Rabu, 11 Mei 2016

Catatan Ngaji Kitab: Membangun Ketakwaan untuk Kejayaan


Maskam UGM Yogyakarta

Oleh: Annafi`ah Firdaus  

Allah itu harus senantiasa diingat bukan dilupakan. Allah itu harus senantiasa disyukuri, bukan dikufuri. Maka, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa; menurut puncak kesanggupan yang kalian miliki.

Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian” (Q.S. At-Taghabun: 16).

Takwa. Kita sering mendengarnya. Sebenarnya apa makna takwa itu?

Definisi takwa yang dituliskan Prof. Yunahar Ilyas dalam bukunya “Kuliah Akhlaq” adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Atau lebih ringkasnya mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Saudaraku, Allah telah berfirman dalam Al-Qur`an Surat Al-Ahzab ayat 70 yang menggandengkan takwa dengan perkataan yang benar. Ini berarti, salah satu perintah Allah yang harus kita taati untuk mencapai takwa adalah berkata benar. Pertanyaannya, sudahkah lisan kita senantiasa berkata benar dan mengandung kebaikan?

Sungguh, sesiapa yang mengumpulkan dua hal ini: takwa dan berkata benar, niscaya mendapat kesuksesan yang hakiki. Dia Allah akan mengadakan jalan keluar bagi pemilik takwa dan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dia Allah juga akan memberikan kepada pemiliknya ‘furqan’ (kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang batil), menghapuskan segala kesalahan dan mengampuni segala dosa.

Dengan takwa Allah akan berikan: jalan keluar permasalahan, rizki yang berasal dari arah tak terduga, diberikan ‘furqan’, serta diampuni dan dihapuskan dosa. Pernahkah terbesit pertanyaan: apakah ini masuk logika manusia terutama masalah rizki? Tentu jawabannya “tidak” bagi mereka yang tidak beriman kepada Allah. Janji ini memang hanya dipahami mereka yang benar-benar beriman kepada Allah.

Selanjutnya, mari kita dengarkan Abu Hurairah berbincang bersama Rasulullah. “Ditanyakan, `Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?’ Beliau menjawab, `Yang paling bertakwa.’ Mereka berkata, `Bukan itu yang kami tanyakan.’ Beliau menjawab, `Yusuf Nabi Allah, putra Nabi Allah (Ya`qub), putra Nabi Allah (Ishaq), putra Khalil Allah (Ibrahim).’ Mereka berkata, `Bukan itu yang kami tanyakan kepada Anda.’ Beliau bersabda, `Tentang turunan Bangsa Arab yang kalian tanyakan kepadaku? Yang terbaik di masa jahiliyah adalah yang terbaik di masa Islam, jika kalian benar-benar mengerti’.”(Muttafaq`alaih).

Menarik ya pembicaraan Abu Hurairah dan Rasulullah untuk diambil pelajaran. Rasulullah berpesan: kemuliaan seseorang itu bukan atas dasar keturunan, tetapi ketakwaan. Bukan karena “berdarah biru” atau memiliki garis keturunan, tetapi ketakwaanlah yang membuat mulia. Bukan karena rupawan atau cantik jelita atau kaya harta.

Saudaraku, ada doa yang senantiasa bisa dipanjatkan setiap kesempatan. Agar Allah mampukan kita untuk takwa. Agar kita mendapat kejayaan yang besar. Beginilah Ibnu Mas`ud meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan hati.”

Sungguh, hanya orang bertakwa yang akan mendapat kejayaan. Karena kejayaan hakiki itu berasal dari Sang Pencipta yakni Allah ridha terhadap apa yang dilakukan hamba-Nya. Allah pun memasukkan hamba tersebut ke dalam surga yang tiada kesusahan dan penderitaan di dalamnya.

Bukankah keinginan tertinggi kita berkumpul bersama dengan orang-orang yang kita cintai di surga? Bertakwalah! Bangunlah kejayaan di surga!

Sumber foto: Instagram @emfatan
Sumber:
Diolah dari “Ngaji Rabu Sore” Kitab Riyadush Shalihin di Rumah Nah (4/5/2016).
Yunahar Ilyas, 2011, Kuliah Akhlaq, Yogyakarta: LPPI.
Imam an-Nawawi, 2014, Riyadush Shalihin, Jakarta: Darul Haq.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar