Jumat, 27 Mei 2016

Yang Bersungguhlah, Yang Mendapatkannya



Oleh: A.K. Hardew

Ada dua orang yang sama-sama memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Orang pertama sangat bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan bekal untuk meraih cita-citanya, sedangkan orang kedua tidak bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan bekal untuk meraih cita-citanya. Bagaimana menurutmu? Mana yang akan lebih cepat dalam mendapatkan cita-citanya? Orang yang sangat bersungguh-sungguh atau orang yang tidak bersungguh-sungguh? Jawabannya jelas, pastilah yang sangat bersungguh-sungguh dalam belajar, yang akan mendapatkan cita-citanya terlebih dahulu.

Nah, bila kita bicara tentang kesungguhan, ada satu orang nih yang layak kita ketahui kisah kesungguhannya, terutama kesungguhannya dalam belajar. Saking dia ini bersungguh-sungguh dalam belajar, dia rela tidur di teras rumah gurunya, karena menunggu gurunya yang sedang tidur siang. Di tengah siang hari yang terik, tanpa atap, tanpa kasur, tanpa kipas angin, apalagi Air Conditioner alias AC. Hanya beralaskan satu kain yang dia bawa, agar badannya terlindungi dari debu yang tertiup angin. Maklum, ini kejadiannya di tanah Arab.

Pemuda ini sangat dihormati di lingkungannya. Terlahir sebagai seorang anak dari paman manusia yang paling mulia di muka bumi ini; Muhammad ShallaLlaahu ‘alaihi wa Sallam. Abbas bin Abdul Muthalib nama ayahnya, dan Abdullah bin Abbas namanya. Walau terlahir di dalam sebuah keluarga yang sangat dihormati di lingkungan Arab pada saat itu, Ibnu Abbas tidaklah mengurangi daya juangnya dalam berusaha memperoleh ilmu. Bahkan dia tidak malu untuk tidur di teras rumah gurunya di siang hari. Karena hal itu adalah sebuah kehormatan bagi dirinya. Mendapatkan sebuah ilmu yang berharga dengan berusaha sekuat tenaga.

Ketika itu, Rasulullah ShallaLlaahu ‘alaihi wa Sallam telah meninggal dunia. Dan para sahabat sebagian besar sedang berada di Madinah. Melihat keadaan seperti itu, Ibnu Abbas berkata kepada seorang lelaki Anshar, “Marilah kita bertanya (suatu ilmu) kepada para sahabat.” Lantas, lelaki Anshar itu menjawab, “Kamu ini aneh, wahai Ibnu Abbas! Apakah engkau mengira orang-orang akan membutuhkanmu, sementara para sahabat Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam berada di tengah-tengah mereka?”

Kemudian, Ibnu Abbas mengatakan, “Orang itu tidak berkenan, maka aku pun maju bertanya kepada para sahabat. Jika terdapat hadits  yang aku dengar ada pada seseorang, maka aku pun datang ke rumahnya. Walaupun dia sedang istirahat di tengah hari. Maka, aku pun menghamparkan kainku di depan pintunya agar melindungiku dari debu yang tertiup angin. Maka dia pun keluar (sahabat Rasulullah) dan melihatku. Ia berkata, ‘Wahai sepupu Rasulullah, apa yang membuatmu datang ke sini? Mengapa engkau tidak memintaku untuk datang menemuimu?’ Aku pun menjawab, ‘Tidak. Aku lebih berhak untuk datang kepadamu’.” Kemudian, Ibnu Abbas melanjutkan, “Aku pun bertanya tentang sebuah hadits kepadanya.”

Beberapa waktu kemudian, Ibnu Abbas mengatakan, “Lelaki Anshar tersebut (yang diajak belajar kepada para sahabat) ternyata berumur panjang. Sehingga, dia melihat diriku yang sedang dikelilingi oleh orang-orang yang bertanya kepadaku.” Lantas, orang Anshar itu berkata, “Anak muda ini lebih mengerti daripada aku.”

Nah, bagaimana kabar kesungguhanmu untuk meraih cita-cita tertinggimu? Setiap usaha pasti ada balasannya. Sesiapa yang bersungguh dalam berusaha, maka akan meraih cita-citanya. Tetapi, sesiapa yang tidak bersungguh dalam berusaha, maka tidak akan mendapat apa-apa. Kamu pilih yang mana?

Sumber:
              Fattah, A. (2012). Kisah-Kisah Kesabaran Para Ulama yang Paling Unik dan Inspiratif. Solo: Zam-zam.
Siauw, F. Y. (2012) Beyond The Inspiration. Jakarta: Al-Fatih Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar