, bukan berarti kita sendiri
Ada yang mengawasi
Dan membersamai

Sumber: Buletin Nah #40

Rabu, 27 April 2016

Sekolah Jum`at April Pekan Ke-2: Jangan Bosan!




Oleh: Amin Novianto

"Kok gitu-gitu aja ya? Lama-lama jadi bosan. Sudah berkali-kali aku ketemu yang kaya gini. Gak ada yang lain apa?"

Sobat, pernahkah mengungkapkan sesuatu yang mirip maknanya seperti kalimat pendek di atas? Kalau iya dalam hal apa? Jika tidak, waahh alhamdulillah. Jangan sampai terucap! Sebab inilah salah satu hal yang harus kita hindari. Hal yang menghambat kita melakukan yang terbaik. Inilah yang kita sama-sama ketahui; bosan.

Bosan; menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti sudah tidak suka lagi karena sudah terlalu sering atau banyak. Nah bagaimana menghadapinya penting bagi kita untuk tahu. Kenapa? Agar kita bisa mencegah kemunculannya. Setuju?

Maka, pada kesempatan Sekolah Jum'at (08/04/2016) kali ini, para peserta diajak untuk belajar bersama tentang bagaimana menyikapi bosan dalam menulis. Pak Fatan selaku pemateri menyampaikan bahwa dari arti kata bosan, dapat diketahui dua penyebab kemunculannya. Apa penyebabnya? Yaitu merasa sudah terlalu sering atau terlalu banyak.

Pak Fatan menyampaikan terkait bosan ini, bahwa Ibnu Mas'ud pernah menolak untuk mengajarkan ilmu setiap hari. Mengapa demikian? Ya karena beliau mengenal orang-orang yang akan diajari itu, jika terlalu sering akan mengalami kebosanan. Hal yang serupa juga pernah dilakukan oleh Rasulullah. Beliau juga menolak untuk mengajari beberapa orang setiap hari, karena dikhawatirkan akan bosan. Nah lalu bagaimana usaha kita untuk menghadapi rasa bosan? InsyaAllah bersambung di tulisan selanjutnya.

Keberadaannya Tak Pantas Diabaikan


Oleh: A.K. Hardew

          Tercipta tidak sebagai laki-laki maupun perempuan, tidak butuh minum dan makan, tercipta dari cahaya,  selalu taat pada-Nya dan tidak pernah bermaksiat. Sobat, sudahkah kita mengimani  keberadaan malaikat?

          Iman adalah pengakuan dan pembenaran. Jadi, iman kepada malaikat adalah mengakui dan membenarkan adanya malaikat. Iman kepada malaikat adalah satu di antara pokok akidah. Tidak sempurna keimanan seseorang bila dia tidak mengimani malaikat. Jika iman tidak sempurna, maka neraka adalah tempatnya.

          Di antara kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia; ada kerja-kerja malaikat yang menyertai. Kenapa? Karena ini adalah perintah Allah. Menyampaikan rezeki kepada manusia adalah satu di antara tugas malaikat. Penglihatan, pendengaran, merasakan sejuknya air, merasakan kelezatan makanan, dan dapat menghirup udara segar.  Itu semua adalah kenikmatan dari Allah yang disampaikan oleh malaikat kepada manusia.

          Begitu pun menyampaikan kebenaran. kebenaran (wahyu) yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad disampaikan oleh Jibril dan Jibril adalah malaikat Allah. Sungguh, kita harus tahu, malaikat sangatlah menginginkan manusia untuk berbuat baik, taat, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah.

          Nah, bila semua kenikmatan dari Allah yang kita rasakan disampaikan oleh malaikat, masih pantaskah kita mengabaikannya? Seolah tidak tahu dan tidak mau tahu?

Jumat, 22 April 2016

Dua Pilihan Mulia Soedirman

Jenderal Soedirman 


Oleh: Ridwan Hidayat

Soedirman berpesan saat acara pengajian Pemuda Muhammadiyah di Rawalo, Banyumas, jelang akhir 1930an, “Ada dua pilihan penting dalam kehidupan yang kita jalani saat ini,” ucapnya. Ustadz muda itu melanjutkan perkataannya, “Yang pertama `isy kariiman yakni hidup mulia dan yang kedua mut syahiidan yakni mati syahid. Kalian memilih yang mana?”

