Jumat, 17 Juni 2016

Sajian Spesial: Kian Mulia dengan Al-Qur`an




Oleh: Annafi`ah Firdaus
           
Kulitmu seperti terbakar. Kepala rasanya mau pecah. Panasnya matahari menyengat kulit tanpa ampun. Keringat terus mengalir tiada henti. Gelisah memuncak karena tiada bekal yang cukup untuk menghadap-Nya. Ya, hari itu sobat harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kepada Allah. Sedangkan hanya penyesalan sebagai bekal utama yang telah sobat siapkan.

Seperti itukah keadaan yang sobat kelak inginkan? Jika membayangkan hari kelak di saat bertemu dengan Allah, masihkah membiarkan diri lemah dan tak bersemangat untuk berbekal? Masihkah beranggapan berbekal dengan membaca dan menghafal Al-Qur`an adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan?

“Bacalah Al-Qur`an karena ia adalah pemberi syafa`at bagi para pembacanya di hari Kiamat! Bacalah az-Zahwarain, (yaitu) Surat Al-Baqarah dan Ali Imran karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti awan atau seperti sekelompok burung yang berbondong-bondong melindungi para pembacanya” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Nah, coba sekali lagi baca dengan perlahan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim; hadits yang jelas-jelas shahih. Hadits ini mengabarkan Al-Qur`an akan menjadi syafa`at di hari Kiamat kepada mereka yang istimewa; pembaca Al-Qur`an. Bahkan dikabarkan juga dua surat yang kelak datang menjadi awan atau seperti sekelompok burung yang berbondong-bondong melindungi para pembacanya.

Sobat, mau tidak mau kita harus cinta dan tumbuh bersama Al-Qur`an. Karena sekali lagi; kabar tentang kedatangan hari Kiamat sudah jelas. Tentang syafa`at dari Al-Quran juga sudah jelas.

Nah, bagaimana jika memang belum memiliki rasa cinta yang kuat dengan Al-Qur`an? Kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam buku “Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu”, cinta itu lahir karena sebab.  Jika memang belum tumbuh cinta kepada Al-Qur`an, nasehat beliau; bisa jadi sebab yang kuat untuk mencintai cinta Al-Qur`an.

Mari kita amalkan nasehat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah; perkuat sebab. Mengapa kita harus mencintai Al-Qur`an? Mengapa harus hafal Al-Qur`an? Berikut alasan yang dituliskan Bahirul Amali Herry dalam bukunya “Agar Orang Sibuk Bisa Menghafal Al-Qur`an” untuk membantu menjadi sebab kuat terutama mencintai menghafal Al-Qur`an:

Ø         Saya senang menghafal Al-Qur`an agar menjadi ahli (keluarga) Allah serta mendapat tempat khusus di sisi-Nya.
Ø         Saya senang menghafal Al-Qur`an karena ingin hati saya selalu terpaut dengan Al-Qur`an sehingga tidak akan disiksa oleh Allah.
Ø         Saya senang menghafal Al-Qur`an agar kelak menjadi pemberi syafa`at bagi saya di dalam kubur dan hari Akhir kelak.
Ø         Saya senang menghafal Al-Qur`an agar kedua orang tua saya memakai mahkota kemuliaan di hari Akhir kelak.
Ø         Saya senang menghafal Al-Qur`an seluruhnya, hingga saya mencapai derajat tertinggi di surga kelak.
Ø         Saya senang menghafal Al-Qur`an agar ia menolong saya untuk senantiasa mengerjakan shalat malam.

Nah, sobat sudah cukup jelas  bagaimana memperkuat alasan kita cinta Al-Qur`an? Jelas tentang; datangnya hari Kiamat, Al-Qur`an dapat memberi syafa`at, penghafal Al-Qur`an adalah keluarganya Allah, dan kelak bisa memberikan hadiah mahkota kemuliaan untuk orang tua.

Tentu semua itu ada harganya, tidak didapatkan dengan cuma-cuma. Simaklah kisah seorang ibu bernama Ummu Muhammad dalam buku “Agar Anak Mudah Menghafal Al-Qur`an” tulisan Hamdan Hamud Al-Hajiri dalam membayar harga dalam menghafal Al-Qur`an. Ummu Muhammad berkata, “Perjalanan hidupku bersama hafalan Al-Qur`an telah berjalan selama 16 tahun lamanya, tetapi sungguh aku sangat merasakan kebahagiaan yang hakiki khususnya ketika aku baru mulai menghafal Al-Qur`an.”

Beliau melanjutkan, “Di antara unsur penting yang dapat membantu dalam menghafal Al-Qur`an ialah niat yang jujur, ikhlas karena Allah semata, dan bersabar terhadap segala kesulitan. Sesungguhnya aku adalah seorang buta huruf yang tidak membaca dan menulis sehingga aku banyak mendapatkan kesulitan yang luar biasa pada waktunya. Namun, segala puji bagi Allah, aku menggunakan alat perekam dan meminta pertolongan seorang guru wanita untuk datang ke rumahku dan membacakan Al-Qur`an kepadaku dan menyimak hafalan setiap harinya.”

Begitulah semangat ibu yang usianya 65 tahun dalam menghafal Al-Qur`an. Kita? Sesungguhnya, Allah menjadikan mulia suatu kaum dengan Al-Qur`an. Allah pula yang menjadikan hina suatu kaum dengan Al-Qur`an. Pertanyaannya; sobat mau menjadi kaum yang mana? Ditinggikan atau direndahkan Allah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar