Selasa, 14 Juni 2016

Taat! tapi Bukan Perkara Maksiat





 Oleh: M Fatan A. Ulum

Rasulullah ShallaLlaahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, mengutus satu pasukan khusus dan mengangkat salah seorang Anshar menjadi komandan mereka.

Tatkala mereka telah keluar, maka sang Komandan marah kepada mereka dalam suatu perkara, lalu dia berkata: “Bukankah Rasulullah ShallaLlaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kalian untuk mentaatiku?” Mereka menjawab: “Betul”.

Dia berkata, “Kumpulkanlah kayu bakar untukku”. Lalu mereka mengumpulkannya.

Dia berkata lagi, “Nyalakan api.” Mereka pun menyalakannya.

Dia berkata lagi, “Masuklah kalian (ke dalam api).” Mereka pun ingin melakukannya, tetapi satu di antara mereka menahan yang lainnya, dan mereka berkata, “Kami lari kepada Nabi ShallaLlaahu 'alaihi wa Sallam dari api (neraka).”

Mereka tetap dalam kondisi demikian hingga api itu padam, dan kemarahan si pemimpin pasukan itu reda.

Sampailah berita tentang kejadian tersebut kepada Nabi ShallaLlaahu 'alaihi wa Sallam. Beliau pun bersabda: “Kalau mereka masuk ke dalamnya (api itu), niscaya mereka tidak akan keluar darinya sampai hari Kiamat. Ketaatan itu hanya pada yang ma'ruf”.

Kejadian inilah, jelas Abdullah ibnul 'Abbas ra., yang menjadi sebab turunnya ayat 59 dari surat An-Nisa':

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.”

Siapakah ulil amri itu? Mengapa dia harus ditaati? Dan kapan dia tak boleh ditaati?

Jabir bin Abdullah dan Mujahid berkata, “Ulil amri adalah ahlul 'ilmi (ulama) dan ahlul Quran.”

Atha' berkata, “Mereka adalah ahli fiqih dan ahlul 'ilmi.”

Abu Hurairah berkata, “Mereka adalah pemerintahan.”

Sedangkan Imam Asy-Syaukani menyampaikan, “Pendapat yang kuat adalah bahwasanya ayat tersebut mencakup keduanya; yaitu ulama dan umara' atau pemerintah.”

Tentang ayat ini, Ibnu Katsir menguraikan: “Taatlah kepada Allah”, yaitu ikutilah Kitab-Nya. “Dan taatlah kepada Rasul”, yaitu peganglah sunnah beliau. “Dan ulil amri di antara kamu”, yaitu pada apa yang mereka perintahkan kepada kalian dalam rangka taat kepada Allah, bukan dalam maksiat kepada-Nya. Karena tidak berlaku ketaatan kepada mahluk dalam rangka maksiat kepada Allah. ”

Yap! Taat; tapi bukan dalam perkara maksiat.  

Sumber: Buletin Nah #41

Tidak ada komentar:

Posting Komentar