“Kalau memilih isy kariiman bagaimana syaratnya?” tanya Hardjomartono salah seorang peserta. “Kamu harus selalu beribadah dan berjuang untuk agama Islam,” jawab Soedirman. “Bagaimana kalau pilih mut syahiidan? tanya Hardjomartono lagi. “Kamu harus berjuang melawan setiap bentuk kebatilan dan berjuang untuk memajukan Islam,” jawab Soedirman kemudian. Hardjomartono kembali menegaskan dengan pertanyaan, “Jadi semua harus berjuang?” Dengan tersenyum Soedirman menjelaskan, “Kedua pilihan itu seimbang. Kita akan mendapatkan semua kalau mau, sebab seseorang akan mendapatkan kemuliaan tentu harus berlaku sesuai dengan ajaran dan berjuang di jalan Islam.”

“Salah satu musuh penghalang saat ini adalah penjajahan. Karena itu agar pemuda mendapat kemuliaan maka harus bersiap untuk berjuang, siap syahid untuk mendapatkan kemerdekaan. Para pemuda, apalagi pemuda Muhammadiyah dan anggota HW (Hizboel Wathan), harus berani untuk jihad fisabillilah,” pesan Soedirman yang ditulis Sadirman dalam buku Guru Bangsa Sebuah Biografi Jenderal Sudirman dari hasil wawancara dengan Hardjomartono pada 1997.

Pada 1943, Jepang menunjuk Soedirman menjadi Daidancho (Komandan Batalyon) Pembela Tanah Air (PETA) karena ketokohannya di masyarakat Banyumas. Mengikuti PETA kesempatan mendapat pelatihan militer di Bogor selama tiga bulan demi turut serta berkontribusi pada perjuangan kemerdekaan. Namun di sisi lain, ia tak rela meninggalkan rakyat Banyumas yang selama ini ia bina. Ia dihadapkan dua pilihan yang sama-sama berjuang di jalan Allah. Setelah melakukan shalat malam dan istikharah, pilihannya bulat menerima masuk menjadi anggota PETA. Benar saja, Allah Ta`ala memberikan jalan mulia pada pilihan ini.

Pada Konfrensi Besar Tentara Keamaan Rakyat (TKR) 12 November 1945, Soedirman berhasil terpilih menjadi Panglima Tertinggi TKR melalui pemungutan suara. Soedirman berhasil mengalahkan Oerip Soemohardjo, perwira KNIL yang lebih berpengalaman. Para pasukan bersenjata itu memilihnya karena melihat kewibawaan dan terkenal sebagai sosok muslim yang taat dari pada Oerip Soemohardjo mantan prajurit Hindia Belanda.

Keputusan memilih dua pilihan setelah shalat istikharah malam itu akhirnya berujung jabatan Jenderal Soedirman ketika TKR berubah menjadi TNI. Jihad fisabilillah menjadi landasannya saat memimpin TNI.
 
(Naskah Buletin Nah #40)

Sumber foto: www.profilpedia.com

Kamis, 21 April 2016

Informasi Kegiatan Public Speaking Training JAN Bulan April



 
Saat mendapat kesempatan berbicara di depan publik, apa yang kita utamakan? Menyampaikan hal yang benar atau decak kagum dari para pendengar? Pertanyaan ini akan disusul dengan beberapa pertanyaan lainnya. Jika keburukan yang dikemas dengan baik itu kian menggiurkan. Layakkah kebenaran itu disampaikan secara serampangan?

Maka berbicara itu ada ilmunya. Sungguh lisan ini adalah satu di antara hal yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Sehingga ketika hendak berbicara di depan publik ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Minimal sesuatu yang kita sampaikan itu benar isinya, kemudian menggunakan cara yang baik.

Bagaimana dengan hal-hal yang lain? Mari kita pelajari bersama dalam acara "Public Speaking Training" yang akan diadakan pada: Sabtu, 30 April 2016 Jam 08.30-11.45 Bersama : Fatan Fantastik di Rumah Nah!

Berhubung jumlah peserta terbatas (maksimal 20 orang) jadi harap segera mendaftar. CP: 085729329304 Biaya pendaftaran: 25 ribu. Fasilitas: snack dan handout.