Jumat, 24 Juni 2016

Kisah: Tiga di Dalam Goa


(Gua Ashabul Kahfi) sumber: www.kabarmakkah.com

Oleh: M. Fatan Fantastik

“Ada tiga orang dari umat sebelum kalian yang sedang bepergian,” kisah Rasulullah kepada para sahabat, “Sehingga mereka harus bermalam di sebuah goa; mereka masuk ke dalamnya. Lalu sebuah batu besar menggelinding dari gunung dan menutup pintu goa. 

Mereka berkata, ‘Yang bisa menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah doa kalian kepada Allah (sambil bertawassul) dengan amal shalih kalian.’

Satu diantaranya berkata, ‘Ya Allah, aku mempunyai bapak-ibu yang sudah tua. Aku tak pernah mendahulukan siapa pun atas mereka dalam minum susu di petang hari, keluarga maupun yang lainnya. Suatu hari aku pergi ke tempat yang jauh untuk mencari padang rumput. Aku tidak bisa kembali (menggiring unta-untaku pulang ke kandangnya) hingga keduanya telah tidur. Maka aku memerah susu untuk mereka (minum di malam hari); tapi aku mendapatkan keduanya sedang tidur, maka aku tidak mendahulukan orang lain dari mereka berdua dalam minum susu tersebut, tidak keluarga atau yang lainnya. Aku terdiam sementara bejana susu ada di tanganku sambil menunggu keduanya bangun, sehingga fajar pun menyingsing—sebagian rawi menambahkan: sementara anak-anakku menangis di kakiku—keduanya bangun dan minum susunya. Ya Allah, jika aku melakukan itu demi mencari wajahMu, maka bukalah kesulitan kami akibat batu besar ini’.
Maka batu besar itu bergeser sedikit, tapi mereka belum bisa keluar.”

Nabi melanjutkan, “Yang lain berkata, ‘Ya Allah, aku mempunyai sepupu perempuan. Dia adalah orang yang paling aku cintai. Aku berhasrat melakukan (apa yang dilakukan oleh suami kepada istrinya) kepadanya, tetapi dia menolakku. Sampai suatu ketika dia tertimpa paceklik, dia datang kepadaku. Aku memberinya 120 dinar emas dengan syarat dia menerima ajakanku. Maka dia pun menerima. Tetapi ketika aku telah menguasainya, dia berkata, ‘Aku tidak mengizinkanmu membuka cincinku (menyetubuhiku) kecuali dengan haknya’. Maka aku merasa berdosa melakukan itu padanya. Aku meninggalkannya, sementara dia tetap orang yang paling aku cintai. Aku membiarkan dinar emas yang telah aku berikan padanya. Ya Allah, jika memang aku melakukan itu demi mencari wajahMu, maka bukalah kesulitan kami.’ 

Maka batu itu bergeser, hanya saja mereka belum bisa keluar.”

Nabi kembali melanjutkan, “Yang ketiga berkata, ‘Ya Allah, aku menyewa beberapa pekerja. Dan aku telah membayar gaji mereka. Hanya seorang yang belum; dia meninggalkan haknya. Lalu aku mengembangkan haknya itu sampai menjadi harta yang melimpah. Beberapa waktu kemudian dia datang kepadaku. Dia bertanya kepadaku, ‘Wahai hamba Allah, berikan hakku’. Aku menjawab, ’Apa yang kamu lihat ini adalah gajimu: unta, sapi, domba, dan hamba sahaya’. Dia berkata, ‘Wahai hamba Allah, jangan mengejekku’. Aku berkata, ’Aku tidak mengejekmu’. Lalu dia pun mengambil semuanya. Dan dia menggiringnya tanpa menyisakan apa pun. Ya Allah, jika aku melakukan itu demi mencari wajahMu, maka angkatlah kesulitan kami.’ 

Lalu batu itu bergeser dan mereka keluar dan (meneruskan) berjalan.”

(H.R. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasai).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar