Kamis, 16 Juni 2016

HAMKA: Anak Nakal Jadi Ulama #1

Buya Hamka
Oleh: Ridwan Hidayat

Nakalnya sudah terkenal di seluruh kampung Padang Panjang, Sumatera Barat. Adalah Malik nama anak Syeikh Abdul Karim Amrullah yang nakal itu. Sampai-sampai ayahnya Malik berkali-kali berkata tentang dirinya, “Ketika kecil ayah sudah alim”, sehingga kepada Malik bertanya, “Mengapa engkau belum alim?” Dalam hati Malik malah bertanya, “Apakah ayahnya dahulu tidak pernah bermain?”

Malik atau nama kecil dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) lahir dari ayah seorang ulama besar dan berpengaruh di Sumatera Barat yang akrab dipanggil Haji Rasul. Dalam Kenang-kenangan Hidup jilid 1, Hamka bercerita bahwa sering kali ayahnya tak segan memukul dengan tongkat karena kenakalannya. “Nakalnya bukan buatan, membuat pusing orang kampung,” pengakuannya.

Pernah ayahnya berang ketika Malik ketahuan menipu anak-anak kampung dengan menjadi menteri cacar. Awalnya ia melihat mentri cacar sedang mencacar anak-anak. Disuruh engkunya membuatkan kaca mata dari daun pandan untuk meniru mentri cacar yang berkaca mata. Lalu ia mengumpulkan anak-anak kira-kira sepuluh orang. Dikatakannya kepada mereka bahwa ia adalah mentri cacar dan ingin mencacar. “Heran, semuanya patuh saja menuruti perintah,” kata Hamka. Kemudian ditorehnya anak-anak itu dengan duri jeruk limau. Ada yang menangis kepedihan dan ada yang berdarah.

Malik kecil hanya senang bermain. Di suruh mengaji sulit sekali. Ketika umurnya memasuki 6 tahun, ia disuruh ayah belajar mengaji dengan kakaknya, Fatimah. Cara mengajar kakaknya tidak disukai Malik. Kalau Malik tidak bisa membaca seperti yang diajarkan kakaknya selalu mendapat cubitan. Cara mengajar kakaknya membuat Malik kesulitan meyelesaikan bacaan mengaji Juzz Amma. Sudah tiga bulan tak rampung-rampung. “Untunglah ada satu penolong yang datang dengan tiba-tiba,” cerita Hamka. Mengajinya mulai lancar ketika ada seorang anak perempuan bernama Chamsinah. Anak perempuan itu ikut mengaji bersama Malik tanpa ada cubitan. Semangat mengaji timbul kalau bisa mengaji berdua dengan Chamsinah. Kalau biasanya habis maghrib berpetualang dahulu keliling kampung Padang Panjang, setelah adanya anak perempuan itu pikirannya hanya pergi mengaji hingga berhasil khatam.

Pada umur 7 tahun, Malik dimasukan ke sekolah desa. Setahun kemudian berdiri sekolah diniyah di Padang Panjang yang pelaksanaan belajarnya sore hari. Malik juga dimasukan ke sekolah diniyah itu sore harinya untuk belajar bahasa Arab. “Dalam usianya di antara 7 dengan 10 tahun, tidak ada lagi satu kampung keliling Padang Panjang yang tidak mengenal anak nakal itu.”

Ia selalu pergi ke sekolah pagi sekali, agar menyempatkan bermain. Selesai sekolah pukul sepuluh pagi kembali bermain; bergelut, bertinju, cari-carian, banting-bantingan, hingga jelang sore. Selesai sekolah diniyah sore, sekitar pukul lima sore, kembali lagi bermain di jalanan sambil mengganggu anak-anak perempuan. Tuduhan sering diterima, “Si Malik nakal!”, “Si Malik jahat!”.

Sumber: Buletin Nah #41 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar