Rabu, 25 Mei 2016

Catatan Ngaji Riyadush Shalihin: Yakin dan Menyerahkan Keberesan Urusan kepada-Nya

sumber: http://www.tahukahkamu.org


Oleh: Annafi`ah Firdaus


Ini janji Allah. Jika kita sudah sekuat-kuat kemampuan untuk menjalankan perintah-Nya, Allah akan janjikan jalan keluar setiap kesulitan. Jika kita sudah sekuat-kuat kemampuan untuk menjauhi larangan-Nya, Allah janjikan kepada hamba-Nya rezeki dari arah yang datangnya tidak disangka-sangka. Adakah yakin yang mantap dan murni terhadap janji-janji itu dalam diri kita?

Kita telah sampai bab yakin dan tawakal dalam kitab Riyadush Shalihin. Apa itu yakin? Apa itu tawakal? Yakin adalah keyakinan yang mantap dan murni. Sedangkan tawakal terbentuk dari 4 huruf: ta, wawu, kaf, dan lam. Artinya orang yang mewakilkan atau mempercayakan keberesan urusan kepada Allah Ta`ala.

Ya. Setiap kita mempunyai urusan. Tugas kita menyelesaikan setiap urusan dengan cara yang baik, sedangkan untuk hasilnya adalah urusan Allah.

Saudaraku, ingatkah salah satu peristiwa besar yang dihadapi Rasulullah dan Kaum Muslimin yaitu saat Perang Khandaq? Perencanaan orang-orang kafir Quraisy yang mengumpulkan pasukan gabungan untuk menyerang Rasulullah dan Kaum Muslimin di Madinah. Peristiwa itu tidaklah sedikitpun menjadikan Kaum Muslimin takut. Justru tambahlah keimanan dan ketundukan mereka.

Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.” Begitulah kalimat yang terucap dalam lisan mereka saat itu. Kalimat yang mantap dan sebagai bukti ketawakalan setiap urusan pada-Nya. Kalimat ini juga diucapkan oleh Nabi Ibrahim saat beliau hendak dibakar dalam kobaran api. Atas izin Allah api itu menjadi dingin. Dialah Allah yang telah menyelamatkan Nabi Ibrahim.

Dalam kondisi yang ‘terjepit’ inilah tambahlah rasa iman Kaum Muslimin kepada Allah Ta`ala. Dan ini iman para sahabat yang pantas kita jadikan teladan. Setiap kesempatan ‘kejepit’ untuk membuktikan iman tatkala menjumpai pesimis dan lemahnya kekuatan kita yang kemudian menjadi tenang tatkala hanya bersandar kepada Allah saja.

Lantas apa hasil atau buah dari keyakinan? Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS. Ali Imran: 173-174).

Dan bertakwakallah kepada Allah Yang Mahahidup (kekal) Yang Tidak Mati (QS. Al-Furqan: 58). Dan hanya kepada Allah sajalah, hendaknya orang-orang Mukmin bertawakal (QS. Ibrahim: 11). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah (QS. Ali Imran: 159). Dan sesiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan keperluannya (QS. Ath-Thalaq: 3).

Ada orang-orang yang menganggap untuk sukses harus bekerja sebagai PNS atau bekerja dengan jaminan (seperti jaminan kesehatan, dana pensiun, jaminan sosial). Bahkan ada yang menganggap kesuksesan ‘hakiki’ adalah menjadi PNS atau bekerja dengan pekerjaan yang dipandang terhormat. Ditambah lagi, pekerjaan seseorang yang mungkin jual lotek, jual bakso, padahal pendapatannya cukup bahkan bisa menggaji orang masih saja dianggap bukan pekerjaan yang sukses dan terhormat.

Kita ini memang kerjaannya cari kerja ya? Padahal setiap manusia sudah ditetapkan Allah; tentang rizkinya, matinya, nasibnya, dan jodohnya. Maka, apabila sudah ada yakin yang mantap dan benar dalam dada kita, sesungguhnya hidup kita harusnya bukan untuk cari rizki, tetapi untuk ibadah.

Contoh gambaran makhluk yang yakin dan tawakal adalah burung. Kenapa burung? Dia punya sarang kecil dan sederhana. Di tiap pagi burung terbang mencari makan (dalam kondisi perut kosong). Maka di sore hari, Allah lah yang mengenyangkan perut burung. Burung adalah contoh makhluk yang sangat yakin sama Allah. Tidak sibuk dengan galau. Tugasnya ialah terbang sebagai ikhtiar menjemput rizkinya.

“Barangsiapa yang berdoa keluar rumah, ‘Dengan menyebut Nama Allah saya bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan (pertolongan), ‘Kamu telah diberi petunjuk, dicukupkan, dan dilindungi.’ Dan setan pun menjauh darinya (Hadits diriwayatkan Abu Dawud, at-Tirmidzi, Nasa`i, dan lain-lain).”

Sumber:
-          Catatan mengaji Kitab Riyadush Shalihin di Rumah Nah bersama Ustadz Bagus Priyo Sembodo (Rabu, 11 Mei 2016) bab yakin dan tawakal.
-          Imam an-Nawawi, 2014, Riyadush Shalihin, Jakarta: Darul Haq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar