Selasa, 24 Mei 2016

Yuk, Belajar dari Sang Pakar


Oleh: M. Fatan Fantastik

Bagaimana Al-Bukhari, sang Imam para ahli hadits, belajar?
Dengan banyak melakukan perjalanan ilmiah, bertanya kepada para guru, dan bersungguh-sungguh dengan waktu.

Ibnu Katsir berkata dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah tentang Al-Bukhari,”Dia melakukan perjalanan kepada seluruh guru hadits di kota-kota yang memungkinkan baginya untuk menjangkaunya. Dia menulis hadits lebih dari 1000 guru.”

Ibnu Katsir berkata pula, “Muhammad bin Ismail pernah bangun dari tidurnya di suatu malam. Dia pun menyalakan lampu dan mencatat ilmu yang terlintas di benaknya, lalu dia mematikan lampu kembali. Kemudian, dia bangun lagi dan melakukan hal yang sama. Demikianlah, sampai hal itu terjadi sekitar 20 kali.” Allaahu akbar. Betapa besar cintanya pada ilmu.

Muhammad bin Yusuf bercerita, “Suatu malam, aku berada di rumah Muhammad bin Ismail. Aku memperhatikannya bangun, lalu dia menyalakan lampu untuk mengingat sesuatu dan mencatatnya sebanyak 18 kali.”

Simak pula penuturan dari Muhammad bin Abu Hatim, sang penyedia kertas bagi Muhammad bin Ismail, “Apabila aku bersama Abu Abdillah (Muhammad bin Ismail) dalam suatu perjalanan, maka dia mengumpulkan kami dalam 1 rumah, kecuali terkadang di musim panas. Aku melihatnya bangun dalam satu malam sebanyak 15 hingga 20 kali. Pada saat seperti itu, dia mengambil pemantik api, lalu dia menyalakan api dan lampu. Kemudian dia mengeluarkan hadits-hadits, dan menandainya. Lalu, dia merebahkan diri, dan sholat di waktu sahur sebanyak 13 rakaat. Setiap kali bangun, dia tak pernah membangunkanku. Aku berkata padanya, ‘Engkau melakukan semua ini dengan tekun, tanpa membangunkanku.’ Dia berkata, ‘Kamu masih kecil, aku tak ingin mengganggu tidurmu.’

Suatu hari, ketika kami berada di Firabr, aku melihatnya telentang di atas tengkuknya dalam menulis kitab tafsir. Pada hari itu dia tampak begitu lelah, karena banyaknya dia mengeluarkan hadits. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Abdillah, aku mendengarmu telah berkata, ‘Sesungguhnya aku tidak melakukan sesuatu tanpa ilmu, sejak aku memahaminya’. Lalu, ilmu apa yang engkau gunakan dalam kondisi telentang begini?’ Dia menjawab, ‘Kami begitu lelah hari ini. Dan, tempat ini adalah satu diantara perbatasan. Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi dari musuh. Aku ingin beristirahat, dan aku mempersiapkan diri untuk itu. Jika tiba-tiba musuh menyerang, sementara kita belum siap, kita masih punya kekuatan.’”

Muhammad bin Abi Hatim melanjutkan, “Muhammad bin Ismail ahli menunggang (kuda) dan memanah. Selama aku menyertainya, aku belum pernah mengetahui panahnya meleset dari sasaran, kecuali 2 kali, dan dia tak tertandingi.”

Alangkah jauhnya kita... Alangkah jauhnya kita... Alangkah jauhnya kita...


Sumber: Fan Page Emfatan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar