Jumat, 24 Juni 2016

Puisi: Inilah Al-Qur`an



Oleh: A. Yusuf Wicaksono

Bersamamu kurasakan ketenangan
Membacamu kurasakan getaran iman
Memahami maknamu kuyakin kebenaran
Engkaulah surat cinta dari Tuhan

Kau turun tanpa keraguan
Sedikit pun tiada keraguan
Kau bagaikan peta kehidupan
Kau bagaikan cahaya penerangan
Bagi mereka yang haus kebenaran
Ya, mereka yang beriman

Wahai jiwa-jiwa beriman
Yang muda dan yang tua
Yang kaya dan papa
Dan kalian semua
Ialah Al-Qur'an
Ambil dia sebagai petunjuk jalanmu
Ambil dia sebagai pedomanmu
Temukan bersamanya jalan lurusmu
Jalan menuju Rabbmu

Kisah: Tiga di Dalam Goa


(Gua Ashabul Kahfi) sumber: www.kabarmakkah.com

Oleh: M. Fatan Fantastik

“Ada tiga orang dari umat sebelum kalian yang sedang bepergian,” kisah Rasulullah kepada para sahabat, “Sehingga mereka harus bermalam di sebuah goa; mereka masuk ke dalamnya. Lalu sebuah batu besar menggelinding dari gunung dan menutup pintu goa. 

Mereka berkata, ‘Yang bisa menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah doa kalian kepada Allah (sambil bertawassul) dengan amal shalih kalian.’

Satu diantaranya berkata, ‘Ya Allah, aku mempunyai bapak-ibu yang sudah tua. Aku tak pernah mendahulukan siapa pun atas mereka dalam minum susu di petang hari, keluarga maupun yang lainnya. Suatu hari aku pergi ke tempat yang jauh untuk mencari padang rumput. Aku tidak bisa kembali (menggiring unta-untaku pulang ke kandangnya) hingga keduanya telah tidur. Maka aku memerah susu untuk mereka (minum di malam hari); tapi aku mendapatkan keduanya sedang tidur, maka aku tidak mendahulukan orang lain dari mereka berdua dalam minum susu tersebut, tidak keluarga atau yang lainnya. Aku terdiam sementara bejana susu ada di tanganku sambil menunggu keduanya bangun, sehingga fajar pun menyingsing—sebagian rawi menambahkan: sementara anak-anakku menangis di kakiku—keduanya bangun dan minum susunya. Ya Allah, jika aku melakukan itu demi mencari wajahMu, maka bukalah kesulitan kami akibat batu besar ini’.
Maka batu besar itu bergeser sedikit, tapi mereka belum bisa keluar.”

Nabi melanjutkan, “Yang lain berkata, ‘Ya Allah, aku mempunyai sepupu perempuan. Dia adalah orang yang paling aku cintai. Aku berhasrat melakukan (apa yang dilakukan oleh suami kepada istrinya) kepadanya, tetapi dia menolakku. Sampai suatu ketika dia tertimpa paceklik, dia datang kepadaku. Aku memberinya 120 dinar emas dengan syarat dia menerima ajakanku. Maka dia pun menerima. Tetapi ketika aku telah menguasainya, dia berkata, ‘Aku tidak mengizinkanmu membuka cincinku (menyetubuhiku) kecuali dengan haknya’. Maka aku merasa berdosa melakukan itu padanya. Aku meninggalkannya, sementara dia tetap orang yang paling aku cintai. Aku membiarkan dinar emas yang telah aku berikan padanya. Ya Allah, jika memang aku melakukan itu demi mencari wajahMu, maka bukalah kesulitan kami.’ 

Maka batu itu bergeser, hanya saja mereka belum bisa keluar.”

Nabi kembali melanjutkan, “Yang ketiga berkata, ‘Ya Allah, aku menyewa beberapa pekerja. Dan aku telah membayar gaji mereka. Hanya seorang yang belum; dia meninggalkan haknya. Lalu aku mengembangkan haknya itu sampai menjadi harta yang melimpah. Beberapa waktu kemudian dia datang kepadaku. Dia bertanya kepadaku, ‘Wahai hamba Allah, berikan hakku’. Aku menjawab, ’Apa yang kamu lihat ini adalah gajimu: unta, sapi, domba, dan hamba sahaya’. Dia berkata, ‘Wahai hamba Allah, jangan mengejekku’. Aku berkata, ’Aku tidak mengejekmu’. Lalu dia pun mengambil semuanya. Dan dia menggiringnya tanpa menyisakan apa pun. Ya Allah, jika aku melakukan itu demi mencari wajahMu, maka angkatlah kesulitan kami.’ 

Lalu batu itu bergeser dan mereka keluar dan (meneruskan) berjalan.”

(H.R. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasai).


Kamis, 23 Juni 2016

Pedagang Rugi dan Pedagang Beruntung




Oleh: Annafi`ah Firdaus

Kamu punya pengalaman berdagang? Pernah mengalami kerugian? Kalau iya, bandingkan dengan orang-orang ini. Kalau belum punya pengalaman berdagang, bayangkan saja kamu di posisi itu. Kerugian ini mendatangkan penyesalan sia-sia. Siapakah mereka? Di antaranya, orang-orang ini disebutkan dalam kalam-Nya (Q.S. Yunus: 7-8) yakni mereka yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Allah, merasa puas dengan kehidupan dunia ini, dan lalai terhadap ayat-ayat Allah (yakni tidak mau merenungkannya segala yang ada di alam ini). Allah pun menjanjikan bagi mereka seburuk-buruk tempat kembali. Neraka!

Sangat rugi dan celaka. Karena neraka adalah seburuk-buruk tempatnya kembali dan sebaik-baik tempatnya penyengsaraan. Dikabarkan dalam Al-Qur`an (Q.S. Al-Waqi`ah: 41-54) di neraka mereka disiksa dengan angin yang sangat panas dan air mendidih. Mereka dinaungi asap yang hitam. Tidak ada kesejukan dan tidak ada kesenangan. Karena sesungguhnya mereka dahulu bermewah-mewah dan terus menerus melakukan dosa besar. Suguhan spesial untuk mereka adalah pohon zaqqum, jenis pohon di neraka yang mengakibatkan derita yang luar biasa bagi yang memakannya. Mau tidak mau, malaikat atas perintah-Nya akan memasukkan ke mulut mereka hingga perut penuh dengannya. Setelah itu mereka diminta untuk meminum air yang sangat panas.

Lantas bagaimana mereka yang berdagang dan mendapat keuntungan besar?  Kenapa mereka bisa beruntung? Dikabarkan oleh Allah dalam kalam-Nya (Q.S. As-Saff: 10-11) ada suatu perdagangan yang akan menyelamatkan dari azab yang pedih. Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, berjuang di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu. Allah akan ampuni dosa-dosamu, dan kelak akan Allah masukkan di sebaik-baik tempat kembali. Tempat yang tiada penderitaan dan kesengsaraan. Tempat yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya “Tamasya ke Surga” bahwa kenikmatan di dalamnya tidak bisa dibayangkan. Surga!

Simaklah bagaimana Sahal bin Sa`ad As-Sa`idi berkisah setelah mendengarkan Rasulullah mengisi majelis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. “Dalam majelis tersebut beliau membahas surga hingga tuntas. Pada akhir bicaranya, beliau bersabda, `Di dalam surga, terdapat apa yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terbayang dalam hati manusia.’ Setelah itu, beliau membaca ayat berikut, ‘Lambung mereka jauh dari tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepadanya’.”

Surga adalah cita-cita. Karena aroma surga bisa dicium dari jarak empat puluh tahun (riwayat Bukhari). Kelak di surga, ada penyeru yang memanggil, “Sesungguhnya sekarang tibalah saatnya kalian sangat sehat dan tidak menderita sakit selama-lamanya. Sekarang tibalah saatnya kalian hidup dan tidak mati selama-lamanya. Sekarang tibalah saatnya bagi kalian tetap muda dan tidak tua selama-lamanya. Sekarang tibalah saatnya bagi kalian bersenang-senang dan tidak sengsara selama-lamanya (riwayat Muslim).

Maka nikmat Tuhanmu mana yang kamu dustakan? Surga itu mempunyai pepohonan dan buah-buahan yang dapat dipetik dengan mudah. Di dalamnya terdapat dua buah mata air yang memancar. Penghuninya bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal. Bagi mereka yang dahulu bersabar dan bersyukur atas ketetapan-Nya, disediakanlah bidadari-bidadari yang membatasi pandangan serta belum pernah disentuh oleh manusia dan jin sebelumnya. Maka, nikmat Tuhanmu mana yang kamu dustakan?

Apapun yang dikabarkan Al-Qur`an adalah benar. Dan tidak mungkin Al-Qur`an dibuat-buat oleh selain Allah. Al-Qur`an datang dari Rabb yang menjadikan matahari bersinar kala siang dan bulan bercahaya benderang di gelapnya malam. Al-Qur`an datang dibawa malaikat istimewa di antara malaikat-malaikat lainnya; Jibril. Keagungan berikutnya, Al-Qur`an diterima dan disampaikan oleh manusia termulia sepanjang masa, Rasulullah. Manusia tersabar, terpelihara, termulia yang senantiasa khawatir kepada kita apabila kelak manusia yang hidup sezaman dan sepeninggal beliau mendapat azab besar di waktu pertemuan dengan-Nya. Sungguh, tidaklah pantas setiap kita meninggalkan Al-Qur`an.

Ada orang yang berkehendak menjadi pedagang beruntung, ada pula orang yang berkehendak menjadi pedagang rugi. Jalan menuju surga ada. Jalan menuju neraka juga ada. Maka, sungguh beruntung mereka yang sudah berkehendak menjadi pedagang beruntung dan sudah menempuh jalan surga. Bagaimana dengan kehendak dan jalan yang telah kamu tempuh?

Sumber Foto: Instagram @RidwanHd

Selasa, 21 Juni 2016

Risalah Yang Tak Salah


Oleh: A. K. Hardew

Dengan asma-Nya; Ar-Rahman. Allah mengasihi hamba-hamba-Nya dengan mengutus seorang Rasul. Dan Rasul tersebut membawa risalah yang akan disampaikan kepada umatnya masing-masing. Nabi Daud 'alaihissalam dengan Zabur-Nya, Nabi Musa 'alaihissalam dengan Taurat-Nya, Nabi Isa 'alaihissalam dengan Injil-Nya, dan yang terakhir, penyempurna kitab-kitab yang sebelumnya; Al-Qur'an. Kitab yang diberikan Allah kepada Nabi akhir zaman, Nabi penyempurna keimanan, dialah Nabi kita; Muhammad ShalaLlaahu 'alaihi wa Sallam.

Penuh kemuliaan, tak pantas diragukan, sebagai nasihat, obat, dan pedoman untuk mendapat kebahagiaan; di dunia, maupun di akhirat. Inilah Al-Qur'an, yang harus diimani, tanpa berkata tapi. Al-Qur'an ialah kalamuLlah (perkataan Allah), sebagai mukjizat yang diturunkan kepada Muhammad ShalaLlaahu 'alaihi wa Sallam melalui perantara Jibril 'alaihissalam, diawali surat Al-Fatihah dan diakhiri surat An-Nas ketika sudah berupa mushaf (lembaran-lembaran yang sudah satukan).

Al-Qur'an; kebenaran tanpa kebatilan. Seluruh isi Al-Qur'an adalah kebenaran. Bukanlah kandungan Al-Qur'an bila kebatilan isinya. Dari penciptaan Adam hingga tiba hari pembalasan, telah disampaikan secara jelas oleh Al-Qur'an.

Al-Qur'an; pemberi kabar gembira dan peringatan. Semua kebaikan dan keburukan pasti akan mendapat balasan. Balasan kebaikan adalah surga; surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan lengkap dengan nikmat lainnya; buah-buahan, minuman, dan pendamping surga. Sedangkan keburukan, akan mendapat siksaan. Siksaan yang tiada tara, tiada ampun, dan tiada belas kasih lagi yang datang dari-Nya. Begitulah yang telah dikabarkan oleh Al-Qur'an.

Lantas, dengan segala yang dikabarkan oleh Al-Quran, apa yang harus kita lakukan? Mengabaikan dan mengacuhkan? Atau, mengimani dan mengamalkan? Tentu, mengimani dan mengamalkan-lah yang menjadi pilihan. Karena, memang begitu perintah dari Yang Maha Kuasa